Pada masa modern jaya pura, Krani, seorang pendidik yang bekerja di sekolah negeri favorit terlibat dalam sebuah drama politik, forum pencitraan dan manusia seribu topeng yang menyebabkan ia harus berurusan masalah tiada henti. Sebuah peristiwa membuatnya tidak sadarkan diri, kemudian dia menemukan dirinya berada di era jaya pura zaman lalu dan terperangkap dalam tubuh seorang perempuan bernama Renggana yang ternyata akan menikah dengan Raja Paku bumi.
Sejak saat itu Krani dalam tubuh Renggana harus menyesuaikan diri dengan jaman Jaya wilayah wangsa selatan sebagai ratu Renggana juga terlibat dalam intrik kerajaan. Berbagai kejadian yang tidak terduga muncul selama Krani hidup sebagai Renggana. Berhasilkan kah kembali ke masa modern dan keluar dari tubuh Renggana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersekat
Negeri wangsa dilanda krisis kejahatan. Ombak memecah dinding kepercayaan, darah murni di Renggut, nyawa di ambang kematian. Walau kekuatan ratu Renggana bagai telah dilepas kaki dan tangan oleh musuhnya. Dia berjuang mempertahankan jantung dan kepalanya. Tanah negeri wangsa di liputi jebakan musuh. Hembusan nafas kehidupan perlahan sirna.
Setiap malam, raja paku bumi berdiri
memperhatikan lampu kamar sang ratu yang masih menyala. Ruangan gelap saat Tengah malam bahkan di waktu jam tiga pagi. Hari ini dayang pendamping memberitahu kepada sang raja bahwa sang ratu telah tertidur.
Raja sedikit merasa lega, dia membalikkan tubuh berjalan ke ruangan kebesarannya.
“Apakah hari ini raja juga juga kemari?” tanya dayang Kribo.
“Ya, raja sangat hebat. Raja akan tertidur sebelum memastikan ratu beristirahat.”
Sinyal panggilan dari ibu suri menarik dayang Kribo ke wilayah Istana Selatan. Ibu suri menampar wajah dayang berkali-kali. Dia juga mencambuk tubuhnya, dayang kribo menerima semua perlakuan buruk dengan menunduk.
“Kau adalah hewan rendahan yang sudah mulai lupa siapa majikannya. Kenapa kau kini membangkang pada ku? Apakah kau lupa semua budi baik ku pada mu?”
“Ibu suri. Hamba tidak pernah lupa kalau engkau adalah tuan, majikan dan orang yang memegang nyawa hamba. Tapi, kalau ibu suri memerintahkan hamba untuk berkhianat pada ratu Renggana. Maka hamba tidak bisa melakukannya.”
“Dayang kribo! Kau akan menyesal!”
Ibu suri mengancam dan tidak henti mencambuk tubuhnya. Luka di punggung sang dayang mulai mengalir deras. Dia mencampakkan cambukan lalu mengusirnya pergi. Dayang Kribo mendekati pintu yang tertutup, menguping pembicaraan.
“Dayang utama, aku mau menemui mantan ratu di luar Istana sebelum ratu terlebih dahulu menemuinya.”
“Ibu suri, apakah benar kasus mantan ratu simbol pengkhianat di anggap bersekongkol dengan ratu Renggana di ungkap di sidang besok?”
“Tidak, terlalu berbahaya. Besok, aku akan menendang ratu Renggana atas dasar kematian putra mahkota” ucap ibu suri.
Mendengar kelicikannya, dayang Kribo langsung membersihkan diri, menutup luka-lukanya. Lalu melaporkannya pada ratu. Ratu mempertanyakan bekas luka dan memar di tubuhnya, dayang kribo menutupi dengan kecelakaan kecil akibat kecerobohannya.
Pagi ini di halaman Istana pengadilan, sang ratu di pojokkan ibu suri dan para perdana Menteri. Dia tidak goyang, raja paku bumi tidak membenarkan semua tuduhan kepada sang ratu tanpa bukti yang kuat.
Ketiga pangeran agung menemui ratu Renggana. Pangeran memeluk sang ratu sangat erat, pangeran ketiga menyodorkan makan dan pangeran keempat memijit telapak kakinya.
“Ibu…”
“Sudah ku bilangkan? Ibu baik-baik saja.”
“Kau sendiri tadi yang lebih mengkhawatirkan ibu.”
Kedatangan ketiga pangeran agung mengobati hati sang ratu. Di Istana Barat, mereka menghabiskan waktu Bersama ratu lalu menemui pangeran Sunyo. Di Altar tempat duduk berlapis permadani, dia menggendong bayinya. Air mata sesekali menetes, selepas melahirkan, disitu pula dia kehilangan putra mahkota.
...----------------...
Petang di tutup bunyi Guntur yang kuat, putri mahkota Bersama kedua anaknya berlari ke Istana Ratu. Para dayang mengejar, sang putri mahkota berteriak meminta perlindungan. Ratu Renggana mengingat pesan terakhir putra makhkota, pangeran agung pertama Bumi yang meminta ibunya melindungi anak dan adik-adiknya.
“Ibu, tolong kami. Anak-anak ku dalam bahaya. Hamba tau mereka mau membunuh anak-anak ku.”
Sang putri mahkota berdiri di belakang Bersama anak-anaknya.
“Yang mulia ratu, putri mahkota mengalami stress dan meracau. Kami hanya ingin memberi makan pangeran Sunyo.”
“Lancang kau dayang utama. Apa kau mengatakan bahwa semua perkataan putri mahkota adalah kebohongan? Aku akan memindahkan mereka ke Istana ku!”
Malam yang penuh rasa khawatir, duka yang masih membekas atas kehilangan putranya dan nyawa keempat anaknya yang terancam. Ratu Renggana duduk di samping putri mahkota dan pangeran Sunyo yang telah terlelap. Dia menimang cucu keduanya.
“Dasar anak brandal. Dia menitipkan semuanya pada ibunya seperti ini.”
Kasus kematian putra mahkota semakin gempar akan berita Istana pembunuhan yang berasal dari ratu Renggana. Pagi ini, ibu suri mengancam ratu Renggana. Dia mengumpat, memaki dan memberikan sumpah serapah jika kehidupan ratu Renggana tidak tenang sepanjang hayatnya.
“Aku sangat membenci mu! aku akan memulainya. Kau mundur dari tahta mu!”
“Ibu suri hentikan. Aku mendengarnya, kasus kematian putra mahkota terdahulu, kau yang melakukannya. Memberikan racun hingga berakhir pada almarhum putra mahkota cucu mu.”
PragggHHH “Kurang ajar kau!”
Ibu suri menampar wajah sang ratu. Ratu tetap tegar berdiri mendekatinya. Suara ketukan pintu mengabarkan kedatangan Menteri pertahanan. Sang ratu Renggana mengeraskan suara, dia meminta mereka berhenti mengusik anak pertamanya yang telah tiada.
“Aku menyetujui pengangkatan putra mahkota dari rekomendasi para perdana Menteri. Sedari itu kalian menggunakan sistem kompetensi pemilihan pangeran yang unggul. Kalau keempat putra ku tidak berhasil. Maka aku akan mempertaruhkan tahta ku. Maka, aku meminta putri mahkota keluar dari Istana. Semua kejahatan kalian tertutupi di hari ini.”
Kediaman Selir Wa.
Selepas pertemuan, Menteri pertahanan mengabarkan rencana ratu Renggana. Selir Wa tidak terima hingga menghentakkan cangkir begitu keras.
“Ayah, sama saja nyawa ratu Sunyo selamat.”
“Tidak, justru peluang membunuh putri mahkota dan kedua anaknya lebih besar.”
Pengusiran putri mahkota dan anak-anaknya di arak menggunakan tandu kayu. Tangan di ikat, di Tengah perjalanan pangeran Buming menarik pangeran Sunyo. Dia melepaskan ikatan yang mengakibatkan memar di kulit. Pangeran Buming menjanjikan kepada keponakannya bahwa dia akan mengembalikan mereka ke Istana.
Siapa yang mengira rencana pembunuhan di gagalkan dengan bantuan penjaga ratu dan raja. Perdana Menteri menebas leher pengawal utusan yang tidak bisa menjalankan perintahnya.
----------------
“Ibu, kenapa ibu mengusir mereka? Putri mahkota tidak bersalah. Aku yang membawa obat dari luar untuk kakak.”
“Semua itu demi mempertahankan posisi ibu sebagai ratu Wangsa.”
“Ibu, aku akan mengatakan pada ayah semuanya. Kasihan pangeran Sunyo bu.”
“Buming, ibu melakukan itu untuk melindungi diri ibu dan keturunan ibu. Ibu akan memanggil mereka lagi di waktu yang tepat. Apakah kau mau membantu ibu?”
“Ya bu, aku akan mematuhi ibu.”
“Berjuanglah pangeran Buming. Jadilah pengganti kakak mu sebagai putra mahkota” ucap ratu Renggana.
Buming mengangguk, dia mulai membuka segel kediaman peninggalan pangeran agung Bumi. Kompetensi mengumpulkan para pangeran dengan menempuh perjalanan di atas bukit Wangsa. Para pangeran di sediakan jubah perang. Sebelumnya, untuk mendapatkan jubah dan instruksi selanjutnya para pangeran melakukan lomba lari menuruni bukit.
Pasir waktu sebagai penanda, para pangeran di bekali pedang setelah sinyal bunyi sofar. Dalam waktu dua jam, mereka berhasil meraih jubah. Masing-masing pertanyaan di simpan dalam gulungan pada setiap pohon dekat Sungai.
Galih digambarkan sebagai karakter tragis dengan dilema moral yang kompleks. Pembaca merasa bahwa perjuangannya melawan ilmu hitam untuk melindungi Renggana menambah kedalaman emosional cerita. Konflik ini memberikan lapisan tambahan pada kisah cinta yang sudah tragis,
Cinta Galih kepada Renggana yang tidak sepenuhnya terbalas memberikan elemen tragis yang mendalam. Pembaca terkesan dengan bagaimana cinta abadi Galih tetap hadir meskipun melalui ilmu hitam, menunjukkan pengorbanan tanpa syarat yang menyentuh hati. Hal ini menciptakan hubungan emosional yang kuat antara pembaca dan karakter.