Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Memulai Hidup Baru di Tanah Sendiri
Pagi itu, matahari terbit lebih cerah dan lebih hangat dari biasanya. Sinar emasnya menyelinap masuk lewat celah-celah jendela rumah baru mereka, menerangi ruangan yang sederhana namun terasa begitu megah dan nyaman karena milik sendiri. Udara pagi di Desa Ketajen, Tumapel ini terasa sangat sejuk, bersih, dan segar, berbeda jauh dengan udara kota yang penuh debu dan asap kendaraan. Suara ayam berkokok bersahutan, suara burung berkicau riang di dahan-dahan pohon rindang di halaman, dan suara gemericik air irigasi dari sawah di belakang rumah terdengar seperti musik alam yang menenangkan hati.
Faris sudah bangun sejak azan Subuh tadi, sudah selesai sholat dan berdoa panjang di sudut halaman yang paling luas, bersyukur tiada henti atas segala nikmat dan kemudahan yang Allah berikan kepadanya dan keluarganya. Di tangannya kini ada sebatang rokok Gajah Baru Kertek, dinyalakan pelan-pelan sambil ia berjalan mengelilingi pekarangan yang luas itu, menatap setiap sudut, setiap pohon, setiap bangunan dengan rasa memiliki yang luar biasa. Rasanya mimpi kemarin sore saat mengumumkan kepemilikan tanah ini kini menjadi kenyataan yang nyata, terasa di setiap jengkal tanah yang ia pijak.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah..." gumamnya pelan berulang kali, mengembuskan asap rokoknya perlahan, gayanya yang tenang, santai, tapi matanya berkilat penuh rencana besar yang sudah tersusun rapi di kepalanya. "Sekarang modalnya sudah ada... Tempatnya sudah aman... Tinggal kita buktikan kerja nyata... Tinggal kita tunjukkan ke dunia, dan ke siapa saja yang pernah meremehkan kita, bahwa keluarga Hidayat bukan keluarga yang mudah dipatahkan, bukan keluarga yang mudah ditindas."
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Bapak Wijaya keluar berjalan tertatih-tatih namun wajahnya jauh lebih cerah dan lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya. Di belakangnya ada Ibu Arum Sari yang sudah membawa nampan berisi teh hangat, kopi, dan gorengan buatan tangan sendiri yang baru saja matang. Wajah Ibu bersinar bahagia, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya sejak kemarin sore. Diikuti pula oleh Guntur, Ali, dan si kembar Maya Miya yang sudah bersemangat sekali, pakaiannya sudah rapi seolah siap bekerja keras seharian penuh.
"Pagi yang indah sekali ya, Nak..." sapa Bapak sambil duduk di kursi kayu di teras, menatap pemandangan sawah yang hijau membentang luas di depan mata. "Rasanya sakit-sakit Bapak kemarin langsung sembuh semua begitu tahu tanah ini milik kita sendiri. Semangat hidup Bapak balik lagi, semangat kerja balik lagi. Terima kasih ya, Faris... Terima kasih sudah bawa kami sampai di titik ini."
Faris tersenyum mendekat, mencium tangan Bapak dan Ibu dengan hormat, lalu duduk di samping mereka, membuka obrolan pagi itu dengan nada kepemimpinannya yang khas: tegas, jelas, namun penuh kasih sayang.
"Jangan bilang begitu lagi ya, Pak... Itu kewajiban saya... Itu sudah jadi janji saya sama diri saya sendiri sejak dulu... Bahwa saya bakal berjuang mati-matian demi kebahagiaan Bapak Ibu dan adik-adik. Sekarang kita sudah di sini, di tanah sendiri... Sekarang kita susun rencana ke depannya ya... Dengerin baik-baik pembagian tugas Abang, supaya semuanya rapi, semuanya berjalan lancar, nggak ada yang tabrakan kerjaan."
Ia menghisap rokoknya pelan, menatap Guntur dan Ali yang sudah duduk tegap siap mendengar perintah.
"Pertama... Urusan bengkel... Gun... Ali... Kalian berdua tanggung jawab penuh sama bangunan panjang di sebelah sana. Hari ini kita mulai bersihin, sapu bersih, atur letak alat-alat, susun rak-rak buat simpan onderdil. Kita tata seindah mungkin, serapi mungkin, biar orang yang lewat aja sudah ngiler lihat kerapiannya. Ingat ya... Prinsip kita tetap sama: pelayanan ramah, harga masuk akal, hasil kerja rapi dan awet. Jangan sombong sama pelanggan, apalagi sama orang desa di sini. Mereka sederhana, mereka jujur, dan kalau mereka sudah percaya, mereka bakal setia sama kita sampai kapan pun. Ingat itu baik-baik!"
Guntur dan Ali mengangguk mantap, semangat mereka membara. "Siap, Bang! Kami paham! Kami janji bakal atur bengkel ini jadi yang paling bersih dan paling lengkap se-Daerah Gedangan ini!" jawab Guntur lantang.
Faris mengangguk puas, lalu menoleh ke arah Ibu Arum Sari. Senyumnya makin melebar saat menatap ibunya yang sudah menyiapkan wadah-wadah dagangan.
"Terus... Urusan warung... Bu... Ibu tenang saja... Di depan teras ini, di bagian pinggir dekat jalan raya nanti, kita pasang meja panjang, kita buat tenda sederhana yang lebar. Di sana Ibu jual apa saja yang Ibu mau: gorengan, kopi, nasi bungkus, jajanan pasar, sembako, apa saja. Jalannya ramai sekali lewat sini, banyak petani lewat, banyak pekerja lewat, banyak kendaraan berhenti istirahat. Insyaallah dagangan Ibu bakal laris manis, Bu... Karena masakan Ibu enak, karena Ibu ramah, dan karena kita jujur timbangan dan hitungannya. Nanti kalau sudah rame, kita besarkan lagi, kita tambah karyawan kalau perlu. Tapi untuk awal, nikmati saja dulu kebahagiaannya."
Ibu Arum Sari mengusap air mata bahagia di ujung matanya, tersenyum lebar sekali. "Siap, Nak... Ibu siap kerja keras. Ibu bakal bikin gorengan paling enak se-Sidoarjo, biar orang ingat sama warung di tanah milik sendiri ini."
Terakhir, Faris menoleh ke arah si kembar Maya dan Miya yang duduk manis di dekat kakinya. Ia mengelus kepala mereka berdua bergantian dengan penuh kasih sayang dan harapan besar.
"Terus buat kalian berdua, Maya... Miya... Abang sudah bilang kemarin kan? Nanti kita daftarkan kalian masuk Sekolah MI yang letaknya cuma selemparan batu dari sini, deket banget, jalannya lurus saja lewat sawah. Sekolahnya bagus, gurunya kenal sama Abang, lingkungannya aman dan beragama. Hari ini nanti sore Abang antar daftar ulang, ya. Kalian masih kelas 3 SD, nanti lanjut sampai kelas 6 di situ, terus masuk MTs juga di situ. Ingat pesan Abang... Sekolah yang rajin, sekolah yang pinter, jangan malu, jangan minder. Abang cuma tamat MTs saja bisa begini, bisa beli tanah, bisa bangun usaha... Apalagi kalian nanti tamat sekolah yang lebih rajin, lebih tekun... Pasti kalian bisa jadi orang besar, jadi orang sukses, jadi kebanggaan keluarga."
Kedua gadis kecil itu mengangguk semangat, matanya berbinar tekad baja. "Siap Bang! Kami janji sekolah paling rajin, paling pinter, paling nurut sama guru! Kami bangga sekali sekolah di tempat Abang dulu sekolah!"
Faris berdiri tegak, membuang puntung rokoknya ke asbak tanah liat, lalu menatap seluruh keluarganya dengan pandangan pemimpin yang tegas namun penuh cinta. Ia menunjuk ke arah motor GL Herk warna pink yang terparkir gagah di halaman, dan motor CB peninggalan Bapak yang sudah hidup kembali.
"Dan urusan Abang... Abang bakal urus perizinan, bakal kenalan sama tokoh-tokoh desa, sama tetangga, sama pejabat setempat. Abang juga bakal terus latihan, terus belajar soal balap resmi. Motor Pink ini nggak cuma buat gaya, nggak cuma buat kalahin si Bima... Tapi nanti bakal jadi ajang cari nama besar, bakal jadi ajang cari rezeki halal lewat jalur olahraga. Abang bakal buktikan, anak kampung, anak putus sekolah, anak mekanik biasa, bisa masuk arena resmi, bisa juara, bisa dihargai orang banyak."
Ia menarik napas panjang, menghembuskannya lega.
"Nah... Sekarang semuanya sudah jelas tugas masing-masing. Nggak ada lagi rasa takut, nggak ada lagi rasa cemas, nggak ada lagi rasa rendah diri. Kita berdiri tegak sekarang... Di atas tanah sendiri... Di tempat yang berkah... Di Desa Ketajen, Tumapel ini... Mari kita kerja keras lagi... Mari kita bangkit lagi... Mari kita buktikan ke dunia... Bahwa keluarga Hidayat Bersaudara itu tak tergoyahkan, tak terkalahkan, dan bakal makin sukses makin ke depan!"
Pagi itu pun dimulai dengan semangat yang luar biasa. Suara sapu menyapu halaman, suara palu memaku rak bengkel, suara Ibu menggoreng di dapur, dan tawa ceria anak-anak menyatu harmonis di udara pagi yang indah itu. Di Gedangan Sidoarjo, lembaran baru kehidupan keluarga Hidayat sudah ditulis dengan tinta emas, dan tokoh utamanya, Faris Arjuna, tahu betul... Ini baru permulaan dari cerita sukses yang jauh lebih panjang dan jauh lebih hebat lagi.