NovelToon NovelToon
Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak / Anak Kembar / Iblis
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.

Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.

Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.

Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.

Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian yang Dipilih Sendiri

Pedang itu turun seperti ingatan yang menolak dikubur.

Lin Xiurong muda mengangkat wajah. Darah mengering di sudut bibirnya, tetapi matanya masih mencari Yao Tian. Bukan mencari keselamatan. Bukan mencari belas kasihan. Hanya mencari satu tanda bahwa pria yang ia cintai masih mengenalinya.

"Aku tidak melakukannya," bisik gadis itu.

Yao Tian muda menggenggam pedang dengan dua tangan. Rahangnya mengeras. Di belakangnya, Mo Yan berdiri di balik tirai seperti bayangan yang sopan.

"Bukti sudah cukup," kata Yao Tian muda.

Lin Xiurong dewasa berdiri beberapa langkah dari mereka. Api Phoenix menyala di telapak tangannya, tetapi ia tidak menggunakannya. Setiap bagian dari dirinya mengenali ruangan itu: bau besi, lantai dingin, lilin yang hampir padam, dan kesunyian setelah orang-orang memutuskan bahwa seorang perempuan lebih mudah dijadikan pengkhianat daripada didengarkan.

Yao Tian dewasa gemetar.

"Aku bisa menghentikannya," katanya.

"Tidak."

"Ini bukan dunia nyata."

"Justru karena bukan dunia nyata, jangan membuatnya menjadi kebohongan lain."

Ia menatapnya, mata merah karena menahan sesuatu yang lebih berat daripada air mata. "Bagaimana kau bisa berdiri setenang itu?"

Lin Xiurong tersenyum tipis. "Kau salah. Aku tidak tenang. Aku hanya sudah lama belajar tidak memberi dunia hiburan dengan melihatku hancur."

Kalimat itu membuat Yao Tian mundur setengah langkah.

Di ruang hukuman, Lin Xiurong muda tertawa kecil. Tawa itu rapuh, tetapi anehnya masih indah.

"Yao Tian," katanya, "kalau suatu hari kau tahu aku tidak bersalah, jangan datang ke makamku. Aku tidak ingin melihatmu terlambat lagi."

Yao Tian dewasa menutup mata.

"Jangan," bisiknya. Entah kepada dirinya yang lama, entah kepada gadis yang akan mati.

Namun pedang tetap bergerak.

Saat bilah itu menembus dada Lin Xiurong muda, ruang putih di balik kenangan ikut retak. Phoenix hitam menjerit. Lin Xiurong dewasa merasakan tusukan yang sama membuka dadanya. Ia tidak berdarah seperti manusia, tetapi api hitam keluar dari sela jarinya. Lututnya hampir jatuh.

Yao Tian menangkapnya secara naluriah.

Lin Xiurong mencengkeram kerah jubahnya. "Aku bilang jangan menyentuhku kecuali aku jatuh."

"Kau jatuh."

"Aku belum menyentuh lantai."

"Aku tidak mau menunggu sampai itu terjadi."

Mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, kebencian dan rasa bersalah berdiri terlalu dekat sampai keduanya sulit dibedakan.

Lin Xiurong mendorongnya pelan. "Lihat."

Yao Tian memaksa dirinya menoleh.

Mo Yan bergerak dari balik tirai. Saat Yao Tian muda terguncang melihat tubuh Lin Xiurong muda roboh, Mo Yan menaruh jari di udara. Benang emas tipis terlihat untuk pertama kalinya. Ia menggerakkan satu jari, lalu ujung pedang yang seharusnya hanya menusuk bahu bergeser tepat ke jantung.

"Tidak..." Yao Tian dewasa berkata lirih.

Lin Xiurong menatap benang itu tanpa berkedip. "Kau lihat sekarang?"

"Aku melihat."

"Ucapkan."

Yao Tian memandangnya.

"Ucapkan," ulang Lin Xiurong. Suaranya tidak keras, tetapi ruangan terasa tunduk padanya.

Yao Tian menelan ludah. "Aku membunuhmu karena percaya pada kebohongan. Mo Yan menggerakkan tanganku. Tapi keputusan untuk tidak percaya padamu... itu milikku."

Untuk pertama kalinya, Lin Xiurong tidak membalas dengan sindiran.

"Bagus," katanya. "Jangan bersembunyi di balik Mo Yan. Aku membencinya. Tapi aku juga membencimu. Dua kebenaran bisa hidup di tempat yang sama."

Yao Tian mengangguk. "Aku tahu."

"Belum. Tapi kau mulai tahu."

Ruangan berubah lagi.

Mereka kini berada di lorong istana Ming setelah eksekusi. Yao Tian muda berjalan seperti orang kehilangan jiwa. Tangannya masih berlumur darah. Mo Yan menyusulnya dengan wajah pura-pura sedih.

"Kau melakukan yang benar," kata Mo Yan muda.

Yao Tian muda menatap tangannya. "Kenapa aku merasa seperti mati?"

"Karena pengkhianatan orang yang dicintai memang menyakitkan."

"Ia berkata tidak melakukannya."

"Semua pengkhianat berkata begitu."

Yao Tian dewasa hampir maju, tetapi Lin Xiurong menahan lengannya sekali lagi.

"Dengar sampai selesai," katanya.

Mo Yan muda mencondongkan tubuh. Suaranya menjadi lebih pelan. "Mulai malam ini, jangan sebut namanya. Jangan pikirkan wajahnya. Jika kau mengingatnya, rasa bersalah akan merusak jalanmu menuju langit. Dunia membutuhkanmu bersih."

Ia menyentuh dahi Yao Tian muda.

Cahaya hitam masuk seperti jarum.

Yao Tian dewasa terhuyung. Ia merasakan segel itu di kepalanya sendiri, sesuatu yang selama ini ia kira bagian dari dirinya. Kekosongan yang ia banggakan sebagai ketenangan ternyata luka yang ditutup paksa.

"Dia tidak hanya memfitnahku," kata Lin Xiurong. "Dia mencuri ingatanmu."

"Dan aku membiarkannya mendekat."

"Ya."

Kejam. Jujur. Tidak ada ruang untuk menyembunyikan diri.

Suara sumur kembali menggema. "Kebenaran pertama terbuka. Tetapi kebenaran tidak lengkap tanpa saksi kedua."

Lantai lorong retak. Mereka jatuh ke halaman eksekusi lain, tetapi kali ini bukan Lin Xiurong yang berlutut. Seorang perempuan tua berdiri di bawah hujan. Di tangannya ada gulungan yang berisi bukti palsu. Wajahnya pucat, matanya penuh ketakutan.

"Ibu pengasuhku," ujar Lin Xiurong pelan.

Perempuan itu berlutut kepada Mo Yan muda. "Tuan, Putri tidak bersalah. Saya sudah melakukan perintah Anda. Tolong lepaskan anak saya."

Mo Yan tersenyum. "Tentu."

Lalu ia membunuhnya.

Song Xiaolian tidak ada di sana, tetapi Lin Xiurong mendadak teringat cara pelayan itu selalu memohon agar yang lemah diberi pilihan. Ia dulu pernah memiliki seseorang seperti itu. Seseorang yang tahu kebenaran, tetapi dikubur sebelum sempat bicara.

Yao Tian menunduk. "Aku tidak pernah tahu."

"Tidak," jawab Lin Xiurong. "Kau tidak pernah mencari."

Yao Tian menerima kalimat itu. Wajahnya tidak berubah, tetapi matanya pecah.

"Kalau nanti kita keluar," katanya, "aku akan mencari semua nama yang dikubur bersama kesalahan ini."

"Untuk apa? Agar aku memaafkanmu?"

"Tidak. Agar mereka tidak mati dua kali."

Lin Xiurong diam.

Itu bukan jawaban yang ia harapkan. Lebih tepatnya, itu bukan jawaban yang mudah ia benci.

Di sudut halaman, Mo Yan muda tiba-tiba menoleh ke arah mereka. Seolah ia tahu sedang ditonton oleh masa depan. Senyumnya melebar.

"Kalian akhirnya sampai di sini," katanya.

Yao Tian menghunus pedang.

Lin Xiurong menahan napas.

Mo Yan muda tertawa. "Jangan terlalu terharu. Kebenaran hanyalah pisau. Yang menentukan hasilnya tetap tangan yang memegang. Setelah kalian keluar, siapa yang akan percaya? Surga yang bersih? Alam Bawah yang dipimpin iblis perempuan? Atau pria yang dulu membunuh kekasihnya sendiri?"

Api Phoenix Lin Xiurong menyala.

"Aku tidak membutuhkan mereka percaya hari ini," katanya. "Aku hanya perlu membawa pulang bukti. Kepercayaan bisa dipaksa tumbuh saat kebohongan sudah kubakar satu per satu."

"Masih sombong."

"Masih hidup," balas Lin Xiurong.

Mo Yan mengangkat tangan. Benang-benang emas menyerbu dari segala arah. Yao Tian maju, tetapi Lin Xiurong lebih cepat. Ia membiarkan satu benang menusuk telapak tangannya. Darah Phoenix mengalir, membakar benang itu sampai menjadi abu. Dari abu tersebut muncul pecahan cahaya berbentuk huruf.

Nama-nama.

Nama ibu pengasuh. Nama prajurit yang menyaksikan. Nama tabib yang dipaksa memalsukan luka. Nama penjaga yang membuka pintu untuk Mo Yan. Semua tersimpan dalam darah yang dulu tumpah tanpa didengar.

Timbangan raksasa muncul lagi di atas mereka. Pedang dan mahkota tidak lagi saling menekan. Di tengahnya, phoenix hitam bangun sepenuhnya.

"Harga telah dibayar," kata suara sumur.

Yao Tian menatap Lin Xiurong. "Apa yang diambil darimu?"

Lin Xiurong menunduk pada telapak tangannya. Api di sana meredup sebentar, bukan padam, hanya berubah warna.

"Bukan cinta. Bukan dendam," katanya. "Sumur mengambil hakku untuk berpura-pura tidak terluka."

Yao Tian ingin mengatakan bahwa ia akan membawanya keluar, bahwa ia akan menanggung sisanya, bahwa ia tidak akan terlambat lagi. Semua kalimat itu berdesakan di tenggorokannya. Namun satu per satu ia telan kembali.

Lin Xiurong memperhatikannya. "Sulit, bukan?"

"Apa?"

"Tidak menjanjikan hal yang belum tentu bisa kau lakukan."

Yao Tian tertawa lemah. "Lebih sulit daripada mengangkat pedang."

"Bagus. Belajarlah dari sana. Pedang hanya butuh tangan. Janji butuh seluruh hidup."

Di lantai, nama-nama yang mereka bawa mulai berkumpul menjadi satu gulungan merah. Lin Xiurong meraihnya. Begitu kulitnya menyentuh gulungan itu, ia melihat wajah-wajah singkat: ibu pengasuhnya yang tersenyum sedih, tabib yang tangannya dipaksa menulis dusta, penjaga muda yang menangis di balik pintu. Mereka tidak meminta balas dendam. Mereka hanya meminta tidak dilupakan.

"Aku akan membawa kalian pulang," bisik Lin Xiurong.

Yao Tian menunduk kepada gulungan itu. "Dan aku akan bersaksi. Bahkan jika kesaksianku membuat langit meludahiku."

"Langit punya banyak ludah," kata Lin Xiurong. "Bersiaplah basah."

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruang hukuman, Yao Tian benar-benar tersenyum. Kecil. Sakit. Tetapi nyata.

Yao Tian ingin menjawab dengan janji besar. Ia ingin berkata akan membakar langit, menyeret Mo Yan ke hadapannya, dan menebus semua darah yang sudah tumpah. Tetapi ia melihat cara Lin Xiurong memegang gulungan itu. Tidak ada ruang untuk kata-kata indah. Perempuan itu tidak membutuhkan suara yang menggema. Ia membutuhkan seseorang yang tidak lari saat suara itu selesai.

"Aku akan mulai dari yang kecil," kata Yao Tian akhirnya.

Lin Xiurong meliriknya. "Apa?"

"Aku akan mengingat nama-nama itu. Satu per satu. Aku akan mengucapkannya tanpa mengurangi rasa malu."

"Itu bukan hadiah untukku."

"Aku tahu."

"Dan bukan jalan pintas menuju maaf."

"Aku juga tahu."

Lin Xiurong menyimpan gulungan merah di balik lengan jubahnya. "Kalau begitu mungkin kau benar-benar mulai belajar. Sayang sekali pelajaranmu terlambat beberapa ribu tahun."

"Terlambat tetap lebih baik daripada terus buta."

"Jangan terlalu puitis. Aku bisa berubah pikiran dan meninggalkanmu di sini."

Sebelum Yao Tian sempat menjawab, ruang hukuman pecah menjadi cahaya merah.

Di luar, Qi An melihat permukaan sumur meledak. Lin Xiurong dan Yao Tian terlempar keluar bersamaan. Yao Tian jatuh lebih dulu. Lin Xiurong mendarat dengan satu lutut, wajahnya pucat, napasnya tersendat.

Song Xiaolian berlari. "Yang Mulia!"

Qi An tidak.

Ia melihat Lin Xiurong memegang dadanya. Ia melihat Yao Tian bangkit dengan wajah hancur. Dan dalam satu detik, seluruh kesetiaannya berubah menjadi keputusan.

Pedangnya sudah berada di leher Yao Tian.

"Kali ini," kata Qi An dingin, "aku tidak peduli apakah takdir yang menusuk atau tanganmu. Aku akan memotong sumber lukanya."

1
anggita
ikut kasih like👍, iklan☝aja .
Carina Yuda: Makasih kak🙏
total 1 replies
Carina Yuda
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!