NovelToon NovelToon
Transmigrasi Figuran

Transmigrasi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Ana

Lia, seorang pembaca setia novel populer berjudul Cinta dan Bayang Kekuasaan, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya telah bertransmigrasi masuk ke dalam tubuh seorang tokoh figuran yang nyaris tidak disebutkan namanya dalam cerita aslinya. Tokoh ini adalah putri satu-satunya dari keluarga Adhitama—kelompok mafia sekaligus konglomerat terkaya nomor dua di dunia.

Dalam alur cerita asli, tokoh ini hanya berfungsi sebagai alat pengikat alur semata. Ia dijodohkan dengan Arjuna Dirgantara, pewaris keluarga Dirgantara, kekuasaan nomor satu di dunia yang juga dikenal sebagai sang antagonis utama yang dingin, kejam, dan dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah tanah. Takdir tokoh ini sangat tragis: ia akan dibunuh secara diam-diam tak lama setelah pertunangan, menjadi korban pertikaian antar keluarga dan rencana licik tokoh-tokoh utama.

Sekarang dengan ingatan sebagai pembaca novel, Lia menyadari bahaya besar yang mengancam nyawanya. Tujuannya hanya satu: membatalkan pertunangan ini sece

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 figuran tunangan antagonis

Jam masih menunjukkan pukul 06.45 pagi saat konvoi tiga mobil SUV hitam berhenti di pinggir jalan beraspal yang berakhir di depan gerbang kayu tua. Di sini batas wilayah kota berakhir, dan hutan lindung terlarang dimulai—pohon‑pohon tinggi menjulang rapat, kabut tipis masih menempel di dahan‑dahan bawah, udara terasa sejuk tapi membawa aroma tanah basah dan daun kering.

Elena turun dari mobil mengenakan celana panjang kain tebal, sepatu gunung yang nyaman, dan jaket ringan berwarna hijau tua. Di sampingnya Damian sudah berdiri memeriksa peta lipat, rambutnya sedikit basah terkena embun kabut pagi. Arga berjalan mengikuti dari belakang, wajahnya tegang tapi matanya tetap waspada.

“Titik masuk ini paling aman, jalurnya sudah dibersihkan dari jebakan umum,” ucap Damian sambil menunjuk garis putus‑putus di peta. “Tujuan pertama: Sungai Tiga Putaran, sekitar 45 menit jalan kaki ke dalam.”

“Batu berwajah yang disebut di surat Bibi Laras ada di dekat sana kan?” tanya Elena sambil membenahi tali tas kecil di punggungnya.

“Iya, tak jauh dari tikungan ketiga sungai,” jawab Damian, lalu menoleh singkat padanya. “Ingat pesan semalam: jangan menyimpang dari rute utama, dan jangan menyentuh tanaman bergetah putih.”

“Siap, kapten,” jawab Elena sambil tersenyum tipis—kebiasaan kecil yang mulai sering muncul belakangan ini.

Arga yang melihat interaksi itu diam‑diam menggeleng pelan, lalu menyusul pengawal yang sudah mulai berjalan di depan. Di dalam hatinya masih bingung: dulu Elena selalu terlihat takut, menjaga jarak jauh dari Damian. Sekarang malah terlihat santai, saling menyahut tanpa canggung.

 

Di Dalam Hutan: Langkah & Obrolan Santai

Jalan setapak masuk ke dalam hutan tidak rata, banyak akar pohon besar yang menjulang di permukaan tanah. Elena berjalan di sebelah Damian, sementara Arga dan dua pengawal berjalan di depan dan di belakang. Suara langkah kaki mereka beradu dengan kicau burung yang bersahutan, sesekali terdengar suara aliran air sungai dari kejauhan.

“Kamu sering masuk ke sini?” tanya Elena memecah keheningan.

“Kadang, saat masih kecil,” jawab Damian sambil melompat ringan melewati genangan air. “Ayah sering mengajak latihan navigasi. Dulu aku benci bangun pagi‑pagi begini, tapi lama‑kelamaan jadi hafal setiap tikungan.”

Elena tertawa kecil. “Siapa sangka anak kecil yang malas bangun pagi, sekarang jadi orang yang paling ditakuti di dunia bawah tanah.”

Damian ikut tersenyum—senyum yang tidak terlalu lebar, tapi terasa lebih hangat dari biasanya. “Dunia sering mengubah rencana, Elena. Termasuk rencana yang tertulis sejak awal.”

Kalimat itu terdengar biasa saja, tapi di telinga Elena maknanya lebih dalam. Seolah Damian juga merasakan ada hal yang berubah di luar naskah yang seharusnya terjadi.

Saat melewati jembatan kayu kecil yang agak goyang, kaki Elena tersandung akar pohon. Tubuhnya sempat miring ke depan, tapi sebelum sempat jatuh, tangan Damian sudah menahan lengan dan pinggangnya dengan cepat. Gerakannya tenang, tidak kasar, namun cukup kuat menjaga keseimbangan.

“Hati‑hati,” ucapnya rendah, jarak wajah mereka cukup dekat. Napas hangatnya terasa menyentuh dahi Elena.

“Terima kasih,” jawab Elena agak terburu‑buru, lalu menarik diri perlahan agar tidak terlihat salah tingkah. Pipi‑nya terasa sedikit hangat meskipun udara di hutan dingin.

Di depan sana Arga pura‑pura melihat ke arah kanopi pohon, tapi sudut matanya menangkap kejadian itu. Di dalam hatinya mulai tumbuh kesadaran: hubungan antara Damian dan Elena sudah berubah total—bukan lagi sekadar mantan tunangan yang terpaksa berurusan.

 

Sungai Tiga Putaran & Batu Berwajah

Setelah hampir satu jam berjalan melewati belokan‑belokan berkelok, terdengar suara gemuruh air yang makin jelas. Di depan mereka terbentang sungai yang airnya jernih namun bergerak cepat, berbelok tajam sebanyak tiga kali—sesuai tulisan di surat Bibi Laras.

Di tepi tikungan ketiga berdiri sebuah batu granit besar, tingginya hampir dua orang dewasa. Di permukaannya terukir bentuk wajah manusia yang sederhana, mata menutup seolah sedang tidur. Itulah Batu Berwajah.

“Ini dia,” bisik Elena sambil mendekat perlahan.

Di dekat kaki batu ada tumpukan batu kecil yang disusun rapi—bukan tumpukan alami. Damian berjongkok dan membongkarnya perlahan. Di bagian tengah terselip sebuah kotak kayu kecil berukuran telapak tangan, tidak dikunci tapi tertutup rapat.

“Kayu ini jenis langka, tahan air dan rayap,” ucap Damian sambil menyerahkan kotak itu ke Elena. “Kamu yang buka—mungkin pesan ini ditujukan untuk garis keturunan Vareza.”

Elena membuka tutup kotak itu pelan. Di dalamnya ada dua benda: sebuah liontin perak berbentuk bulan sabit yang terbelah dua, dan selembar kertas tipis berisi tulisan tangan sama seperti sebelumnya:

“Air berputar tiga kali,

Batu menyimpan kenangan lama.

Yang hilang tak pernah benar‑benar pergi,

Yang terlupa akan kembali menyapa.

Di tempat kita bermain dulu,

Jawaban ada di antara dua bayangan.”

Elena mengangkat pandangan ke arah Damian. “‘Tempat kita bermain dulu’… maksudnya kamu dan Bibi Laras?”

Damian menggeleng pelan, matanya menyipit seolah berusaha menangkap potongan ingatan yang kabur. “Ada bagian lain… Seingatku, waktu kecil aku pernah main di dekat sini bukan cuma sama Laras. Ada satu teman perempuan yang rambutnya ikal, suka lari cepat dan selalu membawa bunga jeruk di saku baju.”

Jantung Elena berdegup kencang. Cerita itu terdengar sangat asing, tapi sekaligus terasa dekat—seperti mimpi yang hampir teringat tapi hilang tepat saat mau disentuh.

“Teman perempuan itu… siapa?” tanyanya hati‑hati.

“Entah,” jawab Damian pelan. “Saat kami berpisah, kejadian di sini bikin ingatanku terganggu sedikit. Ibuku bilang itu efek kaget karena jatuh dari pohon.”

Arga yang mendengar dari belakang maju selangkah. “Apakah teman itu mungkin… Elena asli sebelum hilang ingatan? Atau anak lain dari keluarga dekat?”

“Belum tahu pasti,” jawab Damian. “Tapi liontin ini terbelah dua. Satu di sini, satu lagi pasti ada di tempat lain.”

Saat Elena memegang liontin itu lebih erat, permukaan peraknya tiba‑tiba terasa hangat, seolah merespons sentuhannya. Di kejauhan, di balik rimbunan semak, samar terlihat bayangan seseorang berdiri diam mengawasi—lalu cepat untuk dikenali, tapi cukup jelas membuat pengawal Damian segera mengangkat tangannya ke arah senjata di pinggang.

“Ada yang mengawasi,” lapor pengawal dengan suara rendah.

“Biarkan pergi dulu,” perintah Damian. “Kita tidak mau memancing keributan sebelum menemukan titik selanjutnya.”

 

Istirahat Siang: Obrolan di Bawah Pohon Besar

Matahari mulai tinggi saat mereka beristirahat di bawah pohon beringin tua yang rindang. Elena duduk meluruskan kaki yang mulai pegal, sambil membuka botol minumnya. Damian duduk tidak jauh darinya, memeriksa peta ulang sambil mengunyah biskuit tipis.

“Kamu tidak heran kenapa semua ini terjadi tepat setelah kamu membatalkan pertunangan?” tanya Damian tiba‑tiba.

Elena berpikir sejenak. “Mungkin mereka mengira kekuatan kita terpisah. Musuh selalu menyerang saat merasa lawan sedang lemah.”

“Bisa jadi,” Damian menatapnya lurus. “Tapi kadang aku berpikir… pembatalan itu bukan sekadar langkahmu selamatkan diri. Itu juga cara dunia memaksa kita melihat apa yang sebenarnya tersembunyi.”

Elena menahan napas sebentar. “Kamu mulai percaya ada hal yang di luar rencana manusia?”

“Aku percaya pada bukti,” jawab Damian sambil tersenyum miring. “Dan buktinya, Elena Vareza yang dulu diam, sekarang malah jadi orang yang paling tahu arah jalan di tengah misteri.”

Di samping mereka, Arga yang sedang membersihkan sepatu ikut menyahut pelan. “Jujur, aku makin bingung sama Clarissa. Kalau dia cuma mau posisi tinggi, kenapa sampai bekerja sama dengan orang yang mau melukai Elena dan keluarganya? Bukankah itu berisiko juga buat dia sendiri?”

“Karena dia terjebak dalam keinginan yang tak terbatas,” jawab Elena tenang. “Awalnya mungkin cuma ingin menang melawan Luna. Lalu terlibat urusan klan. Lama‑kelamaan dia lupa batas mana yang aman dan mana yang berbahaya.”

Damian mengangguk setuju. “Banyak orang jatuh bukan karena didorong, tapi karena terlalu jauh menjangkau apa yang bukan miliknya.”

Suasana hening sebentar, hanya suara angin yang menggerakkan daun‑daun di atas kepala. Elena melihat ke arah Damian—wajahnya tenang, tapi di matanya ada pandangan yang dalam, seolah sedang memikirkan sesuatu yang belum sempat ia ucapkan.

“Damian,” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Kalau nanti kita temukan teman masa kecilmu itu… apa yang akan kamu lakukan?”

Damian diam sebentar, lalu menjawab jujur. “Aku ingin tahu kebenarannya. Siapa dia, di mana dia sekarang… dan kenapa ingatan tentang dia hilang begitu saja.”

“Kalau ternyata dia… orang yang kamu kenal sekarang?” tanya Elena memberanikan diri.

Damian menatapnya lama, lebih lama dari biasanya. “Kalau benar begitu… mungkin takdir punya cara sendiri menyatukan kembali apa yang pernah terpisah.”

Kalimat itu ringan, tapi menancap kuat di hati Elena. Detak jantungnya kembali berpacu lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena perasaan hangat yang perlahan tumbuh di antara mereka—halus, wajar, khas masa remaja yang mulai mengerti arti suka pada orang lain.

 

Jejak Baru & Pesan Misterius

Saat bersiap melanjutkan perjalanan, salah satu pengawal menemukan tanda aneh di batang pohon besar tidak jauh dari tempat istirahat. Ada goresan tajam membentuk pola yang sama—bulan sabit bertemu pedang terbalik—dan di bawahnya tertulis arang: “Dua bayangan bertemu, satu kebenaran tumbuh. Hati‑hati, bukan semua yang hilang adalah musuh.”

“‘Dua bayangan’… maksudnya dua garis keturunan, Vareza dan Aditya?” tebak Arga.

“Bisa juga dua orang,” jawab Damian sambil melirik Elena sekilas. “Yang berjalan bersama mencari jawaban.”

Pesan ini semakin mengarah pada dugaan: Bibi Laras tahu mereka akan datang, bahkan mungkin mengatur jejak ini agar mereka menemukan sesuatu yang sengaja disiapkan.

Namun Elena juga tidak lupa—di tempat yang tidak diketahui mereka, Clarissa masih tertahan, dan kelompok Rendra masih mengawasi setiap gerak‑gerik mereka. Di balik kabut hutan ini, ada permainan besar yang belum selesai.

“Lanjutkan jalan,” perintah Damian pada timnya. “Titik selanjutnya: Air Mancur Tua, tempat pertemuan terakhir yang tercatat dalam kenangan masa kecilku.”

Elena merasakan semangat baru bercampur sedikit gugup. Air Mancur Tua—tempat di mana mungkin kenangan yang hilang itu mulai kembali.

Saat berjalan lagi, Damian sengaja memperlambat langkahnya agar sejajar dengan Elena.

“Nanti kalau ingatan itu kembali… jangan kaget apa pun yang keluar,” bisiknya pelan.

“Kenapa aku harus kaget?” tanya Elena balik sambil menahan senyum.

“Karena kadang masa lalu menyimpan kejutan yang tidak kita sangka,” jawab Damian, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, “Tapi apa pun itu, aku akan tetap di sini—di sampingmu.”

Kalimat sederhana itu terasa lebih kuat dari janji besar apa pun. Elena tersenyum lebar, kali ini tidak menyembunyikan perasaannya.

Di kejauhan, di balik celah pohon, bayangan berkerudung yang sama tadi mengamati mereka dengan pandangan sulit dibaca. Di tangannya tergenggam sebuah foto lama—gambar dua anak kecil yang memegang bunga jeruk dan pedang mainan, tertulis di bawahnya: Damian & Elena – Usia 5 Tahun.

Permainan belum usai, tapi kartu‑kartu mulai terbuka satu per satu. Dan yang paling penting: hubungan antara Damian dan Elena bukan lagi soal pertunangan yang dibatalkan, melainkan ikatan lama yang waktu sempat sembunyikan.

 

(Bersambung ke Bab )

 

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!