Terjebak di antara dua pilihan yg sulit, antara kakak beradik yg dua duanya ada di hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisha A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 27 Menginap dirumah Rendi & Juan
Sinar matahari pagi kembali menyapa, hari ini aku kembali berkutat dengan aktivitas kerjaan ku seperti biasa, namun hari ini aku lebih santai karena pelanggan yang bayar cicilan juga tidak terlalu banyak.
Hari ini hari Sabtu, tidak ada aturan untuk memakai seragam setiap hari Sabtu dan jam kerjaku hanya sampai setengah hari.
Aku pun sibuk berkemas saat kulihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Senyum ku seketika berkembang saat kulihat mobil Rendi sudah terparkir menungguku, dengan langkah cepat ku hampiri mobil Rendi dan langsung memasuki mobilnya.
"Kita ke cafe dulu ya, kamu pasti belum makan." Ucap Rendi sembari menjalankan mobilnya.
"Iya kebetulan aku juga laper belum makan dari pagi."
"Ibu dan Dafa belum pulang ?" tanya Rendi yang masih fokus menyetir tanpa melihatku.
"Belum, tadi ibu bilang kayaknya dia akan tiga hari dirumah nenek."
"Emang berani dirumah sendirian selama 3 hari ?" Tanya Rendi sambil melirik ku.
"Gak tau ah." jawabku lesu
"Tidur dirumah aku aja, kamu tidur sama mama, karena papa kan masih diluar kota."
"Ih enggak ah, aku gak enak sama mama kamu." jawabku dengan bibir mengerucut.
"Mama sudah pasti senang kamu tidur di rumahku. Tapi supaya kamu yakin, biar aku telpon mama dulu." Ucap Rendi sembari mengambil ponsel dari saku celananya.
"Halo ma" Sapa Rendi kepada mamanya dari sambungan telpon sembari mengeraskan speaker ponselnya.
"Iya nak, kenapa ?" tanya mama Ola.
"Gini ma, Ibunya Icha pergi ke rumah neneknya selama 3 hari, jadi Icha sendirian dirumah, boleh gak Icha tidur dirumah ? biar dia tidur sama mama." Ucap Rendi.
"Oh ya udah bawa aja Icha kesini Ren, mama malah seneng, rumah jadi makin rame." Ucap mama Ola bersemangat.
"Ok siap ma, ya udah makasi ma, bye." Rendi pun mematikan sambungan telponnya dan kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Udah puas ? udah denger ?"
Aku hanya mengangguk cengengesan sembari ku peluk tangan Rendi dengan manja.
"Berarti kamu harus antar aku pulang dulu ke rumah."
"Untuk apa ?" tanya Rendi mengernyitkan dahinya.
"Iya dong sayang, kan aku harus mengambil baju dan perlengkapan ku yang lain."
"Gak usah, beli aja semuanya! aku males putar balik."
"Apa gak sayang uangnya ?"
"Aku lebih sayang kamu!" Jawab Rendi dengan datar dan tetap fokus menyetir tanpa melihat ku.
Aku yang mendengar itu tak tau harus merasa senang atau kesal karena saking datarnya cara Rendi mengucapkan itu.
Mobil Rendi terus melaju dengan kecepatan sedang, tak berapa lama kami pun sampai di salah satu cafe milik Rendi yang bersebelahan dengan Mall.
Rendi pun langsung memesankan makanan untuk kami berdua, Rendi tentu tau menu favorit ku di cafe miliknya. Selesai makan Rendi mengajak ku ke Mall yang ada disebelah cafenya. Lalu membawaku ke Matahari untuk membeli semua yang aku butuhkan, mulai dari baju tidur, baju santai, sampai baju bepergian, bahkan pakaian dalam. Setelah itu juga dia membawaku ke Hypermart untuk membeli perlengkapan yang lain, seperti deodorant, bodylotion, dan lainnya.
Jam tanganku menunjukkan pukul 3 sore, setelah semua kebutuhanku sudah lengkap, akhirnya Rendi membawaku pulang menuju ke rumahnya.
"Di rumah kamu ada siapa aja sayang ?" Tanyaku.
"Cuma ada Aku, mama, Juan, Rudi, sama bik nur." jawab Rendi santai.
"Rudi disitu ?"
"Iya, dari aku pulang kemarin dia udah tidur disitu sama Juan. Emang kenapa nanyain Rudi ?" Tanya Rendi mengernyitkan dahinya ke arahku.
"Oh enggak, gak papa aku cuma tanya aja." jawabku mengalihkan pandanganku ke arah jendela mobil.
"Apa ada sesuatu antara kamu dan Rudi ? atau sama temen Rudi mungkin ?" tanya Rendi dengan ekspresi yang sulit ku artikan.
pertanyaan Rendi sontak saja membuatku mendadak jadi gugup dan salah tingkah, namun aku mencoba sekuat tenaga untuk bersikap tenang seolah tak ada apa-apa.
"Hahaha apa sih sayang, Rudi kan udah tunangan masak iya kamu nuduh aku sama dia." Jawabku sambil tertawa yang sedikit ku paksakan.
"Haha mana tau kamu khilaf." kata Rendi tersenyum kecil sambil melihat kearah jendela.
Aku gak tau apa yang Rendi pikirkan sehingga dia bisa berkata begitu. Aku yang memang merasa bersalah, selalu gugup saat Rendi mulai membahas sesuatu yang mengarah ke apa pun itu tentang aku dan Juan.
Kini otak ku kembali dipenuhi dengan berbagai pikiran yang tak menentu, hingga akhirnya karena aku ke asikan melamun, tanpa kusadari mobil Rendi sudah terparkir di garasi rumahnya.
"Mikirin apa ?" tanya Rendi saat menghentikan mobilnya.
"Eng.. gak sayang gak mikirin apa-apa kok." kataku cengengesan.
"Ya udah yuk turun." ucap Rendi sembari meraih beberapa kantong belanjaan ku di kursi bagian belakang.
Aku pun turun, kulihat ada bik nur yang sedang menyapu halaman depan rumah Rendi. Rendi menghampiriku dan langsung saja merangkul mesra pundak ku sambil berjalan masuk ke dalam rumah, tidak seperti Rendi yang biasanya aku kenal.
Rendi membawaku masuk melalui pintu dari garasi mobil, pintu itu langsung terhubung ke ruang keluarga rumah itu.
Di ruang keluar itu sudah ada Rudi yang sedang main PS, Rudi tampak sedikit terkejut saat melihatku dan Rendi yang tampak mesra, dan aku tau mengapa Rudi berekspresi seperti itu namun aku juga mencoba bersikap biasa saja didepan Rendi.
"Eh hai Cha." sapa Rudi yang mencoba membuyarkan rasa terkejutnya dan kembali menatap Layar besar yang tergantung di dinding.
"Baik Rud. kamu nginap disini ?" tanya ku mencoba biasa saja.
"Oh hehe iya baru kemaren aku tidur nginap disini." jawab Rudi sedikit kikuk.
"Sendiri aja lu main PS ?" tanya Rendi yang masih saja merangkul ku.
"Tadi sama Juan, tapi dia lagi ke dapur ngambil cemilan." jawab Rudi lagi.
"Terus mamaku dimana ?" Tanya Rendi sambil kembali melanjutkan langkahnya.
"Di dapur lagi buat kue." jawab Rudi singkat.
Rendi langsung menarik ku menuju dapur untuk menemui mamanya, langkahku seolah sangat berat mau melangkah karena Juan juga ada disitu.
"Kok jadi salting gitu mau ketemu mama ?" Tanya Rendi yang menyadari gelagat ku dan kembali merangkul mesra pundak ku.
"Gak kok sayang." jawabku singkat.
Aroma harum kue dari arah dapur sudah mulai tercium di rongga hidungku, bahkan suara nyanyian Juan dari dapur juga sudah sangat jelas kudengar, hingga akhirnya sampailah kami di dapur Rendi yang cukup besar.
Mataku Refleks tertuju pada Juan, begitu pun Juan yang juga melihatku sontak menghentikan nyanyiannya, Mata kami saling bertemu sejenak, dan langsung ku alihkan saat Rendi bersuara.
"Mama bikin apa ? kok enak wangi nya ?" tanya Rendi yang sambil merangkul ku melangkah mendekati mamanya.
"Eh calon mantuku sudah datang." sapa mama Rendi yang langsung men cupika-cupiki ku.
"mama masak kue nastar ini untuk cemilan." sambung mamanya lagi.
"Biar Icha bantu ya Tante." ucapku menawarkan diri sembari melepaskan rangkulan Rendi dengan pelan.
"Apa sih sayang, kok dilepas? biarin aja mama liat kemesraan kita, biar mama iri karena lagi jauhan sama papa." ucap Rendi tapi kulihat matanya melirik singkat ke arah Juan.
Dan tak lama kulihat Juan hanya berlalu begitu saja tanpa berkata apa pun.
"Gak usah nak, ini hanya tinggal tunggu Mateng nya aja kok, kalian duduk aja dulu di sana, santai-santai dulu." Ucap mama Ola sembari mendorong tubuh Rendi dan menunjuk ke arah ruang keluarga.
Aku merasa sangat kikuk saat kembali bertemu dengan Juan, tidak sama seperti waktu pertama aku berhadapan dengan Juan yang terasa biasa saja, kini rasanya sudah sangat berbeda, perasaan macam apa ini ?
Bersambung...
sukses
semangat
mksh
tp bnr ada yahh crita gni d dunia nyata
iyaa Smngtt trs y KK👍👍👍👏👏