NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27• Gosip Panas

Bara menemukan Naya di halte bus ujung jalan. Tubuhnya meringkuk di bangku besi, jaket Bara masih melingkar di bahunya. Lampu jalan di atasnya berkedip pelan, seperti napas yang hampir padam.

“Nay,” panggil Bara pelan.

Naya mendongak. Wajahnya pucat di bawah cahaya kuning itu. Ia tidak terkejut melihat Bara. Seolah ia sudah tahu Bara akan datang.

Bara berhenti di depannya.

“Masuk mobil.”

Naya menatap tas yang ada di tangan Bara.

“Isi apa itu?”

“Baju ganti. Selimut.” Bara menyodorkan tas itu. “Kamu gak bisa tidur di sini.”

Naya diam lama. Lalu ia bangkit tanpa berkata apa-apa.

Perjalanan ke kontrakan itu hanya lima belas menit. Tempat itu milik teman Bara yang kerja di luar kota. Kebetulan satu kamar kosong sejak bulan lalu.

Kontrakan itu sederhana. Cat dindingnya mulai mengelupas, lampunya temaram. Tapi sepi. Aman.

Bara membuka pintu kamar kosong itu. Di dalamnya hanya ada kasur tipis dan bantal.

“Nanti aku minta kunci cadangan ke penjaga,” kata Bara. Ia meletakkan tas dan selimut di atas kasur. “Kamu bisa istirahat di sini dulu.”

Naya masuk pelan. Ia memeluk tas itu seperti memeluk satu-satunya barang yang masih mau menerimanya malam ini.

“Bar…” suaranya kecil. “Terima kasih.”

Bara mendekat. Tanpa banyak kata, ia merentangkan tangan dan menarik Naya ke dalam pelukan. Hangatnya merambat cepat, menembus dingin yang sejak tadi menggigit kulit Naya.

Malam itu berjalan lambat. Terlalu lambat untuk dua orang yang tahu batas, tapi terlalu cepat untuk hati yang sudah lama haus diabaikan. Bara tahu perbuatannya salah. Tapi ia tidak mungkin diam, membiarkan perempuan yang ia cintai sendirian di tengah gelap.

Pelukan itu bertahan lama. Beberapa menit terasa seperti satu abad. Suara isakan Naya akhirnya pecah di dada Bara. Tangis yang selama ini ia tahan di rumah, kini tumpah tanpa sisa. Tangan Bara mengusap punggung Naya dengan lembut, membiarkan gadis itu meluapkan semua luka yang selama ini ia telan sendiri.

Saat tangisnya mereda, Naya melepaskan pelukan. Ia duduk di ujung kasur tipis itu, memeluk lututnya, menatap lantai tanpa fokus.

Bara ikut duduk di sebelahnya. Ia meraih tas yang tadi ia bawa, mengeluarkan selimut, lalu menyampirkannya di punggung Naya.

“Malam makin dingin. Udah jam empat. Mau Aku temenin tidur sebentar?” tawarnya.

Suara Bara pelan. Ia tidak sanggup melihat Naya seperti ini, kedinginan tapi memilih diam. Ia paham, Naya baru saja kehilangan banyak hal.

Bara membiarkan kepala Naya bersandar di bahunya. Tangannya mengusap lengan Naya, pelan dan hati-hati.

“Aku bakal bikin kamu bahagia, Nay. Aku janji. Aku gak akan bikin kamu nangis sesegukan. Gak akan bikin kamu teriak sampai suaramu hilang.”

Senyap mengisi ruangan. Hanya terdengar napas mereka berdua.

“Aku dulu diam,” lanjut Bara lirih, “karena ngerasa enggak pantes di samping kamu. Kamu cantik. Kamu mandiri. Kamu dewasa. Sementara aku masih bergantung sama orang tuaku.”

Naya tidak mengangkat kepala. Suaranya datar, tapi tidak menolak. “Iya, Bar. Aku tau. Kamu udah bilang berkali-kali. Aku masih inget kok.”

Ia tetap bersandar di bahu Bara. Dan untuk pertama kalinya malam itu, hening di antara mereka tidak terasa menghukum.

Pagi datang cepat di kontrakan itu. Terlalu cepat.

Naya baru sempat memejamkan mata sejam. Kepalanya masih bersandar di bahu Bara saat suara ketukan keras menghantam pintu.

Tok. Tok. Tok.

Bara langsung bangun. Tubuhnya kaku. Naya ikut tersentak, masih mengantuk, tapi matanya langsung waspada.

“Pak, buka pintunya. Ini Pak RT sama Bu RW.” Suara laki-laki dari luar terdengar tidak sabar.

Jantung Bara jatuh. Ia menoleh ke Naya. Wajah Naya pucat. Jaket Bara masih melingkar di bahunya.

Bara menarik napas, lalu membuka pintu.

Di depan pintu berdiri Pak RT, Bu RW, dan dua tetangga kos yang Bara tidak kenal. Mata mereka langsung menyapu ke dalam kamar. Kasur tipis. Selimut kusut. Naya duduk di ujung ranjang, rambutnya berantakan, wajahnya tanpa makeup. Dan Bara, berdiri di sampingnya, masih pakai kemeja semalam.

Senyap selama dua detik. Lalu bisik-bisik mulai pecah.

“Astaga, beneran ada laki-laki di sini.”

“Kirain cuma perempuan sendirian yang ngontrak.”

Bu RW melangkah masuk tanpa izin. Tatapannya tajam ke arah Naya.

“Mbak, ini gimana maksudnya? Semalam ada yang lapor dengar suara laki-laki sama perempuan dikamar ini. Ternyata…” Kalimatnya menggantung, tapi maknanya jelas.

Naya berdiri. Kakinya gemetar.

“Kami tidak ngapa-ngapain, Bu,” jawabnya. Suaranya rendah, tapi tidak goyah.

“Bukan soal ngapa-ngapain atau tidak,” potong Pak RT. “Ini bukan kos umum, Mbak. Ada aturannya. Laki-laki tidak boleh menginap.”

Bara maju selangkah. “Pak, ini salah paham. Saya cuma antar Mbak Naya semalam. Dia habis pergi dari rumah, tidak bawa apa-apa. Saya temenin sebentar karena dia ketakutan. Saya tidak tidur di sini.”

“Terus kenapa Mas masih disini sampai pagi, katanya tidak menginap?” salah satu tetangga celetuk. Suaranya sengaja cukup keras untuk didengar semua orang.

Wajah Naya memanas. Ia menunduk. Tangannya meremas ujung jaket.

Bu RW menghela napas panjang. “Mbak, saya minta maaf. Tapi demi ketertiban, Mbak harus cari tempat lain. Paling lambat besok siang kamar ini harus kosong.”

Tidak ada ruang untuk tawar. Keputusan sudah dijatuhkan.

Pak RT dan Bu RW pergi. Dua tetangga itu masih mengintip dari balik pintu sebelum akhirnya ikut mundur, tidak lupa saling berbisik sambil melirik ke arah Naya.

Pintu tertutup.

Senyap lagi. Kali ini lebih berat.

Naya duduk kembali di ujung ranjang. Kepalanya tertunduk. Tangannya menutup wajah.

“Aku ngerepotin kamu terus, ya, Bar,” gumamnya.

Bara berjongkok di depannya. “Bukan salah kamu. Ini salahku. Aku yang maksa nemenin kamu semalam.”

Naya menggeleng pelan. “Mereka benar, Bar. Aku masih berstatus istri orang. Aku nggak seharusnya ada di sini sama kamu.”

Kalimat itu menghantam dada Bara. Ia tidak menjawab. Karena ia tahu, Naya benar.

Di luar, suara bisik-bisik tetangga masih terdengar samar. Gosip sudah menyebar lebih cepat daripada matahari naik secara perlahan.

Dan Bara tahu, mulai hari ini, hidup Naya akan semakin sulit.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!