Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Album Foto
Arinta berusaha mati-matian untuk tidak bertanya pada Miza tentang album foto yang baru saja ia temukan. Hingga detik di mana Arinta sudah bersiap tidur, ia belum juga mendapatkan petunjuk apa pun dari ingatannya. Jalan satu-satunya, ia harus bertanya pada sang kakak.
"Huh!" Arinta menghela napas, lalu memutuskan turun ke dapur untuk mengambil minum. Setidaknya, segelas air bisa membuatnya lebih tenang.
Langkah kakinya terhenti ketika ia menemukan Miza sedang berkutat dengan berkas-berkas di meja makan.
"Harus banget ya, makan sambil kerja?" tanya Arinta, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Ucapan Arinta tidak digubris sama sekali. Akhirnya, ia memutuskan duduk di sebelah sang kakak sambil fokus pada gelasnya sendiri.
"Kenapa belum tidur?" tanya Miza, matanya masih tertuju pada berkas.
"Nggak bisa tidur."
"Ria sakit dari seminggu yang lalu. Perusahaan Papa nggak ada yang urus. Mana ngabarinnya mendadak banget," jelas Miza tanpa diminta.
"Oh? Sakit apa?" tanya Arinta.
"Tipes."
"Wah. Parah dong. Terus gimana? Dirawat? Kok kita nggak ngejenguk?"
Kali ini, Miza benar-benar mengangkat kepala dan menatap Arinta. "Kamu udah inget sama kakakmu yang satu itu? Hebat ya? Sama orang yang hampir nggak pernah ditemuin bisa langsung inget. Giliran sama abang yang ketemu tiap hari malah loading dulu."
"Maksudnya?" Arinta bingung.
"Waktu habis kecelakaan, dokter bilang kamu amnesia. Kamu bahkan nggak kenal sama abang. Oh iya, abang belum tahu perkembangan ingatan kamu. Gimana? Udah pulih?"
Arinta ragu untuk menjawab.
"Amat sangat nggak mungkin kalau abang nggak ngerasain perubahan kamu. Abang udah belasan tahun kenal kamu, dari kamu kecil." Miza kembali fokus pada berkas yang sempat ia tinggalkan. "Amnesia nggak bakal ngerubah karakter seseorang, apalagi kebiasaan. Soalnya, kebiasaan yang berulang kali dilakukan pasti bakal jadi refleks otak."
Kehadiran Arinta di sini sepertinya mulai dicurigai. Ia bisa merasakan aura sungkan dari cara Miza memperlakukannya dalam beberapa hari terakhir.
"Oh, abang paham kok. Mungkin kamu cuma masih syok."
Setelah beberapa menit keheningan menyelimuti, Arinta akhirnya bersuara.
"Kita itu lima bersaudara? Bang Miza, Bang Rio, Teh Ria, Arinta. Satu lagi siapa? Kok di album ada lima?" tanyanya dengan sedikit keberanian.
Miza memandang Arinta dengan raut wajah terkejut yang berusaha disembunyikan.
"Albumnya masih ada?"
Arinta mengangguk ragu.
"Masih ada. Emang kenapa?"
Miza mengerutkan kening mendengar jawabannya.
"Katamu udah dibakar?"
"Dibakar?" Arinta mengulang.
"Jadi kamu bohong waktu itu? Pas abang nanya album di mana, kamu bilang udah dibakar."
"Dibakar… Dibakar..." Arinta mengulang kata itu hingga satu kejadian muncul di ingatannya.
"Ta? Buka pintunya! Abang mau ngomong!"
Arinta masih bergelung di kasurnya. Tubuh kecilnya menggigil akibat demam tinggi. Ia memeluk sebuah album yang terbuka pada bagian foto keluarga mereka saat masih lengkap.
Kepergian saudara kembarnya, Mahanta, masih menjadi luka basah. Ditambah kepergian Mama dan Papa yang menyusul sebulan setelahnya. Hari itu, Arinta juga harus merasakan kehilangan keberadaan kakaknya yang amat dekat dengannya, Mario. Setelah itu, Maria, saudara kembar Mario, juga ikut pergi. Mario dan Maria bukan meninggal, tapi pergi dari rumah, kabur lah istilahnya. Entah apa alasan mereka pergi, Arinta kecil tidak mengetahuinya. Yang ia tahu hanyalah, ia ditinggalkan, tidak disayang, dibuang. Hanya ada Miza dengan segala kesibukannya.
"Maha... Arinta sendiri disini. Biasanya Maha bakal peluk Arinta kalau Arinta sakit. Sekarang Maha nggak ada, Arinta harus peluk diri Arinta sendiri," ucap bocah sebelas tahun itu dalam tangisnya.
"Arinta... Buka, ya? Kita makan, ya? Dari pagi Arinta belum makan, loh."
Mendengar suara Miza yang terus menggedor pintu, Arinta mau tak mau bangkit. Ia meninggalkan album foto itu di bawah selimut.
"Ya ampun, Arinta?!" Miza panik melihat mata sembab dan tubuh adiknya yang terasa sangat panas.
"Kenapa nggak bilang kalau sakit?!"
"Tadi Arinta udah manggil abang, tapi abang lagi belajar, katanya," jawab Arinta lirih.
Miza terlihat bersalah, tapi kata "maaf" tidak terdengar dari bibirnya.
"Arinta sekarang makan dulu, habis itu minum obat, ya?"
Miza membawakan makanan ke kamar Arinta, karena adiknya tetap keras kepala tidak mau turun ke bawah.
"Nanti obatnya diminum, ya? Abang mau ke kamar sebentar, nanti abang ke sini lagi," ucap Miza sambil beranjak pergi tanpa menunggu persetujuan.
Arinta menatap punggung kakaknya dengan tatapan sulit diartikan—ada kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan.
"Oh iya, album foto masih Arinta simpen, kan? Abang aja yang simpen, biar aman," ucap Miza sambil berbalik.
Arinta terdiam sesaat. Ia tidak mau memberikan album itu pada Miza. Album itu satu-satunya teman yang bisa mengobati rindunya pada keluarga. Kalau Miza yang menyimpan, Arinta tidak akan bisa mengambilnya lagi.
"Udah Arinta bakar!" jawabnya akhirnya.
Miza terkejut. Ia hampir meledak, tapi melihat kondisi Arinta yang tidak baik-baik saja, ia terpaksa menahan amarahnya.
"As- Ah, udahlah," ucapnya singkat namun penuh emosi.
Piring yang Arinta pegang terlepas begitu saja. Piring berisi nasi dan lauk itu pecah, menggambarkan betapa hancurnya perasaan gadis itu.
Arinta kembali tersedu di atas kasur, memeluk album tadi. Ia merasa Miza benar-benar berbeda dengan Mario dan Maha yang selalu perhatian. Bagaimana dengan Maria? Saudara kembar Mario itu sama saja dengan Miza—cuek. Bahkan, Maria lebih terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Arinta.
Arinta sesenggukan di tempat, seakan benar-benar baru saja mengalami kejadian itu.
"Kenapa? Kok malah nangis?" tanya Miza, sedikit khawatir.
"Kenapa mereka semua pergi ninggalin Arinta?!" tanya Arinta di sela-sela sesenggukannya.
Miza menggeser kursinya lebih dekat. Ia menatap Arinta sambil mengusap kepala adiknya dengan lembut.
"Kenapa? Siapa?" tanyanya pelan.
"Maha..." Arinta menjawab dengan suara bergetar.
Miza mengerti situasi itu, jadi ia memilih diam, memberi ruang bagi Arinta untuk menenangkan diri.
"Kenapa mereka pergi?! Kenapa Arinta baru inget sekarang?! Kenapa nggak sebelum ketemu Bang Rio?!" Arinta menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Miza dengan sigap menahan tangan kecil itu. Meskipun Arinta berontak, kekuatannya tidak cukup besar untuk melawan, hingga ia hanya bisa terdiam pasrah sambil menangis.
"Abang tahu kan kenapa mereka pergi? Abang tahu kan kenapa Bang Rio pergi?! Kenapa abang biarin? Abang nggak sayang sama Arinta! Abang nggak berusaha apa pun waktu mereka pergi! Abang biarin Arinta sendirian! Abang nggak peduli sama Arinta! Nggak ada yang peduli sama Arinta!!" Arinta meluapkan amarahnya tepat di depan wajah Miza. Emosi yang besar membuat suara Arinta bergetar penuh rasa sakit.
Miza menatap Arinta dengan mata yang sedikit memerah. Napasnya dalam dan pelan sebelum ia berkata, "Abang salah... Abang minta maaf."
"Telat!! Maaf nggak akan bisa ngebalikin Bang Rio ke rumah ini! Maaf nggak bisa bikin Arinta nggak kesepian lagi! Maaf nggak akan bikin semuanya lebih baik!" Arinta membentak, tangisnya pecah semakin hebat.
"Abang egois! Pantes semua orang pergi! Kalau bisa pun, Arinta mau pergi dari sini!"
"Arinta..." panggil Miza lembut. Ia menarik napas panjang, lalu menunduk sejenak. "Maaf."
***