Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Bu..." Napas Sasa memburu. Boneka kain itu terlepas dari pelukannya.
Kinan segera menghampiri lalu berlutut di hadapan anak itu. "Sasa. Ada apa?"
Sasa berusaha mengatur napas. Air matanya terus mengalir. "Ayah... Datang lagi..."
Kinan membantu Sasa bangkit. "Pelan-pelan. Ceritakan pada Bu Guru."
Sasa menggeleng sambil terisak. "Ayah marah..."
"Ibuku...dipukul lagi." Kalimat terakhir hampir tak terdengar. Namun cukup membuat wajah Kinan berubah.
Ia berdiri. "Sasa. Mari kita pergi ke rumahmu."
"Bu Kinan !" Suara kepala sekolah menghentikan langkahnya. Beliau baru saja keluar dari ruangannya bersama dua orang guru lain. "Ada apa?"
Kinan menjelaskan singkat. "Sepertinya terjadi kekerasan di rumah Sasa."
Salah seorang guru langsung menggeleng. "Bu Kinan, jangan. Itu urusan rumah tangga mereka. Nanti kita malah ikut terseret."
Guru yang lain menimpali, "Pak Roni terkenal pemarah. Warga saja banyak yang memilih menghindarinya."
Kinan menatap mereka bergantian. Tatapannya tetap tenang. "Lalu bagaimana dengan Sasa ?"
Tak seorang pun menjawab. "Sampai kapan anak itu harus melihat ibunya dipukul?"
Suasana mendadak sunyi. Kepala sekolah menghela napas panjang. "Saya mengerti maksudmu. Tapi datang ke sana hanya berdua sangat berbahaya."
Kinan menoleh kepada Sasa yang masih menggenggam ujung bajunya. Anak itu menatapnya dengan mata sembab. Penuh harap.
Kinan kembali menatap kepala sekolah. "Kalau tidak ada orang lain yang menolong Sasa...lalu siapa lagi?"
Tak ada yang mampu menjawab. Kinan menggandeng tangan kecil Sasa. "Ayo."
"Bu Kinan!" Kepala sekolah kembali memanggil.
Kali ini langkah Kinan berhenti. Beliau mengambil ponselnya. "Kalau begitu, jangan sendiri. Saya akan menghubungi ketua RT. Setidaknya ada saksi kalau memang terjadi sesuatu."
Kinan mengangguk pelan. "Itu lebih baik."
Beberapa menit kemudian, mereka berjalan cepat meninggalkan halaman sekolah.
Di depan, Sasa berlari kecil menyusuri jalan. Di belakangnya, Kinan mengikuti dengan langkah tenang. Tatapannya lurus ke depan. Entah apa yang akan mereka temukan di rumah itu.
Pintu rumah Sasa terbuka lebar. Suara bentakan terdengar hingga ke halaman.
"Mas... lepaskan!" Linda berusaha melepaskan cengkeraman tangan suaminya. Namun Pak Roni justru menyeretnya keluar kamar.
Map berisi sertifikat masih berada di tangan kirinya. "Tanda tangani sekarang!"
"Aku tidak akan menjual tanah itu."
Pak Roni berhenti di ruang tengah. Tangannya terangkat. "Tidak mau? Baik. Kita lihat sampai kapan kau bertahan!"
Sasa yang berdiri di dekat pintu menangis ketakutan. "Jangan, Yah!"
Pak Roni menoleh sekilas. "Masuk kamu !" Sasa justru mundur hingga ke teras.
Di saat yang sama...Kinan melangkah masuk bersama Sasa. Di belakangnya menyusul Kepala Sekolah, dua orang guru, ketua RT, dan beberapa warga yang penasaran.
Tatapan Pak Roni langsung berubah tajam. "Bu Guru. Kau lagi."
Kinan menatap tangan Pak Roni yang masih mencengkeram pergelangan Linda. "Lepaskan istrimu."
Pak Roni tertawa sinis. "Ini urusan keluargaku. Bukan urusan sekolah."
"Benar." Suara Kinan tetap tenang. "Tapi ketika kekerasan dilakukan di depan anakmu...itu bukan lagi urusan keluargamu."
Pak Roni mendengus. "Kau mau mengajariku?"
"Aku hanya memberimu satu pilihan. Lepaskan istrimu ! "
"Atau?" Pak Roni melangkah mendekat. "Kau pikir aku takut pada seorang guru TK?" Ia mengayunkan tangan ke arah Kinan.
Belum sempat mengenai sasaran...
Plak!
Kinan menangkap pergelangan tangannya.
Gerakannya cepat. Hampir tak terlihat. Pak Roni mencoba menarik tangannya. Tidak bergerak sedikit pun.
Tatapan Kinan tetap datar. "Aku sudah memperingatkanmu."
Pak Roni mengangkat tangan satunya untuk memukul. Dalam sekejap...Kinan memutar pergelangan tangan Pak Roni.
Krek!
"Argh!" Tubuh Pak Roni kehilangan keseimbangan. Ia baru sadar kalau apa yang diucapkan anak buahnya kemarin benar, bu guru baru ini tidak bisa diremehkan.
Kinan melepaskan pegangannya. Namun ketika Pak Roni masih berusaha menerjang, Kinan menggeser satu langkah ke samping. Kakinya menyapu ringan betis lawannya.
Bruk!
Pak Roni jatuh berlutut di lantai. Map cokelat terlempar. Lembar sertifikat berserakan tertiup angin.
Seluruh warga terdiam. Tak seorang pun menyangka Bu Kinan yang lembut di sekolah mampu melumpuhkan seorang pria bertubuh jauh lebih besar hanya dalam hitungan detik.
Kinan melangkah mendekat. Tatapannya dingin.
"Kalau kau masih ingin menyelesaikan masalah dengan tangan...pastikan lawanmu bukan aku."
Pak Roni mendongak. Untuk pertama kalinya...
Ia melihat sorot mata yang membuatnya memilih diam.
Pak Roni terduduk beberapa detik. Napasnya memburu. Pergelangan tangannya masih terasa nyeri.
Pak Roni segera bangkit. Dengan wajah memerah, ia memunguti lembaran-lembaran itu.
Tangannya gemetar, entah karena marah atau menahan sakit.
Seorang warga yang berdiri tak jauh dari pagar hanya bisa saling berpandangan. Tak ada yang berani membantu. Setelah seluruh berkas kembali masuk ke dalam map, Pak Roni menepuk-nepuk sampulnya pelan.
Ia menoleh ke arah Kinan. Tatapannya dipenuhi kebencian. "Bu Guru..." Suara itu terdengar pelan.
Namun justru lebih menyeramkan daripada bentakannya tadi. "Kau baru datang ke desa ini. Jangan merasa sudah menjadi pahlawan."
Kinan tidak menjawab. Pak Roni melangkah mendekat beberapa langkah. "Aku tidak akan melupakan ini." Ia menunjuk Kinan dengan ujung jarinya. "Aku akan membalasmu."
Kinan menatapnya tanpa gentar. "Kalau itu membuatmu puas. Tapi sebelum memikirkan cara membalas orang lain...belajarlah memperlakukan keluargamu dengan benar."
Rahang Pak Roni mengeras. Ia mengepalkan tangan. Namun pergelangan yang tadi dipelintir kembali berdenyut nyeri. Wajahnya meringis sesaat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan. Map cokelat dijepit kuat di bawah lengannya. Ia melangkah keluar rumah.
Tak sekali pun menoleh ke belakang.
Di ambang pintu, Linda memeluk Sasa erat.
Air matanya kembali jatuh. Bukan karena rasa sakit. Melainkan karena, ada seseorang yang berani berdiri di hadapan Pak Roni demi melindungi mereka.
Suasana rumah masih hening.
Semua mata mengikuti langkah Pak Roni yang semakin menjauh. Baru setelah sosoknya menghilang di tikungan jalan, beberapa warga mengembuskan napas lega.
"Astaga..." gumam salah seorang ibu. Aku kira tadi Pak Roni benar-benar akan memukul Bu Kinan."
Ketua RT mengembuskan napas panjang. "Syukurlah... dia pergi. Sudah lama saya mengenal Roni. Baru kali ini ada yang berani menghentikannya."
Kepala sekolah mendekati Kinan. "Bu Kinan, kamu tidak apa-apa?"
Kinan mengangguk singkat. "Saya baik-baik saja."
Kepala sekolah menatapnya beberapa saat. "Tadi... gerakanmu itu..."
"Saya pernah belajar bela diri," jawab Kinan pendek.
Dua guru yang ikut datang saling berpandangan.
"Saya bahkan tidak sempat melihat gerakannya."
"Iya."
"Tahu-tahu Pak Roni sudah jatuh."
Ketua RT lalu menoleh kepada Linda. "Untuk sementara, sebaiknya Ibu dan Sasa jangan tinggal sendirian di rumah ini."
Seorang warga segera mengangguk. "Kalau Ibu bersedia, rumah saya terbuka sampai keadaan tenang."
Linda menahan tangis. "Terima kasih... Tapi saya tidak ingin merepotkan."
Kepala sekolah melangkah mendekat. "Bukan merepotkan. Yang penting sekarang Ibu dan Sasa merasa aman."
Ketua RT menatap Kinan. "Lain kali, kalau ada kejadian seperti ini...tolong laporkan kepada saya lebih dulu."
Kinan menatap beliau. "Kalau saya menunggu...ibunya Sasa bisa terluka lebih parah."
Ketua RT terdiam. Ia tahu. Perkataan itu tidak salah.
Sasa beralih memeluk pinggang Kinan. Jari-jari kecilnya tak mau melepaskan kain baju sang guru.
Kinan menunduk. Ia mengusap pelan kepala anak itu. "Sudah tidak apa-apa." Meski mengangguk, Sasa tetap tidak melepaskan pelukannya.
Di sekeliling mereka, warga mulai berbisik pelan.
Bukan lagi membicarakan Pak Roni. Melainkan seorang guru baru yang, tanpa banyak bicara, berdiri paling depan ketika orang lain memilih menjaga jarak.