NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Bel istirahat pertama baru saja berbunyi ketika suasana kelas perlahan berubah ramai. Suara kursi digeser, tawa siswa yang bercampur dengan keluhan tugas, hingga bunyi ponsel yang saling bersahutan memenuhi ruangan. Namun di tengah keramaian itu, Nayla hanya diam dibangkunya.

Gadis itu menunduk sambil memutar pulpen di antara jemarinya. Tatapannya kosong mengarah pada buku catatan yang bahkan belum disentuh sejak pelajaran pertama dimulai. Kepalanya terasa berat, jauh lebih berat dibanding biasanya.

Sudah tiga hari sejak kejadian di kolam renang.

Tiga hari sejak dirinya hampir tenggelam.

Dan tiga hari juga sejak Endra mulai kembali mengejarnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Nayla mengembuskan napas pelan. Matanya memerah karena kurang tidur. Semalaman ia kembali memikirkan ucapan Endra waktu it, ucapan yang terus terngiang bahkan ketika ia mencoba menutup telinga.

‘Gue nggak bisa hidup tanpa lo, Nayla.’

Bullshit.

Kalau memang tidak bisa hidup tanpa dirinya, lalu kenapa cowok itu bisa bertunangan dengan Tamara diam-diam seolah Nayla tidak pernah ada?

Nayla terkekeh kecil menertawakan dirinya sendiri.

Lucu.

Bahkan setelah semua rasa sakit itu, hatinya masih bereaksi setiap melihat Endra.

“Nayla?”

Suara Maya membuat Nayla tersadar dari lamunannya. Gadis itu duduk dibangku depan lalu memutar tubuh menghadap Nayla dengan wajah penuh khawatir.

“Lo nggak ke kantin?” tanya Maya.

Nayla menggeleng pelan.

“Malas.”

“Lo dari tadi juga diem aja.”

Nayla hanya mengangkat bahu malas.

Maya menghela napas panjang. Sebagai sahabat, tentu saja dia sadar Nayla sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah kejadian tenggelam kemarin yang membuat seluruh sekolah heboh.

Banyak yang bilang Nayla sengaja cari perhatian.

Sebagian lagi bilang Nayla depresi gara-gara hubungan Endra dan Tamara. Dan sisanya? Mereka cuma menjadikan itu bahan gosip.

“Lo jangan dengerin omongan orang ya,” ucap Maya pelan.

Nayla tersenyum tipis.

“Gue nggak peduli.”

Padahal jelas itu bohong.

Nayla peduli.

Sangat peduli.

Karena sekeras apa pun ia mencoba terlihat kuat, tetap saja ucapan orang-orang masuk dan melukai bagian dirinya yang paling rapuh.

“Nayla!”

Kali ini suara Jevano terdengar dari depan pintu kelas. Cowok itu berdiri sambil membawa dua botol minuman dingin ditangannya.

“Titipan lo.”

Nayla mengernyit bingung.

“Gue nggak nitip.”

Jevano berjalan mendekat lalu meletakkan botol itu di meja Nayla.

“Endra nitip.”

Seketika ekspresi Nayla berubah datar.

“Balikin.”

“Hah?”

“Bilang makasih, tapi gue nggak butuh.”

Jevano terlihat salah tingkah. Ia mengusap tengkuknya pelan.

“Sebenernya dia cuma khawatir—”

“Kalau dia khawatir, harusnya dari dulu.”

Ucapan Nayla berhasil membuat Jevano terdiam.

Maya yang melihat suasana mulai tidak nyaman buru-buru berdiri.

“Eh gue duluan ke kantin ya, titip roti nggak?”

Nayla menggeleng.

“Nggak.”

Setelah Maya pergi, suasana kembali hening.

Jevano menghela napas kecil lalu menarik kursi di depan Nayla.

“Nay, gue tau lo marah.”

“Gue nggak marah.”

“Lo sakit hati.”

Nayla langsung menatap Jevano tajam.

Cowok itu memang menyebalkan karena terlalu jujur.

“Dan Endra juga sama kacaunya,” lanjut Jevano. “Dia tiap hari nyariin lo.”

“Suruh berhenti.”

“Dia nggak bakal berhenti.”

“Terserah.”

Nayla berdiri cepat sambil memasukkan buku kedalam tasnya. Ia sudah tidak ingin mendengar apa pun tentang Endra.

Tidak hari ini.

Tidak sekarang.

“Lo mau kemana?”

“Istirahat.”

“Baru juga mau bel.”

“Gue lapar.”

Padahal sebenarnya bukan itu alasan Nayla keluar kelas lebih cepat.

Ia hanya ingin menghindar.

Menghindari kemungkinan bertemu Endra.

Karena semakin lama ia berada di kelas, semakin besar kemungkinan cowok itu datang.

Nayla berjalan keluar kelas sambil mengeratkan hoodie abu-abunya. Koridor sekolah terlihat cukup ramai oleh siswa yang mulai keluar kelas. Beberapa orang menoleh saat Nayla lewat.

Ada yang berbisik.

Ada yang sengaja menatap lama.

Nayla pura-pura tidak peduli.

Langkahnya terus berjalan menuju tangga utama yang mengarah ke kantin belakang. Tempat itu biasanya lebih sepi dibanding kantin depan.

Namun baru beberapa langkah, suara yang sangat ia kenal membuat tubuhnya menegang.

“Nayla!”

Nayla memejamkan mata sesaat.

Sial.

Dia datang.

Dengan napas tertahan, Nayla menoleh perlahan dan mendapati Endra berdiri beberapa meter dibelakangnya. Cowok itu terlihat sedikit berantakan dengan napas memburu seolah habis berlari.

Dan entah kenapa, melihat wajah Endra lagi membuat dada Nayla kembali sesak.

Karena sejauh apa pun ia mencoba pergi, perasaannya ternyata masih belum benar-benar mati.

.......

Astaga Nayla.

Lo masih berharap Endra ngejar lo?

Pertanyaan itu terus berputar didalam kepala Nayla bahkan saat langkahnya semakin cepat menyusuri koridor sekolah. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil mengusap air mata yang terus jatuh tanpa izin.

Memalukan.

Sangat memalukan.

Nayla membenci dirinya sendiri karena sampai detik ini perasaannya pada Endra belum juga hilang. Bahkan setelah semua yang cowok itu lakukan. Setelah semua rasa sakit yang ia terima.

Tetap saja sebagian hatinya masih berharap.

Berharap Endra akan mengejarnya.

Berharap Endra menahan tangannya dan mengatakan kalau semua yang Nayla pikirkan hanyalah kesalahpahaman.

Berharap cowok itu memilih dirinya.

Namun harapan memang selalu menjadi bagian paling menyakitkan.

Karena kenyataannya, sekarang Endra berjalan berdampingan bersama Tamara menuju lapangan basket.

Hazel melihat itu.

Dengan jelas.

Dan pemandangan tersebut terasa seperti seseorang yang sengaja merobek dadanya perlahan.

Biasanya Nayla yang akan menemani Endra latihan basket.

Biasanya Nayla duduk dipinggir lapangan sambil meneriaki Endra setiap kali cowok itu mulai bermain terlalu kasar.

Biasanya Nayla yang akan memberikan botol minum ketika Endra selesai latihan.

Tapi sekarang?

Posisinya sudah tergantikan begitu saja.

Nayla tertawa kecil hambar.

Lucu ya.

Ternyata selama ini keberadaannya memang semudah itu diganti.

Gadis itu mempercepat langkahnya.

Ia tidak ingin menangis lebih lama ditengah koridor sekolah.

Sambil berlari kecil Nayla mengusap pipinya kasar, terlalu sibuk dengan pikirannya sampai nyaris menabrak seorang cowok yang berjalan dari arah berlawanan.

"Eh hati-hati!"

Nayla tersentak lalu buru-buru mundur.

"Sorry," ucapnya cepat tanpa benar-benar melihat siapa orang itu.

Cowok tersebut tampak hendak mengatakan sesuatu, namun Nayla sudah lebih dulu pergi.

Dadanya sesak.

Rasanya terlalu sesak.

Sesampainya dikelas Nayla langsung mengambil hoodie kebesarannya dari kursi lalu memakainya cepat. Setelah itu ia meraih ponsel dan membuka aplikasi taksi online.

Ia ingin pulang.

Sungguh.

Nayla merasa kalau hari ini dirinya tidak akan sanggup berada disekolah lebih lama lagi.

Namun saat melihat jam pelajaran berikutnya dibatalkan karena guru rapat mendadak, Nayla justru memutuskan untuk tetap bertahan.

Setidaknya sampai jam istirahat selesai.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

Tenang.

Lo harus tenang.

Nayla menatap pantulan dirinya dijendela kelas.

Matanya merah.

Wajahnya pucat.

Dan ekspresinya benar-benar menyedihkan.

"Jelek banget sih lo Nay," gumam Nayla pelan sambil tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.

Ia mengusap sisa air mata diwajahnya sebelum akhirnya berdiri.

Perutnya sebenarnya tidak lapar.

Tapi Nayla ingin pergi ke kantin sekadar mencari udara.

Mungkin dengan melihat keramaian sekolah pikirannya bisa sedikit teralihkan.

Nayla menggantungkan tas disatu bahu lalu berjalan keluar kelas.

Koridor sekolah terlihat cukup ramai karena jam istirahat baru saja dimulai. Suara obrolan siswa bersahut-sahutan memenuhi udara.

Namun Nayla merasa asing.

Seolah dirinya berdiri sendirian ditengah keramaian.

Ia berjalan pelan menyusuri lorong menuju tangga utama.

Dan saat itulah semuanya berubah.

Dari arah berlawanan, seseorang muncul bersama beberapa anggota tim basket.

Endra.

Langkah Nayla otomatis terhenti.

Begitu juga Endra, untuk sepersekian detik lorong itu terasa sunyi.

Mata mereka bertemu.

Nayla langsung membuang pandangan lebih dulu.

Sial.

Kenapa harus sekarang?

Kenapa harus disaat Nayla sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja?

Endra tampak sedikit terkejut melihat Nayla berdiri beberapa meter didepannya.

Sudah beberapa hari hubungan mereka memburuk. Dan semenjak insiden kolam renang itu, Nayla semakin menghindarinya.

Endra sebenarnya ingin bicara.

Sangat ingin.

Tapi setiap kali mencoba mendekat, Nayla selalu pergi lebih dulu.

Sampai akhirnya cowok itu hanya bisa memperhatikan dari jauh. Namun sekarang mereka berdiri di lorong yang sama.

Dengan jarak yang terlalu dekat. Nayla berusaha berjalan melewati Endra begitu saja.

Sayangnya suara cowok itu lebih dulu menghentikannya.

"Nayla."

Satu panggilan.

Dan itu saja sudah cukup membuat dada Nayl kembali terasa sakit.

Gadis itu berhenti tanpa menoleh.

"Apa?"

Nada suaranya datar.

Endra menelan ludah.

Ia memperhatikan wajah Nayla yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

Mata sembab.

Dan ekspresi lelah yang tak bisa disembunyikan.

"Lo habis nangis?"

Nayla langsung tertawa kecil sinis.

"Penting buat lo?"

Jawaban itu menusuk.

Teman-teman Endra yang sejak tadi berdiri dibelakang cowok itu mulai saling pandang canggung.

Mereka tahu hubungan Nayla dan Endra sedang tidak baik. Dan jelas ini bukan situasi yang nyaman.

Endra menghela napas pelan.

"Kita bisa ngobrol bentar gak?"

"Enggak."

Cepat.

Tegas.

Nayla bahkan tidak memberi kesempatan sedikit pun.

Gadis itu kembali melangkah.

Namun Nedra refleks menahan pergelangan tangannya.

"Nayla bentar aja—"

Nayla langsung menoleh tajam.

"Lepas."

Nada suaranya rendah.

Endra terdiam.

Untuk pertama kalinya ia melihat tatapan Nayla sedingin itu.

Biasanya gadis itu akan marah, membentak, atau menangis.

Tapi sekarang?

Nayla terlihat benar-benar lelah. Dan justru itu jauh lebih menakutkan.

"Gue cuma mau ngomong," ucap Endra pelan.

"Tapi gue gak mau denger."

Nayla menarik tangannya kasar.

Beberapa siswa yang melewati lorong mulai melirik penasaran.

Nayla merasa muak.

Ia tidak ingin menjadi tontonan.

"Lo gak capek ya terus ngejar gue?" tanyanya dingin.

Endra mengernyit.

"Maksud lo?"

Nayla tertawa hambar.

"Bukannya sekarang lo udah punya Tamara? Jadi buat apa lagi nyamperin gue terus?"

Nama itu membuat rahang Endra mengeras.

"Nayla, gue sama Tamara gak kayak yang lo pikirin."

"Oh iya?"

Nayla akhirnya menatap Endra lurus.

Dan sorot matanya penuh luka.

"Tapi gue capek disuruh ngerti terus, Dra."

Kalimat itu membuat Endra langsung diam.

Nayla mengusap pipinya cepat saat air matanya kembali jatuh.

Memalukan.

Kenapa ia selalu menangis didepan cowok ini?

"Lo tau gak sih rasanya lihat orang yang paling kita sayang ngilang berhari-hati, terus saat kembali malah sama cewek lain seolah kita gak pernah ada?"

Suara Nayla mulai bergetar.

"Lo tau gak rasanya dipinggirin pelan-pelan?"

Endra ingin menyangkal.

Tapi ia tidak bisa.

Karena memang itulah yang Nayla rasakan selama ini. Dan semua terjadi karena dirinya.

"Gue gak pernah niat nyingkirin lo," ucap Endra lirih.

Nayla tertawa kecil.

"Tapi lo tetep lakuin itu."

Hening.

Lorong sekolah yang ramai terasa menjauh. Kini hanya ada mereka berdua. Dua orang yang sama-sama terluka. Namun terlalu keras kepala untuk saling memahami.

"Nayla..."

"Apa lagi sih Dra?"

Endra memandang Nayla lama.

Cowok itu terlihat frustrasi. Seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi tidak tahu harus memulai dari mana.

"Gue khawatir sama lo."

Nayla langsung mengalihkan pandangannya.

"Gak usah."

"Nay—"

"Bukannya lo lagi sibuk sama tunangan lo?"

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!