NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Bab 27

“Violet.”

Arga kembali memanggil namaku, suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya, seolah ingin memastikan perhatianku sepenuhnya tertuju padanya. Namun aku memilih untuk tidak menjawab sepatah kata pun. Aku hanya melangkah lurus melewatinya seolah sosoknya hanyalah udara yang tidak berarti, seolah keberadaannya tidak lagi memiliki tempat sedikit pun dalam hidupku.

Namun sebelum sempat menyentuh pegangan pintu untuk masuk ke dalam lobi gedung, tiba-tiba sebuah genggaman kuat melingkar di pergelangan tanganku. Refleks tubuhku langsung berhenti bergerak. Pandanganku turun menatap tangannya yang mencengkeram erat kulitku, lalu perlahan naik kembali menatap wajahnya yang terlihat tegang.

Dulu, sentuhan sekecil apa pun darinya sudah cukup membuat jantungku berdebar kencang, membuat pipiku terasa memanas, dan memunculkan rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Namun kini, genggaman itu hanya menimbulkan rasa tidak nyaman yang menjalar hingga ke seluruh tubuhku, seolah tersentuh oleh sesuatu yang kotor dan menjijikkan.

“Lepaskan.”

Suaraku terdengar dingin, datar, dan tanpa nada permohonan sedikit pun.

Arga terlihat terkejut mendengar nada bicaraku. Mungkin selama ini ia terbiasa melihatku yang lembut, selalu sabar, dan tidak pernah berani menegurnya dengan nada setajam ini. Matanya sedikit melebar, namun ia tidak segera melepaskan tangannya.

“Aku hanya ingin bicara sebentar,” ucapnya mencoba melunakkan nada.

“Aku tidak ingin bicara apa pun denganmu.”

“Violet, dengarkan aku dulu.”

“Aku bilang lepaskan!”

Kali ini suaraku sedikit meninggi, tegas dan tidak bisa ditawar.

Selama beberapa detik kami hanya saling menatap dalam keheningan yang terasa menegangkan. Akhirnya, dengan raut wajah yang masih terlihat enggan, Arga perlahan melepaskan cengkeramannya. Namun ia tidak mundur atau membiarkanku lewat begitu saja. Sebaliknya, ia justru melangkah maju dan berdiri tepat di hadapanku, menghalangi seluruh jalanku menuju pintu masuk.

“Aku tidak mengerti apa yang terjadi,” katanya, nada suaranya mulai terdengar penuh rasa frustrasi dan kebingungan. “Beberapa hari yang lalu semuanya masih terasa baik-baik saja. Kita saling berjanji, kita saling mencintai…”

Aku tertawa kecil, sebuah tawa yang keluar tanpa ada sedikit pun rasa gembira atau kehangatan di dalamnya. Hanya ada rasa hambar dan kelelahan yang mendalam.

“Baik-baik saja?” ulangku perlahan.

“Ya, tentu saja!” jawabnya cepat. “Kita saling mencintai, bukan?”

Mendengar kalimat itu, aku hampir saja ingin tertawa lebih keras hingga suaranya bergema di seluruh area lobi. Mencintai? Kata itu terdengar sangat konyol dan menjijikkan saat keluar dari mulutnya. Andai saja Arga tahu betapa hancurnya aku di masa lalu karena percaya pada kata-kata manis semacam itu, andai saja ia tahu betapa nistanya perasaan yang pernah kupupuk dengan tulus.

“Violet, tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi,” Arga kembali berbicara, kali ini nadanya lebih pelan dan terdengar seolah berusaha membujuk. “Aku tahu kau pasti sedang marah karena sesuatu. Katakan saja, biar aku perbaiki.”

“Aku tidak marah padamu, Arga.”

“Kalau begitu kenapa berubah mendadak seperti ini?” tatapannya penuh desakan, seolah menuntut jawaban yang bisa memuaskan logikanya. “Pasti ada kesalahpahaman di antara kita, bukan? Aku mengenalmu dengan sangat baik. Aku tahu perasaanmu padaku. Aku yakin kau tidak mungkin berubah secepat ini tanpa alasan yang jelas.”

Aku menghela napas panjang, berusaha menekan segala emosi yang mulai bergejolak di dalam dada. Lalu aku menatap matanya dengan pandangan yang lurus, tenang, dan tanpa ragu sedikit pun.

“Arga, dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan.”

Pria itu langsung terdiam, matanya menyipit seolah merasakan ada sesuatu yang berbeda dari nada bicaraku kali ini. Sangat berbeda dari biasanya.

“Aku benar-benar tidak mencintaimu lagi.”

Kalimat itu keluar begitu saja, dengan nada yang tenang, mantap, dan tanpa beban. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan, dan tidak ada keraguan. Namun dampaknya justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada jika aku meluapkan semuanya dengan amarah.

Wajah Arga langsung membeku seketika. Matanya terbelalak sedikit, seolah baru saja menerima tamparan keras yang membuat pikirannya terhenti sejenak.

“Tidak… itu tidak mungkin,” gumamnya sambil menggelengkan kepala berulang kali. “Mustahil hal itu bisa terjadi.”

“Kau bebas untuk tidak mempercayainya.”

“Kau pasti sedang berbohong untuk mengujiku, bukan?” suaranya terdengar semakin tidak percaya.

Aku tersenyum tipis, namun senyum itu tidak pernah sampai ke dalam mataku. Hanya terasa seperti topeng yang dipasang dengan rapi.

“Untuk apa aku berbohong? Apa untungnya bagiku?” tanyaku balik dengan nada datar.

Aku melanjutkan kalimatku sebelum ia sempat menjawab. “Yang benar adalah, aku tidak lagi memiliki perasaan apa pun untukmu. Bahkan, aku tidak pernah benar-benar ingin menikah denganmu sejak awal. Jadi berhentilah datang mencariku atau meminta penjelasan yang tidak akan pernah berubah lagi.”

Rahang Arga terlihat semakin mengeras. Aku bisa melihat bagaimana sorot matanya perlahan berubah. Bukan rasa patah hati yang mendalam, melainkan rasa marah yang mulai membara. Aku mengenalnya terlalu baik untuk tidak menyadari hal itu. Arga marah bukan karena kehilangan perasaanku, melainkan karena ia kehilangan kendali atas situasi ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sesuatu tidak berjalan sesuai rencana dan keinginannya. Perempuan yang selama ini selalu mengejarnya, memujanya, dan menuruti setiap kehendaknya kini menolaknya secara mentah-mentah. Dan hal itu melukai harga dirinya yang terlalu tinggi.

“Kau benar-benar berubah,” ucapnya akhirnya dengan suara yang terdengar dingin.

“Ya, aku berubah,” jawabku singkat dan tegas.

Dalam hatiku, aku menambahkan satu kalimat lagi: Dan andai saja perubahan ini terjadi jauh lebih cepat di kehidupan sebelumnya, mungkin aku tidak akan mati secara mengenaskan di tangan orang yang berdiri tepat di hadapanku ini sekarang.

Suasana kembali sunyi selama beberapa saat. Hanya suara angin yang berhembus lembut dan deru kendaraan dari jalan raya yang terdengar memecah keheningan. Akhirnya, Arga mengembuskan napas panjang, berusaha menekan amarahnya agar tidak meledak di tempat terbuka ini. Ia menatapku dalam-dalam, seolah ingin membaca pikiranku, sebelum akhirnya membuka mulut kembali.

“Sebenarnya aku tidak ingin menyampaikan hal ini sekarang, tapi rasanya sudah tidak ada pilihan lain,” ucapnya pelan namun terdengar jelas.

Aku menatapnya dengan pandangan waspada. “Apa lagi?”

“Kakek ingin bertemu denganmu.”

Langkahku yang hendak melangkah maju langsung terhenti seketika. Kakek? Siapa yang dimaksudnya?

Aku mengernyitkan dahi, menunggu penjelasan lebih lanjut. Arga memperhatikan perubahan ekspresiku dengan saksama, lalu melanjutkan ucapannya.

“Kakek mendengar kabar tentang penolakan lamaranmu kemarin. Beliau merasa hal ini perlu dikonfirmasi langsung.”

Jantungku perlahan mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku mengerti siapa yang dimaksudnya sekarang. Bukan kakek dari keluarga biasa, melainkan kepala keluarga Satria—ayah dari Sherkan, pria yang memiliki pengaruh sangat besar dan dihormati oleh seluruh kalangan pebisnis, pemimpin perusahaan, bahkan pejabat penting di kota ini.

“Beliau meminta agar kau datang menghadap dan memberikan penjelasan secara langsung,” lanjut Arga sambil menatap mataku tajam. “Beliau ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri.”

Aku tidak segera menjawab. Pikiran mulai berputar cepat di dalam kepalaku. Di kehidupan sebelumnya, pertemuan seperti ini tidak pernah terjadi sama sekali. Artinya, alur kejadian sudah mulai bergeser jauh dari apa yang kukenal. Masa depan sedang berubah lebih cepat dari perkiraanku. Dan entah mengapa, perasaan di dalam hatiku memberi isyarat bahwa pertemuan dengan Kakek Satria ini akan menjadi awal dari serangkaian peristiwa yang jauh lebih rumit, penuh bahaya, dan membawa kekacauan yang jauh lebih besar daripada yang sudah kuhadapi sejauh ini.

1
Siti Aisah
mak kamu kemna saja tidak muncul" semoga emak sehat selalu🤭
Siti Aisah
emak ku tunggu " blum ada tanda"kah..
Amidah Anhar
maaak evaa ayooo donk jangan kabuuur🥺🥺🥺🥺🤭🤭🤭
Yuyun Yunita
lebih baik dibicarakan dgn sherkan drpd nnti ny jd bumerang untuk dirimu sendiri
Yuyun Yunita
iya ny si violet ini🤣🤣gak kasihan sama sherkan🤣🤣
Yuyun Yunita
fix ini sdh dari awal sherkan cinta sama violet
Yuyun Yunita
aduh sherkan knp bicara bgt...
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣
Yuyun Yunita
oke mak
Siti Aisah
masih penasaran.. 🤔
Miss Typo
gregetan bgt deh knpa gak ngomong sm Sherkan sih Violet, semoga aja Sherkan tau. awas aja Arga kalau ngomong yg gak²
Ayudya
violet kamu harus bilang ma sherkan kalau kamu di undang ma kakek satria
wiliss
Lanjut kan kak🙏
Maria Kibtiyah
kenapa violet gak cerita ke serkhan.. mak embun untuk bara masih ku pavorite loh siapa tau mau di lanjut🤭
Siti Aisah
sherkan sudah pakai hati dgn alasan butuh perlindungan😜
wiliss
Lanjut kk🙏
Miss Typo
aku hanya pembaca, disini Violet yg berhadapan dgn Sherkan, tapi knpa jantungku ikut jedag jedug 🤣
vj'z tri
selanjutnya kita akan sering bertemu papa 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
wo ai ni mas bos 🎉🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
hoba hoba akhirnya di kenalin juga sama pamer ya suami akoh 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ suami akoh pasti seneng liat ekspresi muka violet saat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!