Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang di Antara Bebatuan
Malam turun dengan cepat di kedalaman Hutan Timur, membawa serta kegelapan yang pekat dan keheningan yang mendalam. Hanya cahaya bulan yang samar-samar dan bintang-bintang yang terlihat di celah-celah daun raksasa yang menjadi penerangan alam. Di lembah tempat Baron Valerius dan rombongannya berkemah, api unggun besar menyala terang, menciptakan lingkaran cahaya yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Suara tawa kasar, percakapan, dan derap langkah mereka terdengar jelas, namun di luar jangkauan cahaya itu, dalam bayang-bayang pepohonan yang gelap, rombongan Taylor bergerak diam-diam seperti hantu.
Dipandu oleh Rusa Cepat dan para penduduk hutan yang memiliki penglihatan tajam di dalam gelap, mereka mengelilingi posisi musuh dengan hati-hati sekali. Rencana mereka sudah disusun matang: mereka tidak akan menyerang secara membabi buta, karena jumlah musuh cukup banyak dan mereka bersenjata lengkap. Tujuan utama mereka adalah merebut kembali benda yang disebut Kunci Gerbang itu, menghentikan rencana jahat itu sebelum terlambat, dan menagih janji keadilan kepada mereka yang berusaha mengulangi kesalahan masa lalu.
“Mereka lengah karena merasa aman di tempat terpencil ini,” bisik Rusa Cepat di samping telinga Taylor. “Mereka tidak menyangka ada orang yang bisa bergerak dan mengikuti jejak mereka sejauh ini tanpa terdeteksi. Itu keuntungan terbesar kita.”
Malam berlalu perlahan, dan saat-saat paling gelap sebelum fajar pun tiba. Itulah saat di mana tubuh manusia paling lelah dan kewaspadaan menurun drastis. Dengan isyarat tangan yang halus, Taylor memberi aba-aba. Berpasangan demi berpasangan, mereka bergerak masuk ke lingkaran luar kemah musuh. Para penjaga yang tertidur atau mengantuk dilumpuhkan dengan gerakan cepat, tenang, dan tanpa pertumpahan darah yang tidak perlu. Dalam waktu yang sangat singkat, seluruh bagian luar kemah sudah berada di bawah kendali mereka, tanpa ada satu pun suara berisik yang membangunkan mereka yang sedang tidur lelap di dalam tenda.
Sekarang hanya tinggal satu sasaran utama: tenda besar di tengah, tempat Baron Valerius beristirahat dan tempat barang-barang berharga serta senjata utama disimpan. Taylor, Elizabeth, dan Kael berjalan perlahan menuju pintu masuk tenda itu. Napas mereka teratur dan tenang, meski hati mereka berdebar kencang karena ketegangan. Di belakang mereka, para pengawal dan penduduk hutan bersiap siaga, siap bertindak cepat jika ada yang salah.
Saat kain penutup pintu tenda ditarik perlahan, mereka melihat sosok Baron Valerius terbaring di atas alas tidurnya. Di samping bantalnya, tergeletak benda yang mereka cari: Kunci Gerbang itu, berkilau lemah terkena cahaya obor yang menyala redup di dalam tenda. Orang itu tertidur pulas, mulutnya sedikit terbuka, wajahnya masih terlihat penuh kesombongan bahkan dalam tidurnya. Di dekatnya juga terlihat gulungan peta tua yang digelar di atas tanah, penuh dengan tanda dan tulisan kuno yang menjelaskan jalan menuju gerbang rahasia itu.
Namun, saat tangan Taylor hampir menyentuh benda berkilauan itu, suara berat dan dingin tiba-tiba terdengar memecah keheningan.
“Sudah kuduga ada tikus yang mengintai di kegelapan. Aku tahu kalian ada di sini sejak matahari terbenam tadi.”
Baron Valerius bangkit berdiri dengan cepat, seolah dia sama sekali tidak tidur. Matanya yang tajam dan berkilau penuh kebencian menatap lurus ke arah Taylor dan Elizabeth. Di luar dugaan mereka, dia sudah siap dengan pedang di tangan, dan di saat yang sama, puluhan anak buahnya yang ternyata hanya berpura-pura tidur pun bangkit berdiri, mengelilingi tenda itu dari luar, menodongkan senjata ke arah mereka.
“Kalian pikir aku secercah itu sehingga aku masuk ke hutan berbahaya ini tanpa persiapan dan kewaspadaan?” ejek Baron Valerius sambil tertawa sinis. “Kalian memang pintar menyusup, Pangeran muda. Tapi aku lebih tahu rahasia hutan ini dan cara berpikir orang-orang di dalamnya. Aku tahu pasti bahwa penduduk hutan tidak akan membiarkan orang asing bergerak sembarangan, dan aku tahu pasti bahwa kalian akan datang mengikuti jejak kami begitu mendengar kabar tentang kami. Sangat mudah untuk menjebak kalian di sini.”
Taylor tetap berdiri tegak, tidak menunjukkan rasa takut atau kaget sedikit pun. Dia menatap balik mata orang itu dengan pandangan yang tenang dan tajam. “Kau benar, kau memang telah menyiapkan jebakan. Tapi kau lupa satu hal penting, Baron. Dalam setiap jebakan yang dibuat oleh orang yang tamak, selalu ada celah yang terlewatkan karena nafsu mereka sendiri. Kau berpikir kau tahu segalanya, tapi kau tidak tahu apa yang ada di dalam hati kami, dan kau tidak tahu seberapa dalam persahabatan yang telah kami bangun dengan saudara-saudara kami di sini.”
Dia memberi isyarat kecil dengan tangannya. Tiba-tiba, dari kegelapan di luar tenda, terdengar suara gesekan senjata dan teriakan kaget dari anak buah Baron. Rusa Cepat dan para penduduk hutan, yang telah mengantisipasi kemungkinan ini, ternyata sudah mengambil posisi di belakang barisan musuh, mengepung mereka yang tadinya merasa sedang mengepung. Dalam sekejap, posisi berbalik sepenuhnya. Anak buah Baron yang jumlahnya dua kali lipat dari rombongan Taylor kini terlihat bingung dan panik, karena mereka sadar bahwa mereka dikepung dari segala arah, dan bahwa mereka tidak lagi memiliki keuntungan.
Wajah Baron Valerius berubah pucat dan marah. Dia menyadari bahwa rencana jebakannya justru berbalik menghancurkan dirinya sendiri. “Dasar pengkhianat!” teriaknya ke arah kegelapan, merujuk pada penduduk hutan. “Kalian akan menyesal telah membantu orang-orang ini! Kalian tidak tahu kekuatan apa yang akan kita miliki jika kita berhasil masuk ke tempat itu! Kekayaan yang tak terhitung, kekuatan yang bisa menguasai seluruh negeri ini! Dan kalian memilih untuk memihak anak kecil yang tidak mengerti apa-apa selain omong kosong tentang keadilan dan persaudaraan!”
“Kami tidak butuh kekuatan yang didapat dengan mencuri dan merusak,” jawab Rusa Cepat sambil melangkah masuk ke dalam tenda dengan berani, diikuti oleh pengikut-pengikutnya yang berwajah tegas. “Kami sudah memiliki kekuatan yang jauh lebih besar: kedamaian, kebersamaan, dan keharmonisan dengan alam. Itu adalah harta yang tak bisa kau curi, dan itu adalah kekuatan yang tak akan pernah bisa kau kalahkan.”
Melihat bahwa keadaan sudah tak bisa diselamatkan dan bahwa dia sudah kalah dalam permainan akal ini, Baron Valerius meledak dalam kemarahan dan keputusasaan. Dia menyambar Kunci Gerbang itu, memegangnya erat-erat di tangan kirinya, dan mengacungkan pedangnya dengan tangan kanannya, berniat untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.
“Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya!” teriaknya dengan suara parau. “Aku akan pergi ke sana sekarang juga, aku akan membuka gerbang itu sendirian, dan aku akan memastikan bahwa apa pun yang ada di dalamnya akan hancur lebur bersama diriku!”
Sebelum ada yang sempat mencegahnya, dia melompat keluar dari tenda, menerobos barisan pengawal yang terkejut, dan berlari sekuat tenaga ke arah timur, ke arah Dataran Bebatu yang tidak jauh dari sana, tempat di mana gerbang legendaris itu berada.
“Kejar dia! Jangan biarkan dia masuk ke sana sendirian!” perintah Taylor dengan lantang. “Kita harus tahu apa yang sebenarnya ada di tempat itu, dan kita harus mencegahnya melakukan kerusakan!”
Mereka pun segera berlari mengejar. Di belakang mereka, sebagian pengawal tinggal untuk mengamankan sisa anak buah Baron yang kini menyerah begitu saja, sadar bahwa perjuangan mereka sia-sia. Sementara itu, Taylor, Elizabeth, Kael, Rusa Cepat, dan beberapa orang terpilih berlari secepat kilat menembus hutan yang mulai diterangi cahaya fajar yang samar. Udara pagi terasa dingin dan lembap, napas mereka memburu, namun semangat mereka tak kalah besar dari orang yang mereka kejar.
Mereka melihat bayangan Baron Valerius di depan sana, berlari terhuyung-huyung namun terus berusaha menjauh, didorong oleh kegilaan dan ambisinya. Dia terus berlari sampai akhirnya dia tiba di sebuah tempat yang terbuka, tempat di mana pepohonan raksasa menyingkir dan digantikan oleh hamparan bebatuan besar yang tersusun rapi, seolah diletakkan oleh tangan raksasa zaman dahulu.
Di tengah hamparan bebatuan itu, berdiri sebuah dinding batu raksasa yang menjulang tinggi, halus, dan masih utuh meski ratusan tahun berlalu. Di tengah dinding itu, terukir pola-pola rumit dan tulisan kuno yang melingkar mengelilingi sebuah lubang kunci berbentuk aneh, persis sama dengan bentuk benda yang ada di tangan Baron Valerius.
Itulah dia. Gerbang yang dicari-cari itu. Gerbang yang selama ini tersembunyi, terlindung oleh hutan lebat dan waktu.
Baron Valerius berhenti tepat di depan dinding batu itu, napasnya terengah-engah, keringat bercucuran membasahi wajahnya yang kotor. Dia berbalik menghadap rombongan yang kini sampai di belakangnya, menatap mereka dengan senyum yang menyeramkan dan penuh kemenangan yang keliru.
“Terlambat!” teriaknya. “Aku sudah sampai di sini, dan aku yang akan membukanya! Lihatlah! Di balik pintu ini ada masa depan, ada kekuatan, ada segala sesuatu yang kalian ingkari! Aku akan menjadi penguasa baru negeri ini!”
Dengan tangan yang gemetar karena gembira dan gugup, dia mendekatkan Kunci Gerbang itu ke lubang di dinding batu. Bunyi klik yang nyaring terdengar saat benda itu masuk dan berputar. Getaran halus mulai terasa di tanah, dan suara gemuruh rendah bergema dari dalam dinding batu yang tebal itu. Perlahan namun pasti, celah di tengah dinding itu mulai terbuka, mengungkapkan kegelapan yang pekat dan aroma udara tua yang sudah tertahan berabad-abad lamanya.
Tanpa pikir panjang, dan didorong oleh keinginannya yang tak terbendung, Baron Valerius melompat masuk ke dalam kegelapan itu, menghilang di balik pintu gerbang yang perlahan mulai menutup kembali.
“Cepat! Masuk sebelum tertutup!” seru Taylor.
Mereka berlari maju, dan tepat saat celah itu hampir tertutup rapat, mereka berhasil menyelipkan diri masuk ke dalam. Di belakang mereka, dinding batu yang berat itu bergeser kembali dan terkunci rapat dengan bunyi gemuruh yang menggetarkan tanah, meninggalkan mereka semua di dalam tempat yang asing, gelap, dan penuh misteri, terpisah dari dunia luar.
Suasana di dalam sana sunyi dan dingin. Udara terasa kering dan berdebu, bercampur dengan bau logam tua dan tanah. Untuk beberapa saat, mereka hanya bisa berdiri diam, membiarkan mata mereka menyesuaikan diri dengan kegelapan yang hampir total itu. Kemudian, Rusa Cepat mengeluarkan sebatang obor yang sudah disiapkannya, menyalakannya, dan cahaya kuning kemerah-merahan pun menerangi ruangan luas yang ada di hadapan mereka.
Mereka berdiri di sebuah lorong besar dengan dinding-dinding batu yang diukir indah dengan gambar-gambar sejarah, pertempuran, dan simbol-simbol kebijaksanaan zaman dahulu. Langit-langitnya tinggi, dan lantainya rata serta bersih, seolah-olah tempat ini memang dirancang agar tetap utuh selamanya. Di depan mereka, lorong itu memanjang lurus ke dalam, semakin jauh semakin redup cahayanya.
“Tempat ini lebih megah dan lebih indah daripada yang kubayangkan,” bisik Elizabeth sambil memandang sekeliling dengan kagum namun juga waspada. “Arsitekturnya sempurna. Ini bukan sekadar gua atau tempat persembunyian biasa. Ini adalah bangunan besar yang dibuat dengan tujuan khusus.”
“Dan Baron Valerius ada di sini di depan sana,” tambah Taylor sambil menatap ke ujung lorong yang gelap. “Dia masuk ke sini dengan harapan menemukan kekayaan dan kekuasaan. Tapi aku punya firasat kuat bahwa apa yang akan dia temukan di sini bukanlah apa yang dia bayangkan. Orang-orang yang membangun tempat ini ratusan tahun yang lalu adalah orang-orang yang bijaksana. Mereka tidak menyimpan kekuasaan untuk orang yang tamak dan jahat.”
Mereka berjalan perlahan dan hati-hati menyusuri lorong itu. Di sepanjang jalan, mereka melihat banyak sekali peninggalan: patung-patung, tulisan-tulisan yang berisi nasihat dan pelajaran hidup, serta sisa-sisa peralatan yang menunjukkan bahwa dulunya tempat ini adalah pusat ilmu pengetahuan dan peradaban yang sangat maju. Semakin mereka berjalan, semakin mereka sadar bahwa tempat ini adalah harta karun yang sesungguhnya, bukan berupa emas atau permata, melainkan berupa sejarah, ilmu, dan kearifan leluhur yang dijaga agar tidak hilang tertelan waktu.
Akhirnya, lorong itu berakhir di sebuah ruangan bundar yang sangat besar dan tinggi, di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja batu yang besar, dan di atas meja itu terdapat sebuah benda yang bersinar lembut dengan cahaya keemasan yang hangat. Di hadapan meja itu, berdiri diam sosok Baron Valerius. Dia terpaku di tempatnya, matanya terbelalak lebar, mulutnya terbuka, dan wajahnya yang tadi penuh dengan ambisi dan kegilaan kini berubah menjadi ekspresi kaget, kebingungan, dan kekecewaan yang mendalam.
Dia tidak melihat tumpukan emas atau senjata ajaib seperti yang dia impikan. Di atas meja batu itu, di bawah cahaya yang lembut itu, hanya terdapat sebuah buku tebal bersampul kulit tua yang indah dan sebuah piala sederhana yang terbuat dari batu berkilau. Di samping benda-benda itu, terukir tulisan besar di dinding di belakangnya, tulisan yang cukup jelas dan bisa dibaca oleh siapa saja.
“Di sini kami simpan harta terbesar kami. Bukan kekayaan yang bisa membuatmu kaya, bukan kekuatan yang bisa membuatmu berkuasa. Tapi kebijaksanaan untuk memimpin dengan adil, dan keberanian untuk melindungi kedamaian. Harta ini hanya milik mereka yang datang dengan hati yang bersih dan tujuan yang benar. Bagi mereka yang datang dengan keserakahan, tempat ini tidak memiliki apa-apa selain kekecewaan dan penyesalan.”
Baron Valerius berjalan terhuyung-huyung mendekati meja itu, tangannya meraih buku itu, membukanya, dan melihat isinya yang penuh dengan tulisan tentang hukum, keadilan, dan tanggung jawab pemimpin. Tidak ada rumus sihir, tidak ada petunjuk kekayaan tersembunyi. Hanya ajaran tentang bagaimana membangun dan menjaga sebuah negeri agar rakyatnya hidup bahagia.
Kekuatan yang dia cari, kekayaan yang dia impikan, semuanya ternyata hanyalah mitos yang dibentuk oleh ketidaktahuan dan keinginan jahat manusia. Yang ada di sini hanyalah warisan kebijaksanaan yang seharusnya dia pelajari sejak awal jika dia benar-benar ingin menjadi pemimpin yang baik.
Dia jatuh berlutut di lantai batu, buku itu terlepas dari tangannya dan jatuh berdebam. Semangatnya runtuh, ambisinya hancur lebur, dan kegilaannya perlahan menghilang digantikan oleh kesadaran yang pahit dan menyakitkan. Dia menyadari bahwa selama bertahun-tahun dia berjuang, berkhianat, dan berbuat jahat demi sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada. Bahwa kekuasaan sejati tidak tersembunyi di gua-gua, melainkan ada di hati dan perbuatan seorang pemimpin.
Taylor, Elizabeth, dan yang lainnya berjalan masuk ke dalam ruangan itu, berdiri di belakangnya, memandanginya dengan rasa iba bukan rasa benci.
“Kau lihat sekarang, Baron?” kata Taylor pelan namun tegas. “Leluhur kita jauh lebih bijaksana daripada yang kita duga. Mereka menyimpan hal yang paling berharga di tempat yang paling sulit dijangkau, bukan untuk disembunyikan, tapi untuk memastikan bahwa hanya mereka yang benar-benar pantas dan berniat baik yang akan menemukannya. Kau datang ke sini mencari kekuasaan, tapi yang kau temukan adalah cerminan dari dirimu sendiri yang sesungguhnya.”
Baron Valerius menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata penyesalan dan kepahitan menetes di pipinya yang kasar. Semua kejahatan yang dia lakukan, semua nyawa yang terancam, semua kerusakan yang dia sebabkan, semuanya ternyata sia-sia belaka.
“Kau benar...” bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar. “Aku buta. Aku buta oleh ambisiku sendiri. Aku menghancurkan segalanya demi bayangan kosong... dan sekarang aku tidak memiliki apa-apa.”
Di ruangan kuno itu, di antara warisan leluhur yang agung, kisah pencarian harta karun yang berbahaya itu berakhir bukan dengan pertempuran dahsyat atau penemuan kekayaan besar, melainkan dengan kesadaran yang menyakitkan dan pelajaran berharga bagi semua orang yang hadir di sana.
Namun, bagi Taylor dan Elizabeth, penemuan ini jauh lebih berharga daripada emas apa pun. Mereka telah menemukan kembali akar sejarah mereka, menemukan kembali kebijaksanaan leluhur, dan membuktikan sekali lagi bahwa kebenaran dan keadilan adalah satu-satunya kekuatan yang abadi.