"Jangan terlalu berlebihan Alya, ingat pernikahan kita ini hanya pura-pura. Kita menikah bukan karena keinginan kita, jalani saja sewajarnya. Jangan berharap aku akan menjamahmu!"
Alya Adelia Wijaya. Gadis muda yang statusnya masih pelajar, harus merelakan masa mudanya untuk menikah dengan seorang pria yang menjadi pilihan orang tuanya.
Tanpa sepengetahuannya, orang tuanya sudah menjodohkannya semenjak mereka masih kecil dan Alya sendiri tidak pernah tahu kalau dirinya ternyata sudah dijodohkan.
Setelah menikah, ia merasakan kehidupannya berubah drastis. Awalnya dimanja oleh orang tuanya, kini harus mengabdikan hidupnya pada suaminya yang selalu bersikap dingin dan jutek.
Mampukah Alya membuat pria jutek itu berubah sikap dan bisa menerimanya dengan baik?
Atau mungkin dia putuskan untuk meninggalkan pria yang tidak pernah menganggapnya sebagai pasangan?
Cover: free licence, freepik.com
Edit : sampul buku written by Ika Dw.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Lebih Baik Aku yang Mengalah
"Iya, jujur aku memang masih belum bisa melupakan Tara, tapi aku sudah belajar untuk bisa menerima Alya sebagai pasanganku. Dia memaksaku untuk bercerita tentang masa laluku. Tapi setelah aku ceritakan tentang masalaluku, dia malah mengomel, marah-marah padaku. Bahkan dia menuding dirinya sendiri sebagai pelakor."
"Ya Tuhan,, kamu ini keterlaluan Aldo! Jelas Alya sakit hati oleh penjelasanmu. Dia merasa dirinya sudah merebut kebahagiaanmu!"
Tarisa dibuat gemas oleh sikap putranya. Dia tak membela orang yang salah, walaupun orang itu sangat penting untuk kehidupannya.
"Ck! Tapi Aku tidak pernah menganggapnya sebagai pelakor, Ma! Dia sendiri yang ngatain dirinya dengan buruk. Aku sudah peringatkan berkali-kali agar tidak salah paham, tapi dia tetap keras kepala dan tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan."
Rivaldo membela diri. Andai saja Alya tidak memaksanya untuk terus terang, ia juga tidak akan menceritakan kisah hidupnya di masa lalu.
"Mau sampai kapan kamu ingin menunggu kedatangan Tara kembali lagi ke sini? Sampai aku tertanam di dalam tanah, Aku tidak akan pernah sudi untuk merestui hubungan kalian! Dari dulu aku selalu menegaskan padamu kalau wanita itu bukanlah wanita baik-baik dan bukan wanita dari keluarga terhormat. Kamu selalu mengabaikan penjelasan orang tua seakan-akan kamu itu orang yang paling benar."
Rivaldo meneguk salvianya, kini ia dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya karena ulah Alya.
'bener kan dugaanku, sudah pasti mereka ngomeliku, dan mereka menganggapku paling jahat yang sudah tega membuat Alya menangis.'
"Sekali lagi Papa tegaskan, kalian berdua itu sudah kami jodohkan sejak kecil, dan kami tidak ingin ada alasan apapun dari kalian. Intinya kalian kami larang untuk berpisah, jangan buat malu dan buat kami kecewa!"
Beni dibuat pusing oleh sikap mereka yang sama-sama keras kepala dan tidak mau belajar untuk saling menerima. Dia mati-matian membujuk Rivaldo untuk mau dinikahkan dengan Alya. Melihat putranya yang depresi karena dikhianati oleh wanita yang bernama Tara, membuatnya berinisiatif untuk segera menikahkannya, agar Rivaldo bisa menghapus perasaannya pada Tara dan menggantikannya dengan Alya, yang nyata-nyata sudah dijodohkan sejak kecil.
"Sudah jelas-jelas Tara bukanlah gadis yang baik. Dia sudah meninggalkanmu dan mencampakkanmu begitu saja demi laki-laki lain. Kamu itu hanya dipermainkan saja sama dia. Dia cuma mau uangmu, tapi tak mau menjadi pendampingmu."
"Siapa bilang dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku kok. Dia sudah bersikap baik pada kalian, tapi kalian malah mengabaikannya. Kalian juga yang sudah membuatnya pergi dariku!"
Rivaldo yang semula hanya diam, kini angkat bicara. Dia yakin kepergian Tara ada hubungannya dengan kedua orang tuanya.
"Iya, memang kami yang sudah membuatnya pergi dari kehidupanmu. Kami punya alasan, kenapa dia harus pergi dari kehidupanmu? Alasannya hanya simple, dia bukan wanita baik-baik dan tidak layak untuk menjadi anggota keluarga kami."
Beni sudah sangat mengenali Tara sebelum Rivaldo menjalin hubungan dengan wanita itu. Keluarga Tara pernah menjalin hubungan kerja dengannya dan dia dibohongi dengan bisnis bodongnya sampai kehilangan saham sebesar 2,5 miliar.
"Apa itu benar-benar jahat Memangnya apa salah dia sampai kalian begitu membencinya. Yang salah itu kan orang tuanya belum tentu dia juga melakukan hal yang sama. Aku nggak habis pikir dengan cara kalian. Walaupun kalian tidak menyukainya tapi tidak harus melukai hatinya," bantah Rivaldo.
Beni benar-benar dibuat kesal hingga membentak putranya yang tidak bisa menghormati keberadaan Alya di situ.
"Do! Bisakah kau menghormati keberadaan ayah di sini? Aku bahkan sampai tidak tahu harus ngomong apa lagi sama kamu. Sampai kapanpun kami tidak akan pernah menerima Tara sebagai menantu kami. Kau sudah kujodohkan dengan Alya sejak masih kecil. Jika kau berani menentangku maka semua asetmu akan aku ambil. Kali ini aku tidak main-main dengan ucapanku. Kalau kau tidak bisa melupakan dia, Aku janji tidak akan pernah mengakuimu sebagai anak."
Atmosfer pertengkaran mereka makin memanas di antara mereka tidak ada yang mau mengalah. Beni bersikap keras dan keukeh untuk mempertahankan pernikahan mereka, sedangkan Rivaldo tetap membantah dan menyalahkan orang tuanya karena sudah membuat Tara pergi darinya.
"Papa, udah cukuplah enggak usah nyalain kak Rivaldo lagi. Dia nggak bersalah akulah yang sudah bersalah. Aku egois, Aku ...,"
"Alya! Jangan membela orang yang salah. Biarkan dia berpikir dari hatinya. Dia sudah sangat keterlaluan. Dia sudah mengecewakan kamu. Dia saja tidak peduli padamu kenapa kamu malah membelanya?"
"Tapi Pak kalau saja aku tadi tidak tanya yang macam-macam mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Andai saja aku tidak ingin tahu tentang masa lalu kak Rivaldo, mungkin aku juga tidak akan marah. Aku ngerasa aja nggak dihargai. Padahal aku sudah mengorbankan masa mudaku untuk menikah dengannya. Seharusnya aku masih duduk di bangku sekolah bersama dengan teman-temanku, tapi kini aku hanya bisa mengikuti daring dan menjadi istrinya orang."
Tak ingin mendengar perdebatan antara anak dengan orang tuanya, Alua pun merendahkan dirinya, walaupun dalam hati dia sangat sakit hati dengan perlakuan sang suami yang tidak bisa menghargai perasaannya.
"Tuh, kamu dengar sendiri apa yang diucapkan oleh istrimu? Dengan sikapmu yang seperti ini dia ngerasa tidak dihargai keberadaannya di sini. Seharusnya kamu belajar untuk mencintainya bukan malah memikirkan orang yang sudah tidak ada bersamamu. Apa sih hebatnya Tara di matamu? Kalau dibandingkan dengan Alya masih jauh cantikan Alya. Hanya saja dia sudah dewasa dibandingkan dengan Alya, tapi nggak tahu juga kelakuannya."
Rivaldo hanya diam saja tidak bergeming. Sebenarnya ia merasa bersalah karena sudah membuat Alya menangis. Tapi ia juga tidak ingin memendam perasaannya sendiri tanpa mengungkapkan kekesalannya pada orang tuanya.
"Alya, kami benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman tinggal di sini. Seharusnya kamu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari suamimu tapi kamu malah mendapatkan masalah yang bertubi-tubi darinya. Dia itu benar-benar laki-laki bodoh yang tidak bisa berpikir dengan baik. Di depan mata ada berlian malah memilih kotoran yang berbau busuk. Papa tak habis pikir dengan pola pikirnya, tapi kami janji akan membuat kamu nyaman tinggal bersama kami."
Alya mengusap air matanya yang mulai mengering. Dia sangat malas bertatap muka dengan sang suami. Kini ia akan memberikan keputusan yang bijak di depan mertuanya secara langsung. Dia tidak ingin ada orang yang tersakiti karena keputusannya.
"Pa, ma, cinta itu memang tidak bisa dipaksakan. Kalau memang kak Rivaldo tidak berniat untuk menerimaku dengan baik dan belajar mencintaiku, Aku rela kok, kalau kami tidak bersatu. Di sini aku sudah banyak berkorban. Aku sudah mengorbankan perasaanku, dan mengorbankan masa depanku, tapi kalau dia tidak nyaman bersamaku, lebih baik Aku yang mengalah."