THE LAW FIRM FIRM Series adalah series yang mengupas kehidupan para pengacara di sebuah firma hukum, kasus-kasus hukum dan tentu saja romansa diantara mereka.
Kayla Riyani, membenci Ayahnya yang tak pernah hadir dalam kehidupannya. Sama seperti profesinya sebagai pengacara perceraian dia tak mempercayai lembaga perkawinan. Baginya cinta hanya kegilaan sesaat, dan perkawinan adalah perjudian yang kadang berakhir tak baik.
Ironis, seseorang dari masa lalu menawan hatinya begitu lama dengan kisah cinta tanpa status, saat orang itu muncul kembali didepannya apa yang akan dia lakukan, hatinya masih tergerak dan raut wajah pria itu masih menimbulkan rasa yang tak bisa dia tepikan.
Disisi lain seorang teman dekat, telah lama begitu memperhatikannya. Tapi Kayla telah terlanjur memasang tembok begitu tinggi dihatinya.Kepada siapa Kayla menyerahkan hatinya
Season 1. Love Intrigue
Season 2. The Soulmate Secre
Season 3. The Day We Meet Again
Season 4. My Heart Belongs To You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LOVE INTRIGUE Part 27. Yang Pertama
"Mampir ke hotel bentar ya, deket dari sini?" Kami selesai makan dan Ken tiba-tiba mengajak ke hotelnya.
"Ehh, ngapain..." Tiba-tiba aku yang deg-degan sekarang. Selama ini kita gak pernah terlalu deket secara fisik dan sekarang dia ngajak ngobrol pribadi. Iya ada rangkulan, pegangan tangan, tapi diruang public, belum pernah benar-benar berdua, karena kita baru seminggu jadian.
Dan beneran ini kesempatan pertama. Karena ke apartment dia pun walaupun udah pernah ya kita masih dalam batas temen. Sebenarnya aku belum terlalu terbiasa sama kedekatan dia, sama pegangan tangan dia. Masih suka kaget dan dia pun tahu itu.
"Gak ngapa-ngapain, curiga amat. Emang bisa diapain sih." Dia senyum-senyum sendiri ngeliat aku setenah panik. "Gak usah mikir macem-macem. Kalo pengen bilang aja..."
"Pengen apa!" Ngomongnya menjurus mulu.
"Pengen makan, pengen pulang, pengen minum...mana kutahu."
"Pengen pulang." Dia ketawa.
"Ntar dulu Yang, ntar dianterin pulang ini baru jam 7. Masih kepagian..."
"Jam 7 dibilang pagi, udah gelap kali. Ntar aku dicariin Emak." Aku masih mencoba membelokkan arah walaupun aku yakin dia gak terpengaruh. Gue lagi dicariin emak?! Alasan yang payah.
Dan mobil kita sudah sampai ke lobby hotel dalam sekejab mata.
"Ayo naik..." Dia meminta tanganku untuk digandeng. Aku memberanikan diri, kami teman yang menjadi kekasih mungkin ini akan sedikit canggung tapi itulah caranya menjadi lebih dekat. Menghilangkan kekakuan diantara kami.
Ken membuka pintu kamar dan aku masuk mengikutinya. Dan duduk di sofa yang ada di sana. Langsung mencari remote TV untuk menghilangkan kegugupanku sendiri sementara dia menaruh barang di meja. Entah bagaimana enam tahun ini berefek juga padaku. Aku jadi tak terbiasa dengan suasana romansa seperti ini, rasanya sangat canggung.
Ken duduk disampingku sementara mataku fokus ke televisi tak berani memandang ke dia. Dia merangkul bahuku dan membuat tubuhku menyender ke arahnya, sentuhan kulit kami lebih terasa karena dia hanya memakai kaus t-shirt pas badan yang tipis dan aku juga memakai bluose lengan pendek yang nyaman. Selama bertahun-tahun aku kebanyakan terbiasa melihatnya memakai kemeja, kali aku melihat dia dari sisinya yang lain.
Aku kaget karena dia seakrab itu dan bisa dibilang baru sekarang kami sedekat ini secara fisik dan mau tak mau aku menatapnya sekarang.
“Kenapa kaget gitu?”
“Engga...” Aku tersenyum canggung, kaget plus deg-degan dan merasa terlalu kaku menghadapi Ken.
“Kamu sejak di Jakarta beneran gak pernah punya pacar?”
“Engga, sibuk kerja. Ngejer senior associate secepatnya mumpung dikasih kesempatan.”
“Gak kesepian Kay?”
“Banyak temen kok, kamu kan juga sering nemenin aku disela-sela putus nyambung kamu yang gak jelas itu. Kamu menghibur kok...” Dia ketawa. “Putus nyarinya gue, berantem nyarinya gue. Ban serep gue kayanya, tapi gak pa-pa deh, bisa ngerasain jalan ama ban serep, jadi gue bisa pura-pura pamer cowo ganteng...” Aku ketawa dengan pengakuanku sendiri.
“Ya gimana, cocoknya ama kamu doang ternyata, kita jarang banget berantemkan.”
“Apa yang harus diberantemin.”
“Sama beberapa cewe, makan pun bikin gue kesel kadang. Ke restoran bukannya makan malah mesennya salad, orang pengen makan ngeliat dia makannya gak niat gitu bikin kesel kadang.”
“Ya orang dia lagi diet, kamu makan ya makan. Kenapa harus ngeliat orang lain makannya apa.”
“Kamu gak pernah diet Yang.”
“Kalo laper saya gak bisa mikir.” Dia nyengir mendengar jawabanku.
“Ken...”
“Hmm...”
“Apa kamu menuntut kesempurnaan... maksudku orang yang gak bercela.” Ken ngeliat ke aku dengan heran.
“Aku gak ngerti pertanyaan kamu.”
“Apa kamu menuntut keperawanan?” Alisnya langsung berkerut dan dia tertawa menanggapiku.
“Kamu pikir kita masih hidup di jaman Siti Nurbaya atau gue model tuan tanah gitu?”
“Aku bertanya karena ada yang begitu, aku pernah menghadapi perceraian dengan alasan awal itu, walaupun gak diakui di surat tuntutannya. Dan jika iya mungkin aku bukan orang yang tepat untukmu, plus jikapun aku masih ‘perawan’ akupun tak akan bisa hidup dengan orang yang menuntut itu sebagai syarat, seakan dia tidak mengangapku sebagai manusia, dan hanya mengangapku manusia jika aku suci...” Perkataanku keras, tapi itu adalah apa yang kuyakini, aku tak suka dihakimi dan tidak suka dinilai sebagai benda suci karena satu hal.
“Ayang, aku bukan orang suci. Tapi jika kamu jodohku, aku hanya ingin melakukannya dengan benar denganmu...”
Ken mengatakan semua itu dengan tenang dan untuk pertama kalinya kami bicara dengan memeluk pinggangku dan menatap mataku begitu dekat. Dan tanpa kusadari sekejab mata kumudian bibirnya menyentuh bibirku, dan aku tersentak menjauh karena terkejut dengan sentuhannya.
“Kamu... bikin kaget.” Aku memukul pelan dia, tapi Ken tak menjawabku. Sekali lagi dia maju dan kali ini dia memeluk pinggangku erat dan tak melepaskan ciumannya lagi. Aku terperangkap begitu saja dengan ciumannya sekarang, tanpa mampu beralih dan jantungku berdetak terlalu kencang kali ini, di saat yang sama telapak tanganku merasakan detakan jantungnya yang tampaknya tak jauh beda denganku.
“Ken,...” Mukaku panas saat matanya tak melepasku dengan mudah saat ciuman pertama kami berakhir, dan berujung dengan aku membenamkan diri di ceruk lehernya. Mencium parfumnya yang masih tersisa samar.
“Kay...”
“Hmm...” Dia membuatku mengangkat kepalaku dan menemukan matanya lagi. “Apa?”
“Jika enam bulan ini berakhir, jadilah istriku...” Dan aku hanya bisa mengangga mendengar permintaannya. Dia benar-benar serius soal ini.