Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Aga Setelah 8 Tahun
Sore itu cahaya matahari menyelinap masuk lewat kaca jendela setinggi dinding, membelah ruangan kantor yang sunyi dan berhawa dingin.
Aga duduk bersandar di kursi kulitnya, kedua tangan bertaut erat di depan wajah, matanya menatap kosong ke arah jalan raya yang terlihat jauh di bawah sana. Delapan tahun berlalu sejak ia terpaksa mengikat janji suci yang tak pernah ia inginkan, dan genap satu tahun yang lalu belenggu itu akhirnya terlepas—bukan karena ia berjuang membebaskan diri, melainkan karena Jenna yang akhirnya memilih untuk pergi. Kini ia berdiri sendiri, menjadi duda, membawa sisa kehidupan yang terasa hampa tanpa sosok yang selalu ia rindukan namun tak pernah ia temukan jejaknya.
Pikirannya perlahan terhanyut kembali, mengulang momen yang menjadi titik akhir dari tujuh tahun kepura‑puraan yang menyakitkan itu.
Flashback
Suasana ruang tamu rumah besar itu terasa mencekam. Aga baru saja melangkah masuk meletakkan tas kerjanya, namun langkahnya terhenti seketika. Jenna sudah menunggunya, berdiri di tengah ruangan, wajahnya tak lagi menyunggingkan senyum terpaksa atau tatapan penuh harap. Di sebelahnya berdiri seorang pria lain—berpenampilan sopan, tatapannya tenang namun tegas, dan tak ada sedikit pun rasa takut saat berhadapan dengannya.
“Aku sudah menunggumu lama, Aga,” ucap Jenna, suaranya pelan namun bergetar menahan segala emosi yang selama tujuh tahun ia pendam rapat. “Hari ini aku tidak mau berpura-pura lagi. Aku tidak mau lagi menjadi istri yang tidak kamu inginkan, yang hanya kamu tampilkan saat perlu, lalu kamu abaikan seolah aku tidak ada di rumah ini.”
Aga diam saja, menatapnya tanpa bisa berkata apa‑apa. Ia tahu, saat itu akhirnya datang juga.
“Ini Bian,” lanjut Jenna, tangannya perlahan menyentuh lengan pria di sampingnya. Matanya kini berkaca‑kaca, namun ia menatap Aga dengan berani tanpa menunduk. “Dia adalah orang yang mencintaiku dengan tulus. Dia menghargai keberadaanku, dia menanyakan kabarku, dia memperlakukanku layaknya wanita yang dihargai dan dicintai… hal yang tak pernah sekali pun kamu berikan padaku selama tujuh tahun pernikahan ini.”
Napas Jenna memburu, seolah setiap kata yang terucap mengangkat beban berat yang selama ini dipikul punggungnya.
“Aku bertahan begitu lama. Aku berpikir, mungkin perlahan kamu akan berubah. Mungkin seiring berjalannya waktu, kamu bisa melupakan masa lalumu dan mulai melihatku. Tapi aku salah besar. Tujuh tahun, Aga! Tujuh tahun kita tinggal satu atap, tapi kamu enggak pernah sekalipun menyentuhku. Kamu enggak pernah menoleh padaku dengan tatapan suami pada istrinya.”
Air mata mulai mengalir di pipinya, namun ia segera menghapusnya dengan kasar.
“Aku bahkan pernah mencoba meruntuhkan tembok yang kamu bangun. Aku masuk ke kamarmu malam itu, aku duduk di tepi ranjangmu, aku berusaha mendekat… tapi kamu?! Kamu mengabaikanku, memalingkan wajah, lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Kamu membiarkanku duduk sendirian di sana, merasa hina, merasa tidak berharga sama sekali.”
Jenna menarik napas panjang, menatap Aga dengan keputusan yang sudah bulat sekeras batu.
“Sekarang aku sudah cukup lelah menunggu hal yang tidak akan pernah terjadi. Aku datang hari ini untuk meminta cerai. Aku tidak peduli lagi dengan kesepakatan kedua keluarga. Aku tidak peduli jika Ayah marah besar, jika namaku dicoret dari silsilah keluarga Wijaya, atau jika aku kehilangan semua kemewahan ini. Aku lebih baik hidup sederhana bersama orang yang benar‑benar menginginkanku, daripada menjadi ratu di istana yang dingin dan sepi seumur hidupku.”
Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Jenna siap menahan amarah, teriakan, atau ancaman agar ia membatalkan niatnya. Ia bahkan sudah mempersiapkan hati untuk dihina.
Namun reaksi Aga jauh di luar dugaan siapa pun.
Pria itu menatapnya sekilas, ada rasa bersalah yang mendalam di matanya, namun tidak ada kemarahan, tidak ada keinginan menahan amarah. Ia hanya mengangguk perlahan, seberkas cahaya kelegaan yang samar terlihat di wajahnya yang selalu kaku.
“Baik,” jawabnya singkat, namun tegas. “Aku setuju.”
Sederhana sekali. Hanya dua kata itu. Namun bagi Jenna, persetujuan yang begitu cepat dan tanpa ragu itu adalah tamparan paling keras yang pernah ia terima.
Itu membuktikan betapa selama ini ia bukanlah istri bagi Aga, melainkan sekadar beban yang tak bisa Aga lepaskan sampai saat itu tiba. Dan kini, saat Jenna sendiri yang memutuskan, Aga justru merasa beban di pundaknya perlahan terangkat.
“Terima kasih,” ucap Jenna pelan, suaranya pecah namun bibirnya perlahan tersenyum tipis—senyum getir yang terasa sampai ke ulu hati. “Semoga kamu juga menemukan apa yang kamu cari, Aga.”
Kilas balik masa lalu itu perlahan memudar, kembali menyisakan kesunyian ruangan di hadapan Aga.
Dia menunduk, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia mengakui, ia adalah suami yang paling buruk yang pernah dimiliki wanita mana pun. Ia menyia‑nyiakan tujuh tahun hidup Jenna, mengurungnya dalam pernikahan tanpa cinta, hanya karena hatinya sudah mati bagi dunia lain sejak kepergian seseorang yang tak pernah bisa ia lupakan. Namun di balik rasa bersalah itu, tak bisa ia pungkiri bahwa kini ia benar‑benar bebas—bebas untuk mencari, bebas untuk menebus kesalahan, jika saja ia tahu di mana harus melangkah.
Belum sempat pikirannya menjelajah lebih jauh lagi, ketukan pintu terdengar memecah keheningan.
“Masuk,” ucap Aga pelan, masih berusaha merapikan kembali perasaannya.
Pintu terbuka perlahan, dan Mario masuk dengan langkah yang tergesa, wajahnya yang biasanya tenang kini tampak pucat dan penuh kecemasan.
“Pak Aga… maaf mengganggu, ada kabar yang sangat mendesak,” kata Mario, napasnya sedikit memburu sepanjang kalimat.
Aga mendongak, merasakan firasat buruk mulai menyergap dadanya. “Ada apa?”
“Baru saja Pak Haris menelepon, beliau memberitahu bahwa kakek Anda, Kakek Santoso… beliau tadi siang tiba‑tiba pingsan mendadak di rumah. Sekarang beliau dirawat di rumah sakit.”
Wajah Aga seketika berubah pucat pasi. Ia langsung bangkit berdiri dengan kasar dari kursinya, rasa takut yang luar biasa seketika menyergap seluruh tubuhnya. Kakek Santoso adalah orang yang paling memahami dirinya, yang selalu mendengarkan, yang menjadi tempatnya pulang saat tak ada lagi orang yang mengerti—bahkan saat ia sendiri tak mengerti jalan hidupnya.
Kakek....
demi hrga dirimu...