berawal dari sebuah kecelakaan mobil yang membuat Areya terjebak di dalam novel yang baru saja ia baca. namun yang lebih tragis Areya terjebak dalam tubuh Ranhy sang pemeran antagonis yang dihukum mati akibat perbuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIAANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELICIKAN DI BALAS LICIK
Happy reading semua
Jangan lupa vote komen dan follow aku ya 😄
Areya Benar benar menikmati waktu santainya, mengenai sakitnya sebenarnya ia sudah sepenuhnya sembuh, namun dirinya masih enggan untuk keluar dari dalam mansion, Alasan sebenarnya cukup simpel diri sedang menghindari undangan pesta minum teh beberapa Lady yang datang padanya. Bukannya apa, dirinya terlalu malas harus bersikap baik dan menanggapi seluruh omong kosong mereka saat di pesta minum teh yang cukup membosankan itu.
Kebiasaan para Lady adalah mereka akan pamer, mulai dari perhiasan yang digunakan, gaun bahkan seorang pria yang tidak menguntungkan sama sekali atau saling sindir berujung pertengkaran. Sangat membosankan.
Suara ketukan pada pintu kamar berhasil menarik atensi Areya yang tengah fokus membaca itu,
"Masuk." Titah Areya pada si pelaku yang telah berani mengganggu ketenangannya.
Pintu terbuka menampilkan sosok gesy, dia membungkuk sesaat untuk memberi salam sebelum berujar,
"Maaf Lady, ada tamu untuk Anda."
Kening Areya membentuk lipatan kecil, bertanya siapa gerangan yang ingin menemui nya di sore hari ini.
"Siapa?"
Belum sempat Gesy menjawab, tiba-tiba sosok Haris muncul dengan senyum tanpa dosa seraya melambaikan tangan menyapa Areya,
"Hai," Ujarnya.
Areya merotasikan bola mata jengah, dia memberi isyarat pada gesy untuk meninggalkan mereka berdua. Selepas kepergian Gesy, Harist membawa langkah mendekat pada Areya yang tampak nyaman duduk dengan kaki lurus di atas sofa panjang, di meja berserakan berbagai macam buku dan semua tentang bisnis.
Harits bertanya-tanya, sejak kapan si cantik menyukai hal-hal yang berbau bisnis?
"Aku lihat, belakangan ini kau jadi sering berkunjung ke rumahku, ya? Seperti tidak punya pekerjaan saja," Ujar Areya menyindir Harist yang tengah menatapnya itu
Tak langsung menjawab dirinya lebih dulu mendudukkan diri pada sofa yang ada di seberang Areya,
"Jangan bicara seperti itu, tentu saja aku memilih pekerjaan bahkan lebih banyak dari yang kau kira, hanya saja aku pikir kau pasti sedang kesepian makanya aku datang untuk menghibur mu" jelas Harist, sepertinya si tuan muda Marquis Learton itu mulai terbiasa dengan ucapan sarkastis dan tatapan tak sinis yang Areya layangkan.
Areya berdecih pelan,
"Apa anda sedang membicarakan diri anda sendiri tuan muda Learton?" Balas Areya
Areya kembali memusatkan atensi pada buku yang berada di tangannya, namun tak bener-benar mengabaikan eksistensi Harist yang berada di sampingnya
Jika boleh jujur Harist sedikit senang lantaran ibunya bersahabat dengan ibu sang gadis dengan begitu ia menjadi memiliki alasan setiap ingin berkunjung tanpa harus ada undangan atau izin.
Dia tidak berbohong tentang pekerjaannya yang sedang menumpuk itu, dirinya terlalu stres dan lelah makanya untuk mengobati semua itu ia memilih untuk melihat Ranhy si gadis dengan berjuta kejutan yang tidak terduga itu, meskipun kerap mendapat kata sarkastik dari mulut tajam si gadis.
Areya cukup lega sebab berhasil menjauhkan Tyrese dari Harits . Di dalam cerita diceritakan Harits sebagai orang yang tidak peduli pada Ranhy meskipun kedua orang tua mereka bersahabat. Ia lebih memilih Tyrese karena rasa kasihan lantaran di perlakukan tidak adil. Harits tidak menyukai sikap ambisius Ranhy yang mengejar pangeran Lordias.
Dari banyaknya bangsawan Harist itu tipe tipe orang yang akan mengatakan segala hal dengan gamblang tentang pikirannya terhadap seseorang. Itulah kenapa Areya masih membiarkan Haris berada di sekitarnya cukup menyenangkan melihat pemuda tampan itu mengikuti setiap kegiatan yang dilakukan nya .
"Tidak juga, sebenarnya hari ini ibunda meminta ku untuk mengunjungi acara doa di kuil dan karena aku merasa kau tidak ada kegiatan makanya aku ingin mengajakmu ke sana. " Ucap Harist sembari mengambil salah satu buku yang berada di atas meja.
" Kau juga sangat jarang ke kuil , sesekali datang lah ke sana dan pinta sesuatu siapa tahu dapat terkabul"
' dan juga ada yang ingin ku pinta pada sang dewa bersama mu' lanjut Harist di dalam hati.
Areya menutup buku yang ia baca kemudian melirik Harits yang tengah tersenyum sembari menaik turunkan alisnya seolah membujuk Areya dengan wajahnya itu.
"Ayolah, nanti aku traktir makanan terenak di ibu kota, bagaimana?" Lagi Harist mencoba membujuk Areya dengan kalimat persuasif-nya.
"Baiklah, kau tunggu di luar, aku akan bersiap sebentar "
Ucapan Areya membuat Harist bersorak senang lantaran berhasil membujuk Areya untuk ikut ke kuil bersamanya.
Sebenarnya Areya juga tidak tahu mengapa Harist ke kuil itu benar-benar ingin berdoa atau tidak, ayolah dia bukan orang yang penuh keimanan dan menjadi pengikut setia di kuil. Apa pun alasannya Areya hanya mengikut saja lagi pula tak enak menolak wajah bersemangat milik tuan muda Learton itu.
Saat akan turun ke bawa guna menghampiri Harist yang telah menunggu di halaman mansion dengan kereta kudanya, Areya tak sengaja berpapasan dengan sang ayah tiri Kaiyl yang tampaknya baru kembali dari perjalanan bisnis-nya, katanya.
Ranhy sangat menyukai Kaiyl lantaran dia selalu membela Ranhy dan mengabaikan Tyrese yang notabene anak kandungnya.
Ranhy yang polos merasa bahwa seluruh perhatian dan kasih sayang yang Kaiyl berikan benar-benar tulus dari hati.
Namun, sekarang Areya jadi ragu apakah semua yang tertulis dalam novel benar adanya atau itu hanya sebuah kamuflase guna untuk menutupi niat yang sebenarnya Jika begitu, mari kita lakukan ini saja
"Ayahanda!" Pekik Areya seraya berlari cepat menghampiri Kaiyl Vaverit, ketika jarak tinggal sejengkal lagi Areya lempar tubuhnya untuk ditangkap oleh Kaiyl.
"Astaga, sayang, hati-hati kau bisa jatuh," Ungkap Kaiyl seraya melepaskan pelukannya pada Areya.
Areya tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang putih dengan mata yang berbinar bahagia menatap Kaiyl yang tengah menasehati dirinya,
"Kenapa Ayahanda pergi lama sekali, sih? Padahal Ranhy sudah rindu sekali dengan Ayahanda, ada banyak hal yang ingin Ranhy ceritakan tau!"
Oh demi dewa Yang selalu di puja sang ibu, jika bukan karena strategi yang sedang Areya lakukan demi untuk membuka topeng yang menutupi wajah asli Kaiyl Vaverit, dia tidak sudi bersikap kekanak-kanakan seperti ini, bahkan ia ingin muntah sekarang rasanya.
Kaiyl terkekeh pelan,
"Benarkah? Apa itu?" Tanya Kaiyl tanpa melepaskan padangan mata dari sang anak tiri
"Ayahanda tahu? Kemarin ada seseorang yang membantuku memperbaiki reputasiku yang buruk, Ayah! Dia memberitahuku bagaimana cara menolong wilayah Duke Napios yang sedang terjangkit penyakit, loh"
Sekilas Areya dapat melihat pupil mata Kaiyl melebar untuk sesaat dengan raut wajah terkejut meski dapat tersembunyi,
"Apa?"
"lya Ayah, dia tidak memberitahukan namanya, tapi katanya dia seorang bangsawan dari jauh. Dia ingin menolong tapi tak bisa ikut campur dalam urusan negara kita. Makanya dia menawarkannya padaku. Awalnya sih aku tidak percaya, tapi jika itu nantinya bisa menarik perhatian pangeran maka aku coba saja dan ternyata berhasil, hebat bukan?" Areya kembali tersenyum lebar dengan tangan yang bergelayut pada lengan kokoh sang ayah tiri.
"Jadi maksudmu, kau tidak membantu wilayah Duke Napios karena keinginanmu sendiri?"
"Tentu saja tidak!, untuk apa aku repot melakukannya? Lagi pula disana banyak kuman dan orang yang sakit , dan ayah tahu sepulang dari sana aku sakit, itu sangat menyebalkan! Aku jadi tidak bisa menghadiri pesta minum teh dan memamerkan pakaian serta aksesorisku yang mewah!" Areya menghentakkan kaki mirip seperti anak kecil yang tengah merajuk sebab keinginannya tidak di penuhi, bahkan bibirnya kini manyun seperti bebek.
Mendengar penuturan anak tirinya itu membuat rasa curiganya perlahan memudar sebab tidak ada yang berubah dari sosok Ranhy, dia masihlah anak manja dan polos yang tidak tahu apa-apa.
Sepertinya dirinya terlalu banyak berpikir hingga lupa bahwa Ranhy hanyalah anak ingusan yang tidak bisa melakukan apa pun selain menebar pesona dan membuat masalah dimana-mana.
"Astaga, sekarang apa anak ayah masih sakit? Apa perlu ayah memanggil dokter untukmu sayang?"
Areya menggeleng kecil, lalu kembali tersenyum manis
"Tidak Ayah, aku sudah baik-baik saja, sekarang aku mau pergi ke kuil bersama dengan Harist, dia bilang ada acara doa disana . Tadinya aku tidak mau pergi, tapi si Harist memaksaku dan berjanji akan mentraktirku belanja, jadi makanya aku mau pergi"
Kaiyl mengusap surai panjang milik Areya, "Ya sudah kalau begitu, Ranhy hati-hati di jalan ya, apa perlu ayah suruh penjaga untuk mengawalimu?"
"Tidak perlu ayah, aku hanya pergi sebentar.."
Areya melepaskan tautan tangannya pada lengan Kaiyl,
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, Ayah Nanti kita mengobrol lagi.."
"lya, hati-hati di jalan ya, nak."
Areya tersenyum lebar selepas itu ia berbalik. Senyum cerah bak orang bodoh telah berubah menjadi seringai kecil dengan sorot mata yang tampak merendahkan. Sepertinya dia berhasil mengelabui sang ayah tiri, dengan begitu Kaiyl tidak akan pernah tahu bahwa dirinya memang sengaja membantu wilayah Utara untuk menggagalkan rencana yang sudah disusun.
Licik di balas licik juga seperti itu lah cara Areya mempertahankan setiap tindakan yang di beri padanya.
🤣🤣🤣🤣