"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: LENSA YANG JUJUR
Menyembuhkan diri dari masa lalu bukan berarti kita harus menutup diri dari dunia luar, melainkan tentang bagaimana kita tetap berdiri kokoh menjaga batas harga diri. Malam harinya di dalam kamar hotel, keheningan pusat kota tempatnya merantau sementara terasa begitu menenangkan. Aini duduk di tepi kasur sembari mengompres pelan pergelangan tangan kanannya yang agak memerah akibat insiden tiang lampu kemarin siang.
Kota tempat proses syuting ini berlangsung berada teramat jauh dari kampung halamannya di Pesisir Selatan, menempuh jarak delapan jam perjalanan travel yang melelahkan membelah perbukitan, bukan lagi sekadar empat jam seperti wilayah provinsi kemarin. Namun, lelah fisik itu tidak sebanding dengan rasa jengkel yang membakar dadanya setiap kali ingatan batinnya memutar kembali detik-detik saat tubuh tegap 175 cm milik Arka Mahesa Pratama mendekapnya di atas matras. Rasa kesal seketika memuncak saat mengingat ucapan ketus pria itu yang menyebutnya "wanita kampungan" dengan selera yang tinggi.
“Pria umur tiga puluh lima tahun itu benar-benar menderita penyakit gengsi tingkat akut,” gumam Aini kesal, menolak untuk menampakkan rasa terima kasih di wajah datarnya.
Saat Aini sedang bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya, sebuah getaran dari ponsel di atas meja memecah keheningan kamar. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama Egi. Hubungan mereka malam ini kembali tersambung melalui untaian kata yang teramat santun.
Egi: Assalamualaikum, Ai. Bagaimana kabarmu selama di luar kota? Maafkan aku jika tidak ada kabar beberapa hari ini, karena jujur aku sedang sangat sibuk meneruskan bab terbaru novelku sekaligus ada beberapa urusan bisnis di kota provinsi, tempat pertama kali kita bertemu di acara Gala Dinner waktu itu.
Aini tersenyum tipis, membuka pesan tersebut dan membalasnya dengan sikap yang biasa saja namun tetap hangat.
Aini: Waalaikumussalam, Mas Egi. Alhamdulillah kabar saya sangat baik di sini. Tidak apa-apa, Mas, sesama penulis saya sangat paham bagaimana repotnya membagi waktu antara dunia nyata dan kejar tayang naskah harian. Semangat untuk urusan bisnisnya di kota provinsi ya.
Tidak disangka, obrolan teks itu berujung pada sebuah panggilan telepon yang mengalir renyah. Di dalam sambungan telepon tersebut, Egi bercerita bahwa minggu depan dia juga berencana akan pergi ke luar kota yang sama dengan tempat Aini berada saat ini, karena ada proyek literasi dan pekerjaan penting yang harus dia urus.
Egi dengan sangat sopan menanyakan apakah mereka bisa menyempatkan diri untuk minum teh bersama jika jadwal syuting Aini sedang senggang. Hubungan mereka malam itu bergerak membaik dengan cara yang sangat dewasa, sebagai dua orang sahabat yang saling mendukung karier masing-masing tanpa ada tuntutan yang mengikat batin.
Keesokan harinya, hari ketiga proses syuting untuk web series"Luka dalam Rumah Tangga" kembali berjalan di lokasi luar ruangan yang cukup asri. Karena novel orisinil milik Aini di NovelToon statusnya sudah hampir ending, kini fokus pikiran Aini seutuhnya bisa dia tumpahkan untuk memantau jalannya syuting dari pagi hingga sore hari. Dia tampil sangat rapi dan modis, memancarkan pesona lesung pipi kirinya setiap kali dia memberikan arahan kepada kru film.
Namun, suasana di lokasi syuting yang tadinya sibuk mendadak berubah menjadi kaku, tegang, dan dipenuhi oleh bisik-bisik keheranan yang luar biasa dari seluruh kru. Rombongan mobil mewah hitam dengan pengawalan ketat kembali terparkir di area VIP produksi. Sosok Arka Mahesa Pratama turun dengan penampilan kuning langsatnya yang cerah dan hidung mancung yang tegas, melangkah didampingi Arga untuk melakukan inspeksi mendadak.
Seluruh kru, sutradara, hingga produser senior saling berpandangan dengan dahi berkerut heran. Di dalam industri hiburan, sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang Arka Mahesa Pratama—pengusaha nomor satu di dunia yang perusahaannya menggurita di mana-mana, baik di seluruh pelosok Indonesia hingga ke luar negeri—adalah manusia paling sibuk yang tidak akan pernah sudi menghadiri proses syuting secara langsung. Biasanya, seluruh urusan investasi dan pemantauan lapangan 100% didelegasikan kepada asisten pribadinya, Arga. Kedatangannya yang bolak-balik memantau lokasi syuting selama tiga hari berturut-turut ini menjadi sebuah keganjilan besar yang mencurigakan. Pria berusia 35 tahun itu sengaja meluangkan waktu super sibuknya hanya untuk mencari-cari kesalahan naskah demi menutupi rasa salah tingkah egonya setelah insiden pelukan matras kemarin.
Kebetulan, adegan yang sedang diambil gambarnya siang itu adalah adegan yang teramat emosional; yaitu saat tokoh utama wanita menangis tersedu-sedu setelah batinnya dihancurkan oleh cacian sang ibu mertua yang menganggap uang hantarannya terlalu kecil. Begitu sutradara meneriakkan kata "Cut!", Arka yang berdiri di samping monitor langsung melipat kedua tangannya di depan dada, lalu melontarkan kritik dingin dengan rahang yang mengeras.
"Saya rasa adegan tangisan ini terlalu berlebihan dan tidak masuk akal," ketus Arka dengan suara beratnya yang mendikte jajaran kru.
"Di dunia nyata yang logis, tidak ada wanita yang selemah itu hanya karena ucapan mertua. Tangisan berdurasi panjang seperti ini hanya membuang-buang anggaran waktu dan anggaran investasi saya. Sutradara, tolong potong bagian menye-menye ini."
Mendengar karya batinnya kembali dihina sebagai sesuatu yang tidak logis, Aini tidak tinggal diam. Dengan muka datar yang teramat tenang, dia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati monitor utama, lalu menatap langsung ke arah wajah angkuh milik Arka.
"Bapak Sutradara, tolong putar ulang hasil rekaman video (playback) pada bagian mata aktrisnya tadi," pinta Aini tegas tanpa memedulikan tatapan dingin sang presdir.
Saat video diputar ulang di layar monitor besar, seluruh area lokasi syuting seketika berubah menjadi sunyi senyap. Guratan rasa sakit, air mata yang luruh, dan kejujuran emosi dari sang aktris terekam begitu magis. Aini membalikkan tubuhnya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata tajam milik Arka Mahesa Pratama dengan tamparan logika yang teramat mahal.
"Bapak Arka yang terhormat... Anda yang sejak lahir hidup nyaman di puncak menara emas korporasi raksasa mungkin memang tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya dihancurkan secara mental oleh orang yang kita anggap sebagai keluarga sendiri," ujar Aini, suaranya pelan namun bergaung penuh wibawa di depan meja hijau.
"Jadi sangat wajar jika logika bisnis Bapak yang bercabang di dalam dan luar negeri itu menganggap luka ini berlebihan. Tapi bagi jutaan wanita di luar sana, luka batin akibat ucapan mertua itu nyata, Pak. Dan lensa kamera tidak pernah bohong tentang kejujuran sebuah rasa."
Arka Mahesa Pratama seketika terbungkam seribu bahasa, lidahnya mendadak kelu bagai membeku tertampar telak oleh kedewasaan argumen wanita berusia 26 tahun di hadapannya. Dia merasa sangat kesal karena lagi-lagi dibuat mati kutu.
Melihat pemandangan yang teramat langka itu—di mana seorang pengusaha nomor satu di dunia yang ditakuti banyak negara, kini mendadak diremehkan dan diskakmat tanpa ampun oleh seorang wanita dari kampung yang hanya seorang penulis novel—seluruh kru film, kameramen, hingga sutradara di lokasi tersebut sekuat tenaga menahan ledakan tawa mereka. Beberapa kru tampak membekap mulut dengan pundak yang naik-turun menahan geli melihat bos tertinggi mereka mati kutu, membuat suasana tegang itu berubah menjadi komedi terselubung.
Melihat bos besarnya terdiam dengan wajah ketus yang memerah karena malu, Arga sang asisten mencoba mencairkan suasana.
"Uh, perdebatan yang menarik. Tapi ngomong-ngomong, Aini... pergelangan tanganmu hari ini aman, kan? Bos saya kemarin sampai tidak bisa fokus rapat karena kepikiran tiang lampu yang roboh," goda Arga jahil.
Arka langsung melotot tajam ke arah asistennya dengan wajah kuning langsat yang mendadak bersemu merah padam karena malu.
"Arga! Diam kamu!" bentak Arka ketus. Dia kemudian berbalik menatap Aini dengan senyuman sinis yang dipaksakan.
"Saya menyelamatkannya kemarin murni demi menyelamatkan aset investasi film perusahaan saya, bukan karena hal lain. Jadi jangan besar kepala."
Aini tidak mau kalah. Dengan kedutan sinis di lesung pipi kirinya, dia membalas dengan aksi saling ledek yang mematikan.
"Saya juga tidak pernah besar kepala, Pak Arka. Justru saya merasa kasihan dengan tiang besi kemarin... dia patah karena harus menahan beban berat dari gengsi Bapak yang setinggi langit, hehe," cicit Aini dengan tawa kecil yang mengejek namun teramat manis.
"Kamu... benar-benar lancang ya, wanita kampungan," desis Arka menahan gemas, mencoba mengembalikan wibawa angkuhnya meskipun dadanya sudah bergemuruh hebat oleh getaran asing yang kian merampok kedamaian pikirannya.
Tanpa membalas lagi, Aini hanya memberikan senyuman formal yang teramat cuek, lalu dengan gerakan anggun dia langsung berbalik badan mengabaikan keberadaan Arka untuk kembali melanjutkan diskusi dengan sutradara, membiarkan sang CEO penguasa dunia itu berdiri mematung dalam kekalahan telak di bawah sorot lampu lensa syuting.
Sebab, air mata yang lahir dari sebuah kejujuran luka tidak akan pernah bisa diukur oleh nominal angka investasi; membuktikan bahwa ketika seorang wanita berdiri di atas kaki harga dirinya yang mandiri, kekuatan kata-katanya mampu membungkam keangkuhan harta yang paling kokoh sekalipun.