ini karya novel saya yang pertama, masih banyak kesalahan dan kekurangan jadi saya mohon dukungan dan vote nya dari pembaca semuanya..novel ini mengisahkan nasib seorang istri yang dikhianati suaminya, padahal awalnya luna merasa beruntung bisa menikah dengan rendi dan di beri kepercayaa untuk hamil anak kedua tapi justru disaat dia sedang hamil anak kedua nya saat itu suami nya berubah dan mulai menduakan nya...
apakah luna akan bertahan atau justru meninggalkan suaminya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian hafiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
sesampainya di halaman rumah orang tuanya luna memicingkan matanya, luna agak terkejut karna mendapati mobil suaminya rendi, luna segera mengajak reno turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah..
"assalamualaikum" ucap luna
"papa..." pekik reno
rendi berdiri dan merentangkan tangan nya untuk memeluk reno, tapi seketika reno menoleh ke arah luna, luna tersenyum dan mengangguk dengan cepat reno segera berlari kepangkuan rendi dan menciumi wajah rendi, luna dapat melihat bagaimana rindunya reno pada papa nya, walaupun reno berusaha untuk kuat dan mengerti akan situasi orang tuanya tapi tak dapat disembunyikan wajah keceriaannya melihat papanya.
" papa kangen sama kaka" ucap rendi sambil menciumi pucuk kepala anak nya
"kaka juga"
"papa kesini mau jemput kaka dan mama, kita pulang kerumah kita ya"
"memangnya papa sudah tak tersesat lagi" ucap reno polos
rendi menatap reno dengan raut bingung
" kata mama papa lagi tersesat, jadi kita gak bisa lagi tinggal bareng"
rendi menatap luna untuk minta penjelasan
"sayang, ayo ganti dulu baju sekolahnya terus makan dulu sama nenek di belakang ya,mama mau bicara dulu sama papa" ucap luna lembut
reno turun dari pangkuan rendi dan segera mencari neneknya untuk bertukar pakaian, kini hanya tinggal mereka berdua diruang tamu
" sayang, kemaren kamu pulang kerumah kenapa tak mengabari ku, dan membawa semua pakaian mu?" tanya reno
" mulai sekarang aku akan tinggal di sini bang, dan aku sudah mendaftarkan perceraian kita"
deg
" tidak kah kamu bisa memaafkan ku sayang, kita bisa memulai hubungan kita dari awal lagi, aku akan menceraikan tari"
" maaf bang, aku tak bisa menerima pengkhianatan, bukan tidak akan mungkin setelah kamu menceraikan tari akan ada tari-tari yang lain"
"aku janji tidak akan mengecewakan mu lagi, tolong kasih aku kesempatan" rendi meraih tangan luna dan berlutut
luna menggeserkan tubuh nya dan melepaskan tangannya dari rendi
" bangun bang, tak pantas kamu berlutut seperti itu, bukan kah itu semua kehendakmu kenapa baru sekarang penyesalanmu datang, kemana saja kamu selama ini, apa kah kamu ingat dengan ku saat kamu tidur dengannya? apakah kamu dengar tangisan ku saat kamu bermesraan dengannya?" hardik luna
"jawab bang, jangan hanya bisa kata maaf saja yang keluar dari mulut mu, apa kamu ingat dengan ku dan reno serta anak yang ada dalam kandungan ku saat itu?" luna semakin emosi " ribuan kata maaf tak kan mampu mengobati luka hati ku bang, luka seorang istri yang sedang mengandung di khianati suami, aku berusaha ikhlas untuk kehilangan calon anak ku bang, dan aku juga sudah berusaha ikhlas untuk kehilangan kamu..."
"Lun, tolong fikirkan lagi keputusanmu sayang"
"tak ada lagi yang perlu dipikirkan bang, saat kamu menduakan ku kamu tak pernah berfikir kenapa mesti aku yang harus berfikir untuk meninggalkan laki-laki brengsek sepertimu" tekan luna
"aku akui aku salah lun, tapi berusaha lah untuk memaafkan ku demi reno lun?" pinta rendi
" jangan reno kau jadi kan alasan bang, kita bisa membesarkannya tanpa harus bersama, aku tak kan pernah menghalangi mu untuk bertemu dengan reno, tapi aku minta kau juga jangan menghalangi keputusanku"
" baik lah jika itu yang kamu ingin kan aku tak bisa berkata apa-apa lagi, pesanku tolong jaga dirimu dan reno bila terjadi sesuatu dengan kalian tolong hubungi aku dan aku berharap kamu masih bisa berubah fikiran lun tentang perpisahan kita karna aku masih sangat mencintaimu" ucap rendi melemah
" tak perlu kau ingatkan pun reno pasti akan aku jaga, karna dia anak ku, kalau sudah selesai silahkan pulang bang, aku lelah harus segera istirahat" luna berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan rendi yang mematung di ruang tamu.
rendi pun dengan langkah gontai keluar dari rumah orang tua luna dengan perasaan campur aduk, terlihat raut wajah yang kecewa dengan keputusan luna walaupun rendi tahu yang dia yang bersalah tetap saja rendi tak terima dengan keputusan luna untuk berpisah karna di hati rendi hanya ada luna, hanya saja dia bisa dikalahkan oleh nafsu saat itu.
soalnya aku suka sama ceritanya