NovelToon NovelToon
Azura And The Lost King

Azura And The Lost King

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: HikmahToo

Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.

Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.

Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.

Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.

Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.

Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.

Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.

Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?

Takhtanya...

Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?

up rutin. 06:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata yang kembali bertemu

LUNAVENTIA.

luar istana masih belum mengetahui atas hilangnya sang raja, mereka masih berusaha menyembunyikan rahasia ini.

Meskipun entah sampai kapan?

Pencarian diam-diam bahkan sudah di lakukan, hingga ke bukit-bukit tinggi mereka cari, sampai tidak ada satupun tempat yang terlewat.

Bahkan mereka selalu mendatangi tempat yang sama.

Namun hasilnya selalu nihil.

Leonard hilang bak di telan bumi.

Pihak istana masih berusaha bersikap tenang, semua mereka lakukan demi menjaga agar tidak ada keributan yang mempertanyakan sosok Leonard.

Di tengah kepanikan pencarian Leonard.

Lunaventia kembali di gegerkan dengan kehadiran Valencia Aurora Clarissa dan Valendria Everial Ellea secara tiba-tiba.

Mereka Adalah raja dan ratu dari kerajaan Valeriona.

Ibunda mendiang Ratu Elvaria Naresta Laviena.

Yang berarti besan dari lunaventia.

Saat mendengar hilangnya sang cucu di hari pertamanya menjadi seorang Raja.

Aurora cemas, dia terus mendesak Everial untuk mengunjungi lunaventia.

Walaupun jaraknya begitu jauh, hampir empat hari tiga malam mereka di perjalanan.

Tapi hari itu, mereka hanya melewati dua hari dua malam untuk sampai di kerajaan ini.

Mereka di sambut meriah oleh istana, karna kehadiran mereka sangat jarang datang ke istana, alasannya karna jarak yang terlalu jauh.

Dan benar dugaan para petinggi istana, para rakyat akan menanyakan ketidak hadiran seorang raja di acara kedatangan kakek dan neneknya.

"Di mana yang mulia maharaja? Kenapa beliau tidak menyambut kedatangan yang langka ini?"

Tanya salah satu rakyat.

"Benar, sedari tadi hanya ada pangeran Dhapne, aku tidak melihat yang mulia raja"

Timpal dari mereka.

Dhapne tersenyum haru, matanya berkaca-kaca.

Ingin sekali dia berlari untuk memeluk mereka, memberi tau tentang hilangnya Leonard.

Arselia kecil yang tidak tau mereka siapa, hanya menatap polos dengan mata bening yang bulat.

Dia menatap Dhapne yang hampir menitikan air mata.

'siapa mereka? Apa mereka membawa kak Leon pulang?'

Batin kecilnya bertanya-tanya.

"YANG MULIA RAJA DAN RATU DARI VALERIONA TELAH TIBA...."

Kuoonnggg.....

Terompet berbunyi nyaring ketika salah satu Prajurit meniupnya dengan kencang.

Gerbang istana terbuka lebar, karpet merah membentang hingga ke ujung jalan.

Kereta yang mereka gunakan memasuki halaman istana, semua orang menunduk hormat, tidak ada satupun yang berani mengangkat kepala, kecuali anak balita yang belum mengerti.

Di belakangnya, para pengawal mengikuti dengan rapi, langkah kuda dan kaki mereka begitu teratur dan disiplin.

Mereka berdua turun dari dalam kereta kuda, mengangguk kecil pada rakyat dan anggota istana lain yang telah menyambut kedatangannya.

Aurora menghampiri permaisuri yang tengah memegangi tangan Arselia, dan memeluknya sebentar.

"Selamat datang Aurora, kau tidak bilang jika akan datang ke mari, maaf jika penyambutan nya begitu sederhana"

Ucap permaisuri dengan nada lemah.

Aurora menggeleng pelan, tersenyum lembut, lalu matanya beralih pada Aurora yang terus menatapnya.

Aurora berjongkok, Arselia segera bersembunyi di belakang permaisuri.

Aurora tersenyum tipis.

Kembali berdiri.

Menghampiri Dhapne yang terus menatapnya.

Dia merentangkan kedua tangannya.

Dengan cepat, Dhapne memeluk Aurora.

"Nenek, hiks hiks..."

Dhapne tak kuasa membendung air matanya, Aurora segera mengurai pelukan dan menghapus air mata Dhapne lembut.

"Kau seorang ksatria, tidak boleh menangis. Apa kau tidak malu dengan pedang di pinggang mu?"

Ucapnya terkekeh, padahal matanya saat ini sudah berembun.

Everial tersenyum haru melihat pertemuan mereka, dia mengusap sudut matanya yang sedikit berair.

Aurora, Everial, Dhapne, dan permaisuri.

Tengah duduk melingkar di sebuah kursi kayu.

Sementara Arselia tengah bermain riang dengan para pengasuh.

Mereka tengah berada di taman mawar, tempat favorit Elvaria semasa ada.

Salah satu pelayan menyajikan teh.

Aurora mengambil cangkir tersebut dan menyesal teh nya sedikit.

"Jadi, dia belum di temukan?"

Tanya Aurora.

Permaisuri menaruh cangkirnya, menghela nafas lelah.

"Aku tidak tau dia pergi ke mana, tapi yang pasti, dia meninggalkan mahkota nya"

Sahut permaisuri.

Aurora dan Everial mengerutkan dahinya.

"Jadi, dia pergi tanpa mahkota?"

Permaisuri mengangguk lemah, imun tubuhnya semakin lemah, di tambah faktor umur yang sudah lansia.

Dhapne hanya menunduk mendengar kan, sesekali menatap sekeliling berharap matanya melihat Leon yang tengah bersembunyi.

Everial semakin tak mengerti, memijat keningnya.

"Apa tujuan dia meninggalkan istana? Apa dia tidak bersedia menjadi raja?"

Tanya Everial bingung.

"Kaka tidak se pengecut itu untuk melakukan hal ini kek"

Sahut Dhapne, dia tau karakter Leon, dia lebih baik menolak dari pada kabur seperti ini.

Mereka mengangguk setuju, karakter Leon tidak beda jauh dengan Qhilandra, mereka sama-sama bertanggung jawab.

Aurora menatap mereka bergantian.

" Jadi saat ini, apa yang kalian lakukan untuk mencegah hal yang tidak di inginkan, apalgi ini istana, akan selalu ada musuh yang berkedok pelayan, ataupun kerabat"

Everial mengangguk setuju.

Permaisuri menatap Arselia yang tengah tertawa.

"Kita sebisa mungkin menjaga agar kabar ini tidak keluar dari istana, dengan dalih Leonard tengah sakit akibat kepergian ayahnya"

Tatapannya menerawang jauh, bibir keriputnya tersenyum tipis.

"Lagipula, tidak ada yang mengetahui selain kita berdua dan para prajurit kepercayaan, bahkan, kerajaan tetangga pun tidak ada yang tau"

Ucap Dhapne ikut menimpali.

Mereka mengangguk setuju, pembicaraan berhenti ketika ada pelayan yang mengantarkan kudapan untuk mereka.

Selepas pulang dari kantor polisi, Leonard duduk termenung di kasurnya.

Dia merindukan ayah, ibu, dan kake nenek nya.

Terutama saat melihat Excel, mata anak itu tak berbeda jauh dengan Arselia, jernih dan bulat, membuat Leon selalu ingin bertemu dengannya.

Tok... Tok... Tok...

Leon tersentak ketika pintu di ketuk dari luar.

Ceklek...

Leon menegakan tubuhnya ketika tau Azura yang datang.

Entah kenapa, Leon seperti memiliki trauma tersendiri ketika di dekati Zura.

Padahal gadis itu hanya menjewernya.

Apalagi ketika melihat pakaian yang dikenakan Azura selalu pendek, karna dia hanya mengenakan daster satin selutut tanpa lengan.

Azura membawa nampan dengan beberapa mangkuk dan piring kecil.

Berjalan mendekati Leon yang malah berdiri menjauh.

Azura mengangkat sebelah alis heran, dia menyimpan nampan tersebut di meja.

Sedikit melangkah mendekati Leon.

Namun pria itu malah membuang pandang dengan terus melangkah mundur.

Ppftt...

Azura menahan tawa, ide jahilnya tiba-tiba muncul.

Dia terus melangkah mendekati, dan Leon lagi-lagi mundur dengan membuang pandang.

Azura berdecak pinggang, wajahnya datar.

"Lo kenapa?"

Leon tak menjawab, dan malah membelakangi Zura.

Zura menukikan alis, dengan bibir ke atas.

"Lo mau makan gak? Kalo gak mau gue bawa balik makanannya!"

Sentaknya sinis.

"Aku tidak lapar!!"

Sahut Leon dingin.

Kruyukkkk....

Tapi perutnya berkhianat.

Wajah Leon sudah merah seperti tomat rebus, untung Zura tidak melihatnya.

Tapi Zura, mendengar suara perut Leon.

Dia mendelikan matanya, menyilangkan tangan.

"Kalo laper makan aja, gak usah sok nolak gitu"

Leon tak bergeming, masih berusaha menahan malu juga kesal pada perutnya.

Tak ada pilihan, Azura menarik tangan Leon, hendak menyeretnya untuk duduk di kursi.

"Udah sini, Lo jangan gengsi gitu- Kya..."

Hap...

Azura hendak jatuh karna tersandung kakinya sendiri, tapi untunglah Leon cepat berbalik dan menangkapnya tepat waktu.

Tatapan mereka bertemu, dan Leon merasakan hal aneh ketika mata itu menatapnya.

'mata itu'

Untuk pertama kalinya, dia tidak mengalihkan pandangannya.

Mata hazel itu terasa lebih dekat dengannya.

Bahkan sangat dekat.

"Lo..."

Azura bahkan tidak tau apa yang akan dia katakan.

Deg-deg, deg-deg.

Jantung Leon berpacu cepat, tapi mereka seolah larut dengan tatapan masing-masing.

'ganteng banget dia... Gue bisa gila!!!'

Batin Zura berteriak.

Bersambung...

1
gendiz
semangat lanjutkan menulisnya 💪 kalau sempat mampir baca karyaku juga ya
HikmahToo: iya kak✨ makasih udah mampir
total 1 replies
MayAyunda
mampir tor
HikmahToo: makasih kak🙏😍
total 1 replies
HikmahToo
guys jangan lupa kasih bintang nya ya, maacih
MayAyunda
lanjut kak
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
semangat buat penulis 💚
HikmahToo: makasih ka✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!