Dilarang Plagiat Karya Saya ‼️
Hidup sendirian berada di suatu pulau terpencil, kawasan tersebut sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh manusia. Letaknya sangat jauh dan tidak diketahui, namun pada suatu hari seorang wanita cantik tersesat ketika dirinya healing sendirian.
"Merman? Bukannya merman itu hanya dalam mitos belaka? Hahaha, itu bukan merman!"
"Merman tidak mungkin ada dan mustahil jika muncul di dunia nyata! Mitos tetaplah mitos, dan tidak akan pernah menjadi nyata!"
"Hufh... aku salah melihat pasti!" Namun dugaannya salah, makhluk yang ia anggap mitos ternyata memang nyata.
"Ace..." Merman itu bergumam pelan.
"Hah? Kau mengatakan apa?" Dahi wanita itu mengernyit kebingungan.
"Ace... mm ngan igi!"
"....." Mengerjapkan mata dan terdiam membisu.
"Maksudnya?" Pikirnya wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi Bulan Datang Ke Mimpinya
"Sekarang pukul berapa, ya?" Pikir Thienvra, melihat jam dinding telah menunjukkan pukul 21.00 malam hari.
"Sini, aku bantu kamu naik ke kasur." Wanita itu memapah Chio tuk beristirahat.
"Nah, sekarang kamu tidur ya?" Ia ikut terbaring di sebelahnya sambil menyanyikan lagu pengantar tidur.
"Hoam." Chio menguap lebar, lantas Thienvra menutup mulutnya.
"Mengantuk." Tidak lama kemudian Chio tertidur.
"Chio?" Thienvra memastikan apakah benar Chio tidur atau tidak.
"Bagus, selamat malam, Chio, muach." Di akhiri dengan kecupan mesra di keningnya.
Saat akan beranjak suara Chio menghentikan pergerakannya.
"Mate...mmm jangan pergi!" Chio terbangun.
"Eh? Sttt...Sayangku, tidur lagi ya? Psttt..." Namun Chio menolaknya mentah.
"Tidak mau!" Tolaknya Chio.
"Hah...aku mau ke kamar mandi." Ujar Thienvra.
"Ingin ikut." Pintanya Chio.
"Baiklah, ayo." Keduanya pergi bersama ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Thienvra tengah menggosok giginya, serta Chio memerhatikannya.
"Mate, itu apa?" Tanya Chio.
"Ini aku sedang sikat gigi, habis selesai giliran kamu, ya?" Kata Thienvra.
"Buka mulut kamu, Chio, aaaa..." Pria merman itu menuruti perintahnya.
"Aku sikat gigimu perlahan, ya? Jadi kamu setelah makan wajib menyikat gigi, apalagi menjelang mau tidur." Jelasnya Thienvra, sambil menyikati giginya Chio.
"....." Chio terdiam, tatapannya mengarah pada mata matenya.
"Nih kumur-kumur dahulu." Harusnya air kumuran itu dibuang malah ditelan oleh Chio.
"Astaga." Thienvra menepuk jidat.
"Sudahlah, lagian terlanjur telan itu airnya." Batinnya wanita itu.
Kemudian mereka berdua keluar dari kamar mandi, Chio kembali berbaring, sementara Thienvra, ia terduduk sembari menatap wajah polosnya pria merman itu. Chio beberapa kali mengerjapkan kedua matanya, tampak menggemaskan sekali.
Lalu terdengar suara ketukan pintu kamarnya.
Tok
Tok
Tok
"Thienvra, ini Kakak." Panggil orang itu, ya dia adalah Simueltha.
"SEBENTAR, KAK." Balas Thienvra dengan berteriak.
Wanita itu beranjak dari kasur, bergegas membuka pintu kamar.
Ceklek
"Ya, ada apa Kak Mue?" Thienvra bertanya.
"Kakak lapar, tadi tidur tanpa makan dulu." Adunya pria itu sambil memegangi perutnya.
"Kita ke dapur, Kak." Menutup pintu kamar, Thienvra dan Simueltha menuju ke dapur.
"Mate?" Chio panggil, tapi tak ada jawaban.
Wajahnya murung seketika, lalu menggulung dirinya dengan selimut.
***
"Tadi aku membuat nasi goreng tuk makan malam bersama Chio, ini sebentar aku hangatkan dulu ya, Kak." Thienvra berucap.
"Aku setia menunggu, Adik manis." Balas pria itu.
Beberapa Menit Kemudian.....
"Selama menikmati nasi gorengnya." Simueltha mulai menyantapnya.
"Hm, enak banget ini!" Seru pria itu disela makannya.
"Syukurlah, kalau Kak Mue suka." Kata Thienvra.
"Oh, iya, ini minumannya, Kak." Ia menaruh segelas air putih di dekat pria itu.
"Untuk makanan penutupnya, Kak." Ditaruhnya kue pie buah.
"Wah, kesukaanku nih." Seru Simueltha.
Lalu setelah menemani Simueltha makan malam, pria itu pergi ke kamar, sedangkan Thienvra melangkahkan kakinya ke kamar miliknya.
"Chio?" Thienvra memanggilnya sambil menggoyangkan tubuh pria merman yang tergulung selimut.
Chio bergumam tak jelas ala merman, ia membuka selimutnya.
"Huh!" Pria merman itu bersidekap dada.
"Kemari, dan tidur sekarang." Ditariknya lengannya Chio.
Bruk
Chio menjadi terlentang, dirinya masuk ke dalam pelukannya.
"Dasar manja sekali kamu." Thienvra tersenyum geli dibuatnya.
"Psttt, tidur!" Bisik wanita itu sambil mengelus punggungnya.
"Argh!" Chio menjerit kecil di dalam pelukannya.
"Eh? Kenapa, Chio?" Thienvra bingung jadinya.
"Mate, aku ingin bertanya!" Chio berucap.
"Tanyakan saja." Mempersilakannya.
"Kekasih itu, apa? Kdrt, apakah semacam makanan enak?" Mendengar pertanyaan dari Chio, membuat diri Thienvra membeku.
"Ekhem, kok nanya beginian sih!" Ucapan Thienvra tidak bisa terdengar oleh Chio.
"Baiklah, jadi kekasih itu sepasang pasangan yang saling mencintai." Jawab wanita itu, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya Chio.
"Seperti kita berdua ya, Mate?" Imbuhnya Chio.
"Betul sekali." Thienvra berkata.
"Kalau kdrt, singkatan dari kekerasan dalam rumah tangga, ketika pasangan itu mengikat ikatan halal di hadapan Tuhan, berjanji tuk menemani seumur hidup di kala susah dan senang." Pria merman mengangguk kepala.
"Sini tidur, kamu!" Thienvra greget jadinya, dia mendekap tubuhnya Chio.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, keduanya sudah tertidur pulas, dan kemudian mimpi menghampiri Thienvra.
***
Di alam bawah sadarnya, Thienvra melihat takjub tumbuhan di sekitarnya.
"Wah, cantik sekali pemandangannya." Seru Thienvra sambil berjalan.
Sebuah suara menggema dan memanggil namanya.
"Thienvra Xayremzins."
"SIAPA KAMU? KELUAR! JANGAN JADI PENGECUT!" Teriak Thienvra dengan lantang.
"Hei, santai dulu tidak sih?" Celetuk seseorang, lalu berhadapan dengannya.
"Santai matamu! Kamu wanita? Siapa kamu, hah!?" Gertak Thienvra.
"Ternyata matenya Chio pemarah juga, ya?" Padahal suaranya kecil namun masih terdengar oleh telinganya Thienvra.
"Heh! Aku masih bisa mendengar apa perkataanmu itu, ya!" Kata Thienvra, tatapannya begitu sinis.
"Jadi begini ak....." Ucapannya terpotong oleh Thienvra.
"Begini apaan sih, cepat katakan saja!" Wanita itu menghela nafas sebentar.
"Aku beritahu kepadamu, hati-hati terhadap bukan sahabatmu itu!" Kata wanita asing itu.
"Ya, terus?" Lalu wanita asing itu melanjutkan berbicaranya.
"Dia tak baik untukmu, dan jagalah Chio, aku memiliki firasat yang tak enak."
"Hm, aku pun sama sepertimu." Imbuhnya lawan bicaranya.
"Hah?" Wanita asing itu kebingungan.
"Lupakan! Mengapa kamu bisa tahu? Jika dia tidak baik? Dan bukan sahabatku?" Thienvra bertanya dengan beruntun.
"Karena takdir." Wanita itu menjawabnya dengan asal-asalan, tapi kenyataannya memang benar.
"Oh." Thienvra menjawab singkat.
"Oh, saja?" Pikir wanita asing itu.
"Sudah selesaikan bicaranya?" Tanya Thienvra.
"Ya, sudah." Menganggukkan kepala.
"Lalu, kenapa bisa tahu namaku?" Thienvra tanya lagi, jawaban wanita asing itu membuatnya muak sekali.
"Karena takdir." Thienvra memutarkan matanya dengan malas.
"Pejamkan matamu." Ia menurut akan perintahnya wanita asing itu.
Lalu ketika sudah membuka mata, wanita asing itu tidak ada, dan entah kemana perginya.
"Bodo amat aku! Mau dia pergi ke jurang, at..." Thienvra berhenti menggerutu sebab ucapan wanita asing kembali terdengar.
"Kamu bisa jalan ke cahaya terang itu, jalan keluar dari sini." Beritahu wanita asing itu.
"Hm." Thienvra berjalan mengarah cahaya yang dimaksud wanita asing itu.
***
Di alam asli, terlihat Thienvra terusik dalam tidurnya, lalu terbangun.
"Mmm, barusan mimpi apa aku?" Merasa mimpi itu sungguh nyata, tapi ia tak menghiraukannya.
Mengambil segelas air, diminumnya sampai habis tidak tersisa, dan tidur lagi sambil memeluk guling. Sedangkan Chio menghampiri matenya, kemudian memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"Mate." Dalam tidurnya Chio bergumam.
Berpelukkan dengan membelakangi pria merman itu, seolah ada lem perekat diantara mereka berdua, dan tak dapat dipisahkan. Para manusia tertidur lelap di tempat tinggalnya masing-masing, kesunyian melanda gulita, dan dengkuran di kamar itu terdengar keras.
Romantis sekali mereka.