NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Saka membuka pintu ruang administrasi dengan langkah pelan dan santai. Ruangan itu terasa dingin oleh AC dan memiliki bau kertas dokumen yang sangat pekat.

Master Handoko yang sedang duduk di balik meja kerjanya langsung berdiri menyambut kedatangan Saka. Pria tua itu membungkuk hormat dengan senyum yang sangat lebar hingga matanya menyipit.

"Selamat malam Tuan muda, silakan duduk di kursi yang sudah kami siapkan ini." Ucap Master Handoko sambil menunjuk kursi kulit empuk di depannya.

Saka hanya mengangguk pelan dan langsung duduk bersandar menikmati keempukan kursi tersebut. Dia sama sekali tidak terlihat gugup meskipun berhadapan dengan pakar barang antik paling dihormati di kota ini.

"Lelang malam ini benar-benar luar biasa berkat barang pusaka milik Anda Tuan." Buka Master Handoko memulai percakapan dengan nada penuh pujian.

"Saya sendiri tidak menyangka Nona Anya bersedia membayar hingga lima miliar rupiah untuk piring kayu tersebut." Lanjut pria tua itu masih dengan raut wajah takjub yang belum hilang.

"Saya cuma beruntung saja Tuan Handoko, lagipula barang itu memang sudah waktunya berpindah tangan." Jawab Saka dengan suara datar dan ekspresi wajah yang sangat tenang.

Ketenangan Saka justru membuat Master Handoko semakin merasa segan dan penasaran dengan latar belakang pemuda di depannya ini. Pakaian lusuhnya kini terlihat seperti sebuah penyamaran sengaja dari seorang tuan muda keluarga konglomerat rahasia.

"Sesuai dengan perjanjian awal balai lelang kami akan memotong komisi sebesar lima persen dari total penjualan." Jelas Master Handoko sambil menyodorkan sebuah dokumen laporan keuangan ke atas meja.

"Jadi total uang bersih yang akan kami transfer ke rekening Anda malam ini adalah empat miliar tujuh ratus lima puluh juta rupiah." Tambah pria itu sambil menunjuk angka nominal di bagian bawah kertas.

Saka membaca deretan angka nol yang sangat panjang itu dengan jantung yang berdebar kencang. Namun dia sekuat tenaga menahan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat norak di depan Master Handoko.

"Bagus, tolong proses transfernya sekarang juga karena saya harus segera pergi dari sini." Perintah Saka sambil menyodorkan buku tabungan usangnya yang sudah lecek.

Master Handoko mengangguk cepat dan langsung memberikan buku tabungan itu kepada staf keuangan di sebelahnya.

Tik tok tik tok.

Suara ketikan keyboard komputer terdengar sangat cepat memenuhi keheningan ruangan selama beberapa menit.

Tring.

Suara notifikasi pesan masuk tiba-tiba berbunyi dari ponsel pintar Saka yang layarnya sudah retak parah.

Saka merogoh sakunya dan membuka pesan dari layanan bank seluler miliknya. Matanya langsung terpaku melihat saldo akhirnya yang kini berubah menjadi deretan angka empat miliar lebih.

"Uangnya sudah masuk Tuan muda, apakah ada hal lain yang bisa kami bantu malam ini." Tanya Master Handoko memastikan semuanya sudah selesai.

"Tidak ada, terima kasih atas kerja keras kalian menyelenggarakan lelang malam ini." Ucap Saka sambil berdiri dari kursinya bersiap untuk pergi.

"Tunggu sebentar Tuan muda, jika boleh saya tahu dari mana sebenarnya Anda mendapatkan pusaka sehebat itu." Tanya Master Handoko tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.

Saka menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah pria tua tersebut dengan senyum misterius. "Seperti yang saya bilang tadi siang, itu cuma barang rongsokan dari kakek saya untuk kasih makan ayam."

Jawaban itu membuat Master Handoko terdiam kaku tidak tahu harus merespons apa lagi. Saka lalu berjalan keluar dari ruang administrasi itu meninggalkan Master Handoko yang masih mematung kebingungan.

Saka berjalan menyusuri lorong menuju lobi utama hotel dengan perasaan yang luar biasa ringan. Beban berat di pundaknya yang selama ini menghimpitnya karena kemiskinan kini telah hancur berkeping-keping.

Sayup-sayup terdengar keributan yang sangat keras dari arah pintu keluar lobi utama. Saka mempercepat langkahnya dan melihat sebuah pemandangan yang paling ingin dia saksikan malam ini.

Rio sedang dikelilingi oleh empat orang petugas keamanan hotel berbadan besar dan berwajah sangat garang. Setelan jas mahal milik Rio sudah berantakan dan wajahnya dipenuhi oleh keringat dingin yang mengucur deras.

Di lantai dekat kaki Rio tampak Kevin sedang duduk bersimpuh sambil menangis sesenggukan. Pemandangan itu benar-benar terlihat sangat menyedihkan sekaligus menggelikan bagi siapa saja yang melihatnya.

"Saya mohon beri saya waktu sampai besok pagi Pak, saya janji pasti akan bayar uang dua ratus lima puluh juta itu." Teriak Rio dengan suara bergetar memelas kepada kepala petugas keamanan.

"Tidak bisa Tuan, aturan lelang kami sangat ketat dan semua pembayaran harus dilunasi malam ini juga." Jawab kepala petugas keamanan itu dengan nada suara yang sangat dingin dan tegas.

"Jika Anda tidak bisa membayar malam ini maka kami terpaksa menyerahkan Anda ke kantor polisi atas tuduhan penipuan." Lanjut petugas itu memberikan ancaman yang langsung membuat Rio lemas seketika.

Rio buru-buru mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar dan memutar nomor ayahnya untuk kesekian kalinya.

Tut tut tut.

Suara nada sambung terdengar beberapa saat sebelum akhirnya panggilan itu diangkat.

"Halo Papa, tolongin Rio Pa, Rio lagi ditahan sama satpam hotel lelang ini." Rengek Rio dengan suara nyaris menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan.

"Anak durhaka, kamu habis beli barang rongsokan apa sampai menghabiskan uang darurat perusahaan sebanyak itu hah." Suara bentakan keras dari seberang telepon terdengar sangat jelas karena Rio menyalakan pengeras suara.

"Itu kalung giok Pa, harganya dua ratus lima puluh juta dan Rio harus bayar sekarang juga kalau nggak Rio dipenjara." Jawab Rio dengan napas terengah-engah karena panik.

"Papa tidak mau tahu, kamu selesaikan sendiri masalahmu malam ini karena uang di rekening Papa sedang ditahan oleh bank." Balas ayahnya dengan nada sangat marah sebelum akhirnya menutup telepon itu secara sepihak.

Pip.

Rio menatap layar ponselnya yang kini gelap dengan pandangan kosong penuh keputusasaan. Dia benar-benar sudah jatuh ke dasar jurang malam ini tanpa ada satupun orang yang bisa menolongnya.

Saka yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung tertawa pelan melihat drama keluarga yang sangat menghibur tersebut. Tawa pelan itu rupanya terdengar oleh telinga Kevin yang sedang menangis di lantai.

Kevin menoleh dan matanya langsung melotot lebar melihat Saka berdiri santai memasukkan tangan ke dalam saku celana. "Woi Saka gembel, ngapain lo ketawa di situ hah." Bentak Kevin melampiaskan kekesalannya.

1
pricilia
sangat seru alur certanya
Angel
cerita nya tidak membosan kan😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!