NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Tahta Kaca di Menara Sombong

Hawa dingin dari mesin pendingin udara sentral di lantai tiga puluh lima itu mendadak terasa menusuk tulang, seolah-olah seluruh sirkulasi udara di dalam ruangan mewah itu telah membeku menjadi serpihan es tak kasat mata. Hendra Wijaya masih mematung di balik meja kerja kacanya yang melengkung modern. Jemari kurusnya yang biasa memegang pena emas untuk menandatangani nasib ribuan karyawan kini gemetar hebat, tertahan beberapa milimeter di atas tombol darurat bawah meja. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai merembes dari pori-pori pelipisnya, merusak tatanan rambut klimisnya yang beraroma minyak wangi Perancis seharga jutaan rupiah.

Di hadapannya, Dika berdiri laksana sebuah monumen purba yang dipahat dari batu hitam keabadian. Kemeja katun hitam grosirannya bergetar halus ditiup angin AC, namun sepasang matanya tetap mengunci lurus ke arah Hendra dengan intensitas yang sanggup meretakkan nyali.

Di balik selaput korneanya, Mata Takdir berdenyut dengan pendar emas purba yang semakin pekat, membelah lanskap ruangan menjadi dunia monokrom yang sunyi. Di mata sang mantan dewa, selembar benang takdir berwarna ungu kelam yang berpilin dengan warna merah darah di atas pundak Hendra tampak meliuk gelisah—sebuah jalinan karma busuk dari seorang pesuruh setia yang telah terlalu banyak menelan uang haram demi mengubur bangkai kejahatan tuannya.

Namun, di tengah keagungan atmosfer yang mencekam itu, sebuah drama konyol kembali meledak di dalam relung batok kepala Dika.

“Aduh, aduh, aduh! Ini bapak-bapak sutra abu-abu kenapa baunya wangi banget sih?! Parfumnya menyengat banget kayak jeruk purut dicampur karbol lantai, bikin hidung dewa gue mau bersin dari tadi! Tenang Dika, tahan, jangan sampai lo bersin di momen krusial begini. Sisa energi gue tinggal sepuluh persen gara-gara dipake nahan tekanan gravitasi lift cepet tadi. Kalau ketukan jari gue meleset sedikit saja dari simpul saraf di lengan sutranya, kemeja hitam andalan gue ini bisa kena cipratan tinta pulpen mahal yang ada di atas mejanya! Nggak ada anggaran buat laundry kilat di Jakarta!”

Lina yang berdiri di ambang pintu putar lobi dalam ruangan langsung menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memerah. Di tengah situasi hidup dan mati, di mana sebuah konspirasi triliunan rupiah sedang berada di ambang konfrontasi terbuka, telinga batinnya justru dipaksa menerima ratapan tak berdaya dari sang calon dewa yang meremas hati perihal bau parfum jeruk purut dan anggaran laundry kilat. Rasa tegang yang sempat membekukan dadanya mendadak luntur, berganti menjadi rasa gemas yang luar biasa luar biasa.

Tepat saat Hendra berhasil mengumpulkan sisa keberanian fana dan menekan tombol darurat dengan ujung jarinya, Dika bergerak.

Gerakannya tidak menggunakan ledakan tenaga dalam yang kasar atau pukulan beladiri bumi yang bising. Ia hanya menggeser tumit kirinya dua senti ke samping, membiarkan tubuh tegapnya meliuk tipis laksana selembar kertas sutra yang ditiup angin senja di atas altar langit. Bersamaan dengan momentum gerakan tangan Hendra yang hendak menarik kembali lengannya, Dika mengayunkan tangan kanannya yang semula terbenam di saku celana katunnya. Dua jarinya menjentik pelan, membelah udara kosong dengan suara wush yang sangat nyaring namun hanya bisa didengar oleh dimensi spiritual.

Jentikan itu tepat mengenai titik simpul kelabu yang meredup di area pergelangan tangan Hendra yang dilapisi jam tangan mewah berbingkai emas murni.

Plak!

Sentuhan itu begitu ringkih dan halus, namun dampaknya di dimensi takdir laksana hantaman palu gaib tingkat tinggi yang memutus paksa aliran darah dan jalur saraf motorik. Aliran tenaga kehidupan di lengan Hendra mendadak berbalik arah secara brutal, menghantam balik pusat saraf di bahu dan lehernya sendiri. Pendekar birokrasi paruh baya itu melotot sempurna, bola matanya hampir keluar dari bingkai kacamata emasnya saat seluruh tubuh kurusnya kehilangan kendali arah.

Dengan momentum ketakutannya sendiri, kursi beroda mahal milik Hendra meluncur tak terkendali ke belakang, menghantam dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan luar kota Jakarta.

Brak!

Benturan itu begitu keras hingga membuat pot pohon palem hias di sudut ruangan terjungkal, menumpahkan tanah hitam berdebu ke atas karpet beludru merah tua yang mahal. Kacamata emas Hendra terlempar bebas di udara sebelum akhirnya mendarat di dalam vas bunga yang berair, mengubur sisa-sisa wibawa sang sekretaris utama dalam hitungan satu detik saja.

"H-Hendra... Pak Hendra?!" pekik seorang staf wanita yang baru saja membuka pintu ruangan dengan membawa nampan berisi dokumen baru. Suaranya naik tiga oktav hingga melengking tinggi, memecah kesunyian koridor lantai tiga puluh lima. Lututnya yang dibalut rok span ketat seketika lemas melihat bosnya yang biasanya ditakuti oleh seluruh karyawan kini terduduk lemas di lantai dengan posisi konyol—kepalanya bersandar pada dispenser air dan kemeja sutranya ternoda oleh tanah pot yang basah.

Dika menegakkan kembali tubuhnya, melipat tangan di depan dada sembari memandang tubuh Hendra yang sedang merintih kesakitan menahan mati rasa di lengan kirinya dengan tatapan dingin yang acuh tak acuh. "Sudah kukatakan, Tuan Hendra. Menara kacamu yang megah tidak akan pernah bisa menahan runtuhnya jalinan takdir yang telah kau rusak sendiri," ucap Dika, suaranya rendah, berat, dan berwibawa, memantul di dinding-dinging ruangan yang kedap suara.

“Hahaha! Sukses besar lagi! Rasakan itu pendekar parfum jeruk purut! Tapi astaga... pinggang encok gue beneran mau copot rasanya sekarang! Gerakan meliuk tipis barusan bikin otot punggung bagian bawah gue kayak ditarik paksa pake tali tambang kapal! Tolong jangan ada sekuriti yang masuk dulu, kalau gue disuruh menjentik sekali lagi, gue beneran bakal roboh sambil guling-gulingan di atas karpet merah ini!” ratap batin Dika yang kian histeris menahan linu, membuat bahu Lina di dekat pintu bergetar hebat menahan tawa yang hampir meledak menembus tenggorokan.

Lina buru-buru maju beberapa langkah, berdiri di samping Dika dengan wajah yang sengaja dibuat galak untuk menutupi rasa gelinya yang sudah di ubang-ubang. Ia menunjuk muka Hendra yang masih megap-megap dengan map berkas kumalnya. "Heh, sekretaris korup! Lo lihat sendiri kan? Jangankan dukun sewaan lo yang di kereta, lo yang duduk di lantai tiga puluh lima aja langsung KO sekali jentik sama Dika! Sekarang lo mau serahin dokumen asli transferan dana Konsorsium Mahardika ke Keluarga Wijaya, atau mau kita jeblosin kepala lo ke dalam dispenser itu?!"

Mendengar gertakan Lina yang begitu menusuk tepat di jantung rahasia besarnya, Hendra langsung pucat pasi sewarna pualam mati. Ketakutannya pada Dika yang dianggap memiliki ilmu hitam tingkat tinggi dari pedalaman nusantara telah meruntuhkan seluruh sisa keberanian birokrasinya. Ia mencoba merangkak mundur, berniat menggapai gagang pintu darurat di balik lemari dokumen.

Namun, nasib buruk tampaknya enggan melepaskan sang tangan kanan konglomerat. Karena bergerak dengan panik sambil menoleh ke belakang, kaki kanan Hendra yang memakai pantofel kulit buatan Italia tersangkut untaian kabel stopkontak komputer yang menjalar tidak rapi di bawah meja kerja.

"Aaaa!"

Bruk!

Tubuh kurus itu jatuh terjerembap dengan sangat estetis ke depan, wajahnya menghantam lantai marmer di dekat kaki meja hingga mengeluarkan suara plak yang cukup nyaring. Surat-surat berharga, dokumen rahasia faksi politik, dan sisa uang dolar yang disimpan di dalam laci mejanya yang terbuka akibat guncangan tadi kini berhamburan ke atas karpet, bersanding dengan debu tanah pot dan tumpahan air dispenser.

Dika melangkah lambat menghampiri tubuh Hendra yang sedang mengerang kesakitan memegangi hidungnya yang mulai mengeluarkan darah segar. Setiap tapak kaki Dika di atas karpet beludru seolah membawa beban takdir yang kian berat, menekan sisa mental sang sekretaris utama hingga ke dasar bumi paling dalam. Dika membungkuk sedikit, mengambil beberapa lembar dokumen berkas berlogo Keluarga Wijaya yang berhamburan di lantai, lalu menatap Hendra dengan sepasang mata yang menyisakan sisa-sisa pendar emas purba yang dingin.

"Keserakahanmu dan tuanmu telah menemui ujung jalannya, Hendra," ucap Dika datar, nadanya dingin tanpa emosi fana. "Di dunia belantara beton ini, tidak ada dinding kaca yang cukup tebal untuk menyembunyikan kebusukan dari tatapan langit. Pergilah ke tempat di mana penyesalanmu yang terlambat tidak akan lagi dihargai dengan lembaran rupiah."

“Aduh, akhirnya selesai juga ini drama kungfu kantor lantai tiga puluh lima! Untung dia tersangkut kabel sendiri, kalau nggak, gue bingung mau ngejar pake kaki yang kram begini gimana caranya. Lina, buru-buru kumpulin itu dokumen penting yang ada logo Wijayanya gih, gue udah nggak kuat berdiri tegak sok keren begini. Lambung gue juga udah mulai demo masak lagi dari tadi, perih banget demi langit luar!” jerit suara hati Dika yang merana, mengemis pertolongan di dalam kepala Lina sembari mempertahankan ekspresi wajahnya yang laksana dewa pencabut nyawa.

Lina menarik napas panjang, menatap Dika dengan pandangan campur aduk antara kagum atas kehebatannya yang nyata mampu meruntuhkan mental petinggi korporasi, dan gemas setengah mati pada kelemahan fisiknya yang konyol. Gadis itu maju dengan sigap, memungut sisa dokumen penting dan beberapa berkas transferan dana ilegal untuk dijadikan barang bukti baru, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pihak otoritas keuangan dan hukum yang sejak lama mengincar celah dari Konsorsium Mahardika.

"Tenang aja, kaisar naga," bisik Lina pelan di dekat telinga Dika, nadanya penuh sindiran namun terselip kehangatan yang tulus. "Dokumen utamanya udah gue amanin semua di dalam tas. Setelah tikus berdasi ini diangkut sama petugas, gue bakal traktir lo bakso urat jumbo plus es teh manis di kantin bawah tanah gedung ini. Jadi, tahan dulu itu wibawa lo jangan sampai pingsan di depan staf wanitanya sekarang!"

Dika tertegun, melirik Lina dari sudut matanya dengan binar haru yang tertahan di balik kuyu matanya.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!