Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010
Hari kedua, Meiran tidak memesan kopi.
Ia mengirim pesan yang jauh lebih buruk.
`Studio maket, pukul 15.00. Pakai tanganmu.`
Hafeng membaca pesan itu tiga kali.
Chiko yang duduk di sebelahnya langsung tertawa sampai hampir menjatuhkan pulpen. "Pakai tanganmu? Feng, kalimatnya berbahaya sekali."
Hafeng menatapnya datar. "Otakmu yang berbahaya."
"Aku cuma membaca konteks."
"Tidak ada konteks."
Tetapi pukul tiga tepat, Hafeng tetap datang ke studio maket.
Studio itu lebih berantakan daripada studio seni biasa. Potongan karton, kayu balsa, cutter, penggaris logam, lem, dan serpihan busa putih memenuhi meja panjang. Bau lem menyengat tipis di udara. Di sudut ruangan, kipas angin berputar pelan, tidak cukup kuat mengusir panas Jakarta sore itu.
Meiran sudah menunggu dengan lengan kemeja dilipat sampai siku.
Di depannya ada maket ruang jeda yang ia presentasikan saat open studio. Belum selesai. Struktur atap kecilnya perlu dipasang, tetapi tangan kirinya masih belum nyaman karena luka dari hari pertama belum sepenuhnya kering.
Hafeng berhenti di depan meja. "Kamu bisa memanggil teknisi."
"Aku memanggil asisten pribadi."
"Aku bukan tukang maketmu."
"Hari ini iya."
Meiran menyerahkan penggaris logam. "Pegang sisi itu. Jangan bergerak."
Hafeng mengambilnya dengan wajah gelap, tetapi posisinya tepat. Terlalu tepat. Matanya langsung membaca struktur maket, menemukan titik lemah, lalu tanpa diminta menggeser penyangga kecil agar tidak miring.
Meiran melihat gerakan itu.
"Aku belum menyuruhmu memperbaiki."
"Kalau dibiarkan, atapnya jatuh."
"Jadi kamu peduli pada maketku?"
"Aku peduli pada logika struktur."
"Tentu."
Mereka bekerja dalam diam beberapa menit. Diam yang tidak nyaman, tetapi produktif. Meiran menempelkan bagian atap, Hafeng menahan sisi dasar. Sesekali jari mereka hampir bersentuhan saat mengambil lem atau memindahkan pinset.
Hafeng selalu menarik tangan lebih dulu.
Meiran tidak mengejar.
Justru karena itu, setiap sentuhan yang tidak sengaja terasa lebih jelas.
**【Sistem Predator】Kontak mikro berulang terdeteksi. Respons target: penarikan cepat, peningkatan denyut, fokus visual bertambah.**
Meiran menahan senyum.
"Kamu dengar sesuatu?" tanya Hafeng.
"Tidak."
"Kamu tersenyum."
"Aku sering tersenyum."
"Biasanya sebelum membuat masalah."
"Berarti kamu mulai mengenali pola."
Hafeng mendengus.
Saat Meiran menjangkau lem di sisi meja, ujung lengan bajunya tersangkut cutter yang belum ditutup. Hafeng bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia menangkap pergelangan tangan Meiran dan menariknya menjauh sebelum kain itu menyeret cutter ke arah jari.
Gerakan itu membuat tubuh Meiran tertarik ke depan.
Bahunya membentur dada Hafeng.
Hening.
Kali ini tidak ada kabinet sempit, tidak ada Wanyu di luar pintu, tidak ada alasan memalukan. Hanya studio maket, bau lem, dan tangan Hafeng yang masih melingkar di pergelangan Meiran.
Pegangannya kuat, tetapi tidak menyakitkan.
Meiran mengangkat wajah.
Jarak mereka terlalu dekat untuk pura-pura tidak merasakan napas masing-masing.
Hafeng menatap cutter yang nyaris jatuh, lalu menatap tangan Meiran. Di sana, bekas luka kecil dari hari pertama masih terlihat samar.
"Kamu ceroboh," katanya.
Suaranya rendah.
"Kamu yang belum menutup cutter."
"Kamu yang tidak melihat."
"Kalau begitu lepaskan."
Hafeng tidak langsung melepaskan.
Satu detik.
Dua detik.
Jari-jarinya baru terbuka setelah Meiran menatapnya dengan alis terangkat.
Ia mundur setengah langkah, seolah jarak itu bisa menyelamatkan harga dirinya.
"Jangan salah paham."
"Aku belum bicara apa-apa."
"Wajahmu bicara."
"Kamu mulai belajar dariku."
Hafeng mengambil penutup cutter dan memasangnya dengan gerakan kasar. "Aku hanya tidak mau kamu terluka lalu menuduhku melanggar perjanjian."
"Tentu. Semua demi perjanjian."
**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**
Nilai Cinta: -54.
**【Sistem Predator】Catatan: penolakan verbal tidak selaras dengan respons tubuh.**
Meiran hampir tertawa.
Hafeng menoleh tajam. "Apa lagi?"
"Tidak ada. Aku hanya suka data."
"Data apa?"
"Data bahwa kamu refleksnya bagus."
Hafeng terdiam sebentar, lalu membuang muka. "Selesaikan maketmu."
Mereka kembali bekerja, tetapi ritmenya sudah berubah. Hafeng tidak lagi menarik tangan secepat sebelumnya. Ia masih menghindari sentuhan langsung, tetapi ketika Meiran meminta pinset, ia memberikannya dari sisi yang membuat jari mereka bersentuhan sebentar.
Sekali.
Dua kali.
Pada kali ketiga, Hafeng sadar.
Ia meletakkan pinset di meja, bukan di tangan Meiran.
Meiran tidak berkomentar.
Komentar hanya akan membuatnya menutup diri. Diam membuat tubuhnya mengkhianati mulutnya lebih lama.
Ketika maket akhirnya berdiri stabil, Meiran menyalakan lampu kecil di dalamnya. Cahaya hangat menyebar melalui celah atap, jatuh di antara miniatur bangku dan pohon kecil.
Hafeng menatap maket itu.
"Strukturnya masih bisa lebih bersih," katanya.
"Aku tahu."
"Sudut atap kanan terlalu berat."
"Kamu mau memperbaikinya?"
Hafeng hendak menjawab tidak.
Mulutnya sudah terbuka.
Tetapi tangannya lebih dulu mengambil penggaris.
Meiran menatap tangan itu, lalu menatap wajahnya.
Hafeng membeku.
Chiko yang mengintip dari jendela studio memilih saat itu untuk berkomentar, "Bro, tanganmu lebih jujur daripada mulutmu."
Hafeng langsung menoleh.
Chiko kabur sebelum dilempar penggaris.
Meiran menunduk, tertawa pelan untuk pertama kalinya tanpa dibuat-buat.
Hafeng kembali menatap maket, telinganya memerah tipis.
Di luar studio, hujan mulai turun, mengetuk kaca dengan ritme kecil.
Lima belas menit kemudian, hujan belum berhenti.
Meiran berdiri di pintu studio sambil melihat halaman kampus yang berubah licin. Mobil dari rumah Lim menunggu di sisi gerbang kecil, tetapi jaraknya cukup untuk membuat panel maket basah jika ia berlari.
Hafeng sudah memasukkan tabletnya ke tas. Ia berhenti di belakangnya. "Sopirmu tidak bisa mendekat?"
"Gerbang samping ditutup."
"Tunggu saja."
"Instruksi keempat."
Hafeng langsung menutup mata sebentar, seperti sedang menahan sakit kepala.
Meiran menunjuk payung hitam yang terselip di sisi tasnya. "Antar aku sampai mobil. Pegang maketnya juga."
"Kamu benar-benar memanfaatkan perjanjian sampai tetes terakhir."
"Hujan juga terdiri dari tetes."
Hafeng mengambil maket dengan satu tangan dan membuka payung dengan tangan lain. Payung itu tidak terlalu besar. Agar maket tetap kering, ia harus memiringkannya ke sisi Meiran. Akibatnya, bahu kirinya sendiri terkena hujan.
Meiran memperhatikan kemeja Hafeng mulai basah di bagian lengan.
"Payungnya ke tengah."
"Maketmu nanti basah."
"Itu masalahku."
"Kamu akan menyuruhku memperbaikinya lagi."
Meiran terdiam, lalu tertawa kecil. "Benar juga."
Mereka berjalan berdampingan. Jalan batu kampus menjadi licin, dan ketika Meiran hampir terpeleset di dekat tangga, tangan Hafeng otomatis menyentuh siku kirinya. Tidak menggenggam. Hanya menahan cukup lama sampai keseimbangannya kembali.
Ia melepas begitu Meiran berdiri stabil.
"Jangan bilang ini juga demi perjanjian," kata Meiran.
Hafeng menatap lurus ke depan. "Aku tidak mau menjelaskan pada sopirmu kenapa putri Lim Group jatuh di depanku."
"Alasanmu makin kreatif."
"Karena kamu makin merepotkan."
Namun payung itu tetap lebih banyak meneduhinya daripada Hafeng.
Meiran menyimpan catatan di tabletnya.
Hari kedua: tubuh Lo Hafeng sudah mulai mengingat jalur menuju dirinya, meski mulutnya masih tersesat di tempat lama.