"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
“Itu bukannya cowok yang tinggal di lantai atas ya?” tanya penghuni apartemen
ketika melihat Alex membawa seorang wanita ke sini.
“Biasa kalau ada cewek datang buat ketemu sama
tuh cowok, pasti sama dia langsung diusir. Kaya minggu kemarin, ada cewek
datang ke kamar dia, tahunya langsung diusir sama dia.”
“Iya, tumben banget dia bawa cewek.
Dengar-dengar sih katanya dia Gay! Tapi kok bisa ya dia bawa cewek ke sini?”
Itulah desas-desus yang diterima oleh Alex, penghuni apartemen ini selalu
menganggap bahwa Alex adalah pelaku laki-laki tidak normal. Mendengar dirinya
disebut oleh Gay, Alex tidak ambil pusing. Ia tidak peduli dengan gosip murahan
yang sudah beredar ke mana-mana, jika ia menanggapi desas-desus bahwa dia Gay.
Itu artinya dia benar-benar seorang Gay.
"Ayo masuk,” ucap Alex, membuka pintu
apartemennya untukku. Dengan perasaan ragu, akhirnya aku masuk ke dalam.
“Assalamualaikum,” salamku ketika memasuki
rumah orang, saat aku sudah masuk ke
dalam. Ternyata di dalam sini begitu luas, bahkan barang-barang yang ada di
sini semua tertata dengan rapi. Beda sekali dengan kamarku, yang selalu
berantakan.
“Kamu mau minum apa?”
“Hah! Hoh, enggak usah Kak, saya enggak haus
kok.” Aku kembali melihat-melihat isi apartemennya, di sini banyak sekali
barang-barang elektronik mewah. Aku begitu kagum dengan barang-barang yang ada
di sini.
Aku yang tengah sibuk memperhatikan
barang-barang, tiba-tiba tubuhku ditarik oleh Alex. Dalam sekejap ia memeluk
tubuhku.
“Ya, Allah! Apa-apaan ini? Lepas!” aku terus
memberontak agar dia melepaskan pelukannya dari tubuhku, ya Allah. Tolong
hambamu ini, aku takut. Bahkan aku bisa merasakan pelukan dia semakin erat.
“Kak Alex!” bentakku.
“Maaf,” lirihnya, “maaf kalau saya melakukan
hal ini, saya hanya ingin peluk kamu. Saya tahu hal ini tidak boleh dilakukan,
tapi entah kenapa tubuh ini tidak bisa berhenti untuk peluk kamu,” ucapnya, aku
terus saja memberontak agar bisa lepas. Hal seperti ini tidak boleh terjadi.
“Tolong, diamlah sebentar saja,” pintanya, ia
semakin erat memelukku. Aku tidak tahu jalan pikiran dia seperti ini, kenapa
dia bisa melakukan hal ini padaku. Ini pertama kalinya aku dipeluk oleh seorang
pria dewasa, entah kenapa. Rasanya sedikit nyaman, tapi aku sadar hal seperti
ini tidak boleh terjadi jika tidak ada perikatan secara sah, yaitu menikah.
Perlahan ia melepaskan pelukannya, ia terus
menatap wajahku dengan sendu. Dan sedikit tersenyum.
"Sekali lagi saya minta maaf, saya tahu,
bahwa perbuatan saya ini termasuk tidak pelecehan. Tapi percayalah, saya tidak
ada maksud untuk melakukan ini tanpa alasan. Yuri, saya suka sama kamu.” Mendengar
penjelasan kak Alex, seketika mataku membulat sempurna. Jantungku berdegup
dengan kencang. Apa aku tidak salah dengar? Dia bilang, suka sama aku?
"Ma-maksud Kak Alex??" aku sengaja menanyakan hal itu. Karena aku
ingin mendengarkan perkataan kak Alex sekali lagi.
"Saya suka sama kamu, saya cinta kamu.
Apa sudah cukup? Dari dulu sampai sekarang, rasa cinta dan sayang saya
sama kamu. Tidak pernah berkurang
sedikit pun. Saya terus memperhatikan kamu.
Sebenarnya, pas kelulusan sekolah itu. Saya mau menyatakan perasaan saya sama
kamu, tapi saya takut. Saya takut kamu akan menolak cinta saya, itulah
sebabnya. Saya bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang yang banyak,
agar suatu hari nanti kita berdua akan bertemu. dan kita berdua akan menikah." Aku terperangah
mendengar pengakuannya, aku tidak mengira bahwa dia akan menyatakan cintanya
padaku. Aku masih belum percaya dengan semua ini, aku yakin sekali bahwa ini semua adalah mimpi.
Aku mencoba mencubit pipiku, “aww!” eluhku,
ternyata ini bukan mimpi, ini benar-benar nyata.
“Kenapa kamu cubit pipi kamu?” Tiba-tiba saja
ia mengusap lembut pipiku, spontan aku langsung menghindar. Aku tidak ingin
disentuh olehnya, terlebih kita berdua tidak ada ikatan sah.
“Maaf.” aku menundukkan pandanganku ke bawah,
aku tidak tahu lagi harus berkata apa padanya. Sebenarnya, perasaanku
terhadapnya masih ada, aku senang sekali, bahwa dia masih mencintaiku sampai
sekarang. Aku tidak menyangka bahwa orang yang dulu aku sukai, ternyata masih
mencintai diriku. Akuberpikir bahwa kak Alex sudah tidak menyukai diriku lagi, karena sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu kak
Alex.
“Aku cemburu dengan Adi, atas kamu.”
“Hah?”
“Saya enggak suka sikap Adi ke kamu,
seakan-akan kamu adalah milik dia. Saat tahu dia beda keyakinan sama kamu, saya
seperti mempunyai harapan besar. Saya masih ada kesempatan untuk memiliki kamu
seutuhnya.”
Ya, Allah. Kenapa juga dia bilang terus terang
kaya begini sama aku, kalau terus-terusan kaya begini. Bisa-bisa aku pingsan
saking malunya di depan dia.
“Kak, to-tolong jangan berkata jujur seperti
itu sama saya. Sa-saya malu,” ucapku pelan, aku merasa wajahku sudah merah
seperti udang rebus.
“Kamu malu ya?” Ia terus saja menggodaku,
bahkan wajahnya saja terlalu dekat denganku. Aku baru tahu, ternyata sikap dia
bisa seperti ini juga.
“Yuri,” panggilnya, aku langsung melihat ke
arahnya dan
Cup
Ia mencium pipiku. Saking kagetnya aku tidak
bisa bergerak sedikit pun, kenapa? Kenapa dia menciumku. Seharusnya dia tahu,
hal seperti ini tidak boleh ia lakukan. Tapi kenapa dia-
“Yuri, jika ada waktu. Saya mau ke rumah orang
tua kamu, saya akan melamar kamu dan menikah, saya berharap kamu bisa menjadi
istri sekaligus seorang Ibu dari anak-anak saya kelak.”
“Me-menikah?” ucapku terkejut.
“Iya, saya berharap. Kamu mau menikah dengan
saya.”
Selesai dari apartemen, kak Alex langsung
membawaku kembali ke tempat kerjaku. Ucapan kak Alex masih terbayang-bayang dalam otakku, selama aku hidup. Belum pernah
memikirkan untuk menikah.