Seperti boneka, Lilyana merasa hidupnya diperalat keluarganya untuk kepentingan bisnis. Diminta bertunangan dengan Dave demi bisnis lalu tiba-tiba diminta putus karena tunangannya dituduh berkhianat terhadap perusahaan keluarganya.
Lily merasa inferior karena kelainan jantung bawaan yang dideritanya. Sejak orang tuanya meninggal, ia bersusah payah dengan segala keterbatasannya membangun kepercayaan diri, memperjuangkan cintanya dan membebaskan sengketa warisan dan perebutan kekuasaan di perusahaan keluarganya.
Akankah keberuntungan selalu berpihak padanya? Apakah ia mampu mengembalikan kedamaian dan kejayaan keluarganya? Bagaimana pula akhir kisah cinta segitiganya dengan seorang arsitek yang romantis dan petani sukses yang penuh semangat?
JANGAN LUPA DUKUNG LILY DENGAN LIKE dan VOTE yaa 😍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan hadiah
Emak bergegas ke ruang tamu, bergabung dengan Lily, teh Uun dan beberapa tamu yang datang dengan membawa kado-kado. Ada 2 lelaki dan seorang perempuan muda berpenampilan sporty telah duduk dan berbincang-bincang dengan Lily.
“Ohya teman-teman, kenalkan ini ibunya kang Asep.” Lily segera memperkenalkan emak di hadapan kawan-kawannya begitu emak muncul di ruang tamu.
“Saya Siska.”
“Saya Adrian.”
“Saya Rosyid.”
Ketiganya orang perwakilan manajemen kafe itu memperkenalkan diri dan menyalami Emak satu per
satu. Emak menyambutnya dengan ramah. Tampaknya emak hanya ingin berbasa-basi
saja, selanjutnya ia kembali ke dapur. Apalagi yang dipikirkan emak-emak selain menyiapkan suguhan untuk para tamu. Meski sudah ada asisten, jiwa emak-emak selalu ingin menjadi penguasa dapur.
Lily mencoba mengusir rasa canggungnya. Ia masih merasa bersalah pada sahabatnya tentang pernikahannya dengan Asep meski Siska terlihat seperti baik-baik saja.
“Bagaimana kabar kafe ?”
“Semua aman terkendali, bos girl. Semua karyawan kafe titip salam, mengucapkan selamat atas
pernikahanmu. Semoga bahagia dan langgeng. Kami juga turut berduka cita atas meninggalnya pak Wirajaya Halim.” Siska terlihat mengucapkan kalimat itu tanpa beban. Tapi Lily tetap masih tak enak hati. Pernikahannya terlalu mendadak. Ia bahkan tak meminta pendapat pada sahabatnya atau mengundangnya datang ke
resepsi sederhana di resto itu. Padahal Siska sahabat terbaiknya dan ia tahu kalau sahabatnya itu menaruh hati pada orang yang kini telah resmi menjadi suaminya.
“Terima kasih doanya. Maaf kalau semua peristiwa yang tak terduga ini membuat kalian merasa tak dihargai, terutama kamu Siska. Aku juga masih bingung. Tiba-tiba pingsan, menikah, kehilangan ayah lalu tak sadarkan diri berhari-hari lamanya. Semua seperti di luar kendali. Maaf ya!”
”Kamu tidak bersalah. Tidak ada yang perlu dimaafkan Lily. Semua ini takdir. Kami semua berharap kamu kuat, lekas pulih dan bisa mimpin usaha kita lagi. Minggu ini kita kedatangan beberapa investor yang mau kerjasama untuk buat kafe serupa di Bandung, Malang dan Bukit tinggi. Sebagian bilang rekomendasi dari kang Asep dan yang lain tertarik karena melihat broadcast kamu di media sosial. Mereka baru datang untuk assessment sih, tapi kelihatannya semua antusias banget lho. Kalau sekiranya akan lanjut lebih serius dalam beberapa hari ini mereka akan menghubungi dirimu, boss girl.”
“Alhamdulillah ada yang tertarik kerjasama.”
“Mungkin rejekinya pengantin baru, mbak.” Rosyid yang sejak tadi diam ikut nyeletuk.
Lily tersenyum kecil. ”Mudah-mudahan rejeki kalian juga.”
Emak dan Dida muncul membawa teh, pisang rebus dan 2 toples kripik sebagai suguhan dan mempersilakan semua tamu mencicipinya. Sementara itu dalam waktu yang hampir bersamaan Asep muncul bersama keponakan- keponakannya yang tampak ceria. Di tangan anak-anak itu sudah ada mainan. "Aa dan adek semua main sama mamah dulu di atas ya. Mamang mau menemani tamu dulu.”
Teh Uun pun segera berdiri menghampiri anak-anaknya lalu membawa mereka semua ke lantai atas agar dapat bermain dengan lebih leluasa dan tidak mengganggu tamu adiknya.
Asep menyalami tamunya satu persatu dengan ramah. Mereka pun mengucapkan selamat pada
Asep.”Sudah lama ya? Punten, tadi saya keluar menemani keponakan cari mainan ke Botani Square. Sudah lama janji sama mereka. Kalau nggak langsung ditepati, suka ngambek lama sama mamangnya.”
Belum sempat ada yang merespon kata-kata Asep, seseorang datang mengucapkan salam di depan pintu. Mereka sama-sama menjawab salam lalu sama-sama terperanjat sejenak. Sebagian terpukau karena wajah tampan dan body atletis tamunya. Mungkin juga dengan potongan rambut ala artis korea dan segala apa yang dikenakannya. Dua pria
metroseksual itu adalah Dave dan Satya.
Sama sekali diluar dugaan Lily. Ia agak kaget melihat Dave dan Satya sudah berbaikan kembali. Bersyukur dua sahabat itu telah menuntaskan masalahnya tanpa harus melibatkan Lily. Asep
menyambut mereka dengan sangat ramah, “Wah, hari ini kita kedatangan tamu-tamu
istimewa. Masuklah, bro. Kebetulan ada ibuku, Siska dan anak-anak kafe juga.”
“Kalian harus coba kopi aku. Tapi …”
“Belum ada mesin kopinya ya, kang?” tebak Rosyid sebelum Asep menyelesaikan kalimatnya. Rosyid ini seorang bartender ahli di kafenya.
Asep tersenyum malu.
“Buka aja kado dari anak-anak kafe. Kami memberi hadiah oven listrik dan mesin kopi,” sambar
Siska kemudian.
Asep hampir melompat girang. “Waw, terima kasih. Kita bisa merawanin mesin kopi hadiah
anak-anak kafe nih. Ayo kita buka. Karena ada tamu spesial, aku boleh kan minta tolong kamu Rosyid racik espressonya. Kopinya juga masih baru datang beberapa jam lalu dari jampang. Oleh-oleh dari emak.”
“Siap, kang. Biasanya kalau mesin kopinya masih perawan dan kopinya masih perjaka rasanya lebih enak,” komentar Rosyid seenak udelnya. Spontan Siska melempar bantal sofa
ke wajah bartender koplak itu. Memang ternyata anak itu ngidam dilempar bantal kali yah.
Semua tertawa. Lily benar-benar bahagia hari ini.
Rosyid dan Siska langsung membongkar kado dari anak-anak Kafe. Sementara Dave dan Satya keluar. Sepertinya mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil. Mereka kembali dengan membawa dus besar bergambar TV dan home theater. Asep dan Adrian bergegas membantu mereka.
“Ini hadiah untuk kita juga?”
“Ya, spesial dari Dave. Smart TV, supaya Lily tidak ketinggalan nonton film komedi kalau pak Asep kabayannya sibuk kerja.” jawab Satya sambil tertawa.
“Wah terima kasih hadiahnya ya, Bro. Aku doakan semoga rejekinya tambah berlimpah dan cepat menyusul kami.” Asep menepuk pundak Dave dengan ramah seperti tak punya dosa.
Yang ditepuk hanya tersenyum. Masih ada sorot cemburu di ujung matanya.
Lily diam menunduk. Ia tak pernah punya kosa kata manis yang bisa mencairkan suasana. Semua serba canggung bertemu lagi dengan mantan tunangan. Kenapa sih Satya harus membawa Dave datang ke sini? Untunglah situasi di sini ramai, jika tidak ia pasti akan lebih canggung dari ini.
“Neng, kita dapat hadiah TV dari pangeran Dave. Mau diletakkan dimana? Biar nanti Akang dan
Adrian yang masang braketnya.”
Lily menunjuk salah satu dinding yang paling strategis buat menempelkan braket TV di ruang tamu itu. Sebenarnya belum terpikir bagaimana tata letak barang-barang di rumah mungil itu. Tapi kalau TV segera dipasang mungkin suasana rumah akan lebih menyenangkan.
Lily tidak menduga mereka akan menerima banyak hadiah untuk pernikahan mendadaknya ini. Kemarin sore ibu-ibu tetangga datang berkenalan sambil membawa kado satu set perlengkapan masak. Beberapa teman kuliah Asep juga datang membawa kado perlengkapan rumah seperti sprei, handuk, dan cover bed. Emak dan teh Uun sudah memesankan kulkas, mesin cuci dan aneka perlengkapan dapur dari toko langganan mereka. Peralatan rumahnya bahkan nyaris
lengkap dari hadiah-hadiah yang mereka berikan. Meski tidak mengadakan pesta, Lily senang mendapat hujan hadiah dari orang-orang terdekat yang menyayanginya. Mama benar, tak seharusnya ia merasa takut dan kesepian karena ia masih dikelilingi orang-orang yang tulus menyayanginya.
“Kami juga punya kado buat pengantin lo,” ujar Dida dan Gea tidak mau kalah.
Kedua asisten Lily itu membawa bungkusan pipih ukuran 100 x 120 cm. Rasanya semua bisa
menebak isi kado mereka. Pasti itu figura foto. “Maaf, kami tidak bisa kasih hadiah mahal seperti yang lainnya. Tapi mbak Lily dan kang Asep harus percaya
kami sayang dan setia pada kalian.”
Lily langsung memeluk asistennya itu satu per satu. Terharu. Mereka lah orang yang bersedia mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Mereka yang membantunya dalam hal
apapun. Mereka yang setia dan selalu mendukungnya dalam suka dan duka. Lily bahagia memiliki asisten seperti mereka. Tuhan begitu baik mengirimkan
orang-orang baik di sekelilingnya.
“Terima kasih, Dida,” katanya sambil memeluk Dida
“Terima kasih, mbak Gea ” kata Lily ketika memeluk Gea
“Aku sayang kalian berdua.” Lily merangkul keduanya dengan kedua tangannya.
“Boleh aku bantu buka hadiahnya?” Asep menawarkan diri membuka hadiah dari kedua asisten Lily itu.
Mereka mengangguk. Benar dugaannya, isinya adalah figura. Tapi sudah ada foto kanvas
di dalamnya. Rupanya Gea telah mengambil foto mereka secara candid saat makan siang di resto itu. Tak tampak seperti foto sepasang pengantin yang biasanya memakai pakaian dan perhiasan mewah dan dekorasi pelaminan yang indah. Semua serba sederhana. Bahkan senyum bahagia dan pose romantis pun tak tampak di foto itu. Mereka hanya berjalan beriringan seperti pasangan biasa. Asep tampak sedikit tersenyum menutupi keraguannya dan Lily tertunduk menahan rasa duka yang masih
menyelimuti hatinya saat itu. Yah, memang begitulah suasana sebenarnya. Tapi tidak masalah karena mereka menambah frame romantis dengan gambar siluet
sepasang kekasih yang mengikat janji di atas jembatan lengkung dengan ditambahkan tulisan “You and me forever”
Asep dan Lily saling berpandangan. Sama-sama sadar bahwa perasaan mereka saat itu tertangkap jelas di kamera hingga menghasilkan foto pernikahan yang tak biasa. Foto yang sangat natural. Tanpa ada senyum pura-pura yang direka-reka fotografer atau penata gaya.
“Yah, jelek ya? Sebaiknya besok mbak Lily dan kang Asep foto lagi dengan pakaian pengantin
lengkap dan dekorasi latar yang penuh bunga supaya foto pernikahannya lebih bagus.” Gea merasa bersalah. Sudah pasti
bukan foto seperti itu yang biasanya dicetak dalam figura foto pernikahan.
Lily tersenyum,“Tidak perlu. Ini bagus kok.”
“Benar, ini hadiah yang paling istimewa. Terima kasih ya, Gea Dida. Foto ini real, nggak ada penata gaya dan ekspresinya memang kita banget. Foto ini akan selalu mengingatkan bahwa kami punya sebuah pernikahan yang istimewa dan berbeda dari
yang lain. Out of the box lah pokoknya. Kita akan mengingatnya sampai mati kan, Neng?” Asep mengatakan itu sambil merangkul bahu Lily dan memperlihatkan senyum tengilnya di hadapan semua orang
Lily menggangguk. Semua tertawa. Tapi di balik itu Satya merasa miris, adik perempuan
satu-satunya memutuskan menikah hanya dalam hitungan jam dengan orang yang belum lama dikenalnya tanpa pesta yang layak. Lily bahkan menolak acara resepsi di hotel mewah yang digagasnya. Alhamdulillah hari ini, bersama orang-orang yang menyayanginya Satya melihat senyum bahagia adik perempuan satu-satunya itu. Setidaknya kebahagiaan kecil yang dilihatnya hari ini sedikit mengurangi rasa bersalahnya telah banyak mendominasi keputusan penting untuk adiknya. Lily telah bersama orang yang tepat. Lelaki sederhana yang demokratis namun teguh
memegang prinsip.
Dave menelan ludah. Hanya dia yang menerjemahkan foto itu dengan cara berbeda. Kasihan,
ekspresi Lily menunjukan jika gadis itu tidak bahagia. Dia tampak pucat dan menunduk sedih. Satu yang ia sesali saat ini, kenapa waktu tidak berpihak
kepadanya? Kenapa ia tidak ada saat keputusan penting itu harus diambil sedemikian cepat hingga Lily harus menikah dengan lelaki itu, bukan dengan Dave yang telah bertunangan dengannya sekian lama. Dave yang telah sekian lama berjuang meraih hatinya. Kenapa Dave harus bertemu justru beberapa jam setelah mereka menikah? Ahh… waktu terlalu konyol mempermainkan nasibnya.
wawasann kerennnn, mantapp
sayangg yg bacaa nya msih sdkittt..
smangat kaa..