NovelToon NovelToon
Dewa Setan Perbatasan Utara

Dewa Setan Perbatasan Utara

Status: tamat
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:47.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Muda, tampan, kaya, tidak berguna! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Huan Wenzhao. Namun…

Siapa sebenarnya Huan Wenzhao tak ada yang tahu.

Mau tahu identitas lain Huan Wenzhao?

Ikuti kisahnya di sini!
Hanya di: Noveltoon/Mangatoon.

~Selamat membaca~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode²⁷

“Sebenarnya… di bagian mana perkataanku yang salah? Kenapa dia begitu marah? Kenapa hatiku sakit? Kenapa kepalaku pusing?”

Dalam keadaan mabuk, ocehan si burung biru semakin tak terkendali.

“A Nuo! Kau jangan bergoyang-goyang!” Gadis itu tiba-tiba mengomel di tengah ocehannya yang tiada henti. “Kepalaku pusing sekali…” erangnya dengan kepala terkulai ke sana-kemari.

Sebenarnya Huan Wenzhao yang menggendongnya.

Sesaat setelah penyergapan berhasil diatasi, sais Huan Wenzhao yang ditempatkan di sisi Jiao Jingling melaporkan bahwa gadis itu pergi ke Wisma Xieyuanyuan sepulang dari sini. Mabuk-mabukan dan membuat kehebohan.

“Mereka tidak memesan kamar,” katanya. “Hanya memesan meja dan arak. Lalu entah bagaimana, tiba-tiba dia menggila.”

Sebenarnya, Jiao Jingling hanya bernyanyi dan meracau seperti orang gila, berkeliling ke seluruh ruangan, menghampiri semua meja sambil menenteng guci arak, sementara Yu'er dan Mao'er sedang menari di atas panggung.

Para pria mabuk tiba-tiba berebut untuk mendekatinya sehingga terjadi kekacauan.

Yu'er dan Mao'er melindunginya secara diam-diam dan mengutus sejumlah pengawal untuk mengantarnya pulang.

Tapi ketika Yue'er dan A Nuo menaikkannya ke dalam kereta, Huan Wenzhao sudah menunggu dalam kereta.

Sekarang pemuda itu yang menggendongnya dari kereta ke paviliunnya sementara gadis itu terus meracau di dekat telinganya.

“Aku tak ingin tahu dia siapa!” Cerocos Jiao Jingling sambil mengibas-ngibaskan tangannya dalam gerakan kacau tanpa tenaga. “Tak peduli apakah dia dewa atau ketua apalah. Aku hanya suka melihat wajah bodohnya,” ia menambahkan dengan gaya kekanak-kanakannya yang khas. Lalu tertawa bodoh.

A Nuo dan Yue'er berusaha untuk tidak meledak tertawa di belakang Huan Wenzhao. Berjalan tertunduk sembari membekap mulut mereka. Lalu keduanya terperanjat, ketika Huan Wenzhao tiba-tiba menghentikan langkahnya, hampir saja mereka menubruk punggung Jiao Jingling.

Ternyata mereka sudah sampai di beranda kamar Jiao Jingling.

A Nuo dan Yue'er serentak menghambur ke arah pintu dan membukakannya dengan tergopoh-gopoh.

Huan Wenzhao melangkah ke dalam dan membaringkan Jiao Jingling di tempat tidurnya.

“A Nuo… Sudah kubilang jangan bergoyang-goyang!” Jiao Jingling menggerutu ketika Huan Wenzhao menurunkannya.

Huan Wenzhao membenahi letak kepala gadis itu dan menyelimutinya. Diamatinya wajah mungil itu dengan ekspresi datar. Lalu memicingkan matanya setelah sejenak memindai.

Auranya! Pekiknya dalam hati. Aura peri gadis itu memancar keluar dan membuatnya terpukau.

Apa yang terjadi? Huan Wenzhao bertanya-tanya dalam hatinya.

Pertama kali ia melihat pancaran itu ketika Jiao Jingling dirawat di kediaman keluarganya. Pada saat itu, Jiao Jingling juga tidak sadarkan diri.

Lalu ketika mereka bertemu lagi, aura gadis itu tidak memancar hingga kecantikannya terkesan hambar dan tidak menarik. Pada saat itu, Jiao Jingling dalam keadaan sadar.

Dalam keadaan sadar, Jiao Jingling tampaknya mengendalikan aura peri untuk menghindari deteksi. Tapi dalam keadaan tak sadar, ia kehilangan kendali.

Pantas saja sampai terjadi kehebohan! Pikir Huan Wenzhao.

Dikatakan yang terjelek di negeri peri adalah yang tercantik di negeri manusia…

Aura peri terlalu memukau. Terlalu mencurigakan.

Jadi… selama ini, dia berusaha mengendalikannya? Huan Wenzhao menyadari. Pantas saja bela dirinya menjadi begitu lemah.

Ia mendesah dan mengerling ke arah A Nuo dan Yue'er.

Kedua gadis itu serentak berlutut dan tertunduk dengan gerakan seragam.

“Maafkan kami,” ungkap mereka bersamaan. “Kami tidak menjaga nona dengan baik!”

Huan Wenzhao mendesah lagi. Kemudian meluruskan tubuhnya menghadap ke arah kedua pengawal itu, memasang wajah serius. Masih dalam posisi duduk di tepi tempat tidur.

“Dengar,” Huan Wenzhao memperingatkan dalam nada datar yang tidak terkesan seperti ancaman. “Hantu, monster, siluman, iblis… beraksi sendiri-sendiri di malam hari. Tidak menanyakan tujuan… Tidak menanyakan nama…”

Ungkapan yang diutarakannya merupakan pesan terselubung atau kalimat kode berisi peraturan misi.

Tidak boleh mempertanyakan tujuan misi, tidak boleh mempertanyakan klien, merahasiakan identitas klien, merahasiakan internal klien dan organisasi---termasuk rahasia sesama anggota.

Yang terakhir adalah “lakukan saja” apa yang perintahkan.

Itu adalah peraturan organisasi mereka.

“Saat ini, aku adalah klien,” bisik Huan Wenzhao. “Kalian melupakan peraturan?”

Kedua gadis pengawal itu tertunduk semakin dalam.

“Mengenai identitasku yang lain… kembali ke peraturan mutlak!” Huan Wenzhao menandaskan.

Peraturan mutlak adalah peraturan terakhir.

“Kami sudah mengerti!” Sahut kedua gadis pengawal itu sambil membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajah.

“Kenapa rasanya aku seperti mendengar suara Si Bodoh?” Jiao Jingling menyela mereka dengan ocehan kacaunya,

Huan Wenzhao mendesah dan mengerling ke arah gadis itu melewati bahunya.

Mata gadis itu terus terpejam sementara tangan dan kakinya bergerak dan melemas seperti orang sedang bermimpi buruk.

“Saya akan memanaskan air dan merebus teh penghilang mabuk,” Yue'er beranjak dan memohon diri, lalu bergegas keluar.

Huan Wenzhao menoleh ke depan lagi, memandangi punggung Yue'er yang menghilang di balik pintu, kemudian melirik A Nuo yang masih tinggal di dalam kamar.

“Saya… saya akan…” A Nuo gelagapan di bawah tatapan dingin Huan Wenzhao. “Saya akan membantu Yue'er!” Katanya asal bunyi. Lalu buru-buru menghambur keluar dari kamar itu.

“Siapa yang memanaskan air? Siapa yang merebus teh penghilang mabuk? Siapa yang mabuk?” Jiao Jingling terus mengoceh meski temponya terus melambat akibat kesadarannya yang timbul-tenggelam. “Aku bahkan tak pernah memasak air, apalagi merebus teh penghilang mabuk. Aku tak pernah mabuk!”

“Kau terlalu banyak bicara,” bisik Huan Wenzhao sambil membetulkan letak selimutnya yang mulai berantakan.

“Aku burung pengicau,” Jiao Jingling berkilah dalam gumaman tak jelas seperti orang sedang berkumur. “Peri cantik bermatabat yang malang.”

Huan Wenzhao tersenyum samar. “Antara cantik, bermartabat dan malang… setidaknya hapus dua kata,” godanya dalam bisikan datar.

Jiao Jingling mengangkat kedua tangannya dan menggerak-gerakkan jemarinya seperti orang sedang menghitung. Matanya tetap terpejam. “Kalau begitu…” suaranya terdengar semakin lemah. “Tersisa kata… malang,” imbuhnya sembari melemas. Keduanya tangannya terkulai di sisi wajahnya.

Huan Wenzhao membenahi kedua tangan itu dan menautkannya di perut gadis itu.

“Aku tak pernah mabuk,” Jiao Jingling masih menggumam. “Tak pernah memasak!”

“Diamlah!” Bisik Huan Wenzhao dalam bujukan tegas.

“Tapi hari aku memasak,” timpal Jiao Jingling tak menghiraukan bujukan Huan Wenzhao. “Dan aku mabuk.”

“Kau memang mabuk,” jawab Huan Wenzhao dengan suara lembut.

“Kenapa si bodoh ini tak mau lenyap dari benakku?” Erang Jiao Jingling sembari mengibaskan tangannya.

Huan Wenzhao tersenyum muram.

Yue'er muncul membawa nampan berisi semangkuk teh penghilang mabuk. A Nuo mengekor di belakangnya.

“Biar aku saja!” Huan Wenzhao mengambil alih mangkuk itu. Diam-diam mencampurkan setetes darahnya ke dalam teh itu. Lalu meminumkannya pada Jiao Jingling. Mulai sekarang kau tak perlu menahan kekuatanmu lagi, katanya dalam hati. Aku tak bisa selalu berada di sisimu. Kau harus menjaga diri!

Setelah memastikan Jiao Jingling sudah bisa ditinggal, Huan Wenzhao kembali ke paviliunnya.

Waktu sudah dini hari ketika langkahnya mencapai gerbang paviliunnya, disambut kawanan kupu-kupu bercahaya berwarna-warni yang bertebaran di pekarangan.

Huan Wenzhao langsung melemas.

Kemunculan kawanan kupu-kupu bercahaya itu merupakan manifestasi dari eksistensi Xìnshǐ---Si Pembawa Pesan.

“Mereka menculik Hu Li Na!” Suara seorang pria mengambang di udara seperti bisikan angin.

Seorang pria berjubah gelap dengan tudung kepala melayang di ketinggian, tersaput kegelapan yang membuat sosoknya terlihat seperti ilusi kabut yang lalu memburam dan menghilang seperti asap.

“Kenapa tidak satu pun membiarkanku beristirahat barang sebentar?” Erang Huan Wenzhao.

1
Selarik Syarah
"katanya di antara kuapanya" ini bahasa apa ?
" katanya sambil menguap" ini lebih sederhana
Selarik Syarah
mengerling, memicing, dideking
mungkin nanti ada asuking
hadeh
Nia Gemoy
wow
sri lestari
semoga selalu menarik
maz tama
kenapa jadi kumpul lagi semua disini/Joyful/
maz tama
memang penuh misteri
maz tama
uhkk chapter ini serius
maz tama
saya suka novel nya Thor orang misterius lanjut thor jangan hiatus
maz tama
buaya di kadalin
maz tama
/Joyful/lucu nih novel
maz tama
menarik Thor mudah-mudahan ga hiatus
Oe Din
Sayang sekali jika tidak lanjut...
Ayo, Thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink
Oe Din
Setan memang hanya bisa berkumpul dengan setan...😈👿👿
Oe Din
Wow....
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hehehehe
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees
Oe Din
Tetap semangat menghibur pembaca...
Semoga dilancarkan rezekinya, Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!