NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 18

“Tidak sekarang, Sa. Aku benar-benar tidak ingin membuatmu dalam bahaya.”

Hanan mengalihkan pandangannya dan memberikan dorongan pelan pada Rosa. Tubuh keduanya kini benar-benar berjarak.

Rosa menatap tak percaya pada suaminya. Sedikit lagi jarak mereka benar-benar menghilang, tapi pria di depannya justru menarik diri secepat kilat.

“Mas ....”

“Ayo, sekarang waktunya istirahat. Aku akan menemanimu.” Hanan menuntun Rosa keluar menuju kamar mereka.

Mata pria itu menajam melihat sekelebat bayangan seseorang yang terburu-buru menuruni tangga, bahkan langkahnya masih terdengar. Tak ada siapa pun di rumah ini yang berani berkeliaran seenaknya, kecuali satu orang yang kehadirannya tak pernah Hanan anggap berarti.

Pasangan suami istri itu berjalan menuju arah berlawan dari tangga. Sesekali Rosa masih membujuk Hanan, tapi pria itu benar-benar teguh dalam pendiriannya hingga membuat Rosa frustasi.

“Setelah keadaanmu benar-benar membaik, kita bisa melakukannya. Jangan terburu-buru, aku tidak ingin mengambil risiko. Kamu masih yang terpenting saat ini.”

Meski kalimat penghiburan Hanan terdengar sangat manis, tapi Rosa memiliki ketakutannya sendiri. Dia merutuki dirinya yang begitu resah belakangan ini sehingga menurunkan egonya dan meminta secara terang-terangan pada suaminya.

Pada akhirnya tak ada yang bisa menggoyahkan Hanan dan Rosa harus berpuas diri dengan janji yang diucapkan oleh pria itu.

Di malam yang penuh dengan taburan bintang. Ada jiwa yang tak pernah benar-benar bisa tidur. Mereka berkelana di alam mimpi. Namun, mimpi terkadang tak sesederhana bunga tidur yang sering kali dikatakan orang, terkadang mimpi merefleksikan berbagai kenangan masa lalu.

Amelia duduk termenung memangku gantungan kunci lusuh di tangannya. Setelah tak sengaja menangkap adegan intim antara kakaknya dan Hanan, perasaan gadis itu benar-benar tak karuan.

Dia berusaha menyangkal bahwa rasa sakit kali ini jauh lebih parah dari sebelumnya. Melihat semuanya secara langsung benar-benar menguras tenaga dan emosi Amelia. Bahkan tanpa perlu berteriak dan menangis pun seluruh energinya seolah sudah disedot habis hanya dengan sekali pandang kejadian tadi.

“Tidak apa-apa. Ini baru permulaan. Jika aku bahkan tidak bisa bertahan dengan pemandangan tadi, bagaimana aku bisa hidup ke depannya?” Amelia memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut.

Gadis itu merebahkan tubuhnya dan berbaring miring menghadap dinding. Kebiasaan sedari kecil saat pikirannya kalut, menatap dinding kosong membuat pikirannya terurai. Setidaknya dia pelan-pelan akan terlelap dalam badai rasa yang mereda, meski tak pernah benar-benar lenyap.

***

“Maaf, El. Mas harus pergi.” Hanan menguatkan diri untuk tidak goyah dengan tatapan sendu El.

Setelah sedari tadi menahan kesedihannya, tangis El pecah kemudian. Gadis kecil itu menghambur ke pelukan Hanan dan menenggelamkan wajahnya yang banjir air mata.

“Mas, kenapa tiba-tiba?” Suara El terdengar sengau dan menyedihkan.

“Maaf, orang tua Mas harus kembali ke luar negeri. Mas harus ikut mereka.” Hanan membalas pelukan El tak kalah erat.

Tanpa dikatakan pun, Hanan juga sangat tidak rela meninggalkan sosok kecil di pelukannya ini. Rasanya benar-benar berat sejak pertama kali dia mengetahui bahwa keluarganya harus meninggalkan negara ini.

“Atau kamu ikut Mas, yah. Orang tuamu bahkan tidak pernah terlihat. Mas takut terjadi sesuatu padamu. Mama dan Kak Mila pasti tidak akan keberatan membawa satu orang lagi bersama kami.” Hanan tiba-tiba mendapatkan ide yang begitu cemerlang—setidaknya baginya.

“Aku—“

“Ayo, El. Ikut dengan kami. Kamu tidak akan kekurangan apa pun. Mas jamin itu.” Hanan melerai pelukannya demi menatap El.

Gadis kecil tampak kebingungan dengan tawaran Hanan, tapi juga ada jejak ketidaksetujuan di sana. Tawaran remaja itu terlalu mendadak dan dipikir berulang kali pun, tak akan semudah itu diiyakan oleh El. Meski apa yang dikatakan Hanan benar bahwa orang tuanya memang jarang berada di rumah, tapi setidaknya dia masih memilikinya bukan.

“Maksud Mas bagaimana? Bahkan jika apa yang Mas bilang benar, tapi aku tidak bisa pergi begitu saja.” Dengan sisa-sisa tangis yang berusaha El redam, dia menghapus air matanya dan menatap Hanan dengan teguh.

“Pergilah, Mas. Aku akan selalu menunggu di sini.” Seutas senyum tipis ditarik, meski terpaksa. Sebuah kerelaan yang sebenarnya tak pernah diniatkan membuat Hanan semakin berat meninggalkan sosok kecil di depannya.

“El ....”

Hanan kehilangan kata-katanya. Semua penjelasan yang dia miliki melebur dalam satu tetesan air mata yang tak dapat dia tahan.

“Tunggu Mas kalau begitu. Mas janji akan kembali. Jika saatnya sudah tiba, ayo hidup bersama selamanya, Eleanor.”

Hanan dan El akhirnya harus benar-benar menerima perpisahan mereka.

Setelah pertemuan terakhir itu, El menghabiskan waktunya di rumah, kesepian dan terus menatap gantungan kunci di tangannya yang diberikan oleh Hanan di hari perpisahan mereka.

Gantungan kunci itu berbentuk manusia salju yang di wajahnya tampak merona. Hanan bilang itu mirip seperti El sejak awal dia melihatnya.

“Amel!”

Seruan itu berbarengan dengan ketukan pintu kamar gadis kecil itu yang terdengar keras.

“Sayang, pelan-pelan. Tanganmu bisa sakit.” Suara lain menyusul—suara wanita yang terdengar sangat lembut.

“Kamu baru sembuh, ingat? Kata dokter tidak boleh beraktivitas terlalu banyak dulu. Temui dia nanti.” El mendengar suara seorang pria kemudian.

Gadis kecil itu mendesah pelan. Dia bisa membayangkan betapa harmonisnya interaksi keluarga itu tanpa dirinya. Keluarga yang pada dasarnya adalah miliknya juga, tapi dia sudah terasing sejak dulu.

Kakinya melangkah mendekati pintu dan membukanya pelan hingga terlihat wajah pucat kakaknya.

“Amel! Lihat, Ayah dan Ibu membelikanku banyak mainan karena aku rajin minum obat di rumah sakit. Walau pahit, tapi aku senang. Ayo kita main. Kamu bisa main boneka punyaku.”

Amelia menatap banyaknya boneka di tangan kakaknya, bahkan masih ada satu tas besar tak jauh dari pintu kamarnya. Gadis kecil itu tak bisa menahan senyumnya. Kakaknya yang sering masuk rumah sakit karena penyakit kanker yang dideritanya itu selalu memiliki ekspresi cerah di wajahnya.

Jadwal pulang dari rumah sakit adalah waktu paling membahagiakan untuknya karena akan ada banyak boneka yang dibawa kakaknya, meski semua itu tak satu pun akan jadi miliknya.

“Mau, Mbak. Aku boleh pinjam yang ini?” El menunjuk satu boneka di tangan kakaknya.

“Tidak boleh. Rosa sayang ingat, ‘kan, boneka ini diberikan oleh kakak perawat sebagai hadiah. Bagaimana jika rusak?” Sang ibu langsung mencegah dengan tatapan tajam mengarah pada sang anak bungsu membuat gadis kecil itu ketakutan.

“Benar juga. Amel main yang ini saja.” Rosa dengan senyum cerah menyerahkan salah satu boneka pada adiknya itu.

Amelia menerimanya dengan tatapan sendu, meski senyum tadi masih dia paksakan di bibirnya. Bukan dia tidak bersyukur, tapi boneka penguin itu sudah lusuh dan robek di beberapa bagian.

“Terima kasih, Mbak.”

Rosa memijit kepalanya yang terasa pusing.

“Rosa ... kenapa,  Nak?”

Kedua orang tuanya langsung bereaksi dengan ketidaknyamanan Rosa.

“Pusing, Bu.” Rosa mengalihkan pandangannya pada adiknya. “Mainnya nanti saja, yah, Mel.”

“Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Kesembuhanmu paling penting.”

Ketiganya langsung pergi meninggalkan Amelia yang menunduk lesu. Langkahnya kembali masuk ke kamar. Dia menatap sejenak boneka di tangannya dan diletakkan di box berisi boneka berbagai karakter, tapi dengan penampakan yang sama. Lusuh dan robek di beberapa bagian.

Amelia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap gantungan kunci pemberian Hanan.

“Pemberian Mas Hanan selalu yang terbaik.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!