NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 Luka Lama

Perintah Arjuna turun sebelum fajar.

Tidak ada teriakan di jalan. Tidak ada pintu didobrak atas nama Pangeran Mahkota. Kereta tanpa lambang bergerak melewati gang sempit, lalu kembali ke Puri Timur saat langit masih berwarna abu-abu. Sebuah peti ramping ikut dibawa masuk melalui gerbang samping, ditutup kain biasa, seolah hanya berisi buku tua untuk perpustakaan.

Anindya melihatnya dari balik jendela.

Ia belum tidur. Semalaman ia menunggu kabar dengan buku terbuka di pangkuan, tetapi satu halaman pun tidak benar-benar terbaca. Ketika peti itu akhirnya masuk, dadanya terasa sedikit lega. Bukan karena ia memahami seluruh rencana Arjuna, melainkan karena untuk pertama kalinya ia melihat cara kerja perlindungan yang tidak berisik.

Puri Timur tidak ribut, tetapi bergerak.

Wulan datang membawa air hangat. "Gusti Putri, Raden Harsa masih di ruang samping. Katanya sebelum pulang, ia membawa titipan dari Kadipaten Jayawardana."

"Titipan?"

"Sebuah kotak kecil dari Eyang Jaya."

Anindya segera berdiri.

Ia menemukan Harsa di ruang samping perpustakaan. Sepupunya itu tampak lelah, tetapi matanya masih tajam. Di atas meja ada kotak kayu jati yang sudah ia kenal sejak kecil. Kotak itu biasanya disimpan di ruang kerja Eyang Jaya, di rak paling tinggi, jauh dari tangan anak-anak.

"Eyang menitipkan ini?" tanya Anindya.

Harsa mengangguk. "Beliau berkata, setelah kau menjadi Putri Mahkota, beberapa hal tidak bisa terus disimpan di rumah lama."

Kalimat itu membuat jari Anindya dingin.

Arjuna berdiri di dekat jendela. Ia tidak menyela. Namun ketika melihat wajah Anindya berubah, ia melangkah sedikit lebih dekat, cukup dekat untuk menahan jika ia goyah, tidak cukup dekat untuk membuatnya merasa terkurung.

Harsa menyadari gerakan itu. Tatapannya singkat, lalu kembali ke kotak.

"Aku tidak tahu isinya," katanya. "Eyang hanya menyuruhku menyerahkan langsung kepadamu."

Anindya menyentuh permukaan kotak. Kayu jati itu halus karena terlalu sering dibersihkan. Di sudutnya ada goresan kecil, bekas saat ia dulu berumur tujuh tahun dan diam-diam mencoba membukanya dengan tusuk rambut. Eyang Jaya memergokinya, tetapi tidak marah. Beliau hanya berkata, ada luka yang belum boleh dibuka sebelum seseorang cukup kuat untuk membaca darahnya sendiri.

Saat itu Anindya tidak mengerti.

Sekarang ia takut mengerti.

"Terima kasih, Harsa."

Panggilan itu keluar alami, terlalu keluarga untuk ruangan Puri Timur. Harsa tersenyum sedikit.

"Jangan membaca semuanya sendirian kalau tidak sanggup."

Ia pergi setelah memberi hormat kepada Arjuna.

Ruangan menjadi sunyi.

Anindya tidak langsung membuka kotak. Ia duduk di dekat meja, telapak tangannya tetap di atas tutup kayu. Arjuna berdiri di seberangnya.

"Kau tidak perlu membukanya sekarang," katanya.

"Kalau Eyang mengirimnya ke sini, berarti beliau ingin hamba membukanya."

"Tetap saja, kau boleh memilih waktunya."

Anindya mengangkat wajah. Ia melihat kekhawatiran yang berusaha disembunyikan Arjuna. Kekhawatiran itu membuat dadanya terasa aneh. Beberapa hari lalu ia akan mengira perhatian seperti ini hanya sikap seorang pangeran yang ingin terlihat baik. Sekarang ia tidak lagi yakin.

"Yang Mulia tahu sesuatu tentang keluarga hamba?"

Pertanyaan itu tenang, tetapi langsung.

Arjuna menahan napas. Ia tahu banyak. Ia tahu Gerbang Mutiara bukan sekadar serangan perbatasan. Ia tahu Raden Kusuma dan istrinya tidak mati dalam kekacauan biasa. Ia tahu nama Naradewa berdiri di belakang kabut darah itu. Namun kebenaran itu terlalu besar untuk dijatuhkan pada Anindya di pagi yang lelah.

"Aku tahu keluargamu pernah diperlakukan tidak adil," jawabnya.

Mata Anindya bergetar halus.

"Semua orang berkata orang tuaku gugur karena serangan di Gerbang Mutiara," katanya. "Sejak kecil, hamba diajari menerima bahwa mereka mati sebagai keluarga prajurit. Eyang tidak pernah membiarkan hamba menangis terlalu lama. Beliau berkata, anak Jayawardana boleh berduka, tapi tidak boleh hancur."

Ia tersenyum kecil, tetapi senyum itu hampir tidak hidup.

"Hamba pikir hamba sudah terbiasa."

Arjuna ingin menyentuh tangannya. Ia tidak melakukannya. Ia hanya meletakkan cangkir air hangat lebih dekat.

"Luka lama tidak hilang hanya karena kita belajar berjalan di atasnya."

Anindya menatap cangkir itu. Uapnya menyentuh wajahnya, hangat dan tipis. Untuk sesaat ia merasa sangat muda, seperti gadis kecil yang menunggu orang tuanya pulang dari gerbang utara dan tidak pernah melihat mereka lagi.

Ia membuka kotak.

Di dalamnya ada beberapa benda: kain ikat kepala milik Raden Kusuma, gelang kecil ibunya, segel tua keluarga Jayawardana, dan tumpukan surat yang diikat benang kusam. Anindya menyentuh gelang itu lebih dulu. Logamnya dingin. Ia tidak punya banyak ingatan tentang ibunya, hanya aroma minyak kenanga dan suara lembut saat menyisir rambut.

Wulan yang berdiri di pintu menutup mulut, matanya berkaca-kaca.

Anindya mengambil surat paling atas. Tulisan Eyang Jaya. Isinya pendek, hanya nasihat agar ia tidak mempercayai semua catatan resmi tentang Gerbang Mutiara. Ia menahan napas, lalu mengambil surat kedua.

Tulisan itu berbeda.

Lebih tegas, lebih miring ke kanan. Di bagian bawah, ada nama yang membuat jari Anindya berhenti.

Raden Kusuma.

Ayahnya.

Arjuna melihat warna wajahnya memucat. "Anindya."

Untuk pertama kalinya, ia memanggil namanya tanpa gelar di depan Wulan.

Anindya tidak menegur. Ia sudah membuka lipatan surat.

Beberapa baris pertama berisi salam kepada Eyang Jaya. Baris berikutnya menyebut Gerbang Mutiara, pasukan yang dipindah tanpa alasan, dan perintah rahasia yang datang bukan melalui jalur resmi Kementerian Perang.

Lalu matanya berhenti pada satu kalimat.

Tangannya gemetar.

Arjuna bergerak setengah langkah, tetapi Anindya mengangkat tangan, meminta waktu. Ia membaca kalimat itu sekali lagi, lebih pelan, seolah setiap kata punya duri.

Jangan biarkan Baginda mengetahui bahwa kita sudah menyimpan bukti sebenarnya.

Napas Anindya terputus.

Di bawah kalimat itu, ayahnya menulis satu baris lagi.

Jika kebenaran ini sampai ke istana sebelum waktunya, seluruh keluarga Jayawardana akan dikubur bersama pasukan di Gerbang Mutiara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!