Nura Kusuma, Gadis cantik 23 tahun. Ia anak yatim piatu dari seorang pembantu pasangan Anton Kusuma(almarhum) dan Santi ayu(almarhum).
Saat usia 2 tahun, Ia tinggal bersama Alex Rudiart. Yang tak lain adalah majikan dari orangtuanya.
Sampai suatu ketika Alex meninggal. Dan Nura yang membuat nya meninggal.
Hingga teman masa kecilnya Leon. Anak pertama Alex. Membenci dirinya setengah mati.
Leon dan Nura saling mencintai, Namun karena kejadian ini. Leon menyiksa Nura guna membalas kan dendam karena telah membunuh ayahnya.
Apakah Benar Nura tega membunuh Alex.
Lalu bagaimana dengan cinta mereka.
Simak novel ini ya teman-teman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Yuniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak ingin jauh
"Halo Nona Stefy ? Ini saya Nura. Maaf ... sepertinya saya tidak bisa datang malam ini ! Leon...dia sudah melewati masa komanya "
Ucap Nura melalui pesawat telpon. Ditemani dengan senyum bahagia.
"Sudah sadar ? Secepat itukah ? wuah.... hebat sekali"
Batin Stefy terkejut mendengar pengakuan Nura.
"Halo.... ? halo Nona Stefy ?"
Tanya Nura berulang.
"Oh.... maaf Nona Nura ,ah.... tidak masalah. Kita bisa bertemu lain kali "
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak. Kalau begitu saya akhiri panggilannya. !"
"Iya ! baik ! saya ikut senang tuan Leon sudah bisa melewati komanya"
"Terimakasih banyak Nona. "
Nura menyudahi panggilannya dan masuk kedalam ruang rawat menemui Leon.
"Sudah sadar ya ?"
Batin stefy sembari memutar-mutar ponsel di jemarinya.
"Hah.... Lelucon macam apa ini ? Seperti cerita dalam novel. Pangeran sadar saat sang Putri dalam bahaya ? Hah... ha... ha... ha... konyol sekali"
Stefy heran dengan waktu yang begitu tepat dan tiba-tiba. Seolah-olah Leon mencegah Nura agar tidak hadir di undangan nya.
Rumah sakit
Nura terus memandangi wajah Leon dengan senyum-senyum tipis.
Betapa bahagianya melihat sang pujaan hati sudah sadar.
Sampai dokter selesai mengecek seluruh tubuh Leon. Dokter menjelaskan kondisinya pada Nura dan di dengar oleh Leon.
"Semuanya normal ! Untuk penyembuhan kaki yang patah bisa sekitar 3- 4 bulan. Saya rasa bisa lebih cepat dari itu jika tuan Leon teratur menjalankan perintah dokter. Dan untuk saraf yang tidak bekerja bisa dilatih setelah tulang sudah menyatu. Bisa dilakukan dengan terapi. Kalau begitu saya permisi. Lebih jelasnya nanti Nona bisa bertanya lagi di ruangan saya. Jika ada penjelasan yang masih kurang paham, Nona bisa langsung datang saja."
"Baik ... ! terimakasih banyak dokter"
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Nura mendekati Leon yang masih berusaha menggerakkan kedua kakinya.
"Leon... ada apa ?"
"Nura... aku tidak bisa merasakan kedua kaki ku. Ternyata ini yang di jelaskan dokter. Ini sama dengan aku lumpuh ?"
Nura melihat Leon yang mulai putus asa.
Nura semakin mendekati Leon dan menyentuh keningnya dengan lembut. Mencoba menenangkan Leon.
"Leon... dokter bilang kaki mu pasti bisa pulih"
"Nura... tolong tinggalkan aku sendiri !"
"Aa...?"
"Leon aku masih mau di sini. Aku masih mau menemani kamu dulu "
"Tinggalkan aku sendiri !"
Leon berteriak keras membuat Nura terkejut hingga tubuhnya terangkat.
Nura masih diam bingung kenapa Leon bersikap demikian. Leon masih menatap tajam kakinya yang tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku tidak mau..!"
"Nura... keluar!"
Leon semakin berteriak. Bentakan Leon membuat mata Nura berkaca-kaca. Kenapa dengan sikap Leon.
Apakah Nura melakukan kesalahan.
Melihat Nura sedih, Leon malah jadi tak tega.
Leon mulai mengangkat tangannya hendak menyentuh pipi Nura dan mengarahkan pandangannya pada Nura.
Bi Tutik hanya diam melihat adegan itu. Tak berani berkomentar apapun.
Saat tangan Leon hampir mencapai wajah Nura.
Nura berdiri dan berlari keluar sambil mengusap air matanya.
"Nura....."
Batin Leon tak kuasa menahan sedih.
"Bi Tutik.."
Leon memanggil Bi Tutik yang hendak mengejar Nura.
"Iya tuan.."
Bi Tutik menghentikan langkahnya dan menjawab panggilan tuannya itu. Hatinya panik dengan keadaan Nura. Takut jika Nura kenapa-kenapa.
"Biarkan saja dulu Nura."
"Bi..."
"Iya tuan...?"
Ucap Bi Tutik gugup.
"Hah.... sekarang kaki ku malah seperti ini. Aku akan semakin sulit melindungi Nura. Aku mohon bantuan bibi. Jangan sampai Nura tau semua bukti yang sudah aku kumpulkan"
"Baik tuan. Saya tau"
"Sampai tiba saatnya. Aku akan memperlihatkan bukti itu dan menyelamatkan Nura dari ketidakadilan ini"
"Baik tuan Leon..."
"Terimakasih Bi.."
Leon telah memiliki segala bukti tentang kejahatan Clara.
Dia hanya ingin melindungi Nura. Leon khawatir, jika harus mengungkap saat ini.
Clara akan melakukan hal buruk pada Nura.
Dirinya menunggu waktu yang tepat untuk menghukum Clara.
Tak ingin pujaan hatinya terluka sedikitpun.
Taman Rumah sakit
Nura masih duduk di bangku taman. Langit menampakkan begitu banyak bintang.
Nura melihat begitu banyak bintang bertaburan sembari mengusap air matanya.
"Wah... apakah kau Mengejek ku ?"
Berbicara menatap bintang yang berkerlip.
Seakan mereka bahagia di atas sana.
"Apa kalian senang melihat ku di usir ?"
"Kalian tega sekali "
Nura merasa bintang-bintang itu malah mengejek dirinya.
"Nura...?"
"Kenapa kau ada di sini ? Kamu mau pergi ?"
Tanya Angga yang tiba-tiba datang. Dia merasa aneh dengan pakaian yang Nura kenakan. Gaun putih yang hendak ia gunakan di acara makan malam dengan Stefy , masih melekat di tubuhnya.
"Angga ? Kau ingin menjenguk Leon ? Dia sudah sadar tapi dia malah mengusirku "
"Mengusir mu ?"
"Em...."
jawabnya mengangguk.
"Hah.... Mungkin Leon syok dengan kondisi kakinya. Tapi tak apa, Besok dia akan kembali seperti semula."
Ucap Nura sembari menatap bintang di langit malam itu.
Angga menatap Nura dengan intens.
Ia sangat bahagia melihat wajah Nura. Rasa kagum dan cinta berkecamuk di hatinya.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu ?"
Nura sadar dirinya diperhatikan.
"Ah.... tidak.. tidak ada. Aku akan masuk kedalam melihat kak Leon. Udara disini sangat dingin sebaiknya kamu masuk !"
"Aku masih ingin disini !"
Angga melepas jas yang ia kenakan dan ia kenakan pada tubuh Nura. Angga melihat gaun yang Nura kenakan begitu tipis. Tak ingin pujaan hatinya itu sampai sakit.
"Kalau begitu pakai ini! Kalau kamu sakit, siapa yang merawat kak Leon"
Nura terkejut dengan perhatian yang Angga berikan. Ia menatap Angga tertegun.
"Hah... Nura ? Kenapa kamu malah menatap ku ?"
"A..... tidak tidak. Terimakasih jasnya. Kamu masuklah dulu. Aku akan menyusul."
Angga mengangguk dan meninggalkan Nura. Dan berhenti sejenak melihat Nura dari kejauhan.
"Nura .... Apakah selamanya aku hanya bisa seperti ini ? Menjaga mu tanpa bisa memiliki. Hah...."
"Kak...."
Panggil Angga.
Leon masih memainkan ponsel sambil berbaring menyandarkan punggungnya di atas ranjang.
Melihat beberapa foto dirinya dengan Nura.
"em...."
jawab singkat Leon saat melihat Angga yang datang.
"Bagaimana keadaan mu sekarang ?"
"Apa kamu tidak bisa melihat dengan mata mu ? Kamu buta ? aku lumpuh ! "
Angga hanya terdiam mendengar ucapan Leon.
Melihat Angga, Leon serasa ingin meninju wajahnya. Ingin sekali agar dia tahu bagaimana kelakuan ibunya.
"Sepertinya suasana hati kakak masih buruk. Besok aku akan datang lagi kesini!"
"Tidak perlu !"
Ucap Leon tanpa menatap Angga. Ia hanya menatap layar ponsel miliknya.
Angga pergi dan meninggalkan Leon.
"Hah......"
Leon menghela nafasnya dan menatap langit. Entah kenapa hatinya kesal melihat Angga. Padahal ia tau Angga tidak ada hubungannya dengan kejahatan Clara.
Tengah malam
Leon terbangun dan melihat Nura sudah tertidur di atas sofa. Leon kini sudah di pindah di ruang perawatan.
Ia terus memandangi wajah Nura yang masih tertidur pulas. Sangat polos dan cantik.
Sesekali senyum melihatnya.
"Nura....."
Leon mulai membuka selimutnya dan turun dari ranjang. Tanpa ia sadari kakinya yang masih tak bisa bergerak. Ia tetap turun dan ingin menghampiri Nura, Ia ingin sekali memeluk dan mencium nya.
"Bukkkk....."
"Ahh........"
Leon terjatuh dan membuat Nura terbangun dari tidurnya.
"Hah... Leon !"
Dengan cepat Nura berlari menghampirinya.
"Pergi!"
Namun Leon malah mendorong tubuh Nura hingga membuatnya terjatuh.
Nura tak menghiraukan, ia bangun lagi dan mendekati Leon lagi. Ia hendak membantu Leon berdiri.
"Aku bilang pergi !"
Leon semakin berteriak. Suaranya begitu menggema di ruangan. Suasana malam yang sunyi, suara Leon terdengar begitu keras.
Nura malah semakin memeluk Leon erat. Matanya mulai berkaca-kaca hingga menyudut. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan nya.
"Aku mohon jangan usir aku. Aku tidak mau! Aku tidak mau!"
Ucap Nura memohon.
Hai readers, Terimakasih buat kalian semua ya, Terimakasih atas dukungan yang kalian kasi. Tetep dukung author ya. Jangan lupa like dan komentar kalian. Tambahkan Favorit nya supaya kalian gak ketinggalan up terbaru dari novel ini.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
buat thor tetap semangaattt buat alur cerita nyasemoga ga cape en pusing muter2...nya😂😅🤭😜🤣🤣💪💪✌✌
sempet lupa siiii sama alurnya,. 😀
bnyakin UP nya doong thor..kan ydh lma ga UPnta..
UP doong
salam sehat buat mu thor
mampir juga yuk ke karya aku, kita sama2 suport rating &like ❤
aku udah 20 like mendarat. jangan lupa mampir balik👉cinta segitiga 👉love from instagram like dan vote nya ja
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
semangatt thorr...
coba pelan doing ajarain nura dewasaa dikiittt...
cinta pak bos hadir😘
semangat terusss💪
.
.
.
.
semangatt thor