Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saputangan
Moza mengambil satu helai tisu dan mengelap kening Aditya yang basah.
"Nggak usah biar aku saja."
Aditya mengambil tisu dari tangan Moza dan mengelap sendiri keningnya.
"Dit rencana lihat proyek yang di Yogya itu jadinya kapan?"
"Aku belum bisa tentukan, kemungkinan setelah acara ulang tahun Wirrbel saja."
"Oke kalau gitu, aku tunggu kabar kamu selanjutnya."
Aditya membuang tisu di atas piring yang sudah bersih tak bersisa.
"Oya Dit, kamu masih ingat nggak sama Dodo?" Seraya mengeluarkan ponselnya.
"Dodo yang mana?"
"Dodo yang satu kelas sama kita, yang gemuk itu loh... yang ini nih." Moza memperlihatkan foto yang ada di ponselnya.
"Oh yang ini, memangnya kenapa?"
"Di grup sekolah, dia ngundang kita semua buat datang ke acara anniversarynya, besok malam. Kita datang yuk, sekalian reunian juga katanya, pasti seru deh."
"Memangnya dia tinggal dimana?"
"Disini, di Surabaya. Istrinya kan asli orang sini."
Sejenak Aditya berpikir," Lihat nanti saja deh, soalnya akhir-akhir ini aku sibuk banget."
"Diusahakan dong, masa temen-temen kita yang di Jakarta pada mau datang kita yang deket nggak datang sih."
"Aku usahain."
"Harus dong, nanti kita bisa pergi sama-sama."
Aditya tidak menjawab lagi.
"Oya Dit, nomor kamu aku masukin ke grup ya, temen-temen pada nanyain kamu loh."
"Terserah kamu aja."
"Oke aku masukin sekarang ya, mereka pasti nggak bakalan percaya deh kalau itu bener nomor kamu."
Moza mengotak-ngatik ponselnya, dan seketika itu juga pesan grup langsung ramai, saling berebut masuk.
"Serius ini nomor Aditya?"
"Palingan ini cuma prank."
"Sengaja dia mah."
"Ketemu kita timpukin."
"Nggak pak PF, pasti boong nih."
"Halu dia."
"Moza kemana lu, malah ngelelep."
"Moza keluar dong lo...perifikasi"
Moza tertawa puas, menggeser duduknya lebih dekat dengan Aditya.
"Baca deh, bener kan mereka pada nggak percaya."
Aditya membaca sekilas dan tersenyum. Teman-teman SMA yang tidak berubah, selalu ceplas ceplos, bicara apa adanya.
"Kita foto berdua ya, mereka pasti heboh deh liat kita foto bareng."
Tanpa menunggu persetujuan Aditya, Moza mengalengkan tangan dengan dagu yang disimpan di bahu Aditya. Cekreeek....
"Ih bagus.... Aku kirimin ya."
Grup langsung ramai kembali.
"Woi kalian lagi dimana?"
"Beneran ini Aditya."
"Nggak ngajak-ngajak kita."
"Gimana kabar lo Dit?"
"Dit, gue kangen sama lo."
"Pasangan sejoli nih."
"Serasi brother."
"Langsung ditikung aja nih, Za."
"Pepet terus."
"Makin ganteng aja lu Dit."
"Kita reuni di acara Kang Mas Dodo ya."
"Iya Dit datang ke acara ku ya."
"Wajib."
Moza memasukan ponselnya kembali, memilih diam tak memberikan komentar, sengaja ingin membuat semua temannya semakin penasaran.
"Dit pulang kantor kamu mau kemana?"
"Nggak kemana-mana, kerjaan aku masih banyak, kayaknya lembur "
"Emmmh...kalau gitu aku pulang ya, maaf udah ganggu waktu kamu."
"Tidak apa-apa."
"Next kita makan siang bareng lagi ya?"
Aditya hanya mengangguk.
Setelah kepergian Moza, Aditya kembali berjibaku dengan pekerjaannya yang tertunda. Namun suara ketukan di pintu, membuat konsentrasi yang baru saja akan dimulai, kembali buyar.
"Masuk."
"Permisi Pak, ini berkas yang Bapak minta tadi pagi, saya sudah membuat copyannya dan memberikannya ke Divisi pemasaran."
"Iya terima kasih."
"Dan ini ada titipan dari Mbak Adila untuk Bapak." Nita memberikan paperbag kecil itu kepada Aditya.
Aditya menerima paperbag itu dan melihat isinya.
"Tadi Mbak Adila sudah kesini, diam didepan pintu, tapi nggak jadi masuk karena Bapak sedang makan siang dengan Ibu Moza, jadi itu dititipkan kepada saya."
"Kenapa kamu tidak menyuruh dia masuk saja?"
"Saya sudah menawarkan tapi Mbak Adila menolak, mungkin tidak ingin menganggu waktu Bapak dengan Ibu Moza."
Jadi Adila melihat aku dengan Moza... apa mungkin dia menyangka kalau aku dan Moza...
"Ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" Tanya Nita yang mendapati Aditya hanya diam tidak menyuruhnya keluar ataupun yang lainnya.
"Tidak, kamu boleh pergi."
"Baik Pak."
Aditya mengambil saputangan itu," Nita..."
Nita yang baru beberapa langkah kembali berbalik.
"Ya Pak?"
"Emm... apa setelah itu Adila tidak bilang apa-apa lagi?"
Nita mengeryit tidak paham.
"Maksud saya, apa dia bilang mau kemana atau yang lainnya mungkin?"
"Tidak Pak, hanya Mbak Adila bilang mau langaung ke aula karena hari ini jadwal melatih karyawan yang akan mengikuti lomba peragaan busana."
Aditya mengangguk," Ya sudah."
"Baik Pak, permisi."
Tanpa mengulur waktu lagi, Aditya menutup semua file dimejanya, berdiri dan keluar dari ruangan, kemudian berhenti sejenak di mejanya Nita.
"Nit, latihan catwalk itu mulainya jam berapa?"
"Jam pulang kantor Pak, kebetulan juga saya..."
Tanpa basa basi lagi Aditya langsung berjalan menuju lift tanpa menunggu Nita menyelesaikan perkataannya.
"Lok kok malah pergi, bukannya tadi nanya... orang belum beres ngomong juga, heeem... emang jadi Sultan mah bebas."
Sampai diddepan aula, Aditya langsung masuk. Namun sayangnya dia berbenturan dengan seseorang. Ia langsung menangkap tubuh wanita yang hendak jatuh dengan tangan kekarnya. Tabrakan di pintu masuk yang lumayan keras karena langkah keduanya yang sama-sama tergesa.
Pandangan mereka bertemu. Wajah yang berjarak beberapa senti saja membuat helaan nafas mereka terasa hangat menggelitik kulit.
Adila....
Pak Aditya....
"Aaah... ya ampyuuun mata ek ternodai."
Suara cempreng Moly membuat mereka berdua tersadar.
Dengan cepat Adila melepaskan pegangan tangannya dari dada Aditya. Memperbaiki cara berdiri yang miring karena akan terjatuh.
"Maaf Pak, aku tidak sengaja."
"Saya yang harusnya minta maaf."
"Ih...ih...ih... kok jadi salting beginong, gara-gara ada ek yup... coba nggak ada ek, bisa jadi Rahul and Anjeli tuh... Tumpaseae.... yumus kurae... Tumena janekya, kuch kuch hota hai..." Moly terkikik geli.
Adila menginjak kaki Moky dengan mata melotot.
"Aduh... atit Nek."
"Makannya diem, jangan cuap-cuap mulu...berisik."
Moly memonyongkan bibirnya, cemberut. Namun kembali tersenyum saat melihat Aditya.
"Ih ngemeng-ngemeng Pak Aditya mau apose kesinong, kangen sama ek yup?" Tanya Moly sambil menyimpan tangannya dibibir, malu-malu kucing.
Adila melihat paperbag ditangan Aditya, dan ia tahu paperbag itu adalah paperbag yang tadi dia bawa.
Aditya melihat Adila,"Saya mau bicara dengan...."
"Aditya..."
Panggilan seseorang membuat ketiganya menoleh, Moza. Ia berjalan menghampiri mereka.
"Kamu dipanggilin dari tadi nggak denger-denger, terpaksa deh aku susul kesini, jalan kamu cepet banget." Moza melirik wanita disamping Aditya,".... eh ada Adila juga, sedang apa disini?"
Adila sedikit mengulas senyum," Mau ngelatih catwalk." Jawabnya singkat.
"Oh buat acara ulang tahun nanti ya... jadi kamu yang ngelatihnya, ih hebat."
"Bukannya tadi kamu udah pulang, Za?" Sela Aditya.
Moza menarik matanya kembali melihat Aditya," Tadi sampai di parkiran aku balik lagi, ada yang lupa aku kasih ke kamu."
"Apa?"
"Nih... makasih ya udah mau pinjemin."
Aditya menerima saputangan yang terbungkus plastik bening yang diulurkan Moza.
"Udah aku cuci kok, wangi." Tuturnya lagi.
Sesak yang kedua kali, Adila membuang wajahnya kesembarang arah.
Dasar playboy.... berapa ratus sih dia punya saputangan
"Maaf aku permisi, yuk Mol..." Adila menarik tangan Moly.
"Kemana Nek?"
"Lu kan tadi ngajak gue ke kantin mau ngopi-ngopi." Seraya mengedip-ngedipkan matanya.
"Iyup gitu?"
Adila memelototi Moly lebih tajam dari tadi.
"Oh iyup-iyup... yuk mari."
"Kami permisi."
"Bye Pak Aditya seyeeeng..." Moly melambaikan jari-jarinya centil.
Dengan langkah lebar, Adila menarik tangan Moly dengan keras.
"Aduh Nek slow dung... ek kan nggak bisa jalan syantik."
Adila diam tidak merespon apapun.
"You kesambet ye?"
"Iya."
"Kesambet apose?"
"Kesambet setan saputangan."
Kening Moly berkerut," Emang ada ding?"
"Ada."
"Dimanose?"
"Tadi deket lu."
Moly merapatkan tubuhnya pada Adila,"Jangan bilang kalau tuh setan ngikutin ek..."
"Itu di belakang lo."
"Adilaaaa..." Jerit Moly.