Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.
Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.
Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.
Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 - Kesalahpahaman
"Arion, kesini! Jangan pergi!"
Mendengar teriakkan Vian yang menyadari kedatangan Arion, sontak semua orang yang berada di kantin langsung menoleh ke arah pintu kantin, terkecuali Sheril.
Sementara Arion dan Sheril sama-sama terdiam kaku di tempat, merutuki teriakkan Vian dalam hati karena mereka berdua sedang sama-sama menghindari satu sama lain.
Vian sialan.
Sheril melayangkan tatapan membunuh yang diabaikan oleh Vian. Melihat Arion melangkahkan kakinya mendekat, Sheril berjanji dalam hati akan membalas kelakuan ajaib Vian hari ini. Meskipun sudah tiga bulan tidak bertegur sapa, degup jantung Sheril masih berdebar kencang ketika melihat Arion.
"Sini, Yon, duduk," Vian menepuk bangku kosong sebelahnya, menyuruh Arion duduk di sebelah sana.
Meskipun merasa canggung, mau tak mau Arion mengikuti perintah Vian. Sementara Sheril berusaha sok sibuk dengan kegiatan mengerok punggung Gara. Melampiaskan kejengkelannya terhadap Vian, Sheril mengerok punggung Gara dengan kencang.
"ANJING YA LU SHERIL! PELAN-PELAN GOBLOK! SAKIT WOY!" teriak Gara penuh emosi. Akibatnya, Sheril tak bisa menahan tawanya karena Gara.
Peka terhadap lingkungan, Andre memyelutuk. "Lo berdua lagi ada masalah rumah tangga ya? Tumben lo gak banyak bacot ke Arion, Sher,"
Refleks gerakan tangan Sheril yang sedang mengerok berhenti, hanya perlu satu detik untuk Gara menyadari jika ada sesuatu yang tak beres dengan Sheril dan Arion.
"Apaan sih lo Ndre, gak jelas." Elak Sheril.
"Hubungan kalian renggang?"
"Ngedukun dimana lo?"
"Arion nolak lo lagi, Sher?"
"Dukun lo di bayar berapa?"
"Arion enggak bales cinta lo ya?"
"Dukun lo makan duit?"
"Arion tiba-tiba ngejauhin lo lagi ya Sher?"
"Kesambet setan mana lo? Mulut lo perlu gue sumpel pake kaos kaki?" Suasana hati Sheril memburuk ketika ditanyai hal yang sama sekali sedang tidak ingin Sheril bahas.
Sheril meletakkan uang logam di atas meja kantin, sebab ia sudah selesai memgerokki punggung Gara. "Dari pada lo interogasi gue, kenapa lo gak tanya langsung orangnya aja?" Sheril menunjuk Arion menggunakan dagunya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Sheril segera pergi dari kantin, meninggalkan Gara dengan punggung belang beserta teman-temannya.
Sontak seluruh orang yang ada di kantin menatap Arion penuh tanda tanya, yang di tatap mengedikkan bahunya acuh. "I can't tell you guys right now, sorry, that's my privacy. Maybe I will tell you at next year?" Arion tersenyum tipis lalu pergi keluar kantin sebelum di serang oleh berbagai macam pertanyaan lainnya.
Selagi yang lain sedang memikirkan perkataan Arion, sedangkan Gara menunjukkan punggungnya kepada Aidan.
"Dan, punggung gue yang dikerokin merah kagak?"
"Merah banget! Coba liat di grup angkatan,"
"Grup angkatan? ABIS LO SAMA GUE HABIS INI AIDAN!"
🌞🌞🌞
Setelah mengembalikan cicak ke dinding yang sehabis ia korbankan untuk membalas perbuatan Aidan yang telah menyebarkan poto punggung Gara belang merah sehabis kerokan, perhatian Gara teralihkan ke lantai. Ada kodok yang sedang loncat-loncat di samping tembok. Sepertinya semesta sedang mendukungnya hari ini untuk membuat kehebohan.
Tanpa merasa takut atau geli, Gara mengambil kodok itu dengan cara menarik kakinya. Ia berjalan menyusuri koridor sekolah, mencari tempat yang pas untuk mendaratkan si kodok.
Gara semakin merasa bersemangat melihat kelas yang sedang ramai di jam istirahat seperti ini. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang begitu penting.
Gara melirik tulisan yang berada di depan pintu, tertulis bahwa itu adalah kelas XII IPS 2, tidak memandang senioritas di sekolah, Gara langsung melemparkan kodok itu ke dalam melalui celah pentilasi udara.
Gara semakin merasa puas saat mendengar suara jeritan dari dalam kelas, sontak Gara langsung kabur dari tempat kejadian perkara, masa bodoh jika ia nanti akan di hajar oleh kakak kelasnya.
Senyuman Gara memudar melihat Arion dan Adena sedang berbincang di ujung tangga. Gara tidak pernah tahu jika Arion dan Adena seakrab ini. Secara yang Gara tahu adalah Arion tidak mudah untuk akrab dengan orang.
Gara terpelonjak kaget saat bahunya tiba-tiba di tepuk oleh Rangga.
"Kaget *****,"
Rangga hanya tersenyum tanpa dosa. Cowok itu juga ikut memperhatikan interaksi antara Adena dan Arion.
"Ngeliatin siapa sih lo? Serius amat perasaan," Rangga ikut memperhatikan apa yang sedang Gara perhatikan.
"Oh, Adena Arion," sahut Rangga seakan cowok itu sudah tahu apa yang terjadi antara Adena dan Arion.
Hanya Rangga dan Andre yang mengetahui jika ada masa lalu di antara Gara dan Adena. Sementara teman-teman Gara lainnya hanya sekadar mengetahui jika Gara menyukai Adena, jadi mereka sudah tidak heran lagi melihat Gara yang sedang mengejar atau mengganggu Adena.
"Oh? Adena Arion? Lo gak kaget?" Gara memicingkan matanya menatap Rangga.
Yang merasa di tatap hanya mengangguk santai menjawab pertanyaan Gara. "Ngapain gue kaget, emang sejak kita masih kelas X, Arion suka ngobrol sama Adena, kelihatan akrab mereka." Jelasnya.
Mendengar penjelasan Rangga, refleks, Gara menarik kerah baju Rangga. "Kenapa lo gak ngomong ke gue?"
Rangga mengedikkan bahunya tak acuh, "selagi gak ada apa-apa di antara mereka gue rasa hal itu gak perlu ngomongin ke elo. Kalau gue ngomong padahal di antara mereka gak ada apa-apa, sama aja gue cari masalah dan berimbas ke pertemanan kita--lo, gue, Arion--jadi berantakan,"
Gara mendengus, melepaskan tangannya dari kerah baju Rangga dengan sekali hentakan. Tidak menyangka jika sudah seakrab itu antara Arion dan Adena, parahnya lagi Gara tidak mengetahui hal itu.
Rangga benar, jika Gara menghajar Arion habis-habisan pun hal itu malah semakin memperburuk keadaan. Bukan hanya berdampak pada hubungan pertemanan Gara, melainkan juga berdampak pada hubungan Gara dan Adena.
Sudahlah, daripada mengganggu, Gara akhirnya memilih untuk pergi dari tempat yang sudah membuat suasana hatinya memburuk. "Ya udah, gue duluan ya." Pamitnya kepada Rangga kemudian melenggang pergi.
Sekarang, di sinilah Gara berada. Kantin sekolah, tempat tongkrongan paling ramai, hari ini Gara duduk sendirian sambil menyantap hidangan bakso.
Radinka masuk ke kantin bersama Sheril, keduanya adalah gadis periang yang Gara ketahui bahwa mereka berteman dekat dengan Adena. Sudah beberapa kali juga Gara menanyakan tentang Adena kepada mereka, padahal Gara sudah mengenal Adena selama hidupnya.
Pengunjung kantin lainnya juga sebenarnya sedikit heran, kenapa Gara tampak sendirian jam istirahat kali ini. Paling tidak, biasanya Gara akan bersama teman-temannya. Siapa lagi jika bukan Arion, Andre, Vian, Rangga atau Aidan.
Arion sibuk dengan Adena, Andre sibuk dengan Fara, Aidan sibuk dengan pacar barunya si Carly, Vian dan Rangga entah menghilang kemana.
"Jomlo, tumben amat sendirian,"
Gara melihat sepasang kaki berdiri di samping mejanya, kemudian ia mendongakkan kepala. Ternyata itu adalah suara Radinka.
"Gak usah belagu, jomlo kok ngatain jomlo," skeptis Gara.
Tanpa izin terlebih dahulu, Radinka langsung duduk di hadapan Gara, mau tak mau Sheril juga membuntuti Radinka dan duduk di sebelah cewek itu.
"Gar, lihat Arion gak?" Meskipun sudah tidak ada komunikasi selama lebih dari 3 bulan, Sheril tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
Mendengar nama Arion di sebutkan, tanpa sadar Gara mendengus.
"Enggak." Jawab Gara singkat.
Gara, Sheril dan Radinka menghela napas secara bersamaan. Nafsu makan mereka menghilang secara serempak.
"Arion emang susah di tebak, kita ga bakal tahu apa yang ada di kepala Arion," Radinka menyuarakan pemikirannya. Gara dan Sheril sangat menyetujui pendapat Radinka.
"Gue bosen banget. Gar, lo masih punya petasan enggak?"
🌞🌞🌞
Tersenyuk licik, Gara menyalakan korek api. Di tempelkan api itu ke sumbu petasan, dengan cepat ia melempar petasan ke tempat dimana murid pada berkumpul di sisi koridor, seperti sedang membahas sesuatu yang penting. Namun keseriusan mereka sayangnya harus berakhir dengan jeritan ketika petasan berbunyi di antara mereka.
Gara tertawa sangat kencang, di susul dengan tawa Radinka dan Sheril seakan senang melihat penderitaan teman-teman serta adik kelasnya itu.
Punya teman kayak Gara emang bawaannya pingin di katain kasar terus. Untung saja sosok Gara hanya ada satu, coba kalau Gara ada banyak, mungkin Gara sudah di depak dari bumi! Ketentraman bumi bisa terancam kalau ada makhluk macam Gara bertebaran di mana-mana.
"GARA *****! DASAR LO COWOK KURANG AJAR!" Amuk salah satu gadis yang berjarak 10 meter dari tempat Gara berdiri.
Gara kembali memasangkan petasan dan melemparkannya ke lapangan dimana banyak yang sedang bermain bola di sana. Gara tertawa melihat keterkejutan teman-temannya, bahkan gadis yang semulanya ingin menyumpah serapahi Gara lebih lanjut menjadi ikut tertawa melihat penderitaan yang terjadi di lapangan.
Kericuhan semakin terjadi hanya karena sebuah petasan, tak sedikit juga orang yang mengumpati aksi Gara. Tanpa perlu pikir panjang mereka sangat tahu jika ini adalah ulah Gara karena kejadian seperti ini bukanlah pertama atau kedua kalinya terjadi di sekolah ini.
"Gara anjing!"
"Gara goblok!"
"Eh goblok, gue kaget ***!"
Dan masih banyak lagi umpatan yang Gara terima, lelaki itu tidak merasa tersinggung dengan semua umpatan teman-temannya melainkan semakin tertawa senang, mendengar umpatan yang dituju kepadanya berhasil membuat suasana hati Gara yang tadinya sedang tidak baik kembali menjadi baik, meskipun harus melalui cara melihat penderitaan teman-temannya karena ulah usil Gara.
Dulu sewaktu masih kelas X, waktu pertama kali Gara memasang petasan di koridor saat hari ujian tengah semester, ia mendapat gamparan dari gurunya. Untung saja guru itu sudah lengser ketika Gara naik kelas XI, jadi Gara tidak akan mendapati gamparan dan tidak akan pernah kapok hanya untuk menyalakan petasan di sekolah.
Sheril semakin bersemangat. "Pasang lagi Gar,"
Gara terkekeh, menyodorkan salah satu petasan kepada Sheril. "Lo mau pasang?"
Sheril menggeleng, "enggak, gue gak berani mangkannya gue suruh lo."
Gara tertawa melihat tingkah Sheril, "gue ngerti maksud lo. Mau di arahin kemana?"
Bukan Sheril yang menjawab, kini Radinka yang memberi usulan, ia menunjuklan sekumpulan gadis yang sedang mengerubuni seorang adik kelas. Rupanya gank para gadis berstylist itu sedang melabrak adik kelas. "Temen lo noh yang lagi labrak anak orang,"
"Paten itu," Gara melemparkan petasan ke arah yang di tunjuk oleh Radinka.
Semua yang berada di sana menjerit terkejut, di antara mereka ada yang meringis kesakitan karena terkena api petasan. Radinka, Gara dan Sheril tertawa bersama meskipun bercanda mereka sudah kelewatan.
Radinka menyodorkan telapak tangannya, dengan senang hati di sambut tosan oleh Gara hal itu juga Radinka lakukan hal yang sama kepada Sheril.
Tanpa mereka sadari, Adena dan Arion sedang berjalan tepat di belakang mereka bertiga. Adena sedikit heran melihat keakraban sahabatnya--Radinka dan Sheril--dengan Gara.
Tidak hanya Adena, Arion juga menjadi penasaran melihat keakraban yang terjadi di antara Sheril dan Gara.
"Mereka akrab?"
Pertanyaan itu secara kompak mereka--Adena dan Arion--lontarkan.
udh nunggu lama bgt 😭