Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Sandiwara Jam Sebelas
Sorot lampu dari kamera stasiun televisi nasional dan media finansial memenuhi auditorium lantai dasar Pratama Tower. Suara bisik para wartawan bercampur dengan notifikasi gawai yang terus memperbarui pergerakan saham **$PRAM**, yang masih berada di zona merah dengan penurunan enam koma delapan persen.
Di balik panggung, Jevandra berdiri kaku. Telapak tangannya terasa dingin, sementara ponselnya terus bergetar karena panggilan dari Bimo Pratama. Atas saran Alana, ia sengaja mengabaikannya. Ia tahu, jika berbicara sekarang, sedikit saja keraguan dalam suaranya dapat menghancurkan semua rencana.
"Jevandra."
Alana menyentuh lengannya dengan lembut, namun penuh keyakinan. Wajahnya tetap tenang, seolah keramaian di luar bukan ancaman. Ketegangan yang menguasai Jevandra perlahan mereda saat menatap istrinya.
"Ingat urutannya," bisik Alana. "Aku yang membuka pernyataan. Setelah aku meletakkan mikrofon, kamu lanjutkan dengan penjelasan mengenai audit operasional divisi investasi. Jangan melihat wartawan di baris depan. Tatap kamera di belakang. Buat mereka yakin bahwa kamulah yang mengendalikan keadaan."
Jevandra mengangguk pelan.
"Kalau mereka bertanya soal apartemen itu?"
"Itu sudah diantisipasi. Apartemen tersebut akan dijelaskan sebagai bagian dari kebutuhan operasional penyamaran. Tim legal Wijaya sudah menyiapkan semuanya sejak dua jam lalu." Alana tersenyum tipis. "Sekarang tegakkan bahumu. Tunjukkan siapa CEO Pratama Group yang sebenarnya."
Pintu menuju panggung terbuka. Begitu mereka melangkah keluar, rentetan kilatan kamera langsung menyambut. Mereka berjalan berdampingan dengan kepala tegak dan tangan saling menggenggam, menampilkan citra pasangan yang solid di hadapan publik.
Mereka duduk di balik meja konferensi yang dipenuhi mikrofon. Belum sempat pembawa acara membuka sesi tanya jawab, seorang jurnalis ekonomi langsung berdiri.
"Pak Jevandra, apakah rekaman suara yang beredar pagi ini benar suara Anda? Dan benarkah dana perusahaan disalahgunakan untuk membiayai hubungan gelap dengan staf pemasaran bernama Silvia?"
Ruangan mendadak hening.
Jevandra melirik Alana. Sesuai rencana, Alana menarik mikrofon ke arahnya.
"Terima kasih atas pertanyaannya," ucapnya tenang. "Saya, Alana Wijaya, mewakili keluarga Wijaya Group sekaligus istri CEO Pratama Group, akan meluruskan informasi yang beredar."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Rekaman itu memang menggunakan suara suami saya. Namun, isinya telah dipotong sehingga menimbulkan kesan yang keliru. Hubungan antara Jevandra dan Saudari Silvia bukanlah skandal pribadi, melainkan bagian dari **Internal Sting Operation**, sebuah operasi penyamaran yang telah dirancang bersama oleh tim manajemen risiko Pratama Group dan tim hukum Wijaya Group sejak tiga bulan lalu."
Suasana auditorium langsung riuh.
"Operasi tersebut bertujuan mengungkap dalang penggelapan dana di divisi pemasaran dan investasi. Suami saya sengaja membangun kedekatan dengan Saudari Silvia sebagai pintu masuk untuk melacak aliran aset ilegal yang melibatkan mantan Kepala Keuangan, Hendra, dan mantan Direktur Investasi, Baskoro Pratama."
Alana menampilkan laporan audit forensik digital melalui tabletnya.
"Seluruh biaya operasional, termasuk apartemen yang dipermasalahkan, menggunakan anggaran yang diawasi penuh oleh tim audit independen. Setelah Saudara Baskoro mengundurkan diri, operasi ini resmi selesai. Seluruh dana perusahaan berhasil dipulihkan tanpa kerugian bagi para pemegang saham."
Setelah meletakkan mikrofon sebagai tanda, Jevandra segera mengambil alih.
"Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa langkah hukum telah ditempuh. Saudara Hendra saat ini telah ditahan, sementara proses hukum terhadap pihak lain yang terlibat dalam sabotase reputasi perusahaan sedang dipersiapkan. Pratama Group tidak akan membiarkan siapa pun memanipulasi perusahaan maupun pasar modal demi kepentingan pribadi."
...****************...
Di sudut auditorium, Baskoro Pratama menyaksikan konferensi pers itu melalui layar monitor. Topi yang menutupi wajahnya tak mampu menyembunyikan amarahnya. Rahangnya mengeras ketika melihat rencananya berbalik menjadi kemenangan bagi Jevandra.
Alih-alih menjatuhkan sang CEO, Alana justru mengubah skandal itu menjadi bukti keberhasilan manajemen dalam menyelamatkan perusahaan.
"Sialan, Alana..." gumamnya pelan sebelum meninggalkan gedung dengan tergesa-gesa agar tidak dikenali petugas keamanan.
Sementara itu, layar perdagangan saham menunjukkan perubahan drastis. Harga saham **$PRAM** yang semula anjlok mulai berbalik naik setelah pasar merespons positif klarifikasi tersebut. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, seluruh kerugian berhasil tertutup, bahkan saham ditutup menguat dua persen.
.
.
.
Konferensi pers berakhir tepat pukul dua belas siang.
Di dalam lift privat menuju lantai eksekutif, Jevandra mengendurkan dasinya dan mengembuskan napas panjang. Beban yang sejak pagi menghimpit dadanya perlahan menghilang.
Ia menatap Alana yang masih sibuk merapikan dokumen di tabletnya.
"Kamu benar-benar menguasai panggung tadi," katanya pelan.
Alana tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Kalau aku tidak meyakinkan mereka, siang ini kita mungkin sudah kehilangan jabatan."
Pintu lift terbuka. Di depan ruang kerja, Bimo Pratama telah menunggu bersama tiga komisaris. Kali ini wajahnya dipenuhi kepuasan.
"Kerja bagus, Jevandra. Alana." Ia menepuk bahu putranya lalu menjabat tangan Alana. "Pihak Temasek baru saja menghubungi Papa. Mereka terkesan dengan cara kalian menangani krisis. Penandatanganan MOU bahkan dimajukan menjadi lusa."
"Terima kasih, Papa. Semua ini berkat kerja sama kami," jawab Jevandra.
Setelah para komisaris pergi, Jevandra dan Alana memasuki ruang kerja CEO. Begitu pintu tertutup, Jevandra melepaskan jasnya ke sofa.
"MOU akan ditandatangani lusa," katanya. "Aliansi dengan Singapura hampir selesai. Lalu apa langkah berikutnya?"
Alana duduk tenang di kursi seberang meja, menatap Jevandra dengan sorot mata yang sulit ditebak.
"Selanjutnya kita pastikan Baskoro benar-benar kehilangan pijakan," ucapnya pelan. "Dia masih memiliki beberapa aset di luar negeri yang bisa dipakai untuk melawan. Malam ini kita mulai merestrukturisasi seluruh divisi investasi yang baru kamu kuasai. Bersiaplah begadang lagi."
Jevandra terdiam. Ia menyadari bahwa pertarungan belum berakhir. Di balik dinding kaca Pratama Tower, permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kini, ia tak lagi sekadar memimpin perusahaan—ia berjalan mengikuti strategi Alana, sang ratu yang perlahan menguasai seluruh papan permainan.
Bersambung.....