NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Singa di Dalam Kandang

​Sementara itu, jauh di balik tembok penjara yang tinggi, pengap, dan berbau mesiu, atmosfer di dalam Lembaga Pemasyarakatan mulai mengalami pergeseran kekuasaan yang sunyi. Bruno, sang ketua gangster penguasa jalanan yang sengaja menjebloskan dirinya ke dalam penjara demi menjalankan misi rahasia, kini mulai menggerakkan bidak-bidaknya dengan sangat rapi.

​Saat jam makan siang tiba di aula besar penjara yang bising oleh suara denting piring pelat aluminium dan makian para napi, Bruno berjalan dengan langkah tegap yang berat. Tubuh raksasanya yang penuh tato memancarkan aura intimidasi yang membuat para tahanan lain secara refleks menyingkir memberi jalan. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan layaknya seorang predator yang sedang mengincar wilayah baru.

​Seorang tahanan bertubuh kurus kering dengan tato naga kecil di lehernya bernama Herman, perlahan mendekati Bruno dengan gestur tubuh yang penuh dengan rasa hormat yang dibuat-buat.

​"Eh, Bang Bruno... tumben banget mampir lagi ke lapas ini, Bang? Kasus besar apa lagi yang abang sikat sampai harus istirahat di sini?" tanya Herman sembari menyodorkan sebatang rokok kretek kepada Bruno.

​Bruno menerima rokok tersebut, menyalakannya dengan korek api gas, lalu tertawa hambar yang terdengar sangat dingin di telinga Herman. "Penjara ini sudah seperti rumah singgah bagiku, Herman. Kalau sebulan saja tanganku tidak menghajar wajah orang luar, rasanya gatal sekali."

​Bruno mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu melirik tajam ke arah koridor Blok B—wilayah yang biasanya digunakan untuk mengurung para tahanan baru yang belum memiliki kelompok pelindung.

​"Herman," bisik Bruno dengan suara berat yang diredam oleh bisingnya aula. "Kamu tahu... apakah ada 'warga baru' yang menarik di Blok B yang bisa kita manfaatkan atau kita jadikan mainan baru di sini?"

​Herman menengok ke kanan dan ke kiri secara waspada, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Bruno. "Ada, Bos. Namanya Reyhan, tahanan kasus pembegalan yang baru masuk beberapa hari lalu. Tapi sepertinya... si Reyhan itu sudah diambil alih penanganannya oleh Bang Japra. Kabar burung dari sipir dalam, ada pesanan khusus dengan bayaran mahal dari orang kuat di luar sana untuk membuat si Reyhan itu tidak betah, atau kalau bisa... dibuat cacat permanen di dalam sini."

​"Oh... si Japra..." mata Bruno menyipit tajam, kilat amarah tertahan melintas di manik matanya saat mendengar nama itu. Japra adalah preman kelas teri di dalam lapas yang sering menerima uang receh dari pihak luar untuk menyiksa tahanan yang tidak berdaya. "Bilang sama si Japra... bagi-bagi jatah denganku. Aku juga tertarik untuk 'mencicipi' dan menguji ketahanan fisik warga baru yang sok suci itu."

​"Siap, Bang Bruno! Nanti saya sampaikan pesannya," lapor Herman dengan semangat. "Sekarang orangnya sedang dibawa kembali ke sel dari pengadilan. Katanya pembawaannya sangat sombong, Bos. Tidak mau bicara atau memohon ampun sama sekali pada napi lain."

​"Bagus. Aku paling suka menghancurkan orang yang sombong," gumam Bruno dengan senyum dingin yang mengerikan.

​Tentu saja, semua ucapan Bruno di depan Herman hanyalah sebuah taktik tipu muslihat yang brilian. Bruno sama sekali tidak memiliki niat untuk menyakiti atau menyentuh satu helai rambut pun dari tubuh tuannya. Ia sengaja menampilkan persona sebagai penindas yang kejam di depan para narapidana dan sipir, semata-mata agar ia memiliki alasan legal dan kuat untuk dipindahkan ke sel yang sama, atau setidaknya berada di dekat posisi Reyhan. Di dalam kerasnya dunia penjara, strategi perlindungan terbaik adalah dengan berpura-pura menjadi iblis yang paling ditakuti oleh iblis lainnya.

​Di sudut sel Blok B yang gelap, Reyhan duduk bersandar pada dinding semen yang berjamur setelah kembali dari persidangan yang melelahkan. Tangannya masih sedikit gemetar akibat rasa nyeri yang menjalar dari luka di kakinya yang belum sembuh total, namun sepasang matanya tetap memancarkan ketenangan yang mutlak.

​Ia tersenyum tipis menatap langit-langit sel. Ia tahu Bruno sudah berhasil menyusup masuk dan berada di dalam gedung yang sama dengannya. Ia tahu tim pengacara rahasia bentukan ayahnya, Tuan Besar Dirgantara, sedang bekerja dengan senyap mengumpulkan bukti-bukti pembalik keadaan di luar sistem pengadilan yang korup ini. Dan ia tahu pasti... satu minggu lagi saat persidangan dilanjutkan, ia tidak akan lagi memberikan senyuman misterius. Ia akan mulai menarik pelatuk kebenaran yang akan menghancurkan seluruh hidup Derian dan membuka mata Vanya dengan cara yang paling menyakitkan.

​Sementara itu, di dalam kamar tidurnya yang mewah dan dipenuhi fasilitas kelas atas, Vanya Hutama duduk meringkuk di atas lantai bulu, menangis dengan sangat melankolis sembari memandangi cincin pertunangan berlian di jari manisnya yang berkilau dalam kegelapan. Ia merasa jiwanya benar-benar telah terjebak dan sekarat di dalam labirin buntu yang ia ciptakan sendiri atas nama kebencian, tanpa menyadari bahwa kebenaran yang sesungguhnya sedang berjalan merayap di bawah tanah, bersiap meruntuhkan seluruh dunia kepalsuannya.

​Jakarta terus berdenyut dengan segala kepalsuannya yang gemerlap, memoles luka-luka busuk di balik gedung pencakar langit dengan tawa riang kaum elite. Di kediaman megah keluarga Hutama, Vanya mulai tenggelam ke dalam rutinitas barunya yang sengaja diciptakan untuk mematikan akal sehat.

​Setiap pagi, sebelum embun di taman benar-benar menguap, sebuah buket besar bunga mawar putih segar selalu menyambutnya di atas meja makan kaca. Setiap siang, rentetan pesan manis penuh perhatian yang dikemas dengan kosakata pelindung yang sempurna memenuhi layar ponselnya. Derian sangat lihai, luar biasa jenius sebagai seorang manipulator psikologis. Ia mengisi setiap milidetik celah waktu Vanya agar tidak ada ruang sekecil lubang jarum pun bagi gadis itu untuk melamunkan masa lalu, atau memikirkan supir yang telah didepaknya ke neraka.

​Vanya perlahan-lahan mulai terbiasa, atau lebih tepatnya memaksa jiwanya untuk terbiasa, dengan kebaikan-kebaikan Derian yang terlihat tanpa cela. Ia terus-menerus mendoktrin dirinya sendiri bahwa inilah bentuk kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahwa Derian adalah pelabuhan yang aman, kokoh, dan berkelas, sementara Reyhan... pria itu hanyalah badai kotor yang hampir menenggelamkan kehormatan keluarganya.

​"Terima kasih untuk makan malam mewah di Le Ciel kemarin malam ya, Der," ucap Vanya melalui sambungan telepon. Suaranya diusahakan terdengar ringan dan ceria, meski jauh di sudut hatinya, ada gumpalan sesak yang kian mengeras namun sengaja ia abaikan.

​"Apapun akan kulakukan demi calon istriku tercinta," jawab Derian dari seberang sana dengan intonasi suara yang begitu lembut, manis, namun menyimpan kebusukan yang pekat. "Aku hanya ingin kamu melupakan semua trauma sialan itu, Vanya. Lusa saat sidang lanjutan digelar, kita akan mengakhiri komedi ini semuanya. Kamu tidak perlu lagi mengingat atau menyebut nama kecoa gembel itu di dalam hidupmu."

​Vanya terdiam sejenak, meremas ujung bajunya. "Iya, Der. Kamu benar. Semuanya harus berakhir lusa."

​Kebenciannya pada Reyhan tidak memudar; kebencian itu justru sengaja dipupuk menjadi raksasa ego. Bagi Vanya, setiap kemewahan dan kebaikan yang ditawarkan Derian saat ini adalah pengingat konkrit betapa biadabnya Reyhan yang telah mengkhianati kepercayaan murni keluarganya. Vanya memilih untuk menutup mata batinnya rapat-rapat. Ia memilih untuk mengubur dalam-dalam kenangan tentang supir yang pernah mempertaruhkan nyawa sebagai pahlawannya, tanpa pernah menyadari bahwa ia sedang membangun istana masa depannya di atas hamparan pasir hisap yang siap menelan tubuhnya bulat-bulat.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!