NovelToon NovelToon
Mafia Bucin

Mafia Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:182.4k
Nilai: 5
Nama Author: keyna elsyavira

"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.

"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.

"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"

Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.

"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

"Tidak jadi. Pergilah jika kamu ingin pergi, aku akan melanjutkan tidurku lagi."

Marco menarik nafasnya panjang dan sekilas melirik ke arah Ruby yang masih terduduk di sofa. " Mengapa gadis itu terus keras kepala? Sampai aku harus benar-benar sabar untuk mengahadapinya."  Gumam Marco yang tanpa bicara langsung pergi meninggalkan Ruby untuk bertemu dengan madam Saritem.

"Dia pergi begitu saja?" Ocehnya dalam hati rasa kesal karena Marco bersikap acuh kepadanya.

"Apa ruangan sebesar ini tidak mempunyai ruangan untuk beristirahat? Seharusnya ada bukan?" Monolognya lalu melangkah mencari Di mana letak ruangan tersebut yang mungkin disembunyikan oleh Marco.

"Apa yang sedang kamu cari?" Suara Marco mengagetkan Ruby.

"Apa kau tidak mempunyai tempat yang layak untuk istirahat? Bukankah ruangan kerjamu ini lumayan besar?"

Tanpa mejawab Marco berjalan menghampiri Ruby lalu menarik satu buku salah satu lemaru atau rak bukunya sebagai kunci dimana ruang istirahatnya bisa terbuka.

"Istirahatlah, mungkin aku benar-benar akan lama untuk pergi saat ini, jika kamu merasa bosan, kamu bisa kemana saja yang kamu mau."

"Mengapa aku di perlakukan seperti tahanan oleh mu?"

"Saat ini aku tidak mempunyai waktu untuk menimbali semua ucapanmu, bertingkahlah jika kamu menang ingin mendapatkan hukuman dariku." Lalu aku melangkah pergi meninggalkan Ruby lagi, karena ia kembali ke ruangannya hanya ingin mengambil berkas yang ketinggalan di meja kerjanya.

Dengan langkah Marco yang di iringin oleh suara sepatu pantofel yang Marco kenakan seolah menggema di lorong yang sangat terasa sunyi itu.

"Dia benar-benar pergi begitu saja." Kalau Ruby yang yang seolah merasa di abaikan oleh Marco. "Bukankah aku seharusnya senang jika tidak ada pria tua itu? Aku jadi bisa bebas melakukan apapun yang aku mau bukan?" Ruby melangkah masuk ke dalam ruangan yang dibuka oleh Marco tadi.

Iya kembali tercengang karena ruangan itu seperti kamar pribadi di rumah Marco. Dengan fasilitas yang sangat komplit, bahkan di sana terpajang beberapa senjata api dan juga minuman alkohol dengan merk yang berbeda-beda.

Ruby merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sprei serba putih itu. Ruangan Itu tampak bersih dan benar-benar rapi, seolah mencerminkan seseorang pemiliknya.

Tapi karena dia merasa sangat bosan, dan juga iya lupa untuk membawa ponselnya saat ini, Ruby pun berniat untuk berjalan-jalan mengelilingi perusahaan Marco. "Tadi dia sudah mengizinkan aku kan? Jadi tidak apa-apa kan kalau aku sedikit ingin berjalan-jalan?" Gumamnya lalu keluar dari ruangan kamar itu lalu keluar juga dari ruangan kerja Marco.

Beberapa pasang mata mulai melihat ke arahnya saat dia menelusuri lorong di mana pegawai Markus sedang berlalu lalang, atau ada yang sedang duduk dengan pekerjaannya tapi tetap masih bisa memperhatikan Ruby yang hanya lewat sekilas.

"Mengapa dengan mata-mata orang itu? Mengapa mereka menatapku seolah ingin mengulitiku? Apa aku akan di mangsa oleh mereka? Mengapa pegawai Marco juga mengerikan seperti bossnya?" Aku mau Ruby dalam hati lalu segera keluar dari perusahaan Galo Company.

Stive yang tak sengaja melihat Ruby sekilas. Karena ruangan meeting mereka hanya dibatasi oleh kaca yang setengah buram pun berbisik ke telinga Marco untuk memberitahu apa yang baru saja ia lihat.

Marco tak mau mengambil pusing, karena ia sudah mengancungkan di situ jika ia bertingkah maka ia juga siap akan menerima hukuman darinya.

"Apa kau tak ingin melihatnya dulu?" Bisik Stive lagi.

"Biarkan saja dia." Dan Stive pun mengerti.

" Apa kau punya masukan untuk barang selanjutnya? Atau kau akan setuju jika kita memulai dengan barang yang benar-benar kita buat dengan keasliannya?"

"Bukankah ini akan mengacau setiap pikiran orang yang akan mengkonsumsi barang tersebut jika kita membuatnya dengan keaslian yang benar-benar asli? Bagaimana jika hanya sembilan puluh lima persen keaslian? Menurutku itu tidak terlalu buruk, setidaknya kita tidak terlalu membuat kacau jika di konsumsi, walaupun sebenarnya sama saja mereka akan kehilangan setengah kesadaran mereka."

"Apa kau sedang berbaik hati? Mengapa kau takut jika barang tersebut membuat kekacauan? Bukankah memang itu tujuan kita saat ini? Kenapa kau tiba-tiba melunak?"

"Aku bukan melunak!! Tapi menurutku sembilan puluh lima persen itu hampir mencapai keasliannya, jadi bukankah itu sama saja?"

"Kalau begitu kita voting suara angkat tangan kalian jika kalian menginginkan sembilan puluh sembilan persen keaslian dari barang yang akan kita produksi." Ucap Madam Saritem dan beberapa orang pun mengangkat tangannya, sekitar ada enam orang yang mengangkat tangan tanda setuju dengan barang keaslian sembilan puluh sembilan persen.

"Tangan kalian yang memilih keaslian barang sembilan puluh lima persen?" Akhirnya sisa dari lima belas orang yang kini sedang meeting itu pun mengangkat tangannya.

"Baiklah kali ini kau menang Marco."

"Kalau begitu meeting kita tutup sampai di sini saja." Ucap madam Saritem lalu pergi begitu saja.

"Apa posisi kita tidak dalam bahaya kali ini? Tanya Stive sedikit berbisik pada Marco.

"Jika kau tak percaya padaku maka pergilah, aku tidak butuh seorang yang pengecut sepertimu."

"Baiklah. Aku akan menurut."

Akhirnya setelah semua orang keluar dari ruangan meeting dan menyisakan Marco juga Stive yang ada disana. Marco memijit pelipisnya yang berarti ia sedang sedikit merasa pusing.

"Apa kau baik-baik saja? Apa ingin ku panggilkan dokter?" Marco menggeleng pelan.

"Tidak perlu, aku akan ke ruangan ku sekarang juga, kau bisa pulang lebih awal saat ini." Kata Marco yang seolah tahu jika Stive sedang membutuhkan asupan untuk biologisnya.

"Kau begitu pengertian sebagai seorang sahabat." Jawab Stive dengan senyum sumringah di bibirnya.

"Pergilah." Titah Marco dan dia pun melangkah dan kembali ke dalam ruangan kerjanya.

Tapi ketika ia akan masuk ke dalam ruangan kerjanya, Madam Saritem menghadang Marco. " Siapa wanita yang kau bawa itu? Apa dia kekasih mu? " Tanya madam Saritem penuh penekanan.

1
Uri
cerita nya bagus
NK Penyair
Keknya Millers punya hubungan dengan Ibunya Ruby di masa lalu🤔
Joana Santos
ayoo kak up lagi
Joana Santos
bagus
🍏A↪(Jabar)📍
*yang baru saja
@Al**
/Good/
Sus Suswanti
kayak nya seru nih
Evi Yolanda
thot please lanjutkan
Yennie Ika
lanjut thorrr 🔥
💝F&N💝
ayo kak up lg. aku sudah vote.
Yennie Ika
lanjutt thorrr. semangat up nyaaa😗😗
Kunci Nama
besok tak up 5 lagi ya🤗
💝F&N💝
aku puas membacanya, kak.
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya
Yennie Ika
semangat up thorrr..... setiap menit ku menunggu lanjutannya😗
Mahfud Mahfud
Kecewa
Mahfud Mahfud
Buruk
Darmi X
sepertinya ada cinta segitiga di masa lalu
💝F&N💝
double double double up nya kak. semakin seru ceritanya. aku lagi penasaran akan kelanjutannya.
Reni Anjarwani
doubel up thorr
💝F&N💝
ayo semangat, kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!