Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penghianatan
"Kita diserang lagi?" tanya Rangga sambil menggeleng tidak percaya.
"Sepertinya seseorang benar-benar tidak ingin kita mendengar sisa video itu." Bintang mengepalkan tangannya.
Suara tembakan dari luar semakin ramai, lampu darurat berwarna merah menyala di sepanjang lorong rumah persembunyian, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding. Beberapa penjaga berlari melewati pintu sambil membawa senjata, sedangkan suara radio terus bersahutan tanpa henti.
"Kita turun sekarang." Viktor mengambil pistolnya.
"Aku ikut." Bintang melangkah mendekat.
"Kalian semua ikut." Leonard mengokang senjatanya. "Kalau rumah ini jatuh, kita tidak punya tempat lain."
"Rania tetap di tengah kelompok." Septian menatap wanita itu serius.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri." Rania mengernyit kesal.
"Aku tidak meragukannya." Septian mengangguk pelan. "Tapi malam ini bukan soal kemampuan."
Mereka segera bergerak menuju lantai bawah, begitu sampai di ruang utama suara ledakan keras mengguncang seluruh bangunan.
Boom
Dinding bagian timur langsung retak, pecahan kaca berhamburan ke segala arah.
"Sial!" umpat Damar sambil berlindung.
"Itu bukan serangan kecil." Viktor menyipitkan mata.
Puluhan peluru menghantam dinding luar rumah, suara tembakan bersahutan dari berbagai arah hingga membuat udara dipenuhi bau mesiu.
"Berapa jumlah mereka?" tanya Bintang sambil memeriksa amunisinya.
"Lebih banyak dari yang kita harapkan." Viktor menggeleng pelan.
"Kita harus keluar dari rumah ini." Leonard menatap jendela yang mulai hancur.
"Aku setuju." Arsen mengangguk pelan.
"Kita belum tahu siapa yang menyerang." Raka mengernyit.
"Kita tidak perlu tahu untuk saat ini." Viktor mengangkat pistolnya. "Kita hanya perlu tetap hidup."
"Terlambat untuk rencana yang sederhana." Gavin tersenyum tipis sambil berdiri di dekat pintu.
Bintang langsung menoleh.
"Aneh sekali." Bintang menyipitkan mata.
"Apa?" Gavin mengangkat alis.
"Semua orang panik." Bintang melangkah perlahan ke arahnya. "Kecuali kau."
"Mungkin aku lebih tenang." Gavin tertawa kecil.
"Atau mungkin kau sudah tahu ini akan terjadi." Bintang terus menatapnya.
Suasana langsung berubah, Rania menoleh ke arah Gavin, Viktor membeku sedangkan Leonard perlahan menyipitkan mata.
"Aku mulai menyukai arah pembicaraan ini." Leonard menyilangkan tangan di dada.
"Itu tuduhan yang berat." Gavin tetap tersenyum.
"Kalau begitu bantah." Bintang mengepalkan tangannya.
Ledakan lain mengguncang bangunan, sebagian plafon runtuh di ujung lorong tetapi tidak ada seorang pun yang mengalihkan perhatian dari Gavin.
"Kau datang tepat sebelum serangan." Bintang menatapnya tajam.
"Itu kebetulan."
"Aku tidak percaya pada kebetulan."
"Itu masalahmu."
"Kau membawa foto."
Gavin tidak menjawab.
"Kau membawa pesan."
Gavin tetap diam.
"Kau membuat kami sibuk dengan teka-teki." Bintang melangkah semakin dekat.
"Kau terdengar seperti orang yang marah." Gavin tersenyum tipis.
"Karena aku memang marah."
"Terlambat menyadarinya."
"Bintang benar." Viktor akhirnya membuka suara. "Kedatanganmu terlalu tepat."
"Aku mulai merasa tidak dihargai." Gavin perlahan menoleh.
"Kau yang memberi kami alasan." Septian mengangkat pistolnya.
Suara kokangan senjata langsung memenuhi ruangan.
Klik Klik Klik
Beberapa penjaga langsung mengarahkan senjata ke Gavin, untuk pertama kalinya malam itu senyum pria tersebut memudar.
"Kalian serius?" tanyanya sambil mengangkat kedua tangan.
"Sangat serius." Leonard mengangguk pelan.
"Ini lucu."
"Tidak ada yang lucu." Damar mendengus.
"Tidak?" Gavin memandang mereka satu per satu.
"Tidak." Viktor menggeleng pelan.
"Kalau aku pengkhianat, kenapa aku datang ke sini?" Gavin mengangkat alis.
"Karena kau ingin memastikan sesuatu." Bintang menatapnya.
"Memastikan apa?"
"Bahwa kami melihat video itu."
Gavin terdiam, anya sesaat tetapi itu cukup. Bintang, Leonard dan Viktor melihatnya.
"Kau baru saja ragu." Leonard menyeringai tipis.
"Satu detik." Damar mengangguk pelan. "Tapi aku melihatnya."
"Sial." Rangga mengangkat pistolnya lebih tinggi.
Gavin mengembuskan napas panjang.
"Luar biasa." Ia menggeleng pelan. "Kalian ternyata tidak sebodoh yang kukira."
"Itu pengakuan?" tanya Bintang.
"Tidak." Gavin tersenyum lagi.
"Tapi cukup dekat."
Suara tembakan dari luar tiba-tiba berhenti, mendadak total, keheningan itu justru terasa lebih mengerikan.
"Ada yang tidak beres." Viktor mengernyit.
"Akhirnya kau menyadarinya." Gavin tertawa kecil.
Semua orang langsung membeku.
"Jadi memang kau." Septian mengarahkan pistol tepat ke kepalanya.
"Aku hanya kurir." Gavin mengangkat bahu.
"Kurir yang membuka pintu untuk pembunuh." Leonard mendesis.
"Kalian terlalu dramatis."
"Kau terlalu santai." Bintang melangkah maju.
"Kau ingin tahu kenapa aku datang?" Gavin tersenyum tipis.
"Tidak terlalu." Bintang mengepalkan tangannya.
"Aku datang untuk memastikan satu hal."
"Apa?"
Lampu darurat kembali berkedip dan Gavin menatap Bintang, lalu tersenyum.
"Bahwa kau memang Bima."
Ruangan langsung membeku dan Rania kehilangan napas, Raka membelalak, Arsen langsung menoleh ke arah Bintang, sedangkan Viktor memejamkan mata seolah kalimat itu adalah sesuatu yang selama ini ingin dihindarinya.
"Kau bohong." Bintang menggeleng pelan.
"Aku tidak punya alasan untuk berbohong."
"Buktinya?"
"Kau baru saja melihat buktinya." Gavin terkekeh.
"Tangkap dia!" bentak Viktor sambil mengangkat pistol.
Terlambat Gavin bergerak sangat cepat. Salah satu penjaga yang berada di dekatnya langsung terpukul hingga terjatuh.
Dor
Sebuah tembakan meletus dan kaca jendela pecah, semua orang tiba-tiba bergerak bersamaan.
"Kunci pintunya!" bentak Septian.
"Dia kabur!" teriak Rangga.
Gavin berlari menuju lorong belakang dan Bintang langsung mengejarnya.
"Berhenti!" bentaknya sambil menerjang ke depan.
"Aku baru mulai!" Gavin tertawa.
Mereka berlari melewati lorong sempit menuju pintu belakang rumah dan hujan kembali turun deras ketika Gavin menerobos keluar.
Bintang terus mengejar, jarak mereka semakin dekat.
"Aku dapat kau!" bentak Bintang sambil melompat.
Namun Gavin tiba-tiba berbalik.
Dor
Sebuah tembakan meletus dan Bintang refleks menghindar. Peluru itu meleset, tetapi mengenai seseorang yang baru saja keluar dari pintu belakang.
Tubuh Viktor langsung terhuyung, kemudian jatuh berlutut.
"Viktor!" teriak Rania sambil berlari keluar.
Jantung Bintang langsung terasa berhenti, darah mengalir dari sisi tubuh Viktor. Wajah pria itu langsung pucat.
"Sial!" umpat Damar sambil berlutut di sampingnya.
"Tekan lukanya!" bentak Leonard.
Gavin berdiri beberapa meter dari mereka dengan tersenyum dan tenang.
"Aku benci perpisahan." Gavin mengangkat pistolnya.
"Brengsek!" Bintang menerjang ke arahnya.
Namun suara mesin kendaraan tiba-tiba terdengar dari balik pepohonan. Tiga mobil hitam muncul, pintu-pintunya terbuka dan belasan pria bersenjata keluar.
"Itu mereka!" teriak Septian.
Gavin melompat masuk ke salah satu mobil.
"Kita bertemu lagi nanti, Bima." Ia tersenyum tipis sebelum pintu kendaraan tertutup.
Mobil-mobil itu langsung melaju pergi menembus hujan.
"Jangan bicara!" bentak Rania sambil menekan luka Viktor.
Viktor batuk pelan kemudian darah mulai membasahi bajunya.
"Dokter!" teriak Rangga.
"Sekarang!" bentak Damar.
Viktor menatap Bintang yang berlutut di sampingnya lalu tatapannya mulai kabur.
"Bintang..." gumamnya pelan.
"Jangan bicara." Bintang mengepalkan tangannya.
"Dengarkan aku..."
"Tidak."
"Dengarkan..." Viktor batuk lagi.
Bintang membungkuk mendekat, Viktor menarik napas panjang kemudian mengucapkan kalimat yang membuat seluruh dunia Bintang seakan berhenti berputar.
"Kau memang... Bima..."
Kepala Viktor terkulai dan untuk pertama kalinya malam itu... Bintang merasakan ketakutan yang jauh lebih besar daripada kemarahan.