Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Keluarga Shou
Malam akhirnya tiba. Langit Kota Heifa berubah gelap, dihiasi cahaya lentera yang bergantungan di sepanjang jalan utama. Suasana kota justru semakin hidup. Para bangsawan, pedagang besar, dan tokoh-tokoh berpengaruh mulai keluar dari kediaman mereka, masing-masing menuju undangan yang telah mereka terima.
Di sebuah penginapan mewah yang tidak jauh dari pusat kota… Gao Rui berdiri di depan cermin. Ia telah bersiap. Pakaian yang ia kenakan jauh berbeda dari biasanya. Jubah panjang berwarna gelap dengan bordir halus di bagian lengan, dipadukan dengan sabuk sederhana namun elegan. Rambutnya diikat rapi, memberi kesan tegas namun tenang.
Tidak ada pedang di pinggangnya. Untuk pertama kalinya… ia tidak tampak seperti pendekar pengembara. Sekilas, ia benar-benar terlihat seperti seorang tuan muda dari keluarga bangsawan.
Gao Rui menatap bayangannya beberapa saat… lalu menghela napas pelan.
“Agak aneh…” gumamnya.
Di sisi lain ruangan, Bai Kai sudah menunggu. Ia bersandar santai di salah satu pilar kayu, mengenakan pakaian yang tidak kalah rapi, meski masih mempertahankan kesan kasarnya.
“Kalau kau terus menatap cermin seperti itu,” kata Bai Kai sambil tersenyum miring, “orang bisa mengira kau sedang jatuh cinta pada dirimu sendiri.”
Gao Rui mendengus pelan dan berjalan keluar.
“Aku hanya tidak terbiasa.”
Mereka berdua lalu berjalan ke aula depan penginapan. Tempat para tamu biasanya berkumpul sebelum pergi. Lampu-lampu gantung menyala terang, memantulkan cahaya hangat di lantai kayu yang dipoles rapi. Keduanya menunggu. Menunggu Lan Suya.
Waktu berlalu beberapa saat… hingga langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Tap… tap… tap…
Gao Rui tanpa sadar menoleh. Dan ia… terdiam.
Lan Suya turun perlahan dari tangga, diikuti oleh Rou Xi di belakangnya. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna lembut dengan lapisan tipis yang mengalir mengikuti setiap langkahnya. Bordir halus di bagian ujung gaun berkilau samar terkena cahaya lampu. Rambutnya disanggul anggun, dihiasi ornamen kecil yang tidak mencolok… namun justru menambah kesan elegan.
Cantik. Bukan hanya cantik… namun anggun. Untuk sesaat… Gao Rui benar-benar terpaku.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa Bai Kai di sampingnya menyenggol lengannya pelan.
“Oi…” bisik Bai Kai, “kalau kau terus menatap seperti itu, semua orang akan tahu.”
Gao Rui sedikit tersentak, lalu berdehem pelan, berusaha mengalihkan pandangannya.
Lan Suya sudah sampai di hadapan mereka. Matanya menyapu ketiganya, senyumnya tipis namun jelas puas.
“Apa semua sudah siap?” tanyanya ringan.
“Sudah,” jawab mereka hampir bersamaan.
Lan Suya mengangguk.
“Kalau begitu… kita berangkat.”
Keempatnya berjalan keluar dari penginapan. Di luar… dua kereta kuda telah menunggu. Kereta itu bukan kereta biasa. Kayunya dipoles hitam mengkilap dengan lambang Harta Langit terukir di sisi pintunya. Kuda-kuda yang menariknya tinggi dan gagah, napasnya terlihat samar di udara malam. Beberapa pelayan telah berdiri di samping, siap membuka pintu.
Gao Rui sedikit mengangkat alis.
“Aku kira… kita akan berjalan kaki,” katanya jujur.
Lan Suya yang sudah hendak naik ke kereta berhenti sejenak… lalu menoleh. Ia menatap Gao Rui… dan tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang ringan… namun jelas menggoda.
“Apa kau tega,” katanya sambil sedikit mengangkat ujung gaunnya, “aku sudah memakai gaun seperti ini… dan kau ingin aku berjalan kaki ke sana?”
Gao Rui langsung terlihat gugup.
“B-bukan seperti itu maksudku, Bibi…”
Ucapannya terputus, membuat Bai Kai langsung tertawa keras. Rou Xi bahkan menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Beberapa pelayan Harta Langit di sekitar mereka ikut tersenyum, suasana mendadak terasa jauh lebih santai.
Lan Suya menggeleng kecil, masih dengan senyum tipis.
“Naiklah,” katanya.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka pun masuk ke dalam kereta.
Gao Rui dan Bai Kai berada di satu kereta, sementara Lan Suya dan Rou Xi di kereta lainnya. Tak lama…
“Jalan!”
Suara kusir terdengar. Roda kereta mulai berputar, perlahan meninggalkan penginapan. Lampu-lampu kota bergeser di sisi mereka, bayangan bangunan melintas satu per satu. Suasana malam yang ramai terasa berbeda dari dalam kereta, lebih tenang… namun justru terasa lebih dalam.
Gao Rui duduk diam di dalam kereta, matanya memandang keluar jendela. Dalam benaknya… banyak hal berputar. Keluarga Shou, Harta Langit, dan Lan Suya.
Perjamuan malam ini… jelas bukan sekadar pesta ulang tahun biasa. Kereta terus melaju… menuju satu tempat. Kediaman keluarga bangsawan pembuat senjata paling berpengaruh di Kota Heifa.
Rombongan Harta Langit akhirnya sampai di kediaman keluarga Shou. Kereta kuda melambat, lalu berhenti tepat di depan gerbang besar yang menjulang tinggi. Ukiran-ukiran logam tampak menghiasi daun pintu gerbang itu. Rumit, presisi… jelas menunjukkan ciri khas keluarga pembuat senjata.
Pelayan segera membuka pintu kereta. Satu per satu mereka turun.
Gao Rui melangkah keluar… dan untuk sesaat, ia benar-benar tertegun. Di luar kediaman keluarga Shou… sudah dipenuhi orang.
Deretan kereta kuda memenuhi jalan utama. Para tamu berdatangan tanpa henti. Pria-pria dengan jubah mahal, wanita-wanita dengan perhiasan berkilauan… semuanya membawa aura status dan kekayaan yang begitu jelas.
Lampu-lampu lentera tergantung rapi di sepanjang halaman luar, menerangi suasana dengan cahaya hangat. Para pelayan hilir mudik menyambut tamu, sementara penjaga keluarga Shou berdiri tegap di setiap sudut.
“Sepertinya… pesta ini lebih besar dari yang kubayangkan,” gumam Gao Rui pelan.
Ia sempat mengira ini hanya perayaan kalangan terbatas. Namun melihat keramaian ini… jelas bahwa keluarga Shou benar-benar membuka acara ini untuk para tokoh penting Kota Heifa atau bahkan undangan dari kota lainnya.
Lan Suya turun dari kereta di belakangnya. Wajahnya tetap tenang, seolah pemandangan ini sudah biasa baginya.
Tak lama, seorang pelayan keluarga Shou berjalan cepat mendekat. Ia membungkuk hormat.
“Nyonya Ya,” katanya sopan, “kami telah menunggu kedatangan Anda. Silakan ikut saya.”
Lan Suya mengangguk ringan. Ia lalu menoleh ke Gao Rui.
“Ayo.”
Gao Rui mengikuti tanpa banyak bicara.
Sementara itu, Rou Xi dan Bai Kai berhenti di belakang. Seorang pelayan lain menjelaskan dengan nada hormat bahwa kapasitas ruangan utama terbatas, hanya untuk tamu undangan inti.
Bai Kai mengangkat bahu.
“Ya sudah. Kami tunggu di luar saja,” katanya santai.
Rou Xi hanya mengangguk, meski matanya sempat mengikuti Lan Suya dan Gao Rui yang berjalan masuk.
Di sisi lain… Lan Suya dan Gao Rui telah melewati gerbang utama. Begitu memasuki halaman dalam, suasana berubah. Lebih tenang… namun jauh lebih megah.
Mereka dibawa melewati taman yang tertata rapi, kolam kecil dengan air jernih, serta paviliun-paviliun yang diterangi lampu lembut. Dari kejauhan, suara musik halus mulai terdengar.
Tak lama… mereka sampai di ruangan utama. Begitu pintu dibuka, cahaya terang menyambut mereka. Ruangan itu luas. Pilar-pilar tinggi menopang atapnya, dihiasi kain-kain halus dan ornamen emas. Meja-meja panjang tersusun rapi, dipenuhi hidangan mewah. Dan… orang-orang. Banyak sekali orang.
Begitu Lan Suya melangkah masuk, beberapa kepala langsung menoleh.
“Nyonya Ya!”
“Sudah lama tidak bertemu.”
“Anda terlihat semakin memukau malam ini.”
Sapaan datang dari berbagai arah.
Lan Suya membalas semuanya dengan senyum tipis dan anggukan anggun. Nada bicaranya hangat, namun tetap menjaga jarak.
Gao Rui berjalan di sampingnya, diam… mengamati. Ia bisa merasakan perbedaan. Ini bukan tempat biasa. Semua orang di sini… memiliki status.
Dari cara mereka berpakaian, cara mereka berbicara, hingga aura yang mereka pancarkan… jelas bahwa ini adalah lingkaran orang-orang terpandang dan sangat kaya.
“Jadi ini… dunia mereka,” pikir Gao Rui dalam hati.
Ia tanpa sadar merapikan sedikit pakaiannya. Untuk pertama kalinya… ia merasa benar-benar berada di tempat yang bukan miliknya.
Mereka terus berjalan melewati kerumunan. Hingga tiba-tiba...
“Lan Suya.”
Sebuah suara pria terdengar dari samping. Langkah Lan Suya berhenti. Gao Rui ikut berhenti, lalu menoleh.
Seorang pria berdiri tidak jauh dari mereka. Usianya tidak terlalu tua, mengenakan jubah mahal dengan corak mencolok. Di wajahnya terukir senyum tipis… dan ia bahkan tertawa kecil begitu mata mereka bertemu.
“Ternyata kau benar-benar datang,” katanya santai, seolah pertemuan ini sudah lama ia nantikan.
Namun… Gao Rui langsung merasakan sesuatu yang tidak beres. Senyum pria itu… tidak tulus. Dan yang lebih penting, ia melirik ke samping. Raut wajah Lan Suya telah berubah. Senyumnya masih ada… namun dingin. Matanya tidak lagi hangat seperti sebelumnya.
“Sudah lama tidak bertemu,” jawab Lan Suya akhirnya.
Nada suaranya halus. Terlalu halus.
Gao Rui menyipitkan mata sedikit. Ia mungkin tidak memahami dunia bangsawan sepenuhnya… tapi satu hal ia yakin. Orang ini… bukan sekadar kenalan biasa. Dan hubungan mereka… jelas tidak sederhana.