NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Bukan Alat

Tim Arga menyisir lantai bawah tanah selama dua jam.

Surya tidak ada.

Yang ada hanya ruangan kosong, arsip rusak, alat lama yang sudah dibersihkan, dan beberapa hard drive yang sengaja ditinggalkan seperti umpan. Terlalu mudah ditemukan. Terlalu jelas untuk dipercaya.

Lestari hampir menangis karena frustrasi.

“Ini semua bisa jebakan data.”

Bima menatap tumpukan hard drive. “Bahkan barang bukti sekarang bisa pura-pura?”

“Bisa,” jawab Lestari. “Dan kalau kita buka sembarangan, sistem kita bisa kena.”

Ayla duduk di tangga beton sambil membersihkan debu dari sepatu. “Surya ingin kita buka.”

Arga berdiri di depannya. “Kamu yakin?”

“Dia tipe orang yang suka ditonton. Kalau dia meninggalkan data, berarti dia ingin mengatur cara kita melihatnya.”

Maya bersandar di dinding, masih terlihat terlalu rapi untuk orang yang baru keluar dari gas iritan. “Setuju. Dia tidak memberi bukti. Dia memberi narasi.”

Arga menatap hard drive itu. “Tetap kita amankan. Tapi dibuka di ruang isolasi.”

Lestari mengangguk cepat. “Aku siapkan sandbox terpisah.”

Bima berbisik, “Aku tidak tahu sandbox apa, tapi kedengarannya mahal.”

Maya tersenyum. “Kalau kurang mahal, bilang padaku.”

Bima memutuskan tidak menanggapi.

Ayla berdiri. Kakinya sedikit goyah, sangat sedikit. Arga melihat.

“Duduk.”

“Aku berdiri.”

“Itu observasi, bukan argumen.”

“Aku baik.”

Arga mendekat setengah langkah. “Kamu hampir kena serangan memori traumatis di ruangan berisi gas.”

Ayla menatapnya. “Istilahmu panjang.”

“Duduk.”

Maya pura-pura melihat kuku. “Aku mendukung Pak Arga.”

Ayla menoleh tajam.

Maya tersenyum. “Apa? Sekali-sekali aku ingin berada di pihak orang waras.”

Ayla akhirnya duduk kembali. Bukan karena lemah. Karena kalau dia terus berdiri, Arga akan terus menatapnya seperti dia sesuatu yang bisa retak.

Dia tidak suka itu.

Atau terlalu suka. Sama buruknya.

Arga berjongkok di depannya, menyodorkan botol air. “Minum.”

“Kamu selalu bawa air?”

“Sejak bertemu kamu, saya belajar membawa beberapa hal.”

“Apa saja?”

“Air, bukti, dan kesabaran.”

Maya tertawa.

Bima, yang sedang lewat, bergumam, “Kesabaran paling penting.”

Ayla menerima botol itu. “Kalian membentuk klub?”

Arga tidak menjawab. Dia melihat mata Ayla yang masih sedikit merah.

“Kamu perlu pemeriksaan.”

“Kamu sudah bilang.”

“Dan kamu belum setuju.”

“Karena aku tidak suka jadi pasien.”

“Tidak ada yang suka.”

“Aku juga tidak suka dokter.”

“Kamu suka mempersulit.”

“Itu benar.”

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.

Maya melihat itu dan senyumnya berubah lebih lembut, tetapi dia cukup bijak untuk tidak berkomentar.

Dari radio, suara Lestari terdengar. “Pak Arga, kami dapat satu terminal aktif di ruang atas. Sepertinya baru dipakai untuk mengirim paket data keluar. Tujuannya... tunggu... ke akun media.”

Arga berdiri. “Media apa?”

“Akun gosip hiburan. Beberapa file gambar sedang dijadwalkan tayang pagi ini.”

Ayla mengangkat wajah.

“Gambar apa?”

Lestari diam sebentar. “Foto lama anak-anak di laboratorium. Ada wajah yang mirip Ayla.”

Maya langsung berkata, “Blokir.”

“Sedang. Tapi ada beberapa jalur. Satu sudah terkirim ke server luar.”

Bima mengumpat.

Arga menatap Ayla. “Surya ingin publik melihatmu sebagai bagian dari skandal.”

Ayla berdiri. Kali ini Arga tidak menyuruh duduk.

“Tidak. Dia ingin keluarga Prameswari melihat.”

Maya mengerti lebih dulu. “Yayasan anak hilang.”

Ayla mengangguk. “Jika foto anak eksperimen muncul, orang akan menghubungkan yayasan, Alina, keluarga Prameswari, dan aku. Surya tidak perlu membuktikan apa pun. Publik akan mengunyah sisanya.”

Arga memberi instruksi cepat pada Lestari untuk menahan sebaran. Maya menghubungi tim medianya. Bima mengatur pengamanan keluarga Prameswari.

Ayla mengambil ponsel.

Ada pesan dari Reno:

Ada akun gosip menghubungi manajerku. Mereka bilang punya foto masa kecilmu. Apa yang terjadi?

Ayla membalas:

Jangan jawab.

Reno:

Mama melihat pratinjau fotonya. Dia menangis.

Ayla menutup mata sebentar.

Surya benar-benar tahu tempat menekan.

Arga melihat wajahnya. “Kita tangani.”

“Kamu selalu bilang kita.”

“Karena kamu selalu mencoba melakukan sendiri.”

“Aku terbiasa.”

“Saya tahu.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti teguran. Lebih seperti pengakuan.

Ayla menyimpan ponsel.

“Aku harus pulang.”

“Kita pulang ke rumah Prameswari, lalu kamu ikut pemeriksaan setelah situasi stabil.”

“Kamu menyisipkan syarat.”

“Ya.”

“Licik.”

“Belajar dari konsultan eksternal.”

Ayla hampir tersenyum.

Mereka meninggalkan institut saat langit mulai abu-abu. Di mobil, Maya duduk di depan bersama Bima, sengaja memberi Ayla dan Arga ruang di belakang. Terlalu sengaja, tetapi Ayla terlalu lelah untuk protes.

Arga berkata pelan, “Di ruangan tadi, saya tidak mengatakan itu untuk membuatmu lemah.”

Ayla tidak menoleh. “Mengatakan apa?”

“Bahwa kamu bukan alat.”

Dia diam.

Arga melanjutkan, “Saya tidak tahu apa yang terjadi empat belas tahun lalu. Saya juga tidak tahu apa yang Besi Kelabu lakukan setelah menemukanmu. Tapi dalam penyelidikan saya, orang sering memakai kata aset, subjek, sumber, target. Lama-lama manusia hilang di balik fungsi.”

Ayla melihat kaca jendela.

Wajahnya terpantul samar.

“Kamu banyak bicara setelah kurang tidur.”

“Mungkin.”

“Jangan terlalu sering.”

“Kenapa?”

Ayla akhirnya menoleh.

“Nanti aku terbiasa.”

Arga tidak langsung menjawab.

Mobil melaju menuju rumah Prameswari. Di depan mereka, pagi Jakarta mulai hidup. Di belakang, institut tua itu menyimpan sisa suara anak kecil yang masih menempel di kepala Ayla.

Namun untuk pertama kalinya sejak file itu terbuka, suara itu tidak sendirian.

Ada suara Arga juga.

Kamu bukan alat.

Menyebalkan.

Tetapi tidak buruk.

Saat mobil hampir sampai rumah Prameswari, Reno menelepon lagi. Kali ini suaranya lebih tenang, tetapi tegang.

“Foto itu belum keluar. Tim Maya benar-benar menahan semuanya?”

Maya yang duduk di depan menjawab keras, “Tentu saja. Aku mahal karena efektif.”

Reno terdiam di seberang. “Bu Maya ada di mobil?”

“Sayangnya,” kata Ayla.

“Untungnya,” koreksi Maya.

Reno menghela napas. “Mama ingin bicara denganmu.”

“Tidak sekarang.”

“Aku tahu. Aku bilang begitu. Dia tidak memaksa, cuma... dia duduk di depan kamar tamu sejak tadi.”

Ayla melihat keluar jendela.

Ratna duduk di depan kamar tamu. Menunggu. Bukan memanggil. Bukan menyuruh. Hanya menunggu.

Itu lebih sulit dihadapi daripada kemarahan.

“Suruh dia tidur,” kata Ayla.

“Dia tidak akan dengar.”

“Masalah keluarga kalian.”

Reno diam sebentar. “Keluarga kita.”

Ayla tidak menjawab.

Maya menoleh sedikit, tetapi tidak berkata apa-apa.

Arga juga mendengar. Kali ini dia tidak menggunakan kalimat lembut apa pun. Dia hanya duduk di samping Ayla, membiarkan kata itu menggantung.

Keluarga kita.

Ayla pernah menganggap kata itu barang orang lain. Sesuatu yang dipakai Alina untuk mendapat perlindungan, dipakai Ratna untuk menuntut pengertian, dipakai Marwan untuk menutup masalah.

Sekarang kata itu datang dari Reno dengan suara lelah, tanpa permintaan.

Itu membuatnya jauh lebih mengganggu.

“Reno,” kata Ayla akhirnya.

“Ya?”

“Jangan biarkan siapa pun masuk rumah sebelum kami sampai.”

“Aku mengerti.”

Panggilan berakhir.

Arga berkata pelan, “Kamu menjawabnya.”

“Dia memberi informasi taktis.”

“Tentu.”

Ayla meliriknya. “Jangan tersenyum.”

“Saya tidak.”

“Wajahmu hampir.”

Arga melihat lurus ke depan.

Maya tertawa tanpa suara.

Sebelum mobil masuk gerbang rumah Prameswari, Ayla menerima satu pesan lagi dari nomor tidak dikenal.

Kau mulai percaya pada mereka. Itu membuatmu lambat.

Tidak ada tanda tangan.

Tidak perlu.

Ayla menunjukkan pesan itu pada Arga.

“Surya?”

“Atau orangnya.”

Arga membaca, lalu berkata, “Dia ingin memisahkanmu.”

“Dia tidak salah soal lambat.”

“Lambat tidak selalu buruk. Kadang itu yang membuat orang tetap hidup.”

Ayla menyimpan ponsel. “Kamu benar-benar kurang tidur. Kalimatmu makin filosofis.”

“Dan kamu makin banyak mendengar.”

Ayla tidak membalas.

Mobil berhenti. Di depan pintu rumah, Ratna benar-benar duduk menunggu seperti kata Reno. Begitu melihat Ayla turun, dia berdiri, tetapi tidak mendekat.

Untuk orang seperti Ratna, menahan diri mungkin usaha paling besar malam itu.

Ayla berjalan melewatinya dan berkata, “Aku belum mati.”

Ratna menangis lagi.

Ayla pura-pura tidak melihat.

Di ambang pintu, Ratna akhirnya berkata, “Kamu mau makan dulu?”

Pertanyaan itu terlalu biasa sampai hampir terdengar tidak pantas.

Ayla berhenti sebentar.

“Tidak lapar.”

“Kalau nanti lapar, dapur masih buka.”

Ayla tidak menjawab. Dia naik tangga dengan langkah pelan.

Di belakangnya, Arga melihat Ratna tetap berdiri di tempat, memegang jaket yang semalam tidak diterima.

Rumah itu masih rusak.

Tetapi setidaknya, seseorang mulai menyalakan lampu dari dalam.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!