"Tolong lepaskan saya!" seru gadis cantik itu saat tubuhnya di seret menuju ke kamar yang sangat ingin dia hindari, salah rasanya dia telah menerima tawaran dari teman nya karena dia sangat butuh uang sekali.
"KAU! BISA DIAM ATAU TIDAK, ATAU KAU INGIN AKU PENGGAL DI SINI JUGA KEPALAMU!" teriak pemuda tampan namun sangat mematikan itu, bahkan wanita yang tadi di bentak oleh pria itu langsung diam dengan tubuh bergetar hebat.
"Tolong lepaskan saya tuan." seru gadis itu memohon.
"ck kau lupa bahwa aku sudah membeli mu dengan harga mahal." seru pria itu.
"Akan saya ganti tuan, tapi mohon lepaskan saya."
"Aku tidak butuh uang mu, karena mulai sekarang kau akan menjadi pemuas dan j*lang ku." bisik pria itu dengan begitu tegas dan dinginnya yang terdengar sangat menyeramkan.
Bagaimana kelanjutannya??
kepoin ceritanya yaaa!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27_Pergi
Mikaila pun turun ke bawah, saat baru turun dari lift dia mendengar sayup-sayup Dave sedang berbicara dengan Lani dokter di mansion.
"Bos apakah bos tidak takut Mikaila akan hamil, selama ini bos sama Mikaila melakukan hubungan suami istri tanpa pengaman apapun?" tanya Lani saat mereka sedang menunggu Mikaila.
Semua orang berada di sana sangat serius mendengar pertanyaan dari Lani yang memang sudah beberapa kali menjadi pembicaraan mereka.
"Terus?" tanya Dave yang masih santai dengan masih berkutat dengan iPad di tangannya.
"Mikaila masih sangat subuh bos untuk dibuahi dan ku rasa bos juga harus mulai memikirkan kalau Mikaila hamil nantinya, akan ada keturunan Antonius di sana." jawab lagi mencoba menggiring pemikiran Dave gar lebih terbuka jika suatu saat nanti kemungkinan itu terjadi.
"Kau tahu sendiri bukan aku paling tidak suka dan anti dengan anak kecil." tegas Dave membuat tubuh Mikaila mematung di tempat.
Niat awal ingin memberitahukan soal kehamilannya namun dia malah mendengar pernyataan yang begitu menyakitkan.
Mikaila pun kembali ke kamar untuk menenangkan hatinya, tidak mungkin dia dengan perasaan yang begitu berantakan tetap di sana.
"Tapi jika itu adalah anak ku, maka akan aku jaga dia karena dia adalah keturunan keluarga Antonius, bagaimana pun itu adalah darah daging ku." ucap Dave namun sayang sekali Mikaila tidak berada di sana mendengar ucapan selanjutnya dari Dave.
"Kenapa lama sekali dia?" gerutu Dave karena sudah menunggu mikaila cukup lama.
Tak lama Mikaila datang dengan wajah yang dia paksa bahagia, bohong jika dia sedih karena ucapan Dave tadi tapi dia juga harus sadar diri kalau posisi nya memang hanyalah sementara dan kapan pun bisa di depan dari sana.
"Maaf aku telat, tadi ada sedikit urusan di kamar mandi." ucap mikaila meminta maaf karena menunggu dirinya semua nya belum sarapan.
Setelah itu mereka semua makan dengan khidmat seperti tidak terjadi apa-apa, dalam pikirannya mikaila sedang gelisah bagaimana dia bisa mempertahankan sang anak jika sang ayah nya saja tidak menginginkan kehadiran nya.
Setelah selesai sarapan Dave dan pada anak buah nya pun pergi untuk bekerja meninggalkan Mikaila sendiri.
"Aku pergi, jangan lupa untuk makan karena mungkin aku akan pulang malam, nanti Tara dan Jonathan akan pulang lebih awal." ucap Dave berpamitan kepada Mikaila.
"Kamu hati-hati ya." ucap mikaila.
"Hm."
"Dave bolehkah aku mencium mu sebentar?" ijin Mikaila.
'Dasar anaknya ini memang tahu saja kalau papa nya menawan.' gumamnya dalam hati.
Dave merasa ada yang aneh dengan Mikaila namun tak khayal dia tetap mengikuti permintaan dari mikaila, Dave pun mencium bibir Mikaila dengan melumat nya sebentar, apakah boleh Mikaila menyimpan memori ini sebagai salam perpisahan.
Setelah itu Dave pun mencium sekilas kening mikaila kemudian pergi dari sana.
"Aku pergi." pamit nya.
Sekarang tinggallah Mikaila sendiri dengan Lani dan juga para maid, dia sudah memutuskan untuk pergi dari sini dia tidak ingin mempertaruhkan kehidupan bayinya biarlah dia yang kesusahan nanti.
"Sayang maafin mama ya." gumamnya sambil mengelus perut nya yang masih rata.
"Lani aku mau ke kamar aja ya capek banget, kamu jangan bangunin aku ya mungkin sore nanti aku baru turun." ucap mikaila mementingkan Lani.
"Apa perlu aku periksa?" tawar Lani.
"Gak usah aku cuma butuh istirahat aja kok." jawab Mikaila.
Siang harinya dia mencari waktu yang pas untuk kabur dari mansion ini, bagaimana pun mikaila harus mempertimbangkan banyak aspek jika ingin kabur karena mansion ini di jaga 24 jam.
Mikaila berjalan dengan pelan dengan bersembunyi di bagian-bagian yang menurutnya aman, sesekali dia akan berhenti dan bersembunyi saat ada pengawal atau maid yang lewat.
Hingga dia berada di pintu belakang yang jarang sekali di lalui orang, dia mengendap-endap hingga akhirnya bis keluar dari mansion tersebut.
Jangan lupa perjuangan Mikaila belum berakhir karena dia harus melewati hutan belantara yang memang sengaja berada di sana untuk menutupi mansion besar tersebut.
"Tuhan selamatkan aku dan juga anak ku." gumam mikaila sambil terus menelusuri jalanan hutan tersebut.
Entah sudah berapa lama mikaila berjalan hingga dia mendengar suara deru mobil yang menandakan dia sudah dekat dengan jalan raya.
Melihat jalan raya di depan mata Mikaila pun melambaikan tangannya mencari tumpangan untuk menjauh terlebih dahulu dari area tersebut.
"Nona!" panggil seseorang membuat Mikaila terkejut dan langsung melihat ke sumber suara.
"Bi Siti!" seru Mikaila terkejut karena melihat bi Siti.
"Nona kenapa bisa ada di sini? Mari nona kita kembali." ucap bi Siti begitu khawatir.
"Bi aku mohon bantu aku keluar dari sini bi, aku gak mau di sini!" pinta Mikaila dengan air mata yang sudah mengalir.
Bi Siti yang melihat raut wajah iba dari mikaila pun akhirnya menyetujui membawa mikaila pergi dari sana dan membawanya ke rumah petak sederhana.
"Maaf nona rumah nya jelek tidak seperti di mansion." ucap bi Siti dengan nada tidak enak.
"Aku yang harusnya terima kasih bi karena sudah bantu aku pergi dari sana." lirih mikaila.
"Ada apa sebenarnya nona, kenapa nona malah kabur seperti ini? Bagaimana nanti kalau tuan tahu hal ini?!" tanya bi Siti.
"Bi sebenarnya aku pergi dari sana karena ak... Aku se.... dang hamil bi." lirih mikaila kembali membuat air matanya jatuh.
"Nona ini kabar baik, tuan harus tahu akan hal tersebut." seru bi Siti.
"Bi aku mohon untuk tidak kasih kabar ini ke Dave." lirihnya lagi dengan air mata yang terus mengalir.
"Kenapa?" sebuah pertanyaan yang lumrah sekali.
"Karena Dave tidak menginginkan seorang anak bi, aku gak mau anak ku dipermasalahkan jadi aku akan bawa anak ku pergi bi agar tidak akan yang di rugikan." seru mikaila dengan panjangnya ucapannya tadi.
"Tapi nona..." ucapan bi Siti terpotong karena mikaila sudah berbicara terlebih dahulu.
"Bi aku mohon untuk anak aku tolong bantu aku." lirih mikaila dengan air mata yang sudah deras keluar.
Bi Siti begitu iba sekali dengan wanita cantik di depannya itu, dengan berat hati akhirnya bi Siti pun menyetujui nya.
"Baik lah akan bibi bantu, nona sekarang tanggung jawab bibi, bibi janji akan membantu nona." seru bi Siti yang sudah menganggap Mikaila sebagai anaknya sendiri.
"Terima kasih bi." ucap Mikaila berterima kasih kepada bi Siti karena sudah membantu dirinya
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa follow akun author, favorit kan cerita ini, vote, like, komen dan gift nya juga boleh biar tambah semangat buat nulis nihhh....
Ditunggu ulasan dan bintang 5 nya yaaa
FOLLOW IG AUTHOR : @LALA_SYALALA13
Mantap 🌹🌹🌹🌹
Terus berkarya dan sehat selalu ✌️