PLAGIAT DILARANG MEREKAT!😈😈
INI REAL CERITA SAYA YAH💜
Hidup sendiri didunia ini rasanya begitu sesak, hampa dan hambar bagaikan sayur tanpa bumbu pelengkap.
Menikah dengan orang yang tidak dikenal dan tidak dicintai bukanlah hal yang salah, namun menyakitkan.
Setiap hari, jam, menit bahkan detik dia tidak menganggap kehadiranmu. Dia lebih memilih bersenang-senang bersama teman-teman dan terpuruk dalam masa lalu yang tidak mungkin bisa kembali.
Sakit?
yah sangat. melebihi luka jahitan. sakit berdarah memang sakit, namun lebih sakit jika sakit tanpa darah.
Rasanya seperti menjadi iron man?
no! bukan seperti menjadi iron man, but rasanya seperti ada ratusan belati tajam menusuk-nusuk hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
SELAMAT MEMBACA!
"Nyonya sudah baikan?" tanya Mbok Tini saat melihat Delima berjalan ke arahnya.
"Sudah mbok," jawab Delima tersenyum.
"Nyonya duduk saja biar saya yang menyiapkan makanan untuk nyonya," tutur Mbok Tini.
"Tidak usah mbok, biar saya saja," balas Delima.
"Biar saya saja nyonya, anda baru saja sembuh," kata Mbok Tini.
"Baiklah," kata Delima lalu mendudukkan tubuhnya pada kursi meja makan.
Mbok Tini kemudian menyajikan makanan untuk Delima.
"Silahkan nyonya," ucap Mbok Tini setelah selesai menyajikan semua makanan.
"Terima kasih mbok," balas Delima. "Mbok sudah makan?" tanya Delima sembari mengisi piringnya dengan nasi.
Mbok Tini mengangguk, "Sudah nyonya," jawab Mbok Tini.
"Nyonya saya pamit ke belakang dulu, mau nyiram bunga," pamit Mbok Tini.
"Iya mbok," balas Delima dan Mbok Tini pun berlalu menuju halaman belakang.
"Del!!" teriak Mama Isnah dari ruang tamu. Mama Isnah sudah kembali dari laur kota.
Delima yang hendak menyuapkan nasi masuk ke dalam mulutnya pun ia urungkan dan berlalu menuju ruang tamu untuk menyambut kepulangan kedua mertuanya itu.
"Mama!" ucap Delima dan Mama Isnah pun memeluk Delima.
"Apa kabar sayang?" tanya Mama Isnah.
"Baik mah," jawab Delima seraya tersenyum.
"Di mana papa mah?" tanya Delima kala tidak melihat keberadaan papa mertuanya.
"Papa masih di luar kota sayang. Papa mertuamu itu masih punya banyak urusan di sana," jelas Mama Isnah dengan mengerucutkan bibirnya.
"Lalu mama?" Delima mengernyit.
"Mama bosan di sana. Papa mertuamu itu selalu sibuk dan juga mama sudah merindukanmu dengan Erwin jadi mama minta pulang saja sama papamu," pungkas Mama Isnah dan Delima pun manggut-manggut mengerti.
"Apa Erwin ke kantor Del?" tanya Mama Isnah.
"Iya mah, mas Erwin ke kantor," jawab Delima.
"Lalu di mana Mbok Tini?" tanya Mama Isnah lagi.
"Saya di sini nyonya," sahut Mbok Tini dari arah pintu belakang rumah.
"Eh, dari mana mbok?" tanya Mama Isnah.
"Habis nyiramin bunga nyonya," jawab Mbok Tini tersenyum.
Mama Isnah hanya ber 'Oh' riah.
"Mah makan yuk! Delima tadi lagi makan siang ayo sekalian mah, kita makan bersama," ajak Delima.
"Oke, mbok tolong koper dan bawaan saya di bawa ke kamar tamu yah!" pinta Mama Isnah.
"Siap nyonya besar," balas Mbok Tini.
Delima dan Mama Isnah pun berjalan menuju meja makan.
"Erwin tidak pulang makan siang Del?" tanya Mama Isnah kemudian mendudukkan bokongnya.
"Tidak mah, mas Erwin lebih sering makan siang di kantor dari pada di rumah," jawab Delima tersenyum kaku.
"Setelah makan antarkan makan siang untuk suamimu! Biasakan dia makan makanan rumah, kita tidak tahu apa makanan yang ia makan itu bergizi dan sehat atau tidak," tukas Mama Isnah karena setiap kali suaminya tidak pulang ke rumah untuk makan siang pasti dialah yang membawakan makan siang ke kantor dengan alasan kalau makanan yang dimakan suaminya itu tidak sehat.
Delima nampak berpikir namun detik berikutnya ia pun mengangguk dan mengiyakan apa yang dikatakan mama mertuanya.
"Selamat makan," kata Mama Isnah.
"Selamat makan mah," balas Delima tersenyum lalu memakan makanannya begitu juga dengan Mama Isnah.
***
Setelah selesai makan siang dan bersiap, Delima pun berangkat ke perusahaan suaminya itu.
"Mah, Delima berangkat dulu yah," pamit Delima menyalimi Mama Isnah.
"Iya, hati-hati yah Del!" kata Mama Isnah dan Delima pun mengangguk.
Delima kemudian melangkahkan kakinya keluar rumah dan berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi.
"Ke mana neng?" tanya sopir taksi setelah Delima masuk ke dalam taksi.
"Ke perusahaan Diomond Grup pak," jawab Delima dan sopir itu pun mengangguk.
Sopir lalu mengemudikan taksi tersebut menuju tempat yang dikatakan Delima yang merupakan perusahaan Erwin.
Delima menyandarkan punggungnya lalu memfokuskan pandangannya pada jendela mobil melihat-lihat suasana siang hari di ibu kota.
"Apa Mas Erwin tidak akan marah? Aku datang ke perusahaannya tiba-tiba dan semua pegawainya tidak ada yang mengenaliku. Mereka tidak tahu kalau aku istrinya Mas Erwin lantas nanti apa yang harus kukatakan jika mereka bertanya?" gumam Delima.
"Tadi malam karena terlalu kecewa aku bahkan sampai marah entah apa yang dipikirkan oleh Mas Erwin tentangku semalam," lirih Delima menatap nanar ke luar jendela.
Taksi pun berhenti di depan perusahaan Erwin. "Sudah sampai neng," ucap pak sopir pada Delima yang terlihat melamun di jok belakang.
"Eh, iya pak. Ini uangnya," Delima tersadar dari lamunannya lalu memberikan uang pada pak sopir.
"Kembaliannya ambil saja pak terima kasih," tutur Delima lalu turun dari taksi.
Delima menatap bangunan yang sedikit tinggi itu lalu menghela napasnya kasar. Delima menatap lekat-lekat pintu utama perusahaan suaminya, dia ragu-ragu antara mau masuk dan tidak.
"Del, ayo masuk sebentar lagi waktu makan siang akan lewat," ucap Delima pada dirinya sendiri.
Delima pun melangkahkan kakinya memasuki perusahaan Erwin.
"Permisi mbak," sapa Delima pada resepsionis.
"Iya nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu.
"Saya mau tanya apa pak Erwin masih ada di ruangannya?" tanya Delima.
"Apa anda sudah ada janji temu dengan direktur?" tanya balik resepsionis.
"Tidak, tapi saya... saya... yah, saya pembantunya. Saya di suruh mamah, eh maksudnya nyonya Isnah buat antarkan makanan untuk Pak Erwin," jelas Delima gelagapan.
"Baiklah silahkan nona, Pak Erwin ada di ruangannya! Ada di lantai lima," jelas resepsionis memandang aneh pada Delima yang katanya pembantu namun berpakaian layaknya seorang nyonya muda.
"Terima kasih mbak," ucap Delima dan dijawab anggukan kepala oleh resepsionis dan Delima pun melangkahkan kakinya menuju lift.
***
Di dalam ruangannya, Erwin tidak sendirian dia sedang mengobrol bersama Tio yang sekaramg telah menjadi asisten pribadinya.
"Win, semalam lo dari mana sih? Gue cariin kok lo gak ada?" tanya Tio. Semalam ia memang menyusul Erwin namun dia kehilangan jejak.
"Memang lo cari gue di mana?" tanya Erwin menyelidik.
"Di mana lagi kalau bukan di tempat biasa. Gue kira karena depresi ketemu mantan lo jadi khilaf dan kembali di tongkrongan biasa kita dulu dengan anak-anak," pungkas Tio kikuk.
"Eh, gue udah tobat yah!" ketus Erwin.
"Lalu semalam lo di mana?" tanya Tio kepo.
"Gue semalam di club, tapi bukan clup yang biasa," jawab Erwin menekankan kata biasa.
"Memang lo masih cinta sama Arumi?" selidik Tio memicingkan matanya. "Kasihan tahu semalam si Delima lo tinggal," tambah Erwin.
"Memangnya semalam elo yang antar Delima pulang?" tanya Erwin.
"Gak, semalam gue mau antar dia tapi ditolak dan malah nyuruh gue nyusul elo," jelas Tio. "Katanya dia gpp dan bakal pulang naik taksi yaudah gue tinggal deh," lanjut Tio.
"Oh," singkat Erwin.
"Win, lo masih cinta atau enggak sama si Arumi terus si Delima lo anggap apa? Gue kira lo udah cinta sama Delima karena lo yang dulunya gak perhatian jadi perhatian dan yang dulunya gak mau bawa Delima keluar rumah atau memperkenalkan Delima sebagai istri lo malah lo gandeng semalam ke acaranya Tuan Arnold, aneh lo," cerocos Tio sambil mencibir Erwin.
"Gue memang masih cinta sama Arumi dan sama Delima? Lo pikir gue cinta sama dia... hahaha... enggak. Gue cuma pura-pura karena gue ada perjanjian sama nyokap. Kalau dalam waktu satu bulan gue masih belum bisa mencintai Deliman gue diizinkan untuk menceraikannya asal jangan nyakitin dia lagi, yaudah deh gue drama aja dikit," jelas Erwin panjang kali lebar membuat Tio menelan salivanya susah payah.
Deg!
Bagai dihantam batu besar, dada Delima begitu sesak mendengar sendiri fakta dari mulut Erwin. Delima mengadahkan wajahnya menatap pelapon untuk menahan agar air matanya tidak jatuh.
Sakit? Ya, sangat sakit. Delima kembali tersakiti. Sunggu konyol, dia kembali di permainkan oleh takdir dan juga suaminya sendiri.
"Gila! Lo bisa-bisanya yah mempermainkan hati Delima," Tio geleng-geleng tidak percaya.
"Guekan udah pernah bilang kalau sampai kapanpun gue gak akan mencintai wanita murahan itu," sinis Erwin tanpa perasaan.
"Awas nanti lo terjebak sendiri oleh permainan yang lo cipatain sendiri," ujar Tio tersenyum miring.
Delima mengehela napasnya dengan kasar lalu melap air mata yang sempat menetes membasahi pipinya kemudian membuka pintu ruangan suaminya.
Ceklek!
"Delima!" kaget Erwin dan Tio.
***
Hai-hai gimana nih bab kali ini?... wkwkwk
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vite yah😗 Terima kasih☺
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘