"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Di sebuah gedung apartemen mewah 30 lantai yang menjulang tinggi, seluruh lantai paling atasnya tidak terbagi menjadi beberapa unit, melainkan dibangun khusus sebagai satu hunian utuh yang teramat luas.
"Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini bersamaku!" Arisya tersenyum puas, melangkah anggun sembari menuntunku menuju sebuah pintu besar di ujung lorong pribadi. "Dan ini kamarmu."
Ketika pintu dibuka, mataku terbelalak tipis. Kamar itu sendiri begitu luas—bahkan terlalu besar untuk ukuran tempat tidur seseorang sepertiku. Aku sampai tidak sanggup membayangkan seberapa megah kamar utama milik Arisya sendiri.
"Kalau begitu, istirahatlah dulu untuk hari ini. Aku akan menjelaskan detail pekerjaanmu besok," ucap Arisya santai, lalu menarik pintu hingga tertutup rapat.
Aku berdiri mematung beberapa saat di tengah ruangan yang harum dan senyap.
Waahh... aku benar-benar ikut dengannya, batinku heran pada diri sendiri. Apa sebenarnya aku ini wanita murahan yang gampang dibujuk?
“Kau baru menyadarinya sekarang?”
Suara familiar yang menggelitik itu memotong pikiranku.
Aku mengernyit. Sena? Kenapa kau baru muncul sekarang? Aku pikir kau akan berusaha keras menghentikanku waktu di ruang besuk tadi.
“Siapa bilang?” Sena terkekeh pelan di dalam mental realm. “Kan aku sendiri dulu yang memaksamu untuk mencari cara keluar dari tempat busuk itu. Terlebih lagi... apa kau lupa? Kondisi mentalmu itu masih sangat tidak stabil. Keputusan yang kau buat selalu labil dan berubah-ubah. Tapi karena kau pandai menyembunyikannya di balik raut datar itu, orang lain jadi tidak menyadari kalau kau sebenarnya sudah hampir kehilangan seluruh kewarasanmu.”
Jadi kau ingin menyebutku gila?
“Memang salah?”
Aku terdiam, tidak mampu membalas. Memang benar... proses bimbingan konseling dan terapi psikologis yang kujalani dulu tidak pernah benar-benar selesai. Dokter mental pun belum pernah sekalipun menyatakan bahwa aku sudah 'sembuh'.
Namun, ego kecil di dalam dadaku menolak kalah. Meskipun begitu, aku yang cantik, pintar, dan kuat ini masih termasuk unggul di bidangnya. Bayangkan kalau aku sudah sembuh sepenuhnya, aku pasti akan jadi jenius nomor satu yang tiada tara.
“Ya, ya, ya... teruslah bermimpi, Princess,” cibir Sena bernada malas.
Kau semakin menyebalkan saja.
“Terima kasih atas pujiannya!”
Sama-sama.
Aku merebahkan tubuhku ke atas kasur empuk berukuran king-size. Sensasi kelembutan seprei sutra menyerap seluruh rasa pegal di badanku.
"Sudah lama sekali aku tidak tidur di kasur seempuk ini," gumamku menikmati kenikmatan fisik yang sudah bertahun-tahun tak kurasakan. "Malahan, ini jauh lebih empuk dan nyaman daripada kasur di rumahku dulu."
Aku berguling-guling santai di atas kasur lebar itu, lalu berhenti dalam posisi telentang, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran lampu gantung minimalis.
"Apa ini benar-benar tidak apa-apa?" gumamku lirih pada hampa. "Apa sungguh ini keputusan yang tepat?"
“Kau dengar sendiri apa yang dikatakan gadis kaya itu, kan?” sahut Sena, kali ini tanpa nada mengejek. “Kau sudah bertanggung jawab dengan sangat baik. Dan sekarang, kau pantas mendapatkan apa yang kau nikmati saat ini.”
Aku menaikkan sebelah alis. Apa kau sedang mencoba menghiburku?
“Tidak mungkin. Jijik sekali.”
Haha... tentu saja. Mana mungkin seorang Sena menghibur orang lain.
Ruangan kamar kembali hening. Kehangatan tempat tidur dan usapan kelelahan emosional perlahan menarik kesadaranku turun. Rasa kantuk yang amat berat menyelimuti seluruh tubuh.
"Aku merasa... sedikit lelah," gumamku rendah, membiarkan mataku terpejam hingga akhirnya jatuh tertidur lelap.
Pukul 08.00 WIB
Aku terbangun dengan perasaan nyaman yang membuncah di dalam dada. Rasanya sudah bertahun-tahun aku tidak menikmati tidur senyenyak ini tanpa diiringi gertakan sipir atau jeritan narapidana di sel sebelah.
Aku membenahi pakaianku sebentar lalu melangkah keluar kamar, menyusuri ruang tamu yang amat luas. Suasana sangat sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana—bahkan dua pengawal berjas hitam atau sekretaris pribadi Arisya yang kemarin mengikutinya pun tak kelihatan.
Arisya sendiri tidak tampak di mana-mana. Apa dia sudah berangkat kerja lebih awal?
Aku melangkah ke area dapur bersih yang didominasi marmer putih, lalu membuka pintu kulkas dua pintu yang menjulang tinggi. Kosong. Hanya ada beberapa bungkusan rempah yang belum dibuka, begitu pula dengan kantong beras di kabinet bawah. Sepertinya pemilik rumah ini memang tipe orang yang lebih sering membeli makanan di luar.
Karena cacing di perutku sudah mulai berdemonstrasi, aku memutuskan meminjam peralatan dapur mewah Arisya untuk membuat porsi sederhana: nasi goreng.
Pukul 09.00 WIB
Aku duduk santai di sofa panjang empuk, menikmati sepiring nasi goreng hangat sembari menyaksikan tayangan Berita Pagi di TV layar datar raksasa yang menempel di dinding.
"Aaarghhh... aku telat!"
Sebuah teriakan histeris mendadak memecah ketenangan. Dari lorong kamar utama, Arisya berlari keluar dengan panik. Pakaian tidurnya masih melekat kusut, dan rambut cokelat gelapnya yang indah kini mencakar ke mana-mana bagai sarang burung.
Ternyata dia baru bangun.
Arisya menghentikan langkahnya yang terburu-buru begitu melihatku duduk santai di sofa. "Hei! Kenapa kau tidak membangunkan aku?!" serunya menunjukku.
"Kau tidak bilang," jawabku santai tanpa mengalihkan pandangan dari TV, menyendokkan nasi ke dalam mulut.
"Kau pikir seperti apa tugas seorang sekretaris, hah?!"
"Kau belum menjelaskan apapun padaku kemarin."
Arisya seketika terdiam terpaku di tempatnya. Bibirnya yang mungil terbuka sedikit, tak mampu sanggah.
"Sudahlah!" mendesah pasrah, ia mengacak rambutnya yang makin berantakan lalu melangkah lunglai masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Beberapa menit kemudian, ia keluar sembari mengelap wajah cantiknya dengan handuk kecil.
"Di mana pengawal dan sekretarismu yang kemarin?" tanyaku saat ia melintas.
"Mereka kembali pada ayahku," jawab Arisya cuek.
Dahiku berkerut tipis. "...Apa kau ditelantarkan?"
Arisya mendelik tajam padaku. "Apa yang kau bilang?! Tentu saja tidak!"
"Begitu?" Aku hanya menanggapinya datar, kembali menatap skrin TV.
"Huuuuhhh..."
Arisya menghela napas panjang penuh kelelahan, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa tunggal di sampingku. Garis-garis wibawa yang kemarin ia pamerkan di penjara seolah menguap begitu saja.
Matanya melirik piring di pangkuanku. "Apa kau yang memasak itu?"
"Ya."
"Kalau begitu, ambilkan aku satu porsi!" perintahnya alami.
Gerakan tanganku yang hendak menyuap nasi seketika terhenti di udara. Aku memutar kepala, menatapnya lekat.
"Apa?" tanyanya lugu.
"Kenapa kau berekspresi seperti itu? Kau sekretarisku sekarang, sudah pasti kau yang mengurus makananku."
Aku menaikkan alis. "Apa menurutmu sekretaris dan pelayan itu sama?"
"Tentu saja!" sahutnya tanpa dosa.
Dahiku makin menyempit tajam. Sifat sinisku perlahan bangkit, memberinya tatapan dingin penuh penekanan dari jarak dekat.
Arisya terdiam sejenak. Tatapan dingin penguasa penjara yang kupancarkan rupanya sanggup membuat nyalinya ciut perlahan. Tanpa ekspresi, ia perlahan berdiri dari sofa.
"Baiklah! Baiklah! Aku mengerti!" gerutunya kesal sembari berjalan ke dapur.
Tak lama kemudian, ia kembali membawa sepiring nasi goreng buatanku, lalu menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya begitu mendaratkan bokongnya di sofa.
Seketika matanya membelalak tipis. "Hm? Enak?!"
"Tentu saja!" sahutku bangga.
"Kenapa kau malah bersikap sombong?!" protes Arisya tidak terima.
"Jika kau tidak suka, kembalikan saja aku ke penjara sekarang," balasku asal.
Lagi-lagi suasana kembali hening. Kami berdua lanjut menyendok nasi goreng masing-masing dalam diam sembari mendengarkan pembawa berita TV di depan kami.
Setelah selesai makan, aku berdiri dan berniat membawa piring kotor ke dapur. Namun, tepat saat aku melangkah, Arisya justru menyodorkan piring kotornya ke arah wajahku dengan senyum tanpa dosa.
Keningku melipat tajam.
"Wah, wah, wah... Sepertinya tuan putri yang satu ini sangat dimanja semasa hidupnya, ya?" ucapku dengan senyuman manis yang dipaksakan, namun mataku memancarkan amarah yang dingin. "Bagaimana jika sekalian kubersihkan juga tubuhmu itu? Tentu saja menggunakan amplas besi."
Arisya membeku seketika. "A-Apakah kau memang sesadis ini?"
"Apa maksudmu? Aku hanyalah gadis remaja lemah yang butuh pertolongan," balasku polos, menirukan kata-katanya di ruang besuk kemarin.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Pada akhirnya, Arisya pasrah menghadapi sekretaris abnormal yang sama sekali tidak mau dipatuhi ini. Kami berdua akhirnya pergi ke dapur bersama untuk mencuci piring.
PRANG!
PRANG!
...Namun, dari tiga piring kotor yang ada, semuanya berakhir menjadi pecahan keramik tragis di dalam bak cuci akibat ulah Arisya.
"Kau ini bodoh, ya?!" seruku tak percaya menatap pecahan piring di bawah siraman air keran.
"B-Beberisik!" Wajah Arisya memerah padam sampai ke ujung telinga karena malu. Ia memalingkan wajahnya cepat. "A-Aku hanya sedang sedikit tidak enak badan hari ini!"
"Palingan kau memang tidak pernah menyentuh piring kotor sejak lahir."
"I-Itu tidak benar!"
"Ya, itu sangat benar."
"Ahem!" Arisya berdehem keras, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur lebur di hadapan mantan narapidana.
Ia mematikan kran air lalu berjalan cepat kembali ke ruang tamu. "Mari kita membahas apa sebenarnya pekerjaanmu!" ucapnya tergesa-gesa mengalihkan topik pembicaraan saat kami kembali duduk di sofa.