"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35. permasalahan terjadi
Sementara getaran di tanah perlahan mereda, Leon masih berdiri terpaku di antara ketiga sahabatnya di dunia cerita. Meski perasaan waspada mulai menyelimuti, rasa bahagia karena bisa kembali dengan wujud aslinya tetap mendominasi hatinya. Ia merasakan angin yang berhembus menyentuh kulitnya, mendengar suara aliran sungai yang jernih, dan melihat wajah-wajah yang sangat ia rindukan berdiri tepat di hadapannya semua terasa nyata, bukan lagi sekadar bayangan.
“aku benar-benar ada di sini,” ucapnya sambil menatap telapak tangannya sendiri, lalu menoleh ke arah Liora dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.
Zarek segera menepuk bahunya dengan keras, tawa riangnya memecah keheningan yang sempat terjadi. “Tentu saja kamu ada di sini! Kami sudah merasakan kehadiran kamu sejak pintu itu mulai terbuka. Energinya hangat dan akrab, persis seperti yang kami kenal.”
Namun Valgus menggeleng pelan, matanya masih menatap ke arah hutan tempat cahaya abu-abu itu muncul. “Tapi ada yang lain. Selain energi kamu yang tulus, ada satu lagi yang datang bersamaan. Rasanya kasar, dingin, dan dipenuhi keinginan yang tidak sehat. Ia tidak datang dengan kerendahan hati, melainkan dengan paksaan.”
Liora melangkah mendekat, wajahnya tampak khawatir namun tetap tenang. “Dunia ini tercipta dari imajinasi dan perasaan kamu, Leon. Ia bisa menerima siapa saja yang datang dengan hati yang tulus, tapi ia akan menolak dan terganggu oleh mereka yang hanya ingin mengambil alih atau menguasai. Kehadiran orang asing ini sudah mulai mengganggu keseimbangan alam. Kalau dibiarkan, hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi.”
Leon mengerutkan kening, pikirannya langsung tertuju pada teman-temannya di dunia nyata. Ia teringat penjelasan Reza tentang cara masuk, namun leon langsung menepis pikiran buruknya. batinnya, ngga mungkin mereka yang masuk ke dunia gue sedangkan mereka ngga tau tulisan di akhir buku gue.
Di tempat lain, tepatnya di dunia nyata, suasana terasa jauh lebih tenang namun dipenuhi rasa penasaran. Dimas dan Raka sedang duduk di teras rumah Dimas, membicarakan apa yang mereka alami dan dengar belakangan ini.
“Jujur saja, Dim, rasanya sulit dipercaya,” kata Raka sambil menggaruk kepalanya. “Dunia lain yang bisa dimasuki lewat buku tulisan? Menurut logika akal sehat, itu mustahil banget.”
Dimas mengangguk setuju, namun tidak sepenuhnya yakin. “Iya, gue juga berpikir begitu. Tapi kalau dilihat dari apa yang dialami Leon, bangun setelah lima tahun koma, ingatannya utuh, dan perubahannya yang begitu besar dan ada hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan ilmu kedokteran biasa.”
Raka terdiam sejenak, lalu menatap temannya dengan pandangan serius. “Mungkin… mungkin Leon memang benar-benar hidup di dunia lain selama ini. Meskipun menurut akal manusia itu mustahil, bukan berarti hal seperti itu tidak ada sama sekali, kan?”
Belum sempat Dimas menjawab, ponsel di meja berdering. Raka segera mengangkatnya, dan seketika wajahnya berubah pucat. Ia mendengarkan dengan saksama, lalu menutup telepon dengan napas memburu.
“Ada masalah besar, Dim,” ucapnya tergesa. “Tadi kabar dari kenalan lo di kantor polisi. Pak Hartono ternyata tidak tinggal diam. Ia berhasil memutarbalikkan fakta. Ia menyebarkan bukti palsu, menyogok beberapa saksi, dan menyatakan bahwa Reza dipaksa memberikan keterangan, serta dokumen yang diserahkan adalah rekayasa untuk memerasnya. Kasusnya kini berubah arah, dan Leon serta keluarganya justru mulai terlihat sebagai pihak yang bersalah.”
Dimas langsung berdiri dari duduknya, wajahnya memerah karena marah. “Dasar pak tua licik! Dia benar-benar tidak punya hati. Kita harus segera ke rumah Leon, memberitahu orang tuanya sebelum kabar ini menyebar lebih jauh.”
Mereka berdua segera bergegas menuju rumah Leon. Sesampainya di sana, mereka menemukan Pak Indra dan Bu Ina sedang duduk santai, namun langsung terkejut melihat wajah cemas kedua pemuda itu.
“Pak, Bu, kami ada kabar penting dan buruk,” ucap Dimas tanpa berlama-lama. “Kita harus bicara sekarang juga.”
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/