NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua puluh tujuh

"Jadi... sedang apa kau malam-malam begini datang ke tempatku?"

Pertanyaan itu terlontar dari mulut Jonathan dengan begitu dingin dan tajam.

Sementara Maxime duduk santai di sofa dengan senyum lebar yang tampak menyebalkan.

Clara baru saja pulang beberapa menit yang lalu. Karena hal tersebutlah yang membuat Jonathan kesal setengah mati pada pria di hadapannya itu.

Kehadiran pria itu telah mengganggu kedekatannya dengan Clara, janda muda yang baru saja bercerai beberapa bulan yang lalu.

Maxime merentangkan tangannya di sandaran sofa. "Aku sedang merasa bosan." jawabnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Kalau bosan, kenapa malah menggangguku. Kau pikir aku tidak punya pekerjaan." gerutunya dengan wajah yang tertekuk kesal.

Maxime hanya terkekeh pelan.

Ia lalu menuangkan minuman ke dalam gelas kosong di atas meja, dan langsung meneguknya.

"Aku sedang pusing." celetuk Maxime, sambil menatap gelas kaca yang sudah kosong di tangannya.

"Sudah ku duga." sahut Jonathan pelan.

"Pusing kenapa? Karena Amanda lagi?" lanjutnya bertanya, sembari menebak-nebak.

Maxime berdecak kesal. "Sudah ku bilang jangan sebut nama itu lagi!"

Jonathan menghela napas panjang. "Jadi, karena apa? Ku pikir hanya Amanda yang akan membuatmu pusing."

"Bukan." sahut Maxime kesal. "Ini masalah perusahan."

Maxime menceritakan masalahnya pada Jonathan. Selain sebagai seorang sahabat, Jonathan juga berperan sebagai konsultan untuk setiap masalah hidupnya. Apalagi jika menyangkut wanita. Pria itu biasanya bisa langsung cepat tanggap.

"Kau punya saran?" tanya Maxime padanya.

"Kenapa susah-susah mencari wanita di luar. Kau menyimpannya satu di rumah." jawab Jonathan datar.

Maxime tampak mengernyit. "Siapa yang kau maksud?"

"Si angsa putih... pelayan cantikmu. Dia punya kriteria sebagai seorang model. Tinggi proporsional, berat badan ideal. Dan yang paling utama, ia punya wajah yang cantik alami."

Perkataan Jonathan terdengar masuk akal.

"Kenapa aku tidak kepikiran, ya?" tanya Maxime polos.

"Karena otakmu itu hanya dipenuhi oleh Amanda saja." sindir Jonathan tajam, masih merasa kesal padanya.

Maxime membalasnya dengan tatapan dingin yang begitu menusuk. "Kau mau ku dorong keluar jendela. Kalau jatuh dari sini, rasanya lumayan juga, lho."

"Siapa suruh menganggu malam-malam begini." sahut Jonathan tak kalah dingin.

Maxime lalu beranjak dari sofa, dan pergi begitu saja dari apartemen Jonathan. Tanpa pamit, bahkan tanpa ucapan terima kasih.

"Dasar brengs*k. Awas saja kalau ketemu nanti!" umpatnya pelan, setelah kepergian Maxime.

Ia juga tidak berani mengumpatnya secara terang-terangan. 🤭

🌺🌺🌺

Sementara itu di klub malam.

Lagi-lagi, Arkan memesan layanan pribadi kepada madam Choo. Dan ia meminta Alya yang melayaninya malam ini seperti biasa, seorang diri.

Arkan tidak memesan minuman apapun. Ia hanya memesan dua porsi makan malam dan air mineral.

Ia juga memesankan makanan untuk Alya. Ia ingin gadis itu menemaninya makan malam.

Tentu saja, ada drama penolakan dari Alya terlebih dahulu, sebelum gadis itu menerima ajakan makan malam darinya.

Suasana terasa begitu hening. Hanya suara gesekan sendok dan garpu beradu di atas piring porselen yang terdengar, seolah mempertegas kesunyian yang menyelimuti keduanya.

Alya melirik ke arah Arkan sejenak, tampak ragu. Ia ingin sekali beratnya padanya. Tapi, ia tidak punya keberanian. Bukan karena takut, melainkan karena tidak siap mendengar jawaban darinya.

"Kau tahu..." Arkan akhirnya bersuara.

Alya seketika mengangkat wajah dan menatapnya.

"Kau mengingatku pada seseorang... seorang wanita." lanjut pria itu, sambil menatap ke sembarang arah.

"Dia adalah gadis yang mandiri, kuat dan juga pekerja keras sepertimu. Dia tidak pernah mengeluh ataupun putus asa. Baginya, selalu ada jalan untuk setiap masalah." kenangnya penuh kehangatan.

Alya hanya diam, mendengarnya.

"Aku sangat mencintai wanita itu. Tapi..." Arkan menjeda kalimatnya sejenak. Ia tampak menghela napas panjang, seolah menahan beban yang berat. "Tapi... aku tidak mampu mempertahankannya. Aku terlalu lemah... seperti seorang pengecut."

"Apa wanita itu... Ibu saya?"

Deg.

Pertanyaan Alya, seketika membungkam mulutnya. Arkan terdiam, tidak langsung menjawab.

"Iya... dia ibumu." sahut Arkan pelan, nyaris seperti berbisik.

"Kenapa Anda mengatakan ini pada saya? Sebenarnya apa yang mau coba Anda sampaikan?" tanya Alya lagi, menatapnya tajam.

"Maaf , jika aku membuatmu bingung." ucap Arkan lirih. Tatapannya tertuju pada Alya, penuh keraguan. "Aku hanya ingin tahu... apakah ayahmu masih ada?"

Alya tampak mengernyit. Tatapannya berubah tajam. "Apa urusannya dengan Anda?" Alya balik bertanya, nadanya meninggi.

"Aku hanya ingin tahu, Alya." ia kembali diam. Matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangisnya. "Aku ingin minta maaf padanya. "

"Kalau memang ingin minta maaf, ya tinggal minta maaf saja." lanjut Alya, suaranya berubah dingin. "Tidak perlu berputar-putar dengan pertanyaan yang tidak penting."

Arkan menarik napas sejenak. Rahangnya terlihat mengeras, namun sorot matanya lemah. "Tidak semudah itu, Al. Ini bukan hanya sekedar permintaan maaf." ucapnya pelan.

"Lalu untuk apa? Saya benar-benar tidak mengerti apa yang Anda bicarakan." geramnya sedikit kesal.

Pria itu semakin terlihat ragu. "Ada hal yang harus ku pastikan lebih dulu." ucapnya, suaranya nyaris bergetar. "Tentang ayahmu... tentang masa lalu."

"Masa lalu saya bukan urusan Anda." tegasnya.

Arkan menunduk sejenak, lalu kembali menatap Alya dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Mungkin... bukan. Tapi, bagaimana kalau masa lalu itu juga melibatkan aku?"

Alya mengernyit. "Maksud Anda?"

Arkan menghela napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian yang sejak tadi tercekat di tenggorokannya.

"Ketika aku berpisah dengan Juni... itu sekitar dua puluh tahun yang lalu." ucapnya pelan.

Alya semakin mengernyit dalam, jelas tidak memahami apa yang sebenarnya ingin pria itu sampaikan padanya. "Lalu?" tanyanya singkat, penuh kebingungan.

Arkan menatap lurus ke arah Alya, sorot matanya dipenuhi oleh rasa penyesalan yang tak sempat ditebus. "Saat itu... Juni pergi begitu saja. Tanpa berkata apapun. Tapi..." ucapannya kembali terhenti, seolah ada beban yang menahannya keluar.

Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan perkataannya dengan suara yang lebih pelan. "Sebelum itu... kami pernah melakukan sekali." ucapnya berbisik. "Dan aku tidak pernah tahu... apakah ketika ia tiba-tiba pergi, ia sedang mengandung atau tidak."

Alya terdiam sejenak.

Kata-kata itu menggantung di udara cukup lama. Terlalu berat dan sulit untuk diterima. Tatapan Alya berubah, dari marah menjadi bingung.

"Lalu... apa?" suara Alya terdengar lirih, namun tajam.

Arkan menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, seolah menahan sesuatu yang sudah lama sekali ingin ia ucapkan.

Ia menatap Alya dalam-dalam.

"Aku merasa... kau... adalah anakku."

Hening. Seakan waktu berhenti di antara mereka.

Tatapan Alya membeku seketika. Napasnya tertahan, sementara kata-kata Arkan terngiang dalam kepalanya, tidak mudah untuk dicerna, namun juga tidak bisa diabaikan.

"Apa?" suara Alya nyaris tidak terdengar, penuh keterkejutan.

🌺🌺🌺

1
Xlyzy
Alya yang kuat ya, semoga Oprasi ibu mu berhasil
Miu.Nuha
aishh wanginya itu lohh...
mengalihkan duniakuu~
Miu.Nuha
iya, cari second love gih biar move on /Determined/
Rain Aricia
Ya udah lah gapapa, sekarang pikirin dirimu dulu mau ga jadi model itu
Rain Aricia
Dia kan tau diri Max
Rain Aricia
Kalau gitu suruh lah dia log out dari club malam itu, Max
🔵 MULIANA💦
bisa-bisanya kepikiran nyolong peralatan rumah tangga /Facepalm/
-Thiea-: soalnya barangnya bermerek semua.. dikira yang punya rumah kagak bakalan tahu..😁
total 1 replies
🔵 MULIANA💦
kayaknya itu ungkapan hatinya deh 🤭
🔵 MULIANA💦
lah, masih sempat-sempatnya /Facepalm/
🔵 MULIANA💦
bayarannya, tanpa bunga kan max 🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih meni eweh gawe sia ih 🫣😆/Chuckle/
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lumayan terharu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya si Al masih punya nurani ke baikan tersisa yah, klw nggak udh aku tendang tuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
adeuh 🤦 meuni sok asa 😤 Jol seak gampangnya menyebut dirinya ayah. akibat obses yg tak jelasnya itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kayaknya klw ada di hadapan kehidupan ku, aing tak Sudi mendengar ucapan itu, lihatny🫤a pun aing tak Sudi 😒🙄☹️
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
masa sih, masa iya 😒🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
andai di sini bisa kirim stiker kaya di wa nanti aing bakal kirim Poto stiker aku yg natap mode kaya 😒. untuk ucapan seperti itu sebel rasanya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
harusnya Lo om cari info yg lebih dalam lagi, jadi jangan seolah menyalahkan emaknya si Al, karena pasti ada satu hal yg membuatnya pergi dari kau paham tuan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dari sudut bicara anda ini kayak menganggap hal sepele, kayak menggampangkan aja gitu 🤦 terserah lu lah om.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
om kau emang tua keladi yang rese, gw klw jadi emaknya si Al sama kayaknya karena nggak mudah. soalnya kau tiba² muncul terus bikin suasana kacau di kondisi kagak Bae rese Lo ya om.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!