Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31 Morning
Aurora sibuk menyiapkan makan pagi untuknya dan Max. Sepiring salad dengan madu dan roti panggang selai alpukat siap di atas meja. Rora merapikan sedikit kemejanya agar tidak kusut. pagi ini ia harus ikut meeting papanya.
"Morning my love" Max mengusap lembut kepala Rora tapi kali ini di tambah kecupan singkat di bibir Rora.
Rora terkejut ia terpaku sejenak dengan perubahan kebiasaan Max itu. biasanya cuma mengusap kepala sekarang di tambah kecupan.
"Hai morning" jawab Rora sembari mengulurkan secangkir kopi untuk Max.
"Pagi ini mau aku antar ke kantor?" tanya Max sambil mengunyah roti panggang.
"No, aku bareng papa saja sekalian" kata Rora masih malu-malu menatap Max.
Setelah melakukan malam pertama dengan Max entah kenapa perasaan Rora jadi berbeda. ia seperti tidak lagi memandang Max sebagai sahabatnya yang dulu melainkan sebagai seorang pria dewasa yang sekarang menjadi suaminya.
"Are you oke?" Max menyadari Rora mengamati dirinya.
"I'm oke" jawab Rora gugup.
Max tersenyum rasanya lucu melihat tingkah Aurora yang tidak seperti biasanya. Aurora yang biasanya sedikit manja, ketus, cerewet dan independen. tapi sekarang ia terlihat lebih pendiam dan sering salah tingkah.
Max mengulurkan tangannya mengusap rambut Rora.
"Max don't touch my hair! nanti rambutku berantakan!"
Max tertawa melihat Rora marah padanya. ia gemas sekali pada istrinya. kalau bisa hari ini Max ingin di rumah mengambil cuti kerja tapi papa Gunanto memintanya datang ke meeting pemegang saham jadi ia tidak bisa absen.
"Oh ya Max kenapa kemarin Catherine marah padamu? dia nampak kesal sekali?"
Aurora penasaran kemarin ia tidak sempat bertanya pada Catherine maupun Max.
"Catherine dekat dengan berandalan sekolahnya, anak itu anak pejabat tapi aku tahu sepak terjang ayahnya jadi aku melarang Catherine berteman dengan anak itu. aku memerintahkan Wisnu untuk mengganggu pertemanan mereka"
"Astaga Max! itu terlalu berlebihan. adik mu sudah remaja dan menjelang dewasa wajar kalau ia punya teman dekat lawan jenis. lagipula mereka hanya berteman belum tentu juga pacaran apa lagi jodoh!"
"Jodoh? seperti kita?" tanya Max jahil
"Max diam aku sedang membicarakan Catherine jangan mengalihkan dengan membicarakan kita"
"Apa kau tidak mau kalau berjodoh dengan ku?" tanya Max sedikit kecewa.
"Kita sudah menikah bukan? apanya yang tidak berjodoh?" Rora menghela napas terkadang Max seperti anak kecil.
"Besok malam ada acara di rumah papa dan mama kita akan datang?" tanya Rora.
Ia ingat jika mertuanya mengundang untuk acara makan malam bersama besok malam di rumah sekaligus foto keluarga. semenjak Max menikah keluarganya belum memperbarui foto keluarga. yang ada hanya foto-foto saat resepsi pernikahan saja itu juga wajah Rora terlihat tertekan.
"Iya kita akan datang, sayang aku harus berangkat" Max berdiri dari duduknya, Rora mengikuti langkah Max berjalan ke depan rumah menuju mobil yang sudah siap di halaman.
"Bye sayang nanti kabari kalau papa sudah jemput ya" kata Max sembari mengecup kening Rora sebelum memasuki mobilnya.
"Oke, bye Max" Rora melambaikan tangannya.
***
Di perusahaan Antoro,
Rora bergegas menuju ruang kerjanya. ia sempat menyapa Vera yang sedang bicara dengan anak buahnya.
"Hai bestie" sapa Rora sambil jalan.
Vera mengejar langkah Rora ia ikut masuk ke ruangan kerja Rora.
"Sepertinya wajah mu sumringah sekali?" tanya Vera.
Rora langsung menunduk dan gugup.
"Biasa saja setiap hari juga aku sumringah"
"tapi kau terlihat berbeda bestie"
"Sudah ah nanti di cari papa yuk ke ruang meeting!" kata Rora mengalihkan perhatian Vera.
Rora tidak mungkin bercerita pada Vera jika semalam ia dan Max melakukan malam pertama mereka.