Tak sedikit perempuan di luar sana setuju dengan istilah bahwa orang ketiga itu adalah perusak, perebut, atau mungkin penghancur.
Banyak dari mereka berkata, bahwa yang berstatus istri kedua itu tidak selalu memiliki "image" buruk.
Ada beberapa alasan mengapa seorang perempuan memutuskan untuk berada di tengah-tengah pasangan yang menikah, bisa jadi karena paksaan, desakan, keserakahan, atau mungkin salah satunya balas jasa.
Itulah yang dialami oleh Rissa, ia harus merelakan kebahagiaanya demi membalas sebuah jasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Ambarini (Mrs.IA), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Rissa
Rissa masih terdiam di tempatnya, ia sekilas melirik suaminya yang masih tertidur di sampingnya.
Rissa tak percaya, malam itu Dion akan melakukan kewajibannya.
Meskipun Rissa tahu, Dion melakukan itu mungkin hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami. Ia juga tak berharap lebih dari suaminya, Rissa tak ingin membiarkan hatinya kembali kecewa.
Rissa terperanjat, ketika suaminya menggeliat. Dion yang sekilas melihat tingkah Rissa, menyelipkan senyum tipisnya.
"Selamat pagi," ucap Dion.
Rissa membulatkan matanya, ia tengah terkejut merasakan sentuhan tangan Dion pada puncak kepalanya.
Rissa bangun dari tempatnya, dengan cepat ia membalutkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Rissa segera berjalan menuju kamar mandi, ia benar-benar malu bertatap muka dengan Dion saat ini.
Dion tertawa kecil, entah kenapa ia menyukai tingkah istrinya yang tengah merasa malu.
"Sa, jangan lama mandinya." Dion berteriak. Ia pun beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar Rissa.
***
Selesai membersihkan tubuhnya, Rissa segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Pagi, Bi." Rissa menyapa Bi Ai yang telah lebih dulu berada di dapur.
"Eh, pagi juga, Non." Bi Ai membalas.
"Panggil Rissa saja, Bi. Tidak usah pake Non," pinta Rissa.
"Tapi, Non. Mana mungkin Bibi manggil nama langsung," sahut Bi Ai dengan tidak enak.
"Tidak apa-apa, aku tidak suka di panggil, Non." Rissa bersikukuh.
Bi Ai sejenak terdiam, lalu ia menganggukkan kepalanya dengan ragu.
"Nah, gitu dong, Bi." Rissa tampak senang. Bukan ia tak ingin di perlakukan bak majikan di rumah suaminya, namun ia lebih bercermin diri. Rissa dan Melati memang istri Dion, namun Rissa tahu dimana posisinya. Ia tak bisa di samakan dengan Melati, dan ia juga tak ingin merebut posisi Melati di rumah suaminya.
"Oh iya, Sa. Semalam kalian sudah tidur satu kamar?" Tanya Bi Ai seraya menggoda.
Pipi Rissa mendadak berubah warna, ia memalingkan wajahnya menahan malu.
"Alhamdulillah, selamat kalau gitu, Sa. Semoga ini jadi awal yang baik untuk kamu dan Den Dion," ucap Bi Ai.
Rissa tersenyum, sebenarnya itu juga menjadi harapannya saat ini.
Namun, ia menepis angan indah bersama Dion demi tidak lami merasakan kecewa.
Selesai memasak sarapan, Rissa dan Bi Ai segera menatanya di atas meja makan.
Rissa mengedarkan pandangannya, hendak mencari Dion untuk mengajaknya sarapan.
"Bi, aku cari Mas Dion dulu, yah." Rissa berlalu meninggalkan Bi Ai.
Rissa berjalan menaiki anak tangga, hendak menyusul suaminya.
Rissa dengan perlahan mengetuk pintu kamar suaminya, lalu memanggil Dion untuk keluar dari kamarnya.
"Mas, sarapan sudah siap." Rissa berkata dengan hati-hati. Sejujurnya ia masih malu untuk bertemu suaminya, kejadian semalam membuatnya benar-benar tak memiliki keberanian untuk sekedar berpapasan dengan Dion.
Dion membuka pintu kamarnya, dan yang membuat Rissa tertegun adalah senyuman Dion yang menyambutnya dengan manis.
"Kita sarapan bersama," ucap Dion sembari menggandeng tangan Rissa.
Rissa tak dapat berkutik, ia hanya mengikuti langkah kaki suaminya dengan perasaan gugup.
Dion dan Rissa kini sudah berada di meja makan, dengan cepat Rissa mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Sa, hari ini aku tidak ke cafe. Aku mau jemput Melati," ucap Dion sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Oh, iya, Mas. Hati-hati saja di jalannya," sahut Rissa.
Dion menganggukkan kepalanya," kamu mau ikut?" Tanyanya.
Rissa sekilas melirik, "emm, tidak, Mas. Aku di rumah saja," jawab Rissa.
"Ya sudah kalau begitu. Oh iya soal semalam aku minta maaf kalau sudah membuatmu terkejut," ucap Dion.
Rissa tersedak, ia tak menyangka Dion akan membahas kejadian semalam.
Dion segera menyodorkan minuman kepada istrinya, ia juga menepuk pelan punggung Rissa.
"Hati-hati makannya," ucap Dion.
Rissa meneguk minuman pemberian suaminya, "ah, iya makasih, Mas."
"Soal semalam, tidak usah minta maaf." Rissa menambahkan.
Dion menganggukkan kepalanya, "aku lega sekarang, setidaknya aku sudah menjalankan kewajibanku sebagai suami. Tapi maaf sampai saat ini aku tidak tahu perasaanku padamu," ujar Dion. Ia tengah berusaha untuk terbuka pada Rissa, ia juga tak ingin membuat istrinya salah paham tentang sikapnya.
Rissa tersenyum miris, ia paham betul apa yang di katakan suaminya.
"Tidak apa, aku mengerti. Lagipula, pernikahan kita hanya di dasari untuk memiliki seorang anak, bukan untuk saling jatuh cinta dan menjalani kehidupan rumah tangga seperti sewajarnya."
Dion terdiam, ia juga bukan tidak berusaha membuka hati untuk Rissa. Namun, sampai saat ini ia tak tahu bagaimana perasaanya pada istri keduanya itu.
***
"Aku berangkat sekarang," ucap Dion.
Rissa mengiyakan, lalu Dion berpamitan untuk pergi menemui Melati.
Rissa masih memandangi mobil suaminya, ia selalu mendo'akan yang terbaik untuk Dion.
"Tidak usah kamu ucapkan, aku sudah tahu perasaanmu, Mas. Sampai kapanpun aku tidak akan ada arti apa-apa untukmu," ucap Rissa dalam batinnya.
Dion melajukan kendaraanya dengan cepat, ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Melati.
"Aku harus membawa Melati pulang hari ini juga," gumam Dion.
Di rumah seharian, membuat Rissa sedikit merasa jenuh. Terlebih, tak ada kesibukkan apapun yang ia kerjakan.
Rissa selalu menghabiskan waktunya dengan membaca buku, atau sekedar berbincang dengan Bi Ai.
Rissa menoleh ketika mendengar suara ketukan dari pintu, ia berniat untuk mencari tahu siapa yang bertamu ke rumah suaminya.
Langkah Rissa terhenti ketika melihat Bi Ai yang lebih dulu membuka pintu, Rissa yang berniat untuk membuka pintu mengurungkan niatnya ketika ia merasakan mulas di perutnya.
Rissa berlari kecil menuju kamar mandi, dan ia membiarkan Bi Ai untuk menemui tamu tersebut.
"Cari siapa, Mas?" Tanya Bi Ai.
"Maaf, aku cari Rissa." Seseorang itu ternyata ialah Dokter Radit.
Bi Ai sejenak memperhatikan Dokter Radit, "sepertinya dia laki-laki baik. Apa dia temannya Non Rissa?" Gumam Bi Ai.
"Oh tunggu sebentar, Mas. Bibi panggilkan Non Rissa dulu," ucap Bi Ai.
"Tunggu, Bi." Dokter Radit menghentikan langkah Bi Ai yang hendak masuk mencari Rissa.
"Kenapa, Mas?" Tanya Bi Ai.
"Maaf tadi Bibi bilang mau panggilkan dulu Non Rissa? Kenapa Rissa di panggil Non? Bukannya dia pekerja di rumah ini," ujar Dokter Radit.
"Oh, bukan, Mas. Non Rissa bukan pekerja disini." Bi Ai menjawab apa adanya.
Dokter Radit mengerutkan keningnya, ia tengah bertanya-tanya maksud perkataan Bi Ai.
"Bi, siapa yang mengetuk pintu?" Tanya Rissa sembari berjalan menuju Bi Ai.
Rissa menatap sosok yang kini berada di ambang pintu, ia juga merasa terkejut atas kedatangan Dokter Radit.
"Dokter Radit, ada keperluan apa datang kemari?" Tanya Rissa.
Dokter Radit menatap Rissa penuh tanya, ia sangat penasaran siapa Rissa sebenarnya.
"Hay, Non Rissa." Dokter Radit menekankan kalimatnya.
Rissa terdiam, kenapa bisa Dokter Radit memanggilnya seperti itu. Apa Dokter Radit mengetahui siapa ia sebenarnya.
"Kenapa dia memanggilku seperti itu? Apa dia tahu semuanya..."