Skywa Caeloryn Isyra
Seorang gadis hidup tanpa ibu. Di besarkan oleh orang tua tunggal membuatnya menjadi kepribadian yang mandiri. Dari kalimat yang asal di ucap namun bermakna serius. Mengantarkan Cael—begitu orang memanggilnya ke pernikahan yang dingin. Cael bak kasat mata dalam istana megah. Cinta sepihak menghancurkan seluruh mimpi dan harapannya setelah suaminya—Kavi Danendra Bimantara. Membawa wanita lain sebagai adik madu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Goes bersama
Hari libur yang cerah di kota itu menjadi momen sempurna bagi Cael dan Devan untuk melepas penat dari rutinitas hotel. Sejak pukul enam pagi, keduanya sudah bersiap dengan sepeda masing-masing, mengayuh pedal membelah udara pagi yang segar di sepanjang jalur pesisir pantai. Hubungan pertemanan mereka yang santai namun mendalam membuat momen olahraga ini dipenuhi tawa dan obrolan ringan yang mengalir tanpa beban.
Setelah puas bersepeda sejauh beberapa kilometer, Devan mengarahkan sepedanya berbelok ke arah kawasan ruko di dekat pusat kota. "Cael, ayo mampir sebentar. Aku mau mengenalkanmu pada salah satu sahabat lamaku. Dia punya bengkel sepeda di sekitar sini," seru Devan dari atas sepedanya.
Begitu mereka sampai di depan sebuah bengkel sepeda yang meriah dengan jajaran ban dan rangka sepeda premium, seorang pria berkaos oblong hitam langsung menyambut mereka dengan tawa menggelegar. Pria bertubuh tegap namun memiliki guratan wajah yang sangat ekspresif dan humoris itu adalah Sagara, pemilik bengkel sekaligus sahabat karib Devan sejak masa sekolah.
"Wah, wah! Devanandra si manusia sibuk akhirnya keluar sarang juga!" seru Sagara sambil melempar kain lap ke bahunya dengan gaya teatrikal. Matanya langsung beralih ke arah Cael, menaik-turunkan alisnya dengan jenaka. "Dan... siapkan mataku, Dev! Kamu menyembunyikan bidadari dari mana sampai mau diajak kepanasan naik sepeda pagi-pagi begini?"
"Kenalkan, ini Caeloryn, rekan kerjaku di hotel," Devan terkekeh sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya yang tidak pernah berubah. "Cael, ini Sagara. Jangan terlalu dimasukkan ke hati omongannya, dia memang agak kurang waras kalau belum minum kopi pagi."
Cael tertawa lepas, merasakan kecanggungan yang langsung menguap karena pembawaan Sagara yang begitu kocak. "Halo, Sagara. Salam kenal, aku Cael."
"Salam kenal, Cael! Jangan percaya apa kata Devan ya. Di antara kami berdua, dialah yang paling misterius. Dulu waktu cuti panjang, dia bahkan sempat menyamar jadi preman taman saking frustrasinya," sahut Sagara tangkas sambil mengedipkan sebelah matanya, sukses membuat Devan salah tingkah dan Cael tertawa semakin renyah di tengah kehangatan pagi itu.
"Sudah-sudah, jangan bongkar rahasia lamaku terus," potong Devan sambil menepuk pundak sahabatnya itu, wajahnya memerah menahan malu karena Cael terus tertawa.
"Ide bagus, aku sudah lapar sekali," sahut Cael bersemangat, menyambut hangat ajakan itu.
Mereka bertiga akhirnya kembali mengayuh sepeda menyusuri jalanan pelabuhan yang mulai hangat oleh sinar matahari. Tak butuh waktu lama, mereka sampai di sebuah kedai bubur sederhana yang ramai pengunjung. Aroma kuah kuning kaldu ayam yang gurih langsung menusuk hidung, berpadu sempurna dengan wangi bawang goreng yang baru diangkat dari wajan.
Sambil menunggu tiga mangkuk bubur ayam hangat dengan suwiran ayam melimpah dan kerupuk yang menggunung, Sagara kembali membuka obrolan di meja kayu kedai itu. Pembawaannya yang jenaka berulang kali memecah suasana, membuat Cael tidak berhenti tersenyum.
Tepat saat mangkuk bubur mereka tersaji di atas meja, ponsel Cael yang tergeletak di samping sendok bergetar hebat. Nama Kaia berkedip di layar dengan nada dering yang nyaring.
Cael tertawa kecil lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Kai?"
"Cael! Kamu di mana?!" suara melengking Kaia langsung terdengar heboh di seberang telepon, bahkan sampai membuat Sagara yang sedang menuangkan kecap manis menoleh penasaran. "Aku ke apartemen mu membawa martabak telur untuk sarapan bersama, tapi kamarnya kosong melompong! Jangan bilang kamu diculik Devan untuk gowes subuh?"
"Aduh, Kaia! Stop, jangan teriak-teriak! Kuping aku bisa budek!" Cael memotong kalimat Kaia dengan setengah berbisik. "Aku lagi di dermaga pinggir kota, lagi makan bubur ayam sama Devan. Nah, kebetulan Devan juga lagi bawa temennya, namanya Sagara. Aku baru kenal hari ini."
"Aku jalan ke sana sekarang! Jangan berani-berani pulang sebelum aku sampai!" Kalimat terakhir Kaia terdengar tegas sebelum sambungan telepon diputus sepihak.
...----------------...
Setelah sarapan bubur. Cael dan yang lain nya memutuskan untuk berpisah. Sagara memilih kembali ke bengkel sepeda dan Kaia kembali pulang. Sementara Devan memandangi sepedanya di parkiran nampak berpikir.
"Kenapa?" Cael melangkah mendekat sambil melontarkan tanya.
"Rumah ku tidak jauh dari sini. Tidak adil rasanya kalau cuma aku saja yang tahu tempat tinggal mu. Apa kamu mau ke rumahku disana ada ibu ku."
Cael tersenyum tipis. Benar saja selama ia tinggal di kota ini dan mengenal Devan belum pernah Cael tahu tempat tinggalnya. Karena pria itu cukup tertutup.
"Boleh."
Kota itu menyuguhkan pemandangan memukau yang memanjakan mata di bawah langit yang jernih. Di satu sisi, jajaran kapal tanker raksasa dan sekoci-sekoci penyelamat yang tergantung rapi di sisinya tampak bersandar kokoh di dermaga, diselimuti kabut tipis yang perlahan menghilang. Cahaya matahari terbit yang kemerahan memantul di atas permukaan lambung kapal besi yang megah, menciptakan kilauan keemasan yang sangat indah.
Setelah bersepeda selama lima menit, mereka akhirnya tiba di kediaman Devan. Rumah bernuansa pesisir itu berdiri kokoh, menyambut kedatangan kedua insan tersebut dengan halaman depan yang rapi. Devan segera menuntun sepedanya masuk ke area pekarangan, sementara Cael mengekor di belakang sambil menyeka keringat tipis di dahinya.
"Ayo masuk."
Cael mengangguk sambil melangkah lebih ke dalam. Pandangannya menyapu sekeliling ruang tamu. Disana tampak rapi dan bersih. Foto-foto estetik tergantung dan disertai beberapa pot-pot bunga segar di sudut siku dinding. Aroma tanah basah dan daun-daun segar yang baru saja disiram menyeruak masuk ke dalam rongga hidung Cael. Rasanya segar dan nyaman.
"Cael, kenalkan ini ibu aku."
Gadis itu memutar tubuhnya sambil tersenyum ketika melihat wanita paruh baya rambut sebahu bergelombang berdiri disamping Devan. Ia gegas mengulurkan tangan untuk berkenalan.
"Saya, Caerolyn panggil Cael saja."
"Tante, Yulia... Ibu nya Devan. Silahkan duduk, Nak..." Yulia menyambut hangat Cael tanpa canggung. "Kamu tinggal dimana?"
"Saya tinggal di apartemen, Tante... Tidak jauh dari sini kemungkinan lima belas menit."
"Apartemen dekat dermaga arah hotel." Yulia menyambut nampan dari tangan Devan. "Silahkan diminum, tapi tante tidak tahu rasanya pas atau tidak di lidah kamu. Karena Devan yang membuatnya."
"Iya tante, Devan cukup mahir membuat minuman di hotel, dia sering membuat minuman untuk kami di jam istirahat."
"Kamu bekerja di hotel itu juga?"
"Iya, beda divisi sama Devan."
"Nanti pulang nya ya, kita makan dulu masakan tante sebentar lagi masak semua."
Cael hanya tersenyum mengangguk. Tidak menolak niat baik Yulia menahannya untuk makan bersama. Devan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menatap Cael.
"Pulangnya aku antar saja, sepeda itu tinggal disini nanti aku mengembalikan nya."
Semoga kelak, Kavi akan dihinggapi rasa sesal yang mendalam karena telah memilih Sheza