"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Panggung Sandiwara
Keesokan siangnya, ketegangan di Lantai Pleno Gedung Corisand Media Group mencapai puncaknya.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dihadiri oleh seluruh jajaran direksi, investor institusi, dan anggota keluarga besar Corisand yang masih memiliki hak suara.
Atmosfer di dalam ruangan berpanel kayu mahoni itu terasa sangat berat, seolah oksigen telah habis disedot oleh kecemasan massal.
Ketika pintu ganda ruang rapat terbuka, seluruh pasang mata langsung tertuju pada ambang pintu.
Adrian Hutama melangkah masuk lebih dulu, disusul oleh Alea Corisand di sampingnya.
Mereka tampil memukau.
Alea mengenakan setelan blazer formal hitam dengan potongan tegas, memancarkan aura otoritas yang mutlak.
Sementara Adrian, dengan setelan jas hitam mahakarya desainer, berjalan dengan dagu terangkat.
Di hadapan publik dan lampu kilat media internal, Adrian mengulurkan tangannya perlahan, membimbing jemari Alea menuju kursi utama di ujung meja panjang.
Gestur itu begitu natural, begitu protektif, dan memancarkan keintiman yang sempurna.
Siapa pun yang melihat mereka akan bersumpah bahwa mereka adalah pasangan penguasa baru yang saling memuja dan siap menaklukkan dunia bersama.
Namun, di bawah meja rapat yang dingin, begitu Alea duduk, genggaman tangan Adrian langsung terlepas.
Dingin, cepat, dan tanpa sisa kehangatan.
Alea merasakan sensasi perih yang samar di dadanya, namun topeng profesionalismenya telah terpasang dengan sempurna.
Dia menatap lurus ke depan, tepat pada kursi kosong di ujung meja yang seharusnya ditempati oleh Arthur Corisand.
Paman yang licik itu memilih tidak hadir secara fisik, melainkan diwakili oleh pengacara hukumnya yang duduk dengan senyum sinis.
"Selamat siang, para pemegang saham sekalian," Alea membuka suara, mikrofon di depannya menghantarkan suara baritonnya yang mantap ke seluruh penjuru ruangan.
"Agenda RUPSLB hari ini hanya satu: pembersihan total struktur operasional demi menyelamatkan masa depan Corisand Media Group dari duri dalam daging."
Pengacara Arthur langsung interupsi, berdiri dengan angkuh.
"Ibu Alea, Anda tidak bisa melakukan restrukturisasi sepihak tanpa persetujuan dari Tuan Arthur Corisand yang memegang lima belas persen saham veto!"
Alea tidak berkedip.
Dia melirik Doni yang duduk di barisan belakang bersama tim hukum Hutama.
Atas isyarat itu, layar proyektor raksasa di belakang Alea langsung menyala, menampilkan dokumen forensik digital, manifes aliran dana hitam ke Panama, serta rekaman pengakuan Baskoro yang telah ditandatangani di atas meterai di kantor polisi pusat tadi malam.
"Lima belas persen saham veto milik Arthur Corisand telah resmi dibekukan oleh otoritas bursa dan penegak hukum per jam sepuluh pagi ini," Adrian menyela, suaranya yang berat dan penuh dominasi langsung membungkam seluruh ruangan.
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap pengacara itu dengan pandangan meremehkan.
"Tuan Arthur kini berstatus sebagai buronan atas kasus sabotase industri dan konspirasi kriminal. Segala bentuk representasi hukumnya di dalam ruangan ini dianggap tidak sah. Silakan tinggalkan ruangan ini sebelum tim keamanan saya menyerahkan Anda ke kepolisian sebagai kaki tangan buronan."
Wajah pengacara itu seketika memucat.
Tanpa sepatah kata pun, dia merapikan berkasnya dengan gemetar dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa di bawah tatapan mencemooh dari para investor lain.
Dengan jatuhnya benteng terakhir Arthur, sisa rapat berjalan seperti eksekusi massal yang efisien.
Alea dengan dingin membacakan pencopotan tujuh direktur lama yang berafiliasi dengan pamannya dan menggantinya dengan para profesional muda dari ekosistem Hutama Group.
Kemenangan mutlak ada di tangan mereka.
Dua jam kemudian, ruang rapat telah kosong.
Para jurnalis internal dan pemegang saham telah bubar dengan membawa berita besar mengenai "Restrukturisasi Akbar Dinasti Baru".
Alea masih duduk di kursinya, menatap meja kayu yang kini kosong.
Bahunya yang tadinya tegap perlahan merosot, menampilkan gumpalan kelelahan yang luar biasa.
Kemenangan ini besar, namun rasanya hambar.
Adrian berjalan mendekat, meletakkan sebuah dokumen kesepakatan baru di depan Alea.
"Ini dokumen pengalihan aset operasional yang sudah bersih dari pengaruh Arthur. Selamat, Alea. Kau sudah mendapatkan kembali takhtamu secara utuh."
Alea mendongak, menatap wajah tampan Adrian yang tetap datar tanpa riak, persis seperti patung marmer yang tak memiliki jiwa.
"Kau melakukannya dengan sangat baik, Adrian. Sandiwara di depan media tadi... caramu menggandengku, caramu menatapku seolah-olah kau adalah pelindungku... itu sangat meyakinkan. Pasar saham bahkan langsung melonjak naik."
Adrian merapikan jam tangan mewahnya, ekspresinya tidak berubah satu inci pun.
"Itu yang tertulis di kontrak, Alea. Aku dibayar dengan persentase merger untuk tampil meyakinkan. Begitu lampu kamera mati, kita kembali ke posisi masing-masing. Jangan biarkan tepuk tangan publik mengaburkan batasan kita."
Alea tersenyum getir, sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya.
"Kau benar-benar luar biasa, Adrian. Terkadang aku penasaran, apakah ada satu detik saja di mana kau melihatku sebagai manusia, bukan sebagai lembaran saham?"
Adrian terdiam sejenak.
Matanya menatap Alea, namun pikirannya berada di tempat lain pada sebuah janji lama dan wajah seorang wanita yang sedang menunggunya di luar pusaran konflik ini.
Kekasihnya, jangkar emosionalnya yang sesungguhnya.
"Pekerjaan kita di sini sudah selesai untuk hari ini," jawab Adrian mengabaikan pertanyaan Alea, suaranya sedingin es.
"Aku ada janji pribadi malam ini dan tidak akan pulang ke penthouse. Mobil operasional akan mengantarmu pulang dengan aman."
Tanpa menunggu jawaban, Adrian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Alea sendirian di dalam ruang rapat yang luas dan dingin.
Di bawah lampu neon yang terang, Alea menyadari satu hal, dia mungkin telah memenangkan perang untuk merebut kembali perusahaannya, namun dia telah kalah total dalam permainan hati dengan pria yang kini menjadi suaminya.