NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Di Bawah Kendali Sang CEO

BAB 27: Di Bawah Kendali Sang CEO

​Devano melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Dika dengan sentakan kasar, membuat manajer keuangan itu terhuyung mundur beberapa langkah. Sepasang mata elang sang CEO sama sekali tidak beralih dari sosok Luna yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Bukannya melembut melihat kondisi asisten pribadinya yang pucat dengan selang infus menancap di punggung tangan, ego dan rasa cemburu Devano justru semakin meroket tinggi. Di matanya, kehadiran Dika sejak subuh di tempat ini adalah sebuah kelancangan yang nyata.

​Dengan langkah tegap yang memancarkan dominasi mutlak, Devano melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap tanpa memedulikan hadangan fisik dari Dika. Dia berdiri di sisi ranjang, menatap ke bawah ke arah Luna dengan pandangan mata yang teramat dingin dan menghina.

​"Jadi ini alasanmu mangkir dari perintahku pagi ini, Asisten Luna?" sindir Devano, suara baritonnya yang rendah bergaung dingin di dalam ruangan yang sunyi itu. "Sengaja membolos dari tanggung jawab pekerjaan dan memanggil pria lain untuk menjadi pahlawan kesianganmu di sini?"

​Dika tidak tinggal diam melihat Luna diintimidasi. Dia bergegas masuk ke dalam kamar, memposisikan dirinya di antara Devano dan ranjang Luna dengan berani.

​"Tuan Devano, jaga batasan Anda! Ini rumah sakit!" tegas Dika dengan rahang mengeras. "Mbak Luna tidak sengaja membolos. Subuh tadi dia ditemukan dalam kondisi kejang akibat demam tinggi dan terkurung di dalam rumahnya sendiri. Dia sakit, Tuan! Saya rasa tidak adil jika Anda terus mendesaknya dengan urusan pekerjaan di saat kondisinya seperti ini."

​Luna yang berada di atas ranjang hanya bisa meremas ujung selimut rumah sakit yang tipis dengan jemarinya yang dingin dan gemetar. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya yang sayu. Jiwanya terguncang melihat konfrontasi kedua pria ini. Luna tahu betul seberapa kejam dan berkuasanya Devano; jika Dika terus mendebatnya, karier dan masa depan pria baik itu bisa hancur dalam sekejap mata.

​"Pak Dika... cukup," lirih Luna dengan suara yang teramat parau, hampir menyerupai bisikan. Dia menatap Dika dengan pandangan memohon yang amat sangat. "Tolong keluar, Pak Dika... Jangan buat masalah lagi di sini. Saya mohon, pergilah."

​Dika tertegun, menatap Luna dengan kilat kekecewaan yang mendalam di matanya. Namun, melihat gurat ketakutan dan kondisi Luna yang kian tertekan, Dika akhirnya mengembuskan napas berat. Dia menurunkan kedua tangannya, memberikan tatapan peringatan terakhir pada Devano, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kamar rawat dengan hati yang dongkol.

​Setelah pintu kamar tertutup kembali, menyisakan keheningan yang mencekik di antara mereka berdua, Devano melangkah semakin dekat ke sisi ranjang. Dia menundukkan tubuh tegapnya, mendekatkan wajah tampannya ke arah Luna hingga gadis itu bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur wiski yang menguar dari tubuh sang CEO.

​"Kamu pikir kamu bisa lari dariku dengan menggunakan pria itu, Luna?" desis Devano tajam, sepasang matanya berkilat pekat penuh rasa kepemilikan yang egois. "Ingat baik-baik posisimu. Kamu adalah jaminan utang keluargamu, dan kamu hanya boleh berada di tempat yang aku izinkan. Jangan pernah bermimpi untuk membawa pria lain ke dalam urusan kita."

​Luna hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan sebutir air mata kepasrahan meluncur melewati pipinya yang tirus. Dia terlalu lemas bahkan hanya untuk sekadar membantah tuduhan kejam pria itu.

​Tanpa membuang waktu lebih lama, Devano menegakkan tubuhnya kembali dan langsung merengkuh ponsel pribadinya dari saku jas. Dengan dingin, dia menghubungi tim medis swasta kepercayaannya.

​"Siapkan ambulans swasta dan pindahkan pasien atas nama Luna Maharani dari Rumah Sakit Pusat sekarang juga," perintah Devano tanpa bantahan. "Pindahkan dia ke kamar VIP Rumah Sakit Medika Sentosa. Pastikan tidak ada satu orang pun, termasuk pegawai kantor saya, yang bisa mengakses data perawatannya." Devano sengaja memindahkan Luna agar gadis itu berada penuh di bawah kendalinya, terisolasi jauh dari jangkauan Dika.

​Proses pemindahan dilakukan dengan cepat dan sepihak. Beberapa perawat berbadan tegap suruhan Devano masuk membawa kursi roda untuk memindahkan tubuh lemas Luna.

​Namun, saat tubuh Luna diangkat perlahan dari ranjang untuk didudukkan ke atas kursi roda, sebuah benda kecil berbahan besi tua mendadak tergelincir jatuh dari saku pakaian ganti milik Luna—pakaian yang sebelumnya sempat dibawakan oleh Dika dari rumah Luna.

​Tring...

​Benda besi itu berdenting pelan di atas lantai marmer, berhenti tepat di dekat ujung sepatu Devano. Pria itu menyipitkan matanya, lalu membungkuk untuk memungutnya.

​Itu adalah sebuah kunci laci tua dengan ukiran kuno yang sudah agak berkarat di bagian ujungnya. Kunci yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh almarhum ayah Luna di dalam kompartemen rahasia dompetnya.

​Melihat kunci itu berada di tangan Devano, Luna yang tadinya lemas seketika tersentak panik. Wajah pucatnya berubah menjadi histeris. Dengan tangan yang masih terikat selang infus, dia berusaha menggapai tangan Devano.

​"Tuan... saya mohon, kembalikan! Jangan ambil kunci itu!" ratap Luna dengan suara bergetar hebat, air matanya tumpah ruah. "Itu milik almarhum Ayah... itu satu-satunya barang peninggalan Ayah yang tersisa untuk saya. Saya mohon, Tuan Devano..."

​Devano menarik tangannya menjauh dari jangkauan Luna. Dia menatap kunci tua itu dengan dahi mengernyit. Firasatnya langsung bekerja; dia merasa kunci kuno ini memiliki keterkaitan erat dengan kertas memo robek yang dia baca kemarin siang. Ada sebuah rahasia besar yang sengaja dikunci oleh almarhum Mahardika Maharani.

​Bukannya mengembalikan, Devano justru memasukkan kunci tua itu ke dalam saku jas abu-abunya dengan gerakan yang sangat tenang namun kejam. Sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya saat dia menatap wajah Luna yang menangis histeris di atas kursi roda.

​"Jika kamu ingin kunci ini kembali, maka patuhi semua perintahku tanpa bantahan di tempat barumu nanti, Asisten Luna," ujar Devano dingin. "Sekarang, jalan."

​Kursi roda Luna mulai didorong keluar dari kamar, meninggalkan lorong Rumah Sakit Pusat menuju ambulans swasta yang telah menunggu. Luna hanya bisa mendekap dadanya yang terasa sesak oleh tangis, menyadari bahwa kini tidak hanya kebebasannya yang terenggut, namun kunci rahasia masa lalu milik ayahnya pun telah jatuh ke dalam genggaman sang iblis yang paling membencinya.

1
Sarbina Sarbina
apa sih maunya di devano ini 😏
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!