NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031

Dua hari setelah lelang Galeri Cahaya, Hans mengirim pesan sebelum matahari benar-benar naik.

Mau ikut ke Puncak?

Kiana baru selesai membalas email dari tim Vista Home tahap dua. Matanya masih sedikit berat, tetapi satu kalimat pendek dari Hans membuat kantuknya hilang.

Ke Puncak untuk apa?

Melihat seorang tetua.

Balasan itu khas Hans. Terlalu singkat, terlalu banyak ruang kosong di belakangnya.

Kiana menatap layar beberapa detik, lalu mengetik: Aku ikut.

Ia tidak tahu mengapa jawabannya keluar secepat itu. Mungkin karena sejak malam di bawah lampu jalan, kata keluarga dalam hidup Hans tidak lagi terdengar seperti informasi. Kata itu terdengar seperti luka yang ditutup terlalu rapi.

Pukul sembilan pagi, Hans menjemputnya dengan mobil hitam sederhana. Ia memakai kemeja abu-abu muda, bukan seragam damkar. Rambutnya rapi, wajahnya tetap tenang, tetapi Kiana melihat tangannya dua kali memeriksa amplop cokelat di kursi belakang.

"Itu apa?"

"Obat dan laporan dokter."

"Untuk tetua yang kamu bilang?"

Hans mengangguk.

Kiana tidak bertanya lebih jauh.

Perjalanan menuju Puncak memakan waktu lebih lama karena macet akhir pekan sudah mulai terasa. Di luar jendela, gedung Jakarta perlahan berubah menjadi kios oleh-oleh, kebun kecil, dan udara yang lebih dingin. Kiana sempat tertidur sebentar, lalu terbangun ketika mobil berbelok memasuki jalan privat dengan pepohonan besar di kanan kiri.

Panti Puncak tidak terlihat seperti panti jompo biasa.

Gerbangnya dijaga satpam berseragam rapi. Di dalam, jalan kecil mengarah ke beberapa bangunan rendah berwarna putih tulang, masing-masing dipisahkan taman dan jalur batu. Ada papan kecil bertuliskan ruang fisioterapi, ruang memori, klinik, dan dapur khusus. Dua perawat mendorong kursi roda seorang pasien melewati taman lavender tanpa tergesa.

Aroma minyak kayu putih dan bunga basah menyambut mereka ketika turun.

Kiana menatap sekeliling.

"Ini panti?"

"Ya."

"Fasilitasnya seperti rumah perawatan privat."

Hans mengambil amplop cokelat. "Memang privat."

Jawaban itu tidak menjawab apa-apa, tetapi cukup membuat pertanyaan baru tumbuh.

Seorang perawat senior menyambut Hans di lobi kecil. Ia tidak banyak basa-basi, tetapi cara tubuhnya sedikit menunduk menunjukkan rasa hormat yang tidak biasa diberikan kepada keluarga pasien biasa.

"Pak Hans, Nyonya sudah menunggu sejak pagi."

Nyonya.

Kiana menangkap kata itu, tetapi tidak menunjukkan reaksi.

Hans hanya mengangguk. "Kondisinya?"

"Hari ini cukup jernih. Tadi pagi sempat menanyakan cucunya yang lain, tapi setelah sarapan membaik."

Kiana merasakan langkah Hans melambat setengah detik.

Cucunya yang lain.

Mereka melewati koridor yang sunyi. Di dinding ada lukisan bunga peony dan foto-foto lama Puncak tahun tujuh puluhan. Kamar paling ujung bukan kamar biasa, melainkan semacam paviliun kecil dengan pintu kaca menghadap taman. Di dekat jendela, seorang perempuan tua duduk di kursi roda, rambut putihnya disanggul rapi. Kebaya encim warna gading menutup bahunya, dan selimut tipis dilipat di pangkuan.

Usianya terlihat dari keriput dan tangan yang agak gemetar.

Tetapi punggungnya tetap tegak.

Seolah tubuhnya mungkin melemah, tetapi kebiasaan memerintah dunia belum benar-benar pergi.

Hans berhenti di ambang pintu.

Wajahnya berubah.

Kiana pernah melihat Hans dingin, waspada, terluka, sedikit tersenyum, bahkan malu. Tetapi ia belum pernah melihat kelembutan seperti itu turun begitu jelas ke matanya.

"Ama," katanya pelan.

Perempuan tua itu menoleh.

Matanya yang semula jauh tiba-tiba hidup. "Cucuku datang."

Hans berjalan mendekat, berlutut di samping kursi roda, lalu membiarkan perempuan itu menyentuh wajahnya. Gerakannya pelan, hampir hati-hati, seperti seorang anak yang takut membuat orang tua terkejut.

"Sudah makan?" tanya perempuan itu.

Kiana hampir tersenyum.

Ternyata pertanyaan itu memang warisan keluarga.

"Sudah," jawab Hans.

"Bohong. Pipimu kelihatan lebih tirus." Perempuan itu menepuk lengan Hans dengan tenaga kecil. "Pemadam juga harus makan. Api tidak bisa dipukul dengan perut kosong."

"Iya, Ama."

Nada patuh Hans membuat dada Kiana menghangat.

Lalu mata perempuan itu berpindah kepadanya.

Dalam satu detik, tatapan tajam itu menilai gaun sederhana Kiana, wajahnya, cara ia berdiri, dan mungkin juga rasa gugup yang tidak sempat disembunyikan.

"Ini siapa?"

Hans berdiri. Telinganya, yang biasanya tidak mudah menunjukkan apa-apa, perlahan memerah.

"Istri saya."

Kiana menahan napas.

Perempuan tua itu membelalakkan mata, lalu wajahnya bersinar seperti anak kecil yang baru mendapat kabar bagus.

"Istri?" Ia mengulurkan tangan. "Sini, sini. Kenapa berdiri jauh begitu? Cucu menantu harus dilihat dekat-dekat."

Kiana mendekat dan menunduk sopan. "Selamat pagi, Nenek."

Tangan perempuan tua itu menggenggam tangannya. Hangat, tipis, tetapi kuat.

"Cantik." Ia mengangguk puas. "Matanya tidak kosong. Bagus. Anak perempuan yang matanya hidup tidak mudah dibohongi orang."

Kiana terdiam sejenak.

Hans menatap jendela, seolah kalimat itu terlalu tepat.

"Nama kamu?"

"Kiana."

"Kiana..." Perempuan tua itu mengulang, lalu tersenyum. "Nama yang terang. Cocok. Cucu saya ini memang butuh orang terang. Kalau tidak, dia bisa diam sampai lumut tumbuh di mulutnya."

Kiana tidak bisa menahan tawa kecil.

Hans menghela napas. "Ama."

"Apa? Benar." Perempuan tua itu menunjuk Hans dengan dagu. "Tinggi satu meter delapan puluh delapan, bahu lebar, muka bagus. Tapi bicara tiga kata saja seperti bayar pajak."

Satu meter delapan puluh delapan.

Angka itu masuk ke kepala Kiana dengan aneh. Ia pernah mendengar orang membicarakan sosok Erlan Kei di pesta, menyebut tinggi dan bentuk tubuh yang mirip Hans. Saat itu ia tidak terlalu memikirkan detailnya. Sekarang, angka yang keluar dari mulut nenek ini membuat potongan lama bergerak pelan.

Hans mengambil gelas air dari meja kecil. "Minum dulu."

"Jangan alihkan pembicaraan." Perempuan tua itu menerima gelas, menyesap sedikit, lalu kembali menatap Kiana. "Kalau dia menyebalkan, bilang Ama. Ama pukul pakai tongkat."

"Tongkatnya disimpan perawat," kata Hans datar.

"Berarti kamu sudah takut."

Kiana tertawa lagi, kali ini lebih bebas.

Ruangan itu terasa hangat, tetapi bukan hangat yang ringan. Ada sesuatu di balik setiap candaan. Sesuatu yang membuat Hans berdiri lebih dekat dari biasanya, seolah takut satu kalimat salah bisa menarik perempuan tua itu ke tempat yang tidak bisa ia ikuti.

Benar saja, beberapa menit kemudian, mata perempuan tua itu tiba-tiba bergerak ke pintu.

"Yang satu lagi mana?"

Hans membeku.

Kiana merasakan udara berubah.

Perempuan tua itu mengerutkan kening. "Cucuku yang satu lagi. Dia juga tinggi. Anak baik. Nanti Ama kenalkan ke kamu, Kiana. Dia pintar, tampan, cuma terlalu suka menyembunyikan hati."

Kiana menoleh kepada Hans.

Wajah Hans menggelap, tetapi bukan marah kepada nenek itu. Lebih seperti seseorang yang menahan pintu agar kenangan tidak menyerbu masuk.

"Ama," suaranya rendah, "Kiana istri saya."

Perempuan tua itu berkedip. Kebingungan melintas sebentar, lalu ia menatap tangan Kiana yang masih ia genggam.

"Istri kamu?"

"Iya."

Beberapa detik kemudian, perempuan tua itu tersenyum lagi, lebih lembut dan lebih rapuh. "Bagus. Kalau begitu jangan kamu lepas. Anak perempuan seperti ini tidak datang dua kali."

Kiana merasa tenggorokannya seret.

Perawat masuk membawa obat dan membantu mengalihkan suasana dengan sangat terlatih. Hans menyerahkan amplop cokelat, bertanya tentang dosis, jadwal fisioterapi, dan malam-malam ketika nenek itu sulit tidur. Kiana duduk di samping jendela, mendengarkan. Cara Hans bertanya begitu rinci, begitu sabar, jauh dari pria yang di luar biasa menjawab semua hal dengan satu kata.

Ketika mereka pamit, perempuan tua itu menarik tangan Kiana sekali lagi.

"Datang lagi, ya. Jangan cuma bawa cucuku. Bawa juga cerita."

"Saya akan datang lagi, Nenek."

"Bagus." Ia menatap Hans. "Antar dia baik-baik. Jangan jalan terlalu cepat. Perempuan cantik tidak boleh disuruh mengejar."

Hans menunduk. "Iya, Ama."

Di mobil, jalan turun dari Puncak terasa lebih sunyi.

Kiana menunggu sampai mereka melewati gerbang privat sebelum bertanya, "Kenapa Nenek tinggal di panti? Fasilitasnya sangat bagus, tapi tetap saja... dia sendirian di sana."

Tangan Hans di setir mengencang sedikit.

Mobil melaju melewati kabut tipis yang turun di antara pepohonan.

"Keluarga kami rumit," katanya akhirnya.

Kiana menatap profil wajahnya.

"Terlalu rumit untuk orang tua yang ingatannya kadang pulang ke masa lalu dan kadang tersesat di dalamnya."

"Dia memilih tinggal di sana?"

"Dulu, iya." Hans menelan pelan. "Sekarang kami yang menjaga pilihan itu, karena rumah tidak selalu berarti tempat yang paling aman."

Kiana tidak menjawab.

Ia teringat perempuan tua dengan kebaya gading, punggung tegak, tangan gemetar, dan mata yang sesaat mencari cucu yang lain.

Kiana belum tahu siapa cucu lain itu.

Tetapi ia mulai mengerti satu hal.

Dalam keluarga Hans, rahasia tidak hanya disimpan oleh orang hidup.

Rahasia juga tinggal di ingatan yang perlahan pecah.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!