NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Gala Tahunan (I): Gaun Merah

Tanyakan pada suamimu, ke mana ibunya pergi.

Tulisan itu membuat malam manis kami berubah rasa.

Aku tidak langsung menunjukkan foto itu pada Reynard. Bukan karena ingin menyembunyikan rahasia, tapi karena tiga hari setelah fusi, dokter, guru spiritual, dan semua orang waras sepakat kami butuh istirahat.

Sayangnya, keluarga Wijaya tidak pernah memberi istirahat terlalu lama.

Lima hari kemudian, undangan resmi datang.

Gala Tahunan Wijaya Group.

Hotel Indonesia Kempinski.

Acara amal, lelang, makan malam, dan tentu saja medan perang sosial dengan lampu kristal.

Sari hampir lebih gugup dariku.

"Nyonya Muda akan pakai gaun apa?"

"Yang tidak membuatku jatuh."

[Saran: gaun merah.]

Si Kepo menampilkan sketsa gaun merah dengan kerah mandarin modern, potongan panjang, bordir emas tipis, dan belahan samping yang cukup anggun tanpa membuatku tampak seperti sedang audisi drama balas dendam.

Aku menatap sketsa itu.

"Ini cantik."

[Tentu.]

"Tapi terlalu mencolok."

[Misi malam ini: mencolok.]

Reynard masuk ketika fitting terakhir. Ia berhenti di ambang pintu.

Aku berdiri di depan cermin, gaun merah mengikuti garis tubuh, rambut disanggul rendah, anting emas kecil bergerak di leher. Untuk beberapa detik, aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri.

Keira di cermin bukan gadis yang pernah ditutupi bedak pucat Monica.

Naomi di dalam bukan perempuan yang selalu memilih aman.

Kami berdiri tegak.

Bersama.

"Terlalu merah?" tanyaku.

Reynard menatapku.

Lama.

Sari menunduk sambil tersenyum terlalu lebar.

"Rey?"

"Tidak."

"Tidak terlalu merah?"

"Tidak ada yang terlalu pada gaun itu."

Aku hampir lupa bernapas.

[Status target: fungsi bahasa menurun.]

Untuk sekali ini, aku setuju.

Malam gala, ballroom Kempinski berkilau seperti kotak perhiasan. Lampu kristal memantul di gelas sampanye, musik lembut mengalir, dan semua orang yang merasa dirinya penting berkumpul sambil tersenyum dengan gigi mahal.

Begitu aku masuk menggandeng lengan Reynard, percakapan di dekat pintu melambat.

Lalu menyebar.

"Itu istrinya?"

"Keira Liem?"

"Bukankah dulu..."

"Cantik sekali."

Ada juga yang berbisik lebih pelan, tapi tetap cukup terdengar.

"Katanya dia dulu tidak menonjol."

"Mungkin keluarga Liem sengaja menyembunyikan."

"Atau Wijaya yang pandai memilih."

Aku menahan senyum.

Dulu bisikan seperti itu mungkin membuat Keira menunduk. Sekarang, setiap bisikan terasa seperti paku yang balik menusuk orang yang dulu menutupiku.

Aku tersenyum.

Di dalam hati, Naomi dari KRL ekonomi menjerit sambil memegang saldo e-wallet.

Reynard menunduk sedikit. "Takut?"

"Tidak."

"Tanganmu mencengkeram lenganku."

"Itu strategi stabilitas."

"Silakan."

Ia meletakkan tangannya di atas tanganku, hangat dan tenang.

Di ujung ruangan, Veronica melihat kami.

Wajahnya tetap tersenyum.

Matanya tidak.

Brandon berdiri tidak jauh darinya dengan perempuan baru di sisi. Perempuan itu cantik, muda, dan tampak sangat ingin difoto. Tapi mata Brandon tidak menatapnya.

Ia menatapku.

Tatapan itu membuat kulitku merinding.

Reynard langsung bergerak setengah langkah di depanku.

"Brandon," katanya datar.

Brandon tersenyum buruk. "Reynard. Istrimu makin... bersinar."

"Jaga matamu."

Udara di antara mereka menegang.

Veronica datang menyelamatkan putra kesayangannya. "Keira, gaunmu berani sekali."

"Terima kasih, Tante Veronica."

"Semoga malam ini kau juga berani menghadapi sorotan."

"Saya sedang belajar."

[Terjemahan: siap menampar dengan senyum.]

Celine muncul dengan gaun perak. Senyumnya manis, tapi Si Kepo langsung berkedip.

[Peringatan: jebakan fisik.]

[Lokasi: kursi Keira di meja utama.]

[Objek: mekanisme pemotong kain + kantong cat merah di bawah kursi.]

Aku hampir tertawa.

Cat merah?

Di gaun merah?

Celine, kreativitasmu seperti tugas kelompok yang dikerjakan satu jam sebelum deadline.

Aku melirik meja utama. Kartu namaku berada di kursi sebelah kiri Reynard.

Reynard mengikuti arah mataku, seolah sudah hafal kapan aku mulai menemukan sesuatu yang tidak beres. Ia menatap kartu nama itu sekilas.

"Ada apa?"

"Aku ingin duduk di sisi kananmu."

"Kenapa?"

"Arah keberuntungan."

Ia hampir tersenyum. "Kau tidak percaya feng shui."

"Malam ini aku fleksibel."

Ia memanggil staf hotel dengan satu gerakan kecil. "Tukar kursi saya dan istri saya."

Staf langsung bergerak.

Di seberang, Celine membeku.

Aku tersenyum padanya.

Manis sekali.

Begitu acara makan malam dimulai, kursi jebakan itu ditempati Brandon karena perubahan posisi meja. Aku tidak tahu apakah alam semesta punya rasa humor, tapi Si Kepo jelas punya.

[Probabilitas kekacauan meningkat.]

Jangan dulu, Kepo. Kita butuh timing.

Lima menit kemudian, Brandon bergeser di kursinya.

Aku melihat kakinya menyentuh mekanisme kecil di bawah meja.

Klik.

Tidak ada yang terjadi pada gaunku, tentu saja, karena aku tidak duduk di sana.

Tapi di bawah kursi Brandon, kantong cat yang seharusnya menyemprot ke arah belakang pecah sedikit. Hanya sedikit. Cukup untuk meninggalkan noda merah gelap di sisi celana mahalnya.

Brandon tidak sadar.

Celine sadar.

Wajahnya berubah dari puas menjadi pucat dalam tiga detik.

Aku mengangkat gelas air dan tersenyum padanya.

Tidak perlu menyerang dulu.

Kadang jebakan yang salah sasaran lebih nikmat kalau dibiarkan matang.

Hendra membuka acara dengan pidato singkat tentang yayasan pendidikan dan donasi kesehatan. Reynard duduk di sebelahku, tenang seperti biasa, tapi tangannya sesekali menyentuh punggung tanganku di bawah meja.

Kecil.

Diam-diam.

Cukup untuk membuatku ingat bahwa aku tidak sendirian.

Hendra sempat menatapku dari podium.

Tatapannya berhenti pada gaun merahku, lalu pada tangan Reynard yang menjaga kursiku. Tidak ada senyum besar, tapi ada anggukan kecil. Untuk pria yang biasa berbicara dengan keputusan rapat, anggukan itu sudah seperti pengumuman publik.

Veronica melihat anggukan itu.

Wajahnya makin halus.

Makin berbahaya.

Acara berjalan terlalu lancar selama tiga puluh menit.

Itu selalu tanda buruk.

Pembawa acara naik ke panggung dengan senyum besar.

"Hadirin sekalian, untuk lelang amal malam ini, kami punya segmen khusus. Donasi akan digandakan melalui tantangan logika matematika ringan. Setiap peserta yang kalah akan menambah donasi dua kali lipat."

Aku menaruh sendok.

Brandon tersenyum dari seberang meja.

Senyum orang bodoh yang yakin dunia belum pernah bertemu spreadsheet.

Pembawa acara melanjutkan, "Ko Brandon Wijaya telah menawarkan diri sebagai penantang pertama."

Brandon berdiri, menatapku.

"Saya ingin menantang Nyonya Keira."

Ballroom langsung riuh.

Aku menatapnya.

Oh.

Jadi malam ini mereka ingin mempermalukan aku di depan seluruh kota.

Aku melihat sekeliling. Para tamu menunggu dengan mata berbinar. Mereka tidak peduli siapa benar atau salah. Mereka hanya ingin hiburan mahal yang bisa dibicarakan besok pagi.

Monica pasti akan senang kalau aku jatuh. Veronica pasti akan menyebutnya pelajaran sosial. Brandon ingin membuktikan bahwa istrinya Reynard hanya cantik tanpa isi.

Sayangnya untuk mereka, tubuh ini sekarang dihuni dua perempuan yang sama-sama muak diremehkan.

Reynard menoleh padaku. "Tidak perlu."

Aku tersenyum dan berdiri.

"Saya terima."

Malam baru benar-benar dimulai.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!