NovelToon NovelToon
Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Setyowati

Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.

Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.

Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.

Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takut Kehilangan, Sulit Melepaskan

Amara pun menjauhkan diri dari Sagara dengan wajah setengah malu dan setengah berang.

"Fiks! Gegar otak kamu, Mas!" gerutu Amara sambil menabok pelan lutut Sagara.

"Akkh!" pekik Sagara langsung membuat Amara membeku.

"Hah?!" Mata Amara membesar panik, "Sakit, Mas?"

Tanpa pikir panjang, Amara langsung menunduk memeriksa lutut Sagara. Celana jeans pria itu robek di bagian lutut dan darah masih merembes dari balik kain. Wajahnya langsung berubah pucat melihat keadaan Sagara yang ternyata benar-benar parah.

"Ya Tuhan..." gumam Amara pelan.

Dengan hati-hati, Amara meraba sekitar luka itu, "Maaf, Mas. Aku nggak sengaja. Ini nggak patah, kan?"

Sagara yang tadinya meringis justru tersenyum tipis melihat kepanikan Amara. Sebelum ia sempat menjawab, perawat yang berada di samping mereka terkekeh pelan.

"Nggak patah kok, Bu. Cuma luka robek karena tadi terjepit body mobil."

Amara langsung mengembuskan napas lega. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali mengerut membayangkan rasa sakit yang pasti dirasakan Sagara.

"Aduh... pasti perih banget," ucap Amara sambil meringis.

Sagara diam-diam memandangi wajah Amara yang tampak lebih khawatir daripada dirinya sendiri. Entah kenapa, rasa nyeri di tubuhnya terasa jauh berkurang.

Tak lama kemudian, ambulans berhenti. Pintu belakang segera dibuka. Beberapa petugas medis sudah bersiaga. Dengan cekatan mereka memindahkan Sagara ke atas brankar lalu mendorongnya menuju IGD.

Amara mengekor di belakang sambil membawa tas, dompet, ponsel, dan barang-barang Sagara yang berhasil diselamatkan dari mobil. Langkahnya tak pernah jauh dari brankar itu. Sesekali ia mempercepat langkah hanya untuk memastikan Sagara masih membuka mata.

Sesampainya di IGD, beberapa perawat langsung mengambil alih. Pakaian Sagara diganti dengan pakaian pasien. Luka-lukanya dibersihkan. Peralatan medis mulai disiapkan.

Beberapa menit kemudian, Dokter Sandi datang dengan langkah tergesa. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeriksa kondisi Sagara.

"Untung kepala lo keras," celetuk Dokter Sandi setelah memeriksa hasil observasi awal.

Sagara mendengus, "Dokter macam lo?"

"Dokter yang udah capek lihat muka lo dua kali dalam sehari," balas Dokter Sandi tak kalah sarkas.

Amara yang berdiri di kejauhan sampai menahan senyum.

Dokter Sandi pun mulai menjahit luka robek di atas lutut Sagara.

Amara memperhatikan dari jauh. Tangannya saling menggenggam erat. Meski mencoba terlihat tenang, berkali-kali ia menggigit bibir bawahnya sendiri saat melihat jarum menembus kulit Sagara. Beberapa kali pula pandangannya berkaca-kaca. Untung saja, tak ada yang menyadarinya.

Setelah semua penanganan selesai, para perawat satu per satu meninggalkan ruangan.

Dokter Sandi lalu melambaikan tangan kepada Amara, "Dek, sini!"

Amara segera mendekat. Namun langkahnya melambat saat melihat kepala, telapak tangan, dan lutut Sagara sudah dibalut perban. Dadanya terasa sesak.

"Nona Sagara," ujar Dokter Sandi tiba-tiba, "Suami kamu ini kayaknya terlalu ngefans sama aku."

Amara mengerjap bingung, "Hah?"

"Baru pagi keluar dari IGD. Malamnya balik lagi," sahut Dokter Sandi penuh canda.

Amara spontan menoleh ke Sagara sedikit lega, "Mas Aga memang terlalu rindu sama Kak Sandi. Tapi nggak punya alasan buat ketemu. Jadilah begini."

Dokter Sandi langsung tertawa terbahak, "Haduh! Lawak juga istri lo, Ga!"

"Nggak usah terlalu akrab deh kalian," sungut Sagara.

Amara dan Dokter Sandi saling pandang. Lalu, mereka tertawa bersamaan.

"Posesif amat," ejek Dokter Sandi.

"Biarin," sahut Sagara pura-pura cuek.

"Kalau gitu lo mau rawat jalan atau nginep sama gue?" tawar Dokter Sandi.

"Biar dirawat istri gue aja," putus Sagara cepat, hampir tanpa berpikir.

"Halah," ledek Dokter Sandi.

Sagara menyeringai, "Takutnya lo naksir gue kalau sering ketemu."

"Nggak sudi! Ciihh..." decak kesal Dokter Sandi.

Amara sampai tertawa kecil melihat tingkah dua pria itu. Namun tawanya perlahan menghilang saat kembali mengingat kondisi Sagara.

"Kak Sandi..." panggil Amara pelan.

"Hm?" sahut Dokter Sandi singkat namun dengan raut ramah sekali.

"Kalau memang Mas Aga perlu dirawat, mending opname aja," usul Amara.

Sagara langsung menoleh, "Nggak usah."

Amara mengabaikannya, "Aku takut nggak bisa merawat dengan baik kalau di rumah. Mas Aga, ini luka jahit. Terus, tadi juga ada benturan di kepala. Aku takut terjadi apa-apa."

Sagara terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara itu yang membuatnya sulit membantah. Namun tetap saja ia tidak suka rumah sakit.

"Aku nggak betah di sini," bantah Sagara.

"Mas Aga," panggil lirih Amara menatap lurus ke arah Sagara, "Kalau bukan karena kamu kecelakaan, aku juga nggak mau nemenin kamu di sini."

Sagara terpaku.

"Aku cuma mau memastikan Mas baik-baik aja," tambah Amara dengan raut penuh harap.

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dadanya terasa hangat.

"Emang kamu mau nemenin aku?" tanya Sagara setengah tak percaya.

"Kenapa enggak?" jawab Amara merasa aneh dengan sikap dan ucapan Sagara.

Dokter Sandi yang melihat semuanya pun hanya tersenyum tipis, "Makasih udah bantu memaksa tuan bebal ini, Adek. Menurut gue, lo mending dirawat dulu beberapa hari. Observasi kepala lo juga perlu."

Amara langsung mengangguk cepat. Sementara itu, Sagara mendesah panjang karena merasa kalah jumlah.

"Tuh kan, Mas. Nggak usah ngeyel. Aku urus ruang rawat inapnya dulu, ya. Asuransimu di dompet, kan?" pamit Amara langsung berlalu tanpa meminta persetujuan.

Tanpa menunggu jawaban, Amara langsung mengambil tas, lalu berjalan keluar. Sagara sampai tidak sempat menyela. Dokter Sandi pun terdiam. Mereka sama-sama memandangi punggung Amara yang menjauh.

"Ga," panggil Dokter Sandi terkesima.

"Hm?" sahut Sagara singkat.

"Lo yakin cuma jadiin dia istri kontrak?" tanya Dokter Sandi ragu.

Sagara mengernyit, "Maksud lo?"

"Cara dia panik tadi, nggak dibuat-buat sama sekali. Cara dia mengurus lo juga jelas ketulusannya," ujar Dokter Sandi.

Sagara terdiam. Suara Amara saat diambulans pun terngiang-ngiang di telinganya: aku cuma punya kamu sekarang. Kalimat itu kembali menghantam dadanya.

"Kalau gue dapat perempuan setulus itu..." lanjut Dokter Sandi pelan, "gue nggak bakal lepas gitu aja."

Sagara menunduk. Entah sejak kapan, setiap kali mengingat Amara, pikirannya selalu menjadi kacau. Pikirannya seakan terbelah dua antara kembali dengan Denisa atau belajar membuka lembaran baru dengan Amara.

"Nah ini yang bikin gue bingung, San," timpal Sagara bimbang.

"Apa?" tanya Dokter Sandi makin penasaran.

"Semenjak ada Amara..." jawab Sagara berhenti sejenak, "gue merasa hidup gue berubah. Merasa harus bertanggung jawab dan melindungi dia, entah benar-benar sebagai suami atau sekadar kakak. Gue suka terusik jika ada lelaki lain yang memberikan dia perhatian lebih."

Sagara pun memberi jeda dengan mengembuskan napas berat, lalu melanjutkan, "Tapi, Denisa juga nggak bisa gue lepas."

Dokter Sandi langsung menggeleng, "Ga, lo serakah. Lo brengsek kalau kayak gitu terus."

Sagara hanya diam. Kali ini, ia sungguh menerima label kasar yang diberikan padanya.

"Kalau lo nggak bisa kasih hati lo sepenuhnya ke Amara, jangan bikin dia berharap. Kasih perhatian dan perlakuan sewajarnya aja," saran Dokter Sandi sangat mewanti-wanti.

Belum sempat Sagara menjawab, tiba-tiba suara berat menyela, "Untuk sekali ini, gue setuju sama Dokter Sandi. Kalau kamu hanya menganggap dia istri kontrak, jangan buat dia terlalu nyaman."

Suara dingin itu membuat dua bersahabat itu menoleh.

Tampaklah, Dirga berdiri di ambang pintu. Tatapannya tajam. Rahangnya mengeras.

Dokter Sandi langsung berdiri canggung, "Oke, gue cabut. Ada pasien."

Lalu, Dokter Sandi buru-buru keluar meninggalkan ruangan.

Kini, hanya tersisa dua bersaudara itu. Suasana mendadak menjadi sunyi, tegang, dan mencekam.

"Sejak kapan lo ikut campur urusan rumah tangga gue?" tanya Sagara dingin.

Dirga melangkah mendekat, "Sejak perempuan yang lo jadikan istri kontrak itu adalah Amara."

Tatapan Sagara langsung berubah tajam, "Apa maksud lo?"

"Kalau perempuan itu orang lain, gue nggak akan peduli," ucap Dirga sambil berhenti tepat di samping brankar, "Tapi karena dia Amara... gue nggak akan tinggal diam."

Jantung Sagara berdetak lebih keras. Perasaan tidak nyaman mulai menjalar. Ucapan Dirga benar- benar mengancam perasaannya.

"Lo suka sama Amara?" tanya Sagara memastikan.

Dirga tak langsung menjawab. Namun, diamnya justru terasa jauh lebih mengganggu.

"Ada banyak hal tentang Amara yang belum lo tahu, Ga," jawab Dirga sambil tersenyum sebelah bibir.

Kening Sagara mengernyit, "Maksud lo?"

Dirga menatap lurus ke mata adiknya, "Tanya diri lo sendiri."

"Apa?" tanya Sagara belum mampu mencerna ucapan Dirga.

"Kalau suatu hari nanti kontrak kalian selesai..." ucap Dirga sengaja memberi jeda dan tatapannya makin dingin, "apa lo benar-benar sanggup kehilangan dia? Apa lo yakin, dia nggak bakal terluka?"

Sagara mendadak terdiam. Ia benar-benar tak memiliki jawaban dan hal itu membuatnya kesal sendiri. Sebab, jauh di dalam hati, ia mulai takut mendengar kemungkinan itu. Takut jika kehilangan Amara akan menjadi kenyataan.

"Mas Aga... Mas Dirga..." sela Amara yang tiba-tiba terdengar dari ambang pintu.

Kedua lelaki itu menoleh bersamaan.

Amara berdiri di sana sambil membawa map administrasi rumah sakit. Tatapannya berpindah dari Dirga ke Sagara.Wajahnya penuh kebingungan.

"Kalian kenapa?" tanya Amara bingung.

Tak ada yang menjawab namun Amara dapat merasakan sesuatu. Udara di ruangan itu mendadak terasa berbeda—terlalu dingin, terlalu tegang.

Dan untuk pertama kalinya, Amara melihat tatapan Sagara dan Dirga seperti dua orang yang sedang memperebutkan sesuatu yang sangat berharga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!