Seina adalah gadis cantik yang bercita-cita menjadi aktris terkenal. Setelah lulus sekolah, hidupnya terasa sempurna ketika dia berhasil debut di dunia hiburan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di puncak awal kariernya, Seina justru dibunuh oleh seorang haters yang iri padanya.
Saat membuka mata, Seina tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Dia terbangun di tubuh Serina Elvano, seorang wanita egois yang dibenci banyak orang. Lebih mengejutkannya lagi, dia berpindah tubuh saat Serina sedang berjuang melahirkan anaknya.
Serina harus menjalani kehidupan baru sebagai istri Cristian Elvano, pria dingin dan berkuasa yang sama sekali tidak mencintai istrinya. Tidak hanya diabaikan oleh sang suami, Serina juga diperlakukan rendah oleh keluarga Elvano karena sikap buruknya di masa lalu.
Dia bertekad mengubah hidupnya, merebut kembali harga dirinya, dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesal, terutama Cristian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Abigail yang melihat sikap Cristian merasa senang karena pria itu akhirnya sedikit berubah, meski masih sangat sedikit tapi sepertinya pria itu mulai membuka hatinya untuk Serina.
Serina menerima map itu dan menatap Abigail dengan tatapan bingung. "Apa ini, Nek?"
"Ah, itu hadiah untukmu dan juga Arcelio. Bukalah," jawab Abigail.
Dengan rasa penasaran yang sudah tidak tertahan, Serina membuka map itu. Seketika raut wajahnya menunjukan keterkejutan yang tidak biasa. Pantas saja sejak tadi dia mendapat tatapan tajam dari keluarga Elvano, ternyata alasannya karena isi dalam map itu.
"Ya Tuhan, Nek. Ini terlalu berlebihan untukku, dan Arcelio. Dan aku tidak bisa menerimanya," ujar Serina tak enak hati.
Rupanya Abigail telah memberikan saham sebesar 10% untuknya dan 15% untuk Arcelio dari perusahaan milik Elvano yang kini di pegang oleh Robin, ayah Cristian. Tidak hanya itu, Abigail juga memberikan vila serta mobil pribadi untuknya yang jelas harganya selangit.
"Terima saja, anggap itu sebagai jerih payahmu selama ini mengandung dan melahirkan Arcelio dengan selamat, kamu pantas mendapatkannya, Serina."
Sebenarnya Serina jelas sangat senang dengan semua hadiah itu, jika dia memiliki rumah dan penghasilan pribadi jelas dia tidak perlu merasa takut untuk di tinggalkan oleh suaminya, tapi semua pikiran itu sirna setelah mendengar ucapan Abigail selanjutnya.
"Tapi ada syaratnya," kata Abigail tersenyum tipis.
Serina mengernyit bingung. "Syarat?"
"Iya, semua hadiah itu berlaku kalau kamu tetap menjadi istri Cristian. Kecuali milik Arcelio, yang hanya bisa di miliki olehnya."
Serina mengamati wajah Abigail yang sumringah, ternyata keluarga Elvano tidak ada yang waras. Mereka akan menggunakan segala cara demi mencapai tujuan masing-masing, termasuk menahan seseorang di sisinya.
"Baiklah, terima kasih banyak, Nek. Aku akan menerimanya dengan senang hati." Kata Serina tulus, tentu saja dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan seperti ini yang hanya datang satu kali.
Setelah semua selesai, Abigail berpamitan pada mereka semua. Kini tinggallah keluarga Elvano yang masih berada di teras rumah setelah mengantar Abigail, merasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Mariam dan Robin bergegas masuk kembali ke dalam rumah.
Sementara itu, Jesika menatap tajam ke arah Serina. "Awas aja, aku tidak akan membiarkan kamu menang! Dasar wanita licik."
Jesika meninggalkan Serina tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, terlebih lagi tatapan Cristian padanya sangat tajam dan dingin membuat bulu kuduknya merinding.
Namun, di saat bersamaan terdengar suara langkah kaki mendekat. Cristian dan Serina reflek menoleh ke arah halaman rumah di mana mobil sedan hitam baru saja berhenti.
"Dia tamumu?" Tanya Serina.
Karena tidak mungkin jika itu tamunya, karena selama ini Serina tidak pernah terlibat dengan siapa pun kecuali keluarga Elvano.
"Entah." Jawab Cristian acuh.
Saat orang-orang itu keluar dari mobil, barulah Serina tahu siapa orang tersebut. Raut wajahnya langsung berubah keruh, bagaimana tidak di sana tampak Gladis dan juga orang tuanya yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Wah, rupanya si pengganggu muncul di waktu yang tidak tepat." Gerutu Serina.
***
Suasana ruang tamu tampak begitu hening, sejak kedatangan Gladis dan orang tuanya Serina terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya. Dia tidak marah, tapi rasa jengkel mendominasi perasaannya saat ini.
"Berapa lama kalian akan menjadi bisu? Tidak mungkin kalian datang ramai-ramai ke sini hanya untuk saling tatap menatap, kan?" Sindir Serina. "Katakan apa tujuan kalian ke sini?"
Mereka yang mendengar hal itu langsung terkejut, dan menoleh ke arah Serina yang sedang bersandar pada sandaran sofa.
"Baiklah, sebelumnya kedatangan saya ke sini ingin melanjutkan rencana yang sempat tertunda." Adam, ayah Gladis menatap wajah Mariam yang duduk di sofa panjang berhadapan dengannya. "Mengenai perjodohan anak-anak kita."
"Benar," imbuh istri Adam. "Kapan kamu akan bercerai dengan Serina, Cris?"
Mendengar nada sarkas dalam ucapan ibu Gladis, membuat emosi Serina naik sedikit. Dia menoleh ke arah Cristian yang juga sedang menatapnya.
"Apa kamu berniat menceraikanku, Cris? Setelah semua yang aku berikan untukmu, apa kamu mau membuangku?" Serina meraih tangan Cristian yang terbebas, lalu memainkan jemari pria itu.
Satu tangan Cristian masih menggendong Arcelio, dia sama sekali tidak terganggu dengan tingkah istrinya yang tidak biasa.
Sementara itu, Gladis yang melihat tingkah Serina mulai terbakar api cemburu tapi dia mencoba menahannya agar tidak menimbulkan keributan.
Kedua orang tua Gladis mengernyitkan dahi mereka, sebenarnya apa yang sudah di berikan oleh Serina sampai bisa membuat Cristian tampak patuh dan tidak menepis tangannya yang dengan sengaja memainkan jemari pria itu.
"Tidak perlu basa-basi, katakan apa yang sudah kamu berikan pada putraku. Apakah itu adalah hal memalukan yang membuat putraku terpaksa menikah denganmu, dan mencoreng nama baiknya?" Tanya Mariam sarkas.
"Ah, tentu itu salah satunya, Bu. Tapi aku juga sudah memberinya gelar seorang ayah, tentunya kamu juga tahu kalau melahirkan itu sangat menyakitkan tapi aku mampu melakukannya dengan baik semua demi suamiku tercinta." Tanpa rasa takut Serina menjawab semuanya dengan lantang sampai membuat Cristian menatapnya syok.
Seketika Mariam terdiam membisu, semua yang Serina katakan memang benar dan dia tidak bisa menampik fakta tersebut.
"Apa kamu pikir kami semua menerima kamu dan anakmu?" Kali ini Robin yang bertanya dengan suara berat yang menjadi ciri khasnya.
.. pelan pelan sajaaaaa 🎵🎶🎵
mulai berpihak ke serin kamu cris🫶